Thursday, October 22, 2026
More

    “Go Ahead.” Teruslah Berjalan kata Father Bien OP

    MajalahDUTA.Com | Hampir setiap hari beliau selalu menyampaikan kabar baik melalui via WhatsApps, cara menyuarakan kabar baik yang jujur, tulus dan sederhana, yakni menyapa.

    Sebagaimana yang alami waktu itu, secangkir kopi dan beberapa potong kue telah tersaji sebelum percakapan dimulai. Di perpustakaan yang sekaligus menjadi ruang rapat komunitas Biara Santo Dominikus Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026, Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, menyambut tamunya dengan perhatian sederhana.

    Saya bahkan belum sempat mengajukan pertanyaan tentang lima puluh tahun hidup membiaranya. Dia telah lebih dahulu menyiapkan hidangan kecil.

    Perjumpaan itu kemudian berkembang menjadi percakapan tentang panggilan, kesetiaan, kebebasan, kesepian, kegagalan, dan makna menjadi manusia.

    Pada usia 73 tahun, menjelang peringatan 50 tahun profesi religiusnya, Father Bien tidak hanya mengenang perjalanan panjang sebagai seorang Dominikan. Dia mengajak kita melihat kembali apa yang sesungguhnya membuat seseorang tetap setia ketika waktu terus berjalan dan keadaan hidup berubah.

    Salah satu pertanyaan yang mengawali perjalanan panggilannya dahulu masih terus hidup hingga hari ini: “What do you seek?” Apa yang kamu cari?

    Tulisan ini lanjutan dari wawancara lanjutan yang belum sempat terpublikasi, redaksi melihat hal ini layak dan pantas untuk dibagikan sebagai teladan “Iman”.

    Pertanyaan tersebut dia terima sebelum memasuki Ordo Dominikan, bahkan sebelum menjalani masa novisiat. Lima puluh tahun kemudian, pertanyaan itu bukan sekadar kenangan dari masa muda. Baginya, pertanyaan tersebut tetap relevan untuk memeriksa arah hidup dan memahami kembali makna panggilan yang telah dijalaninya.

    Jawaban yang lazim diberikan saat itu adalah “God’s mercy and yours”—kerahiman Allah dan kerahimanmu.

    Bagi Father Bien, panggilan religius berakar pada kerahiman Allah dan juga kerahiman komunitas yang menerima seseorang. Namun, penerimaan tersebut bukan hanya sebuah anugerah. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk menjalani kehidupan sesuai dengan panggilan yang telah diterima.

    “A vocation is a calling from God. It is an expression of God’s mercy, as well as the mercy of the community that accepted me,” katanya dalam wawancara pada 6 Oktober 2026.

    Panggilan, menurut dia, bukan sekadar keputusan pribadi untuk menjalani kehidupan membiara. Panggilan merupakan ‘tanggapan’ terhadap Allah yang memanggil, sekaligus komitmen untuk menghidupi pilihan itu dalam kehidupan sehari-hari.

    “Because vocation comes from God, my task is to respond faithfully to that calling in my daily life,” ujarnya.

    Perjalanan lima puluh tahun itu menemukan maknanya, hingga mengikrarkan kaul bukan berarti seseorang telah menyelesaikan proses menjawab panggilan, justru setelah keputusan dibuat, perjalanan sesungguhnya dimulai.

    Kesetiaan Bukan Hanya Bertahan

    Ada anggapan bahwa keputusan besar dalam hidup cukup dibuat sekali. Seseorang memilih jalan, mengucapkan janji, lalu tinggal menjalankannya sampai akhir. Namun, pengalaman Father Bien memperlihatkan bahwa keputusan yang mendasar memperoleh maknanya melalui tindakan-tindakan yang terus diulang.

    Ketika ditanya tentang arti kesetiaan setelah setengah abad hidup religius, dia menjelaskan bahwa kesetiaan berarti tetap setia terhadap panggilan yang telah diberikan Allah.

    “Fidelity gives meaning to God’s calling,” katanya.

    Bagi Father Bien, kesetiaan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mempertahankan keputusan yang pernah dibuat pada masa lalu. Kesetiaan ‘harus menemukan bentuknya’ dalam cara seseorang menjalani kehidupan religius, terutama dalam penghayatan empat pilar kehidupan Dominikan yakni doa, studi, kehidupan komunitas, dan pewartaan.

    “As Dominicans, we are called to remain faithful to prayer, faithful to study, faithful to community life, and faithful to sharing the message of salvation,” jelasnya.

    Keempat pilar tersebut saling berkaitan. Doa memelihara hubungan dengan Allah. Studi membantu memperdalam pemahaman. Kehidupan komunitas mengajarkan seseorang untuk berjalan bersama orang lain, menerima perbedaan, dan membangun persaudaraan. Pewartaan membawa kehidupan doa, pembelajaran, dan persaudaraan itu ke dalam pelayanan bagi Gereja dan sesama.

    Ketika keempatnya dihidupi dengan setia, seseorang akan terus menemukan kembali makna panggilannya.

    “Fidelity, therefore, is not merely about holding on to a decision made in the past. It is a continuing journey of discovering the meaning of our calling and living it out in our daily lives,” ungkapnya.

    Bagi Father Bien, kesetiaan bukan hanya persoalan bertahan pada keputusan yang pernah dibuat. Kesetiaan merupakan perjalanan untuk terus memahami panggilan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Lima puluh tahun tentu merupakan rentang waktu yang panjang, namun tahun-tahun itu tidak selalu hadir dalam keadaan yang sama. Ada masa ketika tubuh kuat, semangat besar, dan banyak hal dapat dikerjakan. Ada pula masa ketika kemampuan fisik berubah dan seseorang perlu menyesuaikan diri dengan keterbatasan.

    Pada usia 73 tahun, Father Bien menyadari perubahan tersebut. Dia terbuka mengakui bahwa kemampuan fisiknya tidak lagi sama seperti ketika masih muda dan hal itu memengaruhi cara dia menghidupi kaul.

    Namun, dia tidak mengatakan bahwa kehidupan religius menjadi lebih mudah seiring bertambahnya usia.

    “I would not say that it has become easy, because I am still human and continue to face challenges,” katanya.

    Pengalaman selama puluhan tahun justru memberinya kesempatan untuk belajar dari kesalahan dan mendisiplinkan diri dengan lebih baik. Menurut dia, tantangan tetap ada, tetapi seseorang dapat menjadi lebih siap menghadapinya apabila bersedia belajar dari pengalaman sebelumnya.

    “By learning from our mistakes, we become better equipped to face and overcome those challenges as we continue to grow older,” jelasnya.

    Kesetiaan tidak berarti “memaksakan diri” untuk selalu melakukan segala sesuatu seperti dahulu. Kesetiaan juga berarti menemukan cara yang tepat untuk tetap menjalani komitmen di tengah perubahan keadaan.

    Tubuh dapat menua, kemampuan dapat berkurang, dan cara seseorang melayani mungkin berubah tetapi proses “memahami panggilan” dan “belajar menghidupinya” tidak harus berhenti.

    Father Bien tengah melihat beberapa pertanyaan dalam wawancara, 6 Oktober 2026. Biara Santo Dominikus Pontianak.

    Kemanusiaan yang Tidak Hilang karena Kaul

    Lima puluh tahun hidup membiara tentunya menyimpan banyak pengalaman seperti keberhasilan, kegagalan, kegembiraan, kesepian, bahkan kekecewaan. Pengalaman-pengalaman itulah yang membawa percakapan dengan Father Bien pada pertanyaan yang lebih dasar yakni apa yang dia pelajari tentang menjadi manusia?

    Dia menjawab dengan menegaskan sesuatu yang sangat sederhana, tetapi penting bagi pemahamannya tentang kehidupan religius.

    “My humanness was not curtailed or removed by my vows or my being a Dominican,” katanya.

    Kaul dan identitasnya sebagai seorang Dominikan tidak menghapus kemanusiaannya. Dia tetap manusia yang mengalami kegembiraan dan kesedihan, membuat kesalahan, menghadapi keterbatasan, serta harus terus belajar menjalani kehidupan.

    Bahkan, menurut dia, pengalaman-pengalaman itulah yang turut membentuk keberhasilan perjalanan hidupnya sebagai seorang Dominikan.

    “All the failures, loneliness, joys, and disappointments I encountered during my fifty years of Dominican life have contributed to who I am today,” ungkapnya.

    Pengakuan ini memberi sudut pandang yang berbeda terhadap kehidupan religius. Kesetiaan tidak harus berarti seseorang menjalani hidup tanpa kegagalan atau pergulatan. Kesetiaan justru dapat tumbuh melalui cara seseorang menghadapi pengalaman-pengalaman tersebut.

    Father Bien tidak menyangkal bahwa kegagalan terjadi karena tidak semua hal dapat berjalan sempurna, tetapi dia juga melihat kemungkinan untuk memperbaiki kesalahan, terutama ketika seseorang bertindak dengan niat yang baik dan demi kepentingan komunitas.

    “Failures, as long as you do it right and with the intention for the good of the community, it will be corrected,” katanya.

    Baginya, kesalahan bukan sesuatu yang harus ditutupi seolah-olah kehidupan religius tidak mengenal kelemahan. Kesalahan perlu diakui, diperbaiki, dan dijadikan bahan pembelajaran.

    Pandangan ini memperlihatkan bahwa kematangan tidak lahir dari keberhasilan semata. Seseorang juga bertumbuh ketika berani melihat kekurangan dirinya dan menerima kenyataan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan.

    Namun, di antara berbagai pengalaman tersebut, ada satu hal yang tetap perlu dijaga yaitu kesediaan untuk terus memperbaiki diri dan menjalani tanggung jawab.

    Mimpi Misi yang Bertumbuh di Indonesia

    Di antara pengalaman yang dia kenang, perkembangan misi Dominikan di Indonesia menjadi salah satu sumber kegembiraannya.

    “Looking back on my fifty years in the mission, I am very happy, especially now here in Indonesia, because this was my dream,” kata Father Bien.

    Dia mengenang keterlibatannya bersama pemimpin provinsi dan sejumlah rekan dalam merintis misi Dominikan di Indonesia. Pada 2005, mereka mulai menjajaki lokasi untuk membangun kehadiran dan karya misi di Indonesia.

    Dua puluh tahun kemudian, dia menyaksikan perkembangan yang membahagiakan. Misi tersebut telah memiliki dua belas anggota Dominikan Indonesia, konven pertama, dan prior pertama di lokasi yang disebutnya dalam wawancara sebagai Pudjana.

    Baginya, perkembangan itu merupakan pencapaian konkret yang memperlihatkan pertumbuhan misi dari tahap perintisan menuju kehidupan komunitas yang semakin berkembang.

    “After twenty years, we have twelve Dominican Indonesians. We have our first convent, we have our first prior here,” ujarnya.

    Selain perkembangan komunitas, Father Bien juga menyebut tiga karya pelayanan yang dianggap penting, formasi seminari, pengelolaan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, dan pelayanan paroki di Supadio, yakni Paroki Santa Perawan Maria Reinha Rosario.

    Dia melihat ketiga karya tersebut sebagai wujud nyata pertumbuhan misi Dominikan di Indonesia yang telah dia saksikan selama perjalanan panggilannya.

    Keberhasilan misi, dalam pengalamannya, tidak hanya terletak pada gagasan atau rencana yang pernah dibuat. Keberhasilan itu terlihat ketika sebuah komunitas bertumbuh, kader lokal berkembang, dan karya pelayanan semakin mampu menjawab kebutuhan Gereja serta masyarakat.

    Namun, perkembangan tersebut tidak terjadi hanya melalui usaha seorang diri. Misi membutuhkan dukungan, rekan kerja, dan keterlibatan orang-orang yang bersedia berjalan bersama.

    Di balik kegembiraannya menyaksikan perkembangan misi, Father Bien juga mengakui adanya pengalaman yang tidak selalu mudah. Sebuah karya dapat memiliki tujuan yang baik, tetapi pelaksanaannya membutuhkan sumber daya dan dukungan yang tidak selalu tersedia.

    Dominican Apostolic School, Jaro, Iloilo City, Philippines (1971-1972). Father Bien di urutan ketiga dari kanan ke bawah (Dokumentasi Pribadi)

    Kesepian, Godaan bagi Seorang Misionaris

    Dalam perjalanan misinya, Father Bien pernah bertugas di Pulau Camiguin yang terpencil dan di wilayah pegunungan Mindanao. Pengalaman tinggal serta bekerja di tempat-tempat seperti itu membuatnya mengenal kesepian secara langsung.

    Dia mengingat suatu masa ketika kesepian membuatnya menangis karena merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.

    “There was self-pity,” katanya, mengenang pengalaman tersebut.

    Bagi Father Bien, persoalannya bukan semata-mata berada jauh dari tempat yang dikenal atau tidak memiliki banyak orang di sekitar. Kesepian menjadi semakin berat ketika seseorang mulai memusatkan perhatian pada dirinya sendiri dan merasa seolah-olah harus menghadapi segala sesuatu sendirian.

    “Loneliness depends on how you take it,” jelasnya.

    Dia mengakui bahwa kesepian merupakan bagian dari pengalaman manusia namun dia tidak menganggap kesepian sebagai keadaan yang harus diterima tanpa usaha untuk mengatasinya.

    Bagi seorang misionaris, kesepian dapat menjadi godaan ketika dirinya terisolasi dari orang-orang yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan dan pelayanannya.

    “You have the community. You have the people. You have the companions to go with. Don’t keep yourself alone by yourself,” pesannya.

    Father Bien menekankan pentingnya berbagi kehadiran dengan komunitas. Seorang misionaris tidak dipanggil untuk menjalani tugasnya dalam keterasingan, melainkan untuk hadir bersama orang-orang yang dilayani dan rekan-rekan yang mendampinginya.

    Dia mengingatkan bahwa seseorang perlu berani menjangkau orang lain, bukan terus-menerus mengurung diri dalam perasaan sendiri.

    “A lonely person is a person who allows himself to be alone,” katanya.

    Pernyataan itu tidak berarti bahwa setiap orang yang mengalami kesepian sengaja memilih untuk kesepian. Dalam konteks pengalaman Father Bien, dia sedang menekankan bahaya ketika seseorang membiarkan rasa mengasihani diri sendiri membuatnya semakin menarik diri dari hubungan dengan orang lain.

    Komunitas, dalam hal ini, bukan sekadar tempat tinggal bersama. Komunitas menjadi ruang untuk berbagi beban, memperoleh dukungan, dan menyadari bahwa seseorang tidak harus menghadapi seluruh pergulatannya seorang diri.

    Pengalaman Father Bien juga memperlihatkan bahwa kehidupan religius tidak menghilangkan kebutuhan manusia akan persahabatan dan kebersamaan. Justru melalui hubungan tersebut, seseorang dapat belajar keluar dari pusat perhatian dirinya sendiri dan kembali melihat kebutuhan orang lain.

    Kekecewaan yang Membuatnya Bergantung pada Allah

    Jika keberhasilan misi memberinya kegembiraan, pengalaman misi juga menghadirkan kekecewaan.

    Father Bien menjelaskan bahwa bekerja bersama masyarakat berarti berhadapan dengan berbagai kebutuhan yang tidak selalu dapat dipenuhi. Seorang misionaris dapat memiliki program yang baik, tetapi pelaksanaannya membutuhkan dukungan finansial, sumber daya, dan rekan kerja yang bersedia terlibat.

    “A disappointment because I cannot do everything. I cannot provide everything,” katanya.

    Dia menyadari bahwa keterbatasan tersebut merupakan bagian dari kenyataan pelayanan. Tidak semua rencana dapat diwujudkan, tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi, dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh satu orang.

    Meski mengalami kekecewaan, dia memilih untuk tidak menjadikan pengalaman itu sebagai alasan menyangkal perjalanan misinya.

    “I have disappointments. I will not deny or else my mission is not successful without disappointments,” ungkapnya.

    Bagi Father Bien, mengakui kekecewaan justru merupakan bagian dari kejujuran dalam melihat kehidupan. Keberhasilan tidak berarti bahwa seluruh perjalanan berlangsung tanpa hambatan.

    Dia bahkan melihat kekecewaan sebagai pengalaman yang memperkuat dirinya dan memperdalam ketergantungannya pada Allah.

    “Disappointments make me stronger and make me more dependent on the mercy of God,” katanya.

    Pernyataan itu menjadi salah satu titik penting dalam refleksinya, sebab kekecewaan tidak selalu membawa seseorang menjauh dari panggilan. Ketika dihadapi dengan keterbukaan dan kerendahan hati, pengalaman itu dapat mengajarkan bahwa manusia memiliki batas dan tidak dapat mengendalikan segala sesuatu.

    Bagi seorang misionaris, kesadaran tersebut sangat penting. Pelayanan membutuhkan perencanaan, kerja sama, dan usaha nyata, tetapi hasilnya tidak selalu berada dalam kendali pribadi.

    Di tengah keterbatasan itu, Father Bien menemukan alasan untuk terus mengandalkan kerahiman Allah.

    Mengenal Allah Melalui Perjalanan Hidup

    Apakah seseorang dapat semakin mengenal Allah melalui puluhan tahun doa dan pelayanan? Atau justru semakin menyadari bahwa Allah adalah misteri yang tidak pernah dapat dipahami sepenuhnya?

    Pertanyaan ini membawa percakapan kembali pada inti kehidupan religius Father Bien dan hubungannya dengan Allah.

    Setelah lima puluh tahun menjadi seorang Dominikan dan tujuh puluh tiga tahun menjalani kehidupan sebagai manusia, dia mengungkapkan keyakinannya dengan tegas.

    “Indeed, I said and I’m very convinced that God is with me. That God walks with me,” katanya.

    Bagi Father Bien, perjalanan panjang tersebut semakin meneguhkan keyakinannya bahwa Allah hadir dalam kehidupannya. Dia melihat kerahiman Allah sebagai sumber pertolongan yang menyertainya dalam menghadapi pergulatan, baik sebagai seorang religius maupun sebagai manusia.

    “God’s mercy provides me everything that I need in my struggles, in my pilgrimage as a religious and as a human being,” ujarnya.

    Keyakinan tersebut bukan berarti dia tidak lagi mengalami kesulitan. Sebaliknya, pengalaman tentang kesulitan, kegagalan, kesepian, dan kekecewaan justru menjadi bagian dari perjalanan yang memperdalam ketergantungannya kepada Allah.

    “Without God, I am nothing. Without the mercy of God, I cannot do anything,” ungkapnya.

    Dia juga menegaskan bahwa keberhasilan dan kegembiraan yang dialaminya tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan Allah. Kehadiran, kasih, dan belas kasih Allah memberikan keberanian untuk melanjutkan pelayanan.

    “The presence of God, the love of God, the compassion of God makes me go on, allows me to go on and continue my religious life,” katanya.

    Bagi Father Bien, mengenal Allah bukan hanya persoalan memahami ajaran atau mengumpulkan pengetahuan tentang-Nya. Hubungan dengan Allah juga tumbuh melalui pengalaman hidup, termasuk ketika manusia menyadari keterbatasannya dan membutuhkan pertolongan.

    Keyakinan bahwa Allah berjalan bersamanya menjadi sumber kekuatan untuk terus melayani. Karena itu, dia berharap dapat melanjutkan kehidupannya sebagai seorang Dominikan selama komunitas masih membutuhkannya dan Allah masih memberinya kesempatan untuk berkarya.

    “I hope not only until fifty years, but as long as the community needs me, as long as God allows me to work in His vineyard,” ujarnya.

    Lima puluh tahun profesi religius, bagi Father Bien, bukanlah tanda bahwa perjalanan telah selesai. Selama masih ada kesempatan untuk melayani, panggilan tetap menjadi sesuatu yang perlu dijawab.

    Foto Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, berada di Biara Santo Dominikus Pontianak, saat di wawancarai. (2026).

    Jika Dapat Berbicara kepada Dirinya Lima Puluh Tahun Lalu

    Menjelang akhir wawancara, Father Bien diajak membayangkan dirinya yang masih muda pada 1976, ketika pertama kali mengikrarkan kaul. Jika dapat berbicara kepada dirinya sendiri saat itu, apa yang akan dia sampaikan tentang perjalanan yang menantinya?

    Jawabannya sederhana.

    “Father Bien, it is not an easy life. It is a challenging life, but it is a fulfilling life.”

    Kehidupan membiara, menurut refleksinya, bukanlah jalan yang mudah. Ada tantangan, keterbatasan, dan kekecewaan. Namun, kehidupan tersebut juga merupakan perjalanan yang memberikan kepenuhan makna.

    Dia membayangkan bahwa dirinya yang lebih muda perlu mengetahui bahwa kaul pertama yang diikrarkan akan membawanya pada berbagai pengalaman kehidupan religius, pelayanan misi, dan kesempatan untuk menjadi bagian dari karya keselamatan.

    “It will bring you to the vineyard of the Lord, to become His apostle. It will bring you to put into action what St. Dominic dreamed about: the salvation of souls,” katanya.

    Bagi Father Bien, perjalanan itu memberinya kesempatan untuk mengambil bagian dalam cita-cita Santo Dominikus dalam mewartakan Injil dan melayani keselamatan jiwa-jiwa.

    Karena itu, dia akan mengingatkan dirinya yang muda untuk bersyukur kepada Allah, sebab dia telah menerima kesempatan mengikrarkan kaul pertama dan kemudian melanjutkan perjalanan hingga profesi kekal.

    Pesan tersebut tidak berhenti pada rasa syukur atas perjalanan yang telah dilalui. Ada satu hal yang masih perlu dilakukan yakni “melanjutkan perjalanan”.

    “After fifty years, you are going to renew your profession and go ahead with your journey. The journey is not yet done,” ungkapnya.

    Kemudian, dia menghubungkan refleksinya dengan perjalanan Santo Paulus, yang menggambarkan kehidupan iman sebagai sebuah perlombaan yang harus dijalani dengan tekun.

    “Following St. Paul, maybe you have done the race, but not yet finished.”

    Mungkin kamu telah menempuh perlombaan itu, tetapi belum menyelesaikannya.

    Kalimat tersebut menjadi penutup yang kuat bagi perjalanan lima puluh tahun hidup membiara. Pencapaian masa lalu patut disyukuri, tetapi tidak berarti bahwa seseorang telah selesai menjawab panggilan.

    Masih ada hari-hari yang harus dijalani, persaudaraan yang perlu dirawat, pelayanan yang dapat diteruskan, dan kesempatan untuk semakin dekat dengan Allah.

    Pesan terakhirnya sederhana: “Go ahead.” Teruslah berjalan.

    Kesetiaan yang Terus Diperbarui

    Percakapan dengan Father Bien pada 6 Oktober 2026 dimulai bersama dengan secangkir kopi dan beberapa potong kue dan perjumpaan sederhana itu jelas terbentang kisah tentang seseorang yang selama lima puluh tahun berusaha menghidupi panggilan religiusnya di tengah berbagai perubahan dan keterbatasan.

    Dia tidak menggambarkan perjalanan itu sebagai kehidupan tanpa kegagalan. Sebaliknya, dia mengakui adanya kesepian, kekecewaan, dan pergulatan yang menyertai pelayanan. Semua pengalaman tersebut tidak menghapus kemanusiaannya sebagai seorang Dominikan.

    Justru melalui pengalaman-pengalaman itulah dia belajar mengenali keterbatasan diri, memperbaiki kesalahan, menerima dukungan komunitas, dan semakin bergantung pada kerahiman Allah.

    Dalam perjalanan misi di Indonesia, dia menemukan kegembiraan ketika melihat komunitas dan karya pelayanan bertumbuh. Namun, dia juga belajar bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dan tidak semua rencana dapat diwujudkan seorang diri.

    Dalam kehidupan religius, dia menemukan bahwa kesetiaan tidak hanya berarti mempertahankan janji yang pernah diucapkan. Kesetiaan berarti terus menemukan kembali makna panggilan melalui doa, studi, kehidupan komunitas, dan pewartaan.

    Sementara itu, melalui penghayatan kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, dia belajar bahwa melepaskan diri bukan berarti membenci dunia. Melepaskan diri berarti tidak membiarkan nilai dan daya tarik dunia menguasai arah hidup. Ketaatan pun, dalam pengalamannya, tidak harus bertentangan dengan kebebasan, tetapi dapat membantu mengarahkannya kepada tujuan yang lebih mendalam.

    Pada akhirnya, seluruh refleksi itu kembali pada keyakinan yang menyertainya selama perjalanan panjang yakni “Allah berjalan bersamanya”.

    Lima puluh tahun hidup membiara bukanlah akhir dari sebuah perlombaan. Perjalanan itu masih berlanjut selama Allah memberikan kesempatan untuk berkarya dan komunitas masih membutuhkan kehadirannya.

    Barangkali, inilah yang membuat kisah Father Bien lebih dari sekadar peringatan setengah abad profesi religius. Kisahnya menunjukkan secara jelas bahwa manusia tidak harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk tetap setia. Dia perlu bersedia belajar, mengakui keterbatasan, memperbaiki diri, dan terus melangkah.

    Kesetiaan bukan berarti tidak pernah jatuh atau kecewa. Kesetiaan adalah kesediaan untuk kembali menemukan makna dari panggilan yang telah diterima.

    Dan seperti pesan Father Bien kepada dirinya yang muda lima puluh tahun lalu, perjalanan itu belum selesai.

    “Go ahead.”

    Teruslah berjalan.

    *(Samuel) –Wawancara di Biara Santo Dominikus Pontianak, 6 Oktober 2026.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles