MajalahDUTA.Com | Di tengah dunia yang semakin individualistis dan penuh tantangan, persaudaraan lintas iman menjadi salah satu jalan untuk merawat keberagaman dan mencegah konflik di tengah masyarakat. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan ramah-tamah atau silaturahmi yang diselenggarakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Pontianak, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai kalangan untuk saling mengenal, membangun komunikasi, dan mempererat persahabatan di tengah perbedaan agama dan latar belakang. Hadir dalam kegiatan ini Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid, S.T., M.T., yang juga merupakan ketua umum JAI.
Zaki hadir setelah mengikuti kegiatan JAI di wilayah Sompak, Kabupaten Landak. Dalam sambutannya, dia menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin dan berharap persahabatan lintas iman dapat semakin erat pada masa mendatang.
Perwakilan Gereja Katolik dalam kegiatan tersebut adalah Pater Pionius Hendi, OFMCap., Ketua Inter-Franciscans for Justice, Peace, and Integrity of Creation (INFO JPIC) Indonesia.
Dia hadir bersama Bruder Wilhelmus Baknenok, OFMCap., Ketua INFO JPIC Regio Kalimantan, serta Suster Magdalena Paula, PKYB.
Turut hadir sejumlah tokoh Gusdurian, perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kalimantan Barat, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), serta beberapa cendekiawan Muslim.
Mengendalikan Pemicu Konflik, Bukan Membatasi Keberagaman
Dalam sambutannya, Zaki Firdaus Syahid mengatakan bahwa keberagaman agama, budaya, bahasa, suku, kepercayaan, dan pandangan hidup merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tidak seharusnya dibatasi.
“Keragaman, kekayaan, perbedaan agama, budaya, nilai-nilai, suku, kelompok, dan berbagai identitas lainnya tidak mungkin dihilangkan. Semua itu merupakan kenyataan sekaligus kekayaan bangsa kita,” ujarnya.
Menurut Zaki, potensi konflik merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Namun, keberadaan potensi tersebut tidak berarti masyarakat harus menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, hal yang perlu diperhatikan adalah berbagai faktor yang dapat memicu konflik agar tidak berkembang menjadi pertikaian yang lebih besar.
Dia menjelaskan hal tersebut melalui analogi segitiga api, yang terdiri atas panas, oksigen, dan bahan bakar. Ketiga unsur itu diperlukan agar api dapat muncul.
Dalam analogi tersebut, keberagaman diibaratkan sebagai unsur yang tidak mungkin dihilangkan dari kehidupan masyarakat, sedangkan pemicu konflik perlu dikendalikan.
“Lalu, apa yang harus dikendalikan? Unsur panas yang dapat memicu munculnya api,” katanya.
Zaki juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam mengelola keberagaman. Menurut dia, perhatian semestinya diarahkan pada potensi dan tindakan yang memicu konflik, bukan pada pembatasan kelompok minoritas atau perbedaan keyakinan.
“Hal yang semestinya dikendalikan adalah potensi terjadinya konflik. Kelompok-kelompok yang kerap memunculkan pemicu konflik itulah yang seharusnya mendapatkan perhatian dan penanganan secara tepat oleh pemerintah,” tuturnya.
Dia menambahkan, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, bahkan dalam kehidupan keluarga. Karena itu, upaya merawat kebinekaan tidak harus dilakukan dengan menyeragamkan semua pandangan, melainkan dengan membangun kesadaran untuk saling menghargai.
Zaki berharap masyarakat, pemerintah, dan berbagai kelompok sosial dapat mengambil bagian sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dia juga mengajak semua pihak memperkuat kolaborasi melalui program dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
“Kita harus bekerja bersama, berkolaborasi, dan bersatu untuk merawat perbedaan melalui program serta aksi nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan bersama,” ujarnya.
Dia menggarisbawahi bahwa JAI terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak di Pontianak maupun daerah lain di Indonesia. Baginya, kebinekaan bukan hanya kekayaan bangsa, melainkan juga warisan para pendiri Indonesia yang perlu dijaga bersama.

Cinta Kasih Tanpa Sekat
Senada dengan Zaki, Pater Pionius Hendi, OFMCap., menyambut baik kesempatan untuk membangun persahabatan dan kolaborasi antara Gereja Katolik dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
“Saya sangat senang bisa saling mengenal dan berkolaborasi dengan saudara-saudara dari JAI. Saya juga sangat mengapresiasi kesempatan ini karena merupakan momen yang baik untuk menjalin persaudaraan yang semakin erat di antara kita,” kata Pater Pionius.
Ketua INFO JPIC Indonesia itu mengajak setiap orang untuk membangun sikap terbuka dan saling menghargai. Menurut dia, kebanggaan terhadap agama yang dianut tidak boleh menjadi alasan untuk menutup diri terhadap orang lain.
“Kita bangga dengan agama yang kita anut masing-masing. Namun, hal itu tidak berarti kita harus menutup diri terhadap dunia di sekitar kita. Kita perlu membangun sikap inklusif, yakni sikap yang merangkul semua orang,” ujarnya.
Pater Pionius menjelaskan bahwa prinsip cinta kasih merupakan bagian penting dari ajaran Gereja Katolik. Dia mengacu pada ajaran Yesus Kristus, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Bagi dia, pesan tersebut mengandung makna bahwa cinta kasih tidak seharusnya dibatasi oleh perbedaan agama, identitas, maupun latar belakang sosial.
Sebagai seorang Fransiskan, Pater Pionius juga mengangkat teladan Santo Fransiskus dari Assisi, yang dikenal sebagai pembawa damai. Dia mengingatkan perjumpaan Santo Fransiskus dengan Sultan Malik al-Kamil pada abad ke-13, di tengah situasi Perang Salib.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu teladan historis tentang keberanian membangun dialog dan persahabatan di tengah perbedaan agama. Pater Pionius juga menyinggung semangat dialog lintas iman yang ditunjukkan mendiang Paus Fransiskus melalui perjumpaannya dengan tokoh-tokoh Muslim, termasuk dalam kunjungan ke Masjid Istiqlal di Jakarta.
Menurut dia, teladan-teladan tersebut perlu diteruskan kepada generasi muda agar mereka mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan arah dan kepedulian terhadap sesama.
“Kita sendiri harus menjadi teladan bagi generasi muda saat ini agar mereka tidak menjadi lost generation atau generasi yang kehilangan arah karena mengikuti arus zaman secara keliru,” katanya.
Dia juga menilai perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu tantangan yang perlu disikapi secara bijaksana, terutama dalam mendampingi generasi muda. Di tengah perubahan tersebut, nilai cinta kasih, keterbukaan, dan penghargaan terhadap sesama perlu terus ditanamkan.
Keberagaman Seperti Harmoni Musik
Untuk menggambarkan pentingnya keberagaman, Pater Pionius menggunakan analogi tuts piano dan orkestra. Menurut dia, keindahan musik tidak tercipta apabila semua unsur harus sama, tetapi justru muncul ketika berbagai nada dan alat musik berpadu.
“Dalam tuts piano itu tidak harus semuanya berwarna putih; ada juga tuts berwarna hitam. Begitu pula dalam sebuah orkestra. Tidak semua pemain harus memainkan biola. Ada pemain selo, drum, dan berbagai alat musik lainnya,” ungkapnya.
Setiap alat musik memiliki karakter dan perannya sendiri. Ketika dimainkan bersama, perbedaan tersebut menghasilkan harmoni yang indah. Demikian pula dalam kehidupan masyarakat, setiap orang dapat mempertahankan identitasnya sekaligus membangun relasi yang saling menghormati.
Pater Pionius memandang pertemuan antara JAI dan perwakilan Gereja Katolik sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa kehidupan bersama di tengah keberagaman bukan sesuatu yang mustahil. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk belajar, bekerja sama, dan saling melengkapi.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi berbagai komunitas untuk menerjemahkan semangat persaudaraan menjadi tindakan nyata. Dialog lintas iman tidak berhenti pada perjumpaan atau percakapan, tetapi diharapkan berkembang menjadi kerja sama yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pesan yang mengemuka dalam silaturahmi itu adalah bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan. Cinta kasih, dan kemauan untuk bekerja sama, keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun perdamaian.
Sebagaimana ditegaskan Pater Pionius, keberagaman adalah kekayaan yang harus terus dijaga dan dirawat. Semangat yang sama juga disampaikan Zaki Firdaus Syahid, kebinekaan merupakan warisan bangsa yang menjadi tanggung jawab bersama, lintas agama, komunitas, dan generasi.*(Samuel).





