Saturday, September 5, 2026
More

    Paus Leo XIV: Gereja Dipanggil Menjadi Saksi Harapan di Tengah Konflik

    MajalahDUTA.Com | Paus Leo XIV mengajak Gereja di kawasan Arab untuk tetap menjadi tanda harapan di tengah berbagai konflik dan perpecahan. Gereja, menurutnya, dipanggil untuk hadir dekat dengan mereka yang menderita, khususnya kaum miskin, keluarga yang terdampak konflik, kaum muda, serta para migran.

    Ajakan tersebut disampaikan Paus Leo XIV ketika bertemu dengan para anggota Konferensi Para Uskup Ritus Latin di Kawasan Arab (CELRA) yang sedang melaksanakan pertemuan tahunan di Roma.

    Dalam pertemuan itu, Paus menyadari bahwa para Uskup menjalankan pelayanan di wilayah yang luas dan beragam, dengan situasi sosial, politik, dan agama yang tidak jarang diwarnai ketegangan.

    Menurut Paus Leo XIV, Gereja-Gereja di kawasan tersebut juga telah memberikan kesaksian iman melalui pengorbanan banyak imam, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang kehilangan nyawa akibat konflik di Irak, Suriah, dan sejumlah wilayah lainnya.

    Di tengah situasi demikian, Paus mengingatkan para pemimpin Gereja agar semakin dekat dengan umat. Kedekatan itu diwujudkan melalui kesediaan untuk mendengarkan, menghibur, dan menemani mereka yang mengalami luka akibat konflik, termasuk keluarga-keluarga yang terpaksa meninggalkan tanah air dan komunitas-komunitas yang semakin rentan.

    Bagi Paus, menjadi minoritas bukanlah alasan bagi Gereja untuk kehilangan daya kesaksiannya. Justru melalui kesetiaan kepada Injil, Gereja dapat menunjukkan bahwa kehidupan bersama, pelayanan, dan harapan tetap mungkin dibangun di tengah masyarakat yang terpecah.

    “Di tengah masyarakat yang ditandai oleh konflik dan perpecahan, semoga komunitas-komunitas Anda menunjukkan bahwa hidup, melayani, dan berharap bersama itu mungkin,” demikian pesan Paus.

    Gereja yang Hadir dan Melayani

    Paus Leo XIV juga menyoroti pelayanan Gereja melalui berbagai karya konkret, terutama di paroki, sekolah, rumah sakit, serta pelayanan yang dijalankan oleh tarekat-tarekat religius.

    Melalui pelayanan tersebut, Injil tidak hanya diwartakan melalui kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam sikap mendengarkan, menerima, dan mendampingi mereka yang membutuhkan.

    Di tengah berbagai keadaan darurat, Paus mengingatkan agar Gereja tidak kehilangan fokus terhadap inti perutusannya. Pewartaan Injil, doa, perayaan Sakramen, dan pembinaan Kristiani harus tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Gereja.

    Perhatian khusus juga diminta diberikan kepada keluarga dan kaum muda. Dalam situasi penuh ketidakpastian, keluarga menjadi tempat penting bagi kaum muda untuk mengenal dan menerima iman. Karena itu, pendampingan, pengajaran, serta katekese di tengah komunitas perlu terus diperkuat.

    Paus juga mengingatkan kondisi para migran, terutama mereka yang bekerja dan tinggal jauh dari keluarga di negara-negara Teluk. Kesepian dan keterasingan menjadi tantangan yang tidak boleh diabaikan oleh komunitas Gereja.

    Menurut Paus, komunitas Kristiani hendaknya menjadi rumah yang terbuka sehingga tidak seorang pun merasa sebagai orang asing. Setiap manusia harus dihormati martabatnya dan setiap migran dipandang sebagai saudara atau saudari.

    Dialog sebagai Jalan Perdamaian

    Dalam pertemuan tersebut, Paus Leo XIV juga mengajak para Uskup untuk terus membangun persekutuan antara Gereja-Gereja yang memiliki tradisi dan ritus yang beragam. Keberagaman tradisi Kristiani, katanya, merupakan kekayaan yang harus dihidupi dalam semangat kesatuan.

    Semangat persekutuan itu juga perlu diwujudkan melalui dialog dengan umat Kristiani dari berbagai tradisi serta komunitas-komunitas Muslim.

    Paus menegaskan bahwa dialog tidak berarti meninggalkan identitas iman. Sebaliknya, dialog merupakan keberanian untuk menghidupi identitas tersebut sambil membuka diri terhadap perjumpaan dengan sesama.

    “Di mana pun perang telah menaburkan ketidakpercayaan, setiap sikap penghargaan, kerja sama, dan rasa hormat dapat menjadi langkah menuju rekonsiliasi dan perdamaian,” pesannya.

    Pada akhirnya, Paus Leo XIV mengingatkan para Uskup agar tidak menjadikan keberhasilan atau pengakuan sebagai tujuan utama pelayanan. Yang terutama dibutuhkan adalah kesetiaan terhadap panggilan Gereja.

    Ia mengajak para Uskup menjadi suara bagi kebenaran, keadilan, dan perdamaian; menjadi manusia pendoa dan gembala yang dekat dengan umat; serta menjadi pembawa rekonsiliasi dan saksi belas kasih.

    Di tengah dunia yang terluka oleh perang, konflik, dan perpecahan, pesan tersebut kembali menegaskan peran Gereja bukan hanya untuk berbicara tentang harapan, tetapi menjadi tanda harapan itu sendiri melalui kehadiran, pelayanan, persaudaraan, dan kasih.*Vatikan News. Devin Watkins (SA). 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles