Ambawang, Sabtu, 27 Juni 2026 — Di tengah laju deforestasi yang terus menggerus benteng hijau Kalimantan Barat, sekitar 230 orang berkumpul di Rumah Pelangi, kawasan konservasi alam sekaligus destinasi wisata berbasis lingkungan di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, untuk menanam 1.000 bibit pohon sebagai wujud kepedulian terhadap bumi.
Gerakan ini bukan sekadar kegiatan penghijauan, tetapi menjadi wadah perjumpaan antara iman, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab ekologis yang diwujudkan dalam aksi nyata. Kegiatan tersebut mempertemukan umat Paroki Santa Sesilia Pontianak, sivitas akademika Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak, Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Panca Bhakti, Politeknik Tonggak Equator (POLTEQ), dalam satu gerakan bersama untuk merawat rumah bersama, yaitu bumi.
Gerakan penanaman pohon ini merupakan kegiatan kerja sama antara STAKAT Negeri Pontianak dan Paroki Santa Sesilia Pontianak. Seperti ditegaskan oleh Ketua STAKAT Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, ST, M.Eng, kegiatan ini adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) sebagai wujud nyata program ekoteologi yang merupakan program prioritas Kementerian Agama. Program ekoteologi ini selaras dengan kegiatan Yubileum Santo Fransiskus dari Assisi yang diselenggarakan oleh Paroki Santa Sesilia Pontianak yang salah satu tujuannya adalah mengajak umat untuk mencintai dan memelihara lingkungan sesuai teladan Santo Fransiskus dari Assisi yang memperlakukan semua ciptaan sebagai saudara.
Pemilihan Rumah Pelangi sebagai lokasi kegiatan menyimpan makna historis. Kawasan konservasi seluas sekitar 108 108 hektar di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya ini dirintis pada awal tahun 2000-an oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. sebagai respons atas keprihatinannya terhadap kerusakan hutan di Kalimantan Barat. Berawal dari lahan yang gersang, kawasan tersebut dipulihkan melalui gerakan penghijauan hingga tumbuh menjadi hutan konservasi yang kini menjadi ruang belajar ekologis bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, maupun masyarakat.
Sekarang pengelolaan Rumah Pelangi dilanjutkan oleh RP. Ignatius Michael Warsito, OFMCap., yang terus mengembangkan kawasan ini sebagai pusat konservasi, rehabilitasi lahan gambut, sekaligus tempat pembelajaran ekoteologi yang mempertemukan refleksi iman dengan praktik nyata pelestarian ciptaan.

Ketua Tim PKM STAKAT Negeri Pontianak, Bapak Martinus, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan yang bersifat seremonial, melainkan harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, termasuk persoalan lingkungan.
“Tahun ini menjadi momentum yang istimewa karena untuk pertama kalinya PKM lembaga diwujudkan melalui aksi penanaman pohon. Ini bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi bentuk komitmen kami mendukung semangat ekoteologi yang sedang didorong Kementerian Agama sekaligus menghidupi spiritualitas Santo Fransiskus Assisi,” ujarnya.
Semangat yang sama disampaikan Pastor Paroki Santa Sesilia Pontianak, RP. Fransiskus Yosnianto, OFMCap. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan bukanlah isu yang berdiri di luar kehidupan Gereja, melainkan bagian dari panggilan iman setiap orang Kristiani.
“Merawat bumi bukan pilihan tambahan bagi orang beriman. Itu adalah konsekuensi dari iman kita sendiri. Mencintai Sang Pencipta berarti juga menghormati ciptaan-Nya,” tegasnya.
Senada dengan itu, RP. Ignatius Michael Warsito, OFMCap., selaku pengelola Rumah Pelangi, berharap pengalaman berada di kawasan konservasi mampu membangkitkan kesadaran ekologis yang lebih mendalam dibandingkan sekadar membaca teori di ruang kelas.
“Di Rumah Pelangi, peserta tidak hanya belajar tentang lingkungan. Mereka belajar langsung dari alam. Ketika tangan menyentuh tanah, menanam bibit, dan melihat proses pemulihan lahan gambut, di situlah kesadaran ekologis mulai tumbuh,” ujarnya.
Sebelum penanaman pohon peserta diajak berefleksi tentang pentingya memelihara lingkungan melalui seminar yang disampaikan oleh Ketua JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation atau Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan) RP. Pionius Hendi, OFMCap. Berbeda dengan seminar pada umumnya, ia tidak memulai dengan tayangan presentasi, tetapi berjalan ke depan sambil mengangkat sebuah bibit pohon kecil di tangannya.
“Jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil. Hari ini kita melihat sebatang bibit. Beberapa tahun lagi, pohon inilah yang menghasilkan oksigen, menyimpan air, menjadi rumah bagi burung, dan memberi kehidupan bagi banyak makhluk,” katanya.
Usai seminar, para peserta dibagi ke dalam 20 kelompok yang berangkat menuju titik-titik penanaman di kawasan perbukitan, maupun lahan rawa Rumah Pelangi, dengan membawa bibit durian, petai, jengkol, dan pinang. Peserta berjalan menyusuri jalur konservasi, sebagian melewati titian kayu di atas rawa, sebagian lagi mendaki tanjakan menuju lokasi penanaman.
Suasana gotong royong terasa sepanjang kegiatan. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, umat, dan para pendamping lapangan saling membantu menggali lubang, menanam bibit, serta menimbunnya kembali dengan tanah. Sesekali terdengar tawa ketika beberapa peserta harus berjibaku dengan lumpur gambut atau bergantian membawa bibit melewati medan yang cukup menantang. Namun, kondisi tersebut justru memperlihatkan antusiasme peserta yang tetap terjaga hingga seluruh rangkaian penanaman selesai.
Di Rumah Pelangi, ekoteologi dan semangat Santo Fransiskus Assisi telah direfleksikan dan diwujudkan melalui aksi nyata penanaman pohon. Semoga bibit kecil yang ditanam tumbuh menjadi harapan besar akan harmoni dan keutuhan ciptaan.
Oleh: Eugenio Agung Bimandaru – Mahasiswa Teologi, STAKat Negeri Pontianak Angkatan 2024




