MAJALAHDUTA.COM, Ngabang, Kalimantan Barat | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo – Menjelang Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo tidak hanya belajar tentang manajemen kelas.
Mereka diajak untuk memahami bahwa menjadi guru berarti membangun karakter, menjaga integritas, dan menempatkan profesionalisme sebagai fondasi sebelum hari pertama mengajar.
Ada yang berbeda dengan perkuliahan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo kali ini.
Siang itu, Aula Terbuka C1 tidak dipenuhi pembahasan grammar, lesson plan, atau teori pembelajaran seperti biasanya. Sebaliknya, mahasiswa diajak menyelami cerita-cerita yang lahir langsung dari ruang kelas, seperti siswa yang penuh kejutan, kelas yang tidak selalu berjalan sesuai rencana, hingga keputusan-keputusan yang harus diambil seorang guru dalam hitungan detik. Suasananya pun terasa berbeda.
Tawa pecah beberapa kali saat para narasumber membagikan pengalaman mereka. Namun, beberapa saat kemudian ruangan kembali hening ketika pembicaraan bergeser ke hal-hal yang lebih reflektif: tanggung jawab, integritas, dan makna menjadi seorang guru. Banyak mahasiswa tampak sibuk mencatat.
Sebagian lainnya sesekali mengangguk pelan, seolah menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini mereka simpan menjelang Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP).
Melalui Guest Lecture & Sharing Session, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris San Agustin menghadirkan dua guru praktisi, Aspiandi dari SMP Negeri 2 Ngabang dan Fina dari SMP Maniamas Ngabang.
Kegiatan ini dirancang sebagai bekal bagi mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Language Classroom Management dan Micro Teaching untuk mempersiapkan diri memasuki PLP nantinya.
Namun, seiring berjalannya diskusi, semakin terasa bahwa kuliah tamu ini bukan hanya tentang how to teach. Yang dipelajari mahasiswa hari itu justru sesuatu yang lebih mendasar, yaitu “How to become a teacher.”
Bagi Upa, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, itulah tujuan utama kegiatan ini. Mahasiswa memang akan mempelajari berbagai konsep tentang Language Classroom Management di bangku kuliah.
Mereka akan belajar membangun student engagement, menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta mengelola dinamika kelas. Namun, pengalaman para guru praktisi menghadirkan perspektif yang tidak selalu dapat ditemukan dalam textbook.
Di ruang kelas yang sesungguhnya, tidak semua situasi berjalan sesuai dengan teori. Ada peserta didik yang membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ada kelas yang mengharuskan guru membuat keputusan secara spontan. Ada pula budaya sekolah yang hanya dapat dipahami ketika seseorang benar-benar menjadi bagian darinya. Karena itu, kuliah tamu ini menjadi sebuah early exposure bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia sekolah. Harapannya, mereka tidak hanya membawa bekal pengetahuan, tetapi juga kesiapan untuk bertumbuh menjadi guru yang profesional, adaptif, reflektif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Efrika, dosen pengampu mata kuliah Micro Teaching. Menurutnya, latihan mengajar di kampus merupakan fondasi yang penting. Mahasiswa belajar menyusun lesson plan, memilih strategi pembelajaran, dan melatih keterampilan mengajar dalam lingkungan yang aman. Namun, simulasi tetaplah simulasi karena “The real classroom is much more dynamic.”
Di sekolah nanti, mahasiswa akan berhadapan dengan peserta didik yang memiliki karakter, kebutuhan belajar, dan latar belakang yang beragam.
Mereka akan belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang membaca situasi, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Karena itulah, pengalaman para praktisi menjadi jembatan yang menghubungkan pembelajaran di kampus dengan realitas yang akan mereka hadapi selama PLP.
Salah satu pesan yang paling membekas datang dari Aspiandi, guru kreatif yang menciptakan lagu keren untuk menghafal irregular verbs. Dengan gaya penyampaian yang santai, ia mengajak mahasiswa membayangkan satu momen sederhana yang sering kali terlupakan: langkah pertama saat seorang guru memasuki kelas.
Menurutnya, bahkan sebelum guru mengucapkan salam, siswa sebenarnya sudah mulai “membaca” sosok yang berdiri di hadapan mereka. Cara berjalan, ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, hingga bahasa tubuh akan membentuk kesan pertama yang menentukan hubungan antara guru dan peserta didik.
First Impressions Matter
Rasa hormat siswa tidak lahir semata-mata karena seseorang menyandang profesi sebagai guru. Rasa hormat dibangun melalui sikap profesional yang konsisten sejak pertemuan pertama. Guru perlu hadir sebagai pribadi yang hangat dan mudah didekati, tetapi tetap mampu menjaga wibawa. Dekat dengan siswa bukan berarti kehilangan batas hingga diperlakukan seperti teman sebaya.
Diskusi kemudian mengalir ke topik yang tak kalah menarik ketika Anton, dosen pendamping lapangan PLP, membagikan pengalamannya mendampingi mahasiswa di sekolah. Dengan gaya bercanda yang langsung mengundang tawa peserta, ia mengatakan bahwa setiap memasuki masa PLP, para mahasiswa seolah mengalami transformasi.
Mendadak semuanya jadi shimmering, splendid, outstanding, and glowing, ujarnya sambil tersenyum.
Candaan itu tentu bukan tanpa alasan. Menurut Anton, ketika memasuki lingkungan sekolah, mahasiswa biasanya tampil lebih percaya diri, lebih matang, dan lebih profesional. Perubahan itu membuat mereka lebih mudah diterima, disukai, bahkan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Namun, di balik humor tersebut, Anton menyampaikan keresahan yang nyata. Berdasarkan pengalamannya sebagai dosen pendamping lapangan, tantangan mahasiswa selama PLP ternyata tidak selalu berkaitan dengan kemampuan mengajar. Tidak jarang, kedekatan yang terbangun dengan guru, peserta didik, maupun warga sekolah berkembang melampaui batas profesional apabila tidak disertai kesadaran etis sejak awal.
Keresahan itulah yang kemudian ditanggapi oleh Fina. Alih-alih langsung membahas persoalan tersebut, Fina mengajak mahasiswa untuk melihat gambaran yang lebih luas.
Baginya, PLP bukan sekadar kesempatan untuk mencoba mengajar. PLP adalah masa transisi ketika mahasiswa mulai membangun identitas sebagai pendidik.
“I am incredibly happy and grateful to have had the opportunity to share in this sharing session. As a field practitioner, there is a unique sense of fulfillment in passing down tips, tricks, and the real-world ups and downs of my teaching journey. Interestingly, I also learn while I am sharing,” tuturnya.
Menurut Fina, ada dua bekal yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki sekolah. Yang pertama adalah academic readiness.
Seorang calon guru harus benar-benar menguasai materi yang akan diajarkan sekaligus memahami berbagai pendekatan pembelajaran yang adaptif. Dunia sekolah tidak selalu berjalan sesuai dengan teori. Guru dituntut untuk mampu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan karakter kelas dan kebutuhan setiap peserta didik. Yang kedua adalah social readiness.
Sekolah bukan hanya ruang kelas. Di dalamnya ada kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan peserta didik yang membentuk ekosistem pembelajaran. Kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, serta membangun hubungan yang sehat dengan seluruh warga sekolah akan menjadi bekal yang sama pentingnya dengan kemampuan mengajar.
“Your communication and adaptation skills will be your keys to success during this program,” pesannya. Barulah setelah menjelaskan dua bekal tersebut, Fina menanggapi keresahan yang disampaikan Anton. Menurutnya, perasaan merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Kedekatan bisa tumbuh.
Rasa nyaman pun dapat muncul tanpa direncanakan. Namun, selama menjalani PLP, mahasiswa sedang belajar menjalankan identitas sebagai seorang guru. Karena itu, profesionalisme harus selalu menjadi prioritas. Hubungan dengan peserta didik maupun dengan guru di sekolah harus tetap berada dalam koridor etika profesi.
Kemudian, sambil tersenyum, ia menutup pesannya dengan kalimat yang langsung disambut dengan gelak tawa seluruh ruangan.
“Kalau memang benar-benar cinta, ya tunggulah sampai PLP selesai.” Tawa pun pecah. Namun, setelah suasana kembali tenang, semua memahami bahwa pesan tersebut bukan sekadar candaan.
Seorang guru tidak hanya dinilai dari cara ia mengajar, tetapi juga dari cara ia menjaga integritas, menghormati batas profesional, dan memelihara kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Bagi para mahasiswa, sesi siang itu menjadi lebih dari sekadar kuliah tamu. Sandra Rio, yang juga ketua English Students Association (ESA), mengaku semakin menyadari bahwa PLP bukan hanya kewajiban akademik, melainkan juga jembatan menuju dunia profesional. Ia ingin mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, terbuka terhadap setiap masukan dari guru pamong, serta terus membangun kepercayaan diri sebagai calon pendidik.
Sementara itu, Oktavia Linsi merasa memperoleh banyak perspektif baru yang tidak ia temukan di ruang kuliah.
Baginya, pengalaman kedua narasumber sangat insightful karena menghadirkan gambaran nyata tentang kehidupan seorang guru. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan untuk memotivasi mahasiswa sekaligus memperkaya bekal mereka sebelum terjun ke dunia kerja.
Sore itu, mahasiswa memang pulang tanpa membawa modul baru atau rumus instan tentang cara menjadi guru yang hebat.
Yang mereka bawa justru sesuatu yang jauh lebih berharga: kesadaran bahwa perjalanan menjadi guru dimulai jauh sebelum seseorang berdiri di depan kelas. Dimulai dari kemauan untuk terus belajar, keberanian beradaptasi, kemampuan menjaga integritas, dan kesediaan untuk membangun relasi yang sehat dengan setiap orang di lingkungan sekolah.
Karena pada akhirnya, pelajaran paling penting bagi seorang calon guru bukanlah pelajaran yang diberikan saat mengajar, melainkan pelajaran yang ia pelajari sebelum hari pertama mengajar dimulai.
Pengalaman kuliah bersama praktisi ini menunjukkan bahwa kuliah di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo memang se-asyik itu. Belajar bukan sekadar mengejar nilai atau menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang bertemu orang-orang yang mau meluangkan waktu untuk mendampingi, menyemangati, dan membantu mahasiswa berkembang.
Budaya saling mendukung antara mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sudah menjadi bagian dari kehidupan kampus.
Suasana positif ini tidak hanya dirasakan di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, tetapi juga oleh mahasiswa dari Prodi Pendidikan Matematika, PJKR, Agribisnis, Sistem Informasi, Teknik Logistik, Keperawatan, Kebidanan, hingga Keuangan dan Perbankan dengan kekhasan kegiatan mereka.
Karena pada akhirnya, setiap mahasiswa berhak mendapatkan ruang belajar yang hangat, suportif, dan menyenangkan. Kampus menjadi tempat mereka tumbuh dan dibentuk menjadi lulusan yang kompeten, tetapi juga pribadi yang percaya diri, siap bertumbuh, dan berani melangkah ke dunia profesional. (*Antonius Setyawan | Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris).




