Tuesday, July 21, 2026
More

    Dukungan Ibu dan Abang Membuat Saya Percaya, kata Vicky Aprilansah

    MajalahDUTA.Com | Masih hangat dalam benak, belum lama ini – kurang lebih dua minggu lalu 7 Juli 2026, penulis berkunjung ke Kampus Utama Ngabang (Unika San Agustin) dalam rangka memberikan UAS bagi mahasiswa semester VI matakuliah Literasi Media dan Jurnalisme.

    Kebetulan, saudara Jayadi (Kaprodi PJKR) menawarkan pijat dari hasil racikan tangannya selama  di Unika San Agustin. Salah satu mahasiswa didiknya bernama Vicky.

    Tanpa basa-basi – tak salah juga jika saya mencoba salah satu hasil rancikan dosen PJKR yang biasa saya sebut sebagai ‘tangan dewa’ dari Pak Jay, hehe. (Catatan: ungkapan ini sepenuhnya persepsi dan penghargaan penulis pada beliau).

    Lalu, ‘jadilah’ saya sebagai orang yang siap (diurai-urai), oleh Vicky, hehe.

    Usai merasakan pijat dalam mengurai otot dan darah, tak luput dari bahasan bahwa setelah ini saya berjanji saya akan mengirimkan sejumlah pertanyaan yang memungkinkan penulis untuk menuliskan secuplik kisahnya.

    Tulisan ini adalah hasil ramuan dari 5 pertanyaan yang penulis kirimkan melalui via WA. Dia mengisahkan bahwa terbentuknya cara pandang terhadap dunia (sedikit banyak melalui bangku kuliah) menggerakkannya untuk melihat lebih tajam tentang sesuatu yang selalu berkaitan dengan tubuh manusia.

    Vicky Aprilansah (alumnus) tengah mengurai beberapa otot tegang. Lokasi: Laboratorium PJKR Unika San Agustin (Landak).2026.

    Bagi Vicky Aprilansah, S.Pd., lulusan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) angkatan 2018 STKIP Pamane Talino (kini Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo alias Unika San Agustin), profesi pendidik olahraga bukan hanya mengajarkan keterampilan fisik, tetapi itu menjadi sarana membentuk karakter dan masa depan generasi muda.

    Pria kelahiran tahun 1997 yang kini berdomisili di Dusun Gundaleng, Desa Senakin ini menyelesaikan studi pada tahun 2022.

    Dalam wawancara yang dilakukan melalui WhatsApp pada 7 Juli 2026, Vicky dengan jelas membagikan refleksinya mengenai pengalaman selama menempuh pendidikan hingga harapannya bagi dunia pendidikan jasmani di Indonesia.

    Cara Pandang

    Menurut Vicky, pengalaman yang paling membentuk cara pandangnya sebagai calon pendidik bukanlah ketika menyaksikan seorang atlet meraih kemenangan, melainkan ketika melihat atlet binaannya mampu bangkit dari kegagalan maupun cedera berat.

    “Pengalaman yang paling transformatif bagi seorang pelatih atau pendidik olahraga adalah melihat seorang atlet bangkit dari kegagalan atau cedera berat, bukan sekadar merayakan kemenangan. Ketika melihat atlet binaan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh, disiplin, dan menghargai proses, di sanalah letak kepuasan tertinggi seorang pendidik,” tulisnya, (7/7).

    Baginya, profesi guru pendidikan jasmani maupun pelatih olahraga merupakan panggilan jiwa yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter peserta didik, bukan sekadar menghasilkan prestasi di arena pertandingan.

    Vicky juga menilai bahwa pendidikan jasmani selama ini masih sering dipahami secara sempit sebagai aktivitas fisik semata.

    Padahal, menurutnya terdapat berbagai nilai kehidupan yang dapat ditanamkan melalui setiap proses latihan dan pembelajaran.

    Dia menjelaskan bahwa kerja keras, disiplin, konsistensi, serta kemampuan menghargai proses merupakan nilai-nilai utama yang dapat dibangun melalui pendidikan jasmani.

    Menghargai Keringat

    Nilai tersebut tidak hanya bermanfaat saat berada di lapangan olahraga, tetapi juga menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari.

    “Momen kebangkitan seorang atlet membuktikan bahwa kerja keras, kedisiplinan, dan konsistensi tidak pernah mengkhianati hasil. Pelatih dan atlet sama-sama belajar menghargai setiap tetes keringat selama proses latihan dibandingkan hasil yang instan. Karakter disiplin itu akan terbawa hingga di luar lapangan,” jelas Vicky.

    Setelah menyelesaikan pendidikan, Vicky melihat masih banyak tantangan yang harus dihadapi dunia pendidikan dan olahraga, khususnya di daerah.

    Menurutnya bahwa keterbatasan fasilitas sekolah, akses internet, hingga minimnya sarana olahraga masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama.

    Dia menilai pembinaan atlet usia dini juga masih membutuhkan dukungan yang berkelanjutan agar mampu melahirkan generasi atlet yang berkualitas.

    “Masih banyak sekolah di daerah yang kekurangan fasilitas dasar, ruang kelas yang layak, maupun akses internet. Sementara di bidang olahraga, pengembangan fasilitas dan pembinaan atlet usia dini masih memerlukan dukungan jangka panjang,” pungkasnya.

    Ibu

    Di balik perjalanan akademiknya, Vicky mengaku memperoleh motivasi terbesar dari keluarga, terutama sang ibu.

    Dengan segala keterbatasan, ibunya tetap bertekad menyekolahkannya hingga jenjang perguruan tinggi.

    Dukungan tersebut kemudian diperkuat oleh semangat yang terus diberikan kakak kandungnya selama menjalani perkuliahan.

    Menurut Vicky, perjuangan keluarganya menjadi sumber inspirasi yang membuat dirinya bertahan hingga berhasil menyelesaikan pendidikan selama empat tahun. Dia juga bersyukur memperoleh beasiswa selama menempuh studi di STKIP Pamane Talino.

    Vicky Aprilansah, S.Pd., lulusan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) angkatan 2018 STKIP Pamane Talino (kini Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo).

    “Saya terinspirasi dari perjuangan ibu yang dengan penuh keyakinan ingin menyekolahkan saya sampai menjadi sarjana pendidikan. Dukungan ibu dan abang kandung membuat saya percaya bahwa saya mampu menyelesaikan kuliah selama empat tahun,” kenangnya.

    Kini, Vicky memiliki cita-cita agar pendidikan jasmani memperoleh tempat yang lebih penting dalam dunia pendidikan Indonesia.

    Dia berharap masyarakat semakin memahami bahwa pendidikan jasmani bukan hanya bertujuan meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun karakter generasi muda.

    Vicky berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi sekolah, masyarakat, serta pembangunan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara fisik, tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

    “Saya ingin pendidikan jasmani dan olahraga tidak sekadar dilihat sebagai aktivitas fisik, tetapi sebagai fondasi penting untuk membentuk generasi muda yang tangguh, sehat, dan memiliki empati yang tinggi,” tutupnya.*Samuel – AKUB. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles