Majalah DUTA – Pesta pelindung adalah perayaan yang diadakan oleh Gereja Katolik dan umat Katolik di seluruh dunia untuk memperingati dan menghormati santo pelindung tertentu. Setiap gereja Katolik memiliki pelindung yang dipilih sebagai santo pelindungnya. Santo pelindung adalah orang suci atau martir yang dianggap memiliki kekuatan khusus dalam melindungi gereja atau kelompok orang tertentu.
Pesta pelindung Gereja Katolik adalah perayaan yang ditujukan untuk menghormati dan memperingati santo pelindung gereja atau komunitas Katolik tertentu. Pesta ini sering kali berlangsung pada tanggal yang ditetapkan untuk santo pelindung tersebut, yang dapat bervariasi antara gereja-gereja.
Pesta pelindung Gereja Katolik umumnya melibatkan upacara liturgis khusus, seperti misa yang didedikasikan untuk santo pelindung dan mungkin prosesi keagamaan. Umat Katolik juga dapat mengadakan berbagai acara sosial, seperti perayaan di luar gereja, pawai, pesta makan, dan kegiatan komunitas lainnya.
Tujuan utama dari pesta pelindung Gereja Katolik adalah untuk menghormati dan mengenang peran santo pelindung dalam iman Katolik. Santo pelindung dianggap sebagai pembela dan penolong rohani yang dapat memberikan perlindungan dan bantuan khusus kepada umat Katolik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pesta pelindung juga merupakan kesempatan bagi umat Katolik untuk memperkuat ikatan komunitas mereka dan merayakan iman bersama-sama.
Perlu diingat bahwa setiap gereja Katolik memiliki pelindung yang berbeda, sehingga pesta pelindungnya juga akan berbeda-beda. Misalnya, Santo Petrus adalah pelindung Gereja Katolik Roma, dan pesta pelindungnya dirayakan pada tanggal 29 Juni setiap tahun. Sedangkan Santo Fransiskus dari Asisi adalah pelindung Ordo Fransiskan, dan pesta pelindungnya dirayakan pada tanggal 4 Oktober.
Pesta pelindung Gereja Katolik adalah bagian integral dari tradisi dan kehidupan rohani umat Katolik, dan melalui perayaan ini, mereka mengungkapkan penghargaan dan devosi mereka terhadap santo pelindung gereja mereka.


Santa Gemma Galgani
Santa Gemma Galgani adalah seorang santo dan mistikus Katolik yang lahir pada tanggal 12 Maret 1878 di kota Camigliano, Italia. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara dalam keluarga yang saleh.
Sebagai seorang anak, Gemma sangat berbakat dan cerdas. Dia dididik dalam iman Katolik dan memiliki cinta yang mendalam terhadap Yesus. Namun, kehidupannya tidak mudah. Ibunya meninggal ketika Gemma masih kecil, dan ayahnya juga meninggal ketika dia berusia 18 tahun. Setelah itu, dia mengalami sakit yang parah dan dirawat di rumah sakit selama beberapa tahun.
Selama masa sakitnya, Gemma mengalami pengalaman spiritual yang luar biasa. Dia mengalami penglihatan tentang penghakiman dan kemuliaan surgawi, dan juga menerima stigmata, yaitu luka-luka yang menyerupai luka-luka Yesus di tangan, kaki, dan dada-Nya. Meskipun itu sangat menyakitkan, Gemma menerima stigmata sebagai bagian dari persekutuan dengan penderitaan Kristus.
Selama hidupnya, Santa Gemma Galgani hidup dalam kerendahan hati dan ketaatan yang tinggi kepada Allah. Dia menghabiskan banyak waktunya dalam doa, meditasi, dan pengorbanan diri. Dia juga memiliki pengaruh yang besar dalam menginspirasi orang lain untuk hidup dalam iman.
Gemma Galgani meninggal dunia pada tanggal 11 April 1903, pada usia 25 tahun. Gemma Galgani dibeatifikasi pada tahun 1933 oleh Paus Pius XI dan dikanonisasi pada tahun 1940 oleh Paus Pius XII. Hari rayanya dirayakan pada tanggal 11 April.
Santa Gemma Galgani dikenal sebagai pelindung misi dan orang-orang yang menderita penyakit, khususnya penyakit yang parah. Dia juga dianggap sebagai pelindung mereka yang kehilangan orang yang dicintai. Orang-orang yang berdoa melalui perantaraannya berharap untuk memperoleh kesembuhan, kekuatan dalam kesulitan, dan keberanian untuk menghadapi penderitaan dengan penuh iman.
Ulang Tahun ke-61 Sekaligus Pesta Pelindung Paroki Santa Gemma Galgani Ketapang
Paroki Gereja Katedral Santa Gemma Galgani Ketapang pada 18 Juni 2023 lalu melaksanakan perayaan puncak dengan menghidupi tema: Melaksanakan Tugas Perutusan Sebagai Imam, Nabi Dan Raja. Maka dari itu, selama rentang waktu bulan Mei – Juni 2023, diadakan berbagai macam kegiatan-kegiatan yang mempersatukan warga paroki Santa Gemma Galgani ada dilaksanakan pertandingan/lomba masak dengan bahan dasar ubi.
Ada juga pertandingan bola Volly antar lingkungan sehingga demi mempersiapkan itu, warga lingkungan Paroki melakukan kerja bakti untuk membersihkan lapangan Volly di lingkungannya untuk berlatih. Meskipun gawai ini dilaksanakan setiap setahun sekali, para warga lingkungan paroki St. Gemma Galgani Ketapang telah menghidupi persekutuan sebagai tugas Yesus sebagai Raja yaitu menyatukan umat. Selanjutnya, tugas sebagai nabi yakni mewartakan iman. Oleh karena itu, diadakan pula kegiatan-kegiatan yang berfungsi untuk membina iman yaitu Seminar tentang Yesus Kristus, Pola Asuh Anak, Kesaksian Iman dari Pastor Zakarias Lintas.
Semua kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan untuk mendewasakan iman umat di Paroki Santa Gemma Galgani Ketapang. Kegiatan terakhir dalam menghidupi tugas Yesus sebagai Imam yaitu ibadat dan doa. Ditandai dengan adanya Perarakan Patung Santa Gemma Galgani di halaman Gereja Katedral dan Misa Perayaan Puncak Pesta Pelindung Paroki yang dihadiri oleh seluruh umat dan diiringi Paduan Suara AMBA yang pada 18 Juni 2023 ini juga merayakan ulang tahunnya yang ke-28.
Romo Laurensius Sutadi, Pastor Paroki Katedral Santa Gemma Galgani sekaligus Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang mengungkapkan bahwa segala kegiatan acara makan-makan, pentas seni, dan lain sebagainya ini merupakan Perayaan Iman. Itulah yang membedakan antara konser dangdut, konser-konser musik dengan perayaan iman. Romo Sutadi juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat untuk partisipasi aktif dalam suksesnya perayaan Ulang Tahun sekaligus Pelindung Paroki Santa Gemma Galgani Ketapang. Perlu diketahui, bahwa panitia kegiatan ini berasal dari kerja sama antar ketua-ketua lingkungan di Paroki Santa Gemma Galgani.


Kegiatan Pentas Seni dan Drama Komedi
Dalam perayaan puncak tersebut diwarnai dengan berbagai penampilan-penampilan pentas seni yang dari umat Paroki Katedral Santa Gemma Galgani Ketapang. Ada penampilan Dance dari Monic Priscilla, SEKAMI, dan Loban. Selain itu Mars Katedral St. Gemma Galgani Ketapang dikumandangkan dalam pembukaan acara oleh OMK St. Gemma Galgani. Selain itu ada juga pembagian hadiah dari lomba-lomba seperti lomba mewarnai PIA, lomba masak, dan lomba Volly Putera Puteri. Yang paling menggelitik adalah aksi Drama Komedi yang diadakan oleh Sekami dan juga Keluarga Seriuk Serukui.
Drama Komedi yang diadakan oleh Sekami mengenai kisah Malin Kundang si Anak Durhaka yang dikemas secara modern dan jenaka sehingga mengundang gelak tawa para penonton yang menyaksikannya. Tidak hanya itu, undangan juga dihibur oleh Keluarga Seriuk Serukui yang dibawakan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu dengan Bahasa Lokal Ketapang yang khas.


Keluarga Seriuk Serukui sendiri berarti keluarga yang sehati sepemikiran dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Di mana dalam Gereja, keluarga merupakan kekuatan dalam hidup menggereja. Garis besar dari drama komedi tersebut dibagi dalam tiga episode. Episode pertama memperlihatkan sosok ibu yang sedang membersihkan rumah dan sang bapak dengan penampilan yang lucu.
Adegan ini berkisah tentang keromantisan rumah tangga. Tiba-tiba masuk sang anak nakal yang hobbynya bermain HP dan memaksa meminta uang. Terjadilah pertengkaran antara ibu dan bapak mengenai cara mendidik anak. Sang anak kemudian disuruh pergi oleh sang bapak, sementara ibu dan bapak bertengkar hebat, ibu melempar dandang, sementara bapak mengeluarkan ketapel mengarah ke istrinya. Tetapi dalam aksi kejar-kejaran itu, sang Bapak terpeleset oleh kulit pisang.



Pada episode kedua, terlihat adegan ibu yang sedang memasak sementara bapak hendak memberikan hadiah kepada istrinya sebuah lato-lato. Di sini terjadi percakapan yang menggelitik antara suami istri tersebut. Selanjutnya muncul seorang figur lain yang membawa anjing sambil melihat ke kiri dan ke kanan seperti memeriksa bangunan. Di tengah dialok, muncul sang anak dengan seragam SMP memanggil-manggil dan minta diantar ke sekolah. Bapak kemudian mengantar anaknya itu ke sekolah dengan menggunakan gerobak.
Di Episode terakhir memperlihatkan sosok Bapak sedang membaca koran, sementara ibu sedang menyiram tanaman. Selanjutnya terjadi dialog lucu lalu muncullah sang anak yang dating menggunakan toga dan membawa ijazah untuk memperlihatkan bahwa ia telah diwisuda.



Setelah beberapa percakapan, sang anak meminta untuk menikah. Lalu ibu dan bapak membawa sang anak ke Pastoran, lalu semua anggota pendukung acara kegiatan Ulang Tahun ke-61 dan Pesta Pelindung Paroki Katedral St. Gemma Galgani telah berbaris rapi untuk mengucapkan: “Segenap panitia dan semua pengisi acara mengucapkan Selamat Merayakan Pesta Pelindung Paroki St. Gemma Galgani Ketapang. Lalu semuanya bersama-sama menyanyikan lagu “Kapan-Kapan: Album Koes Plus”. Setelah itu dilanjutkan dengan acara bebas.
Kegiatan Ulang Tahun ke-61 dan Perayaan Pesta Pelindung Paroki Katedral St. Gemma Galgani tersebut dilaksanakan dengan penuh kreativitas dari, untuk dan oleh umat Paroki Katedral sendiri. Dari awal perencanaan kegiatan untuk menghidupi tema “Melaksanakan Tugas Perutusan Sebagai Imam, Nabi dan Raja” sungguh-sungguh terlaksana tentu saja sebagai ungkapan iman umat Paroki St. Gemma Galgani Ketapang. Semangat magis dari spirit Santa Gemma Galgani yang dihidupi oleh umat Paroki Katedral St. Gemma Galgani Ketapang untuk hidup di dalam iman yang kokoh memang patut diacungi jempol.




Seiring perkembangan zaman yang semakin modern, pembinaan iman merupakan suatu hal yang sangat penting. Diperparah dengan semakin maraknya intoleransi dan radikalisme, pembinaan iman secara terus menerus merupakan suatu kebutuhan bagi umat untuk menyikapi segala macam situasi sosial dengan penuh iman dan kasih. Buah-buahnya dapat kita rasakan hingga saat ini, Paroki Katedral St. Gemma Galgani memiliki umat yang militan dan aktif di dalam paroki baik dari segi kuantitas serta kualitas sehingga berbagai kegiatan yang dilaksanakan selalu meriah dan tetap hidup dari masa ke masa. (Fr. Fransesco Agnes Ranubaya – Narasumber: Nilus)




