Oleh: Alvindo Ego, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino – Ngabang
MajalahDUTA.Com,Pontianak-Kamis, 4 Februari 2021 adalah hari pertama keberangkatan anggota Ikatan Mahasiswa Katolik (IMK) ke dusun Selabih Atas, desa Setia Budi (Sebalo), Kab. Bengkayang yang berjumlah 21 Orang Mahasiswa/i dan didampingi oleh Fr. Mikael Ardi.
Tujuan kami disana ialah melakukan Bakti Sosial (Baksos). Baksos adalah salah satu Program Kerja (Proker) Ikatan Mahasiswa Katolik (IMK). Bakti Sosial ini kami laksanakan selama 10 hari.
Di hari pertama menuju kampung tepatnya di dusun Selabih Atas, kami harus berjalan kaki dengan jarak sekitar 5 km bersama para warga yang telah menjemput dan membantu kami untuk membawa perlengkapan selama melakukan BAKSOS.
Bakti Sosial Mahasiswa
Di perjalanan ada banyak tantangan dan rintangan yang harus kami lalui, mulai dari jalanan yang licin dan berbatu, banjir, bukit dan tanah longsor yang terjadi akibat hujan deras, yang kemudian menutup akses jalan untuk masuk ke tempat pelaksanaan BAKSOS.
Baca Juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino-Terbit Harapan, Terbenam Kenangan
Tidak patah semangat, kami pun terpaksa harus menerobos pepohonan yang tumbang akibat longsor tersebut. Dua jam lebih lamanya di perjalanan, akhirnya kami pun sampai di tempat di mana kami akan menginap, yaitu di rumahnya Pak RT. Kehadiran kami pun disambut baik dan ramah oleh masyarakat yang ada didusun Selabih Atas.
Pengalaman ini mengingatkan saya ketika masih duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas), di mana ketika hendak pergi dan pulang sekolah saya harus berjalan kaki dengan jarak 6 km.
Hanya saja yang membedakan perjalanan saya dan pengalaman BAKSOS ini ialah tantangan jalannya. Saat BAKSOS, kami harus naik turun bukit dan harus melewati tanah longsor serta jalan licin.
Semangat Melayani
Dan ketika di sana, ada banyak kegiatan yang kami lakukan. Selain membantu masyarakat membangun gedung gereja (mengumpulkan kayu cerucuk dari hutan, mengangkut pasir dari sungai dan memikul papan), dari antara kami juga ada yang menangani tugas sebagai pendamping belajar untuk anak-anak (mulai dari SD hingga SM).
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19
Sebelum dan sesudah bekerja, biasanya saya selalu berdoa dalam hati agar segala pekerjaan yang kami lakukan bisa selalu berjalan dengan baik dan lancar.
Saya yakin dan percaya, hanya kepada Tuhan kita bisa memohon dan meminta pertolongan agar setiap apa yang kita kerjakan bisa dilindungi dan diberi kelancaran.
Yakin dan Percaya
Baksos yang kami laksanakan ini dalam rangka membantu masyarakat yang ada di Selabih Atas untuk membangun gereja mereka. Selama melaksanakan kegiatan, canda dan tawa mulai terasa saat kami bersama dengan warga disana dan tak jarang, kami juga belajar bahasa mereka yaitu bahasa bekati (salah satu bahasa daerah suku Dayak Kalbar).
Ada satu atau dua bahasa yang saya ingat dari bahasa mereka disana, misalnya: Kokong yang berarti Cape atau lelah, Madi’k berarti berhenti atau diam. Bahasa ini biasa sering saya ucapkan ketika kami sedang berkerja bersama masyarakat di sana.
Baca Juga: MENGENAL SOSOK USKUP AGUNG PONTIANAK, MGR. AGUSTINUS AGUS
Ada banyak pengalaman yang saya dapat ketika bersama masyarakat, selain belajar bahasa bekati, saya juga belajar tentang bagaimana caranya bekerja sama dalam melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan sendiri.
Kemudian belajar tentang apa itu arti sebuah kebersamaan, sehingga ketika melihat kekompakan dan semangat para warga yang ada di dusun Selabih Atas, kadang terbesit dalam hati saya untuk berdoa kepada Tuhan supaya masyarakat di tempat ini tetap selalu bisa tersenyum dan bisa bekerja sama dalam melakukan sesuatu agar kelak kampung mereka bisa maju.
Bekerja Sama
Dan ketika mendekati hari perpisahan, bersama masyarakat kami juga melakukan beberapa kegiatan di antaranya adalah melakukan outbound, senam bersama, bermain bola voli, bola kaki dan lain sebagainya. ketika moment itu, mereka sungguh sangat antusias sekali, tidak ada dusta di balik tawa dan senyuman mereka.
Perasaan senang tentunya menghantui saya, terutama ketika saya dan teman-teman bisa menghibur mereka dan bisa melihat mereka tersenyum lepas. Dihari terakhir Minggu, 14 Februari 2021, ketika selesai ibadat di rumah bapak pemimpin umat kami juga berbincang-bincang sebentar bersama masyarakat dan berfoto bersama agar bisa menjadi kenang-kenangan terindah dan menjadi cerita terbaik dalam sebuah kisah.
Baca Juga: Saya Senang Berkarya di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan
Dan semoga kenangan ini bisa menjadi sejarah dalam hidupku. Harapanku, semoga masyarakat yang ada di dusun Selabih Atas selalu kompak, semakin bersemangat dalam bekerja, mau berkerja sama, dan selalu saling tolong menolong dalam setiap kesusahan.
Semenjak berada di dusun Selabih Atas ada banyak pengalaman berharga yang saya peroleh, di antarannya adalah arti penting sebuah kebersamaan, arti penting sebuah kekompakan dan arti penting sebuah kerjasama dalam team.
Pengalaman Berharga
Segala sesuatu yang kita lakukan bersama dan kita kerjakan bersama akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Seperti halnya yang dikatakan oleh pepatah kuno, “pekerjaan yang berat akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama dan dirasakan bersama”.
Terima kasih banyak Tuhan atas pertemuan yang telah Engkau rencanakan untuk kami dan masyarakat yang ada di dusun Selabih Atas. Semoga pelayanan yang kami berikan kepada mereka dapat memperteguh iman mereka akan Dikau.




