Gambar. Titik Pemberian perlakuan (Sumber pribadi) (2024)
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin| Selasa 06 Agustus 2024 – Mengunyah merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh setiap makhluk hidup, khususnya manusia.
Rahang yang kuat membantu dari setiap momentum gerakan terhadap gigi.
Proses menghaluskan makanan melalui gigi dan lidah sebagai pengontrol kemudian dihantarkan ke tenggorokan.
Makanan akan melewati dua saluran usus, yaitu usus halus dan usus besar. Makanan yang masuk menjadi nutrisi di usus halus, sedangkan usus besar berupa ampas yang dikeluarkan melalui anus.
Semua alur mekanisme ini secara rutin digunakan dalam menjaga kehidupan setiap individu manusia.
Bagaimana jika terjadi disfungsi rahang, semua makanan yang masuk ke mulut tidak dapat diolah menjadi nutrisi.
Energi akan berkurang dan menjadi lemah untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Menjaga rahang sangatlah penting dan jarang dipahami dengan baik.
Apakah ketika mengunyah berlebihan, tertawa terlalu lebar hingga membuka mulut atau tidak pernah tersenyum dapat menyebabkan disfungsi rahang.
Mengingat dua pasien yang pernah dirawat sebelumnya, dengan bukti masalah serius pada gangguan rahang.
Pasien pertama merasa sangat sulit untuk membuka mulut dengan alasan tertawa terlalu lebar.
Melalui pengamatan kemudian diduga terdapat otot dan ligamen yang kaku sehingga mengunci gerakan.
Berikutnya pasien kedua jelas tidak dapat memberikan ekspresi wajah gembira, karena gangguan tersebut tidak dapat memberikan senyuman yang manis.
Pemeriksaan yang dilakukan mengarahkan pasien untuk membuka mulut sangat sulit, bahkan gangguan juga terjadi pada lidah, sudah pasti suara menjadi terganggu.
Bawah rahang
Perawatan pijat pada kedua pasien sama saja, namun untuk pasien kedua sedikit lebih ekstra dalam mengurai kekakuan.
Pasien pertama dengan memberikan sentuhan pada ligamen rahang, dengan teknik menggunakan satu jari menelusuri sumber titik masalah, kemudian berganti melalui posisi di bawah rahang, pastikan terjadi relaksasi untuk perawatan berulang, dilarang memberikan tekanan terlalu kuat karena dapat memicu masalah baru yaitu, kesulitan menelan.
Berikutnya pada pasien kedua dengan gerakan tambahan di bawah rahang, tepatnya mendekati tenggorokan, leher kiri dan kanan, tak lupa bahu ataupun pundak.
Tekanan juga bisa berpengaruh pada kondisi statis, tidak dinamis, vertikal ke atas dan ke bawah untuk memastikan ligamen dan otot terurai dengan lembut.
Peringatan untuk titik-titik di leher jangan terlalu keras memberikan tekanan karena bisa memicu kesulitan memalingkan kepala, selain itu leher juga memiliki ribuan titik saraf menuju otak.
Berdasarkan hasil perawatan kedua pasien dapat diatasi, diperlukan kesabaran dalam menunggu proses sisa hasil dari rileksasi.
H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar. (2024)
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin| Senin, 05 Agustus 2024- Keterkaitan globalisasi kebudayaan makan(an) mi instan dengan kecenderungan untuk massalisasi rasa produk secara global dapat dicermati dari paling tidak tiga industri mi instan yang memperkenalkan beragam rasa baru. Jelas ini bukan sebuah kebetulan.
Belasan rasa baru: Spagheti Salsa, Pizza Plus, Chicken Viesta, BBQ Burger dan Sausage Grill, Chicken Lemon, Pizza Favourite, Spagheti Tomato & Cheese; Roasted Beef Burger; BBQ Sausage; Burger, Pizza dan Chicken Nugget ini sangat jelas meningkatkan konsumen pada selera rasa makanan Barat yang lain.
Pengenalan selera rasa untuk mi instan seperti itu mudah diduga adalah karena memudahkan dan mendekatkan imajinasi konsumen dengan popularitas berbagai makanan cepat saji yang diimpor dari dunia Barat seperti tersedia di restoran-restoran: McDonald, Wendy’s, Burger King, Pizza Hut, dll.
Dalam hal ini, ABG adalah golongan yang mempunyai selera dan gaya hidup (peka zaman) yang mudah berubah-ubah. Mi instan adalah jenis makanan peka zaman.
Kisah lain tentang popularitas bakmi di Yogya dapat memberi contoh bagaimana nasi yang semula menjadi satu-satunya makanan pokok, tergusur oleh makanan mi instan akibat modernisasi dan urbanisasi gaya hidup konsumen.
Bukan sekedar kebetulan atau bahkan kesengajaan demi kepentingan promosi bisnis belaka kalau membaca kisah sukses seorang pengusaha restoran bakmi berikut ini. Bagi konsumen di kota Yogya, bakmi ternyata telah menjadi pesaing atau alternatif yang cukup memasyarakat terhadap kebiasaan makan nasi.
Semula memang ada mitos (Barthes, 1972), yang menyatakan bahwa “orang mudah merasa belum makan kalau belum menyantap nasi.”
Sesudah beberapa lama menekuni bisnis makanan, Bambang Benny Si, pemilik restoran “Mie Nusantara” di Yogya (Malioboro Mall) bercerita tentang langgananya sebagai berikut: Katanya, “Alhasil mereka pun ketagihan dan merasakan bahwa mi ternyata bisa membuat perut kenyang, dan enak” (KR, 21 Februari 2000).
Restoran ini terletak di sebuah mal dengan keuntungan yaitu mampu mendekatkan dagangan dengan konsumen.
Sehabis belanja di mal atau super market, misalnya, konsumen langsung menyantap mi dan tak perlu lagi memasak ketika tiba di rumah.
Sebuah strategi yang jeli ketika menyadari bahwa nasi cenderung bukan lagi satu-satunya makanan pokok dan merupakan keharusan bagi pola makan masyarakat Indonesia.
Begitu juga mi instan telah menggeser Jajan Pasar yang merupakan kebiasaan makan orang kebanyakan dan berfungsi sebagai makanan di luar makan besar; dalam arti tertentu dapat diartikan sebagai makanan sela di antara waktu makan.
Kehadiran mi instan ini pada gilirannya secara perlahan menggeser beberapa jenis makanan yang semula biasa tersaji di meja makan.
Tatanan budaya (cultural order) diwujudnyatakan dalam tatanan benda-benda (order of goods).
Produksi adalah reproduksi kebudayaan dalam sistem benda-benda (system of objects). Dengan kata lain, barang-barang yang dikonsumsi sebenarnya merupakan penanda (signifiers) dalam sistem kultural dan sosial, dan sistem ekonomi kemudian merespons kode tersebut dengan memproduksi signifiers lain lagi (Sahlins, 1976).
Dengan menambahkan sayuran, daging maupun bumbu lain dalam menyajikan mi instan, maka mi instan dapat dimasukkan dalam kategori jenis makanan “berat”, Artinya, jenis makanan yang fungsinya dapat menggantikan nasi sebagai makanan pokok.
Meskipun selama ini memang muncul mitos bahwa “jika belum makan nasi, terasa belum makan”, mi instan telah menggeser nasi sebagai makanan pokok. Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi yang membawa perubahan pada gaya hidup, tampaknya mitos tersebut mulai pudar.
Meningkatnya kemakmuran dan masuknya pengaruh gaya hidup barat melalui turisme dan bisnis telah mengubah selera dan perilaku konsumen (Nestor, 122, 2006).
Perilaku konsumen yang menganggap mi instan merupakan jenis makanan yang sifatnya mendadak tetapi “penambahan” gizi menjadi pertimbangan untuk menjadikan mi instan tidak lagi sekadar makanan biasa, tapi memiliki “citra” (Baudrillard) yang lebih baik sebagai makanan modern.
Dalam perbincangan tentang strategi lokalisasi produk global(isasi) seperti mi instan, sebuah politik ekonomi konsumsi global biasanya berstrategi memperhatikan kondisi tertentu dari kebudayaan lokal.
Misalnya, memproduksi mi instan dengan rasa yang sesuai dengan selera masyarakat setempat, dan dalam iklan-iklan promosi dagangnya memanfaatkan gambar, syair dan irama lagu dari seni budaya “nasional” yang sudah begitu akrab di mata dan telinga konsumen Indonesia.
Indomie beberapa kali mengeksploitasi beberapa bagian lagu nasional kebangsaan Indonesia lewat syair seperti “Dari Sabang sampai Merauke … dan seterusnya.” Yang dalam iklan televisi masih ditambahkan tayangan sebuah keluarga di mana si ayah adalah pilot pesawat terbang yang mempunyai pelanggan orang Arab dan orang asing lainnya.
Globalisasi sesungguhnya didukung dan dipacu oleh warisan pengetahuan dari zaman Pencerahan yang menggiatkan modernisasi dan industrilisasi dalam kehidupan di dunia ini.
Industrilisasi global makanan pop seperti mi instan itu menghasilkan beberapa kontradiksi, paradoks dan ironi dalam kehidupan. Batas-batas lokal (teritorial) dalam kehidupan ekonomi dan kebudayaan akhirnya menjadi semakin sulit untuk dipertahankan ketika harus berhadapan dengan suatu gaya hidup ekonomi dan kebudayaan global yang cenderung hanya menghargai segala sesuatu yang bersifat asal baru dan asal dapat terjangkau atau terbeli (Nestor, 122, 2006)
Kebutuhan akan suatu barang tidak lagi sederhana bahwa barang tersebut dipandang dari fungsi kegunaan semata, namun juga dipengaruhi oleh keinginan untuk mampu mengikuti zamannya. Penampilan yang elegan dan mengikuti perkembangan zaman dapat menjadi kunci penerimaan makanan secara global.
Di dalam masyarakat kapitalisme global, sedikitnya terdapat tiga bentuk “kekuasaan” yang beroperasi di belakang produksi dan konsumsi sebuah produk, yaitu kekuasaan kapital, kekuasaan produsen, serta kekuasaan media.
Ketiga bentuk kekuasaan tersebut pada berbagai praktik sosial telah menentukan bentuk dan gaya, produksi dan konsumsinya. Dalam hal ini sebuah produk dapat menentukan status, prestise dan simbol-simbol sosial tertentu untuk para pemakainya (Bourdieu, 1979).
Bertitik tolak dari identitas dan kecenderungan gaya hidup tersebut—maka sikap atau perilaku dalam mengkonsumsi mi instan dapat dilihat melalui kemasan mi instan. Kemasan mi instan selalu berusaha membentuk citra dan mencobakan produknya bagi konsumen.
Iklan melalui media (massa) informasi merupakan alat yang paling efektif untuk membentuk kebutuhan terhadap produk melalui penyebaran informasi mengenai sebuah produk. Melalui iklan di media masssa orang didorong untuk mengkonsumsi produk yang diiklankan dan membentuk sebuah citra akan sebuah produk.
H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar. (2024)
Dalam masyarakat yang dipengaruhi kapitalisme global, media (massa) informasi telah membentuk dan mencipta gaya hidup dengan memberi pendangan bahwa kepribadian, harga diri, dan kebahagiaan hanya dapat diperoleh melalui pembelian dan pemilikan sebuah barang komoditi. Makanan seperti mi instan sebenarnya adalah bagian dari strategi kerja normalisasi tubuh manusia.
Tubuh normal tak lain adalah sumber daya yang harus disiplin dan produktif menghasilkan sesuatu target tertentu bahkan dapat saja sampai membuat tubuh dan pikiran memang akan menerima kehidupan seperti tanpa mampu protes apapun.
Meskipun konsumen sadar akan apa yang menjadi keputusannya untuk mengkomsumsi mi instan meski mengandung bahan yang membahayakan tubuh tapi konsumen tidak mampu untuk berbuat lebih banyak.
Kenyataan ini membawa pemahaman lain, yaitu sesungguhnya menjadi begitu jelas sekali bahwa pola dan keinginan konsumsi bukan melulu di dasarkan pada nilai kegunaan semata. Berbagai nilai yang ada di luar nilai guna juga mempengaruhi keputusan mengkonsumsi (Nestor, 120, 2006). Dalam hal ini penggunan mi instan pun juga merujuk pada identitas dan status sosial tertentu yang di-imajinasi-kan konsumen.
Kelihatan modernitas telah menggeser pemaknaan orang akan makan dan makanan. Makanan ibarat bahan bakar untuk kendaraan karena memiliki nilai efisiensi (tidak memboroskan waktu). Yang terpenting bagi konsumen adalah makan sekedar mengisi perut supaya mereka tidak lapar dan dapat melanjutkan aktivitas berikutnya.
Didukung dengan daya magis iklan, mi instan tampaknya berhasil mengukuhkan diri sebagai makanan “peka zaman”.
Ingatan akan produk tersebut dibentuk melalui intensitas pesan mengenai siapa yang layak mengkonsumsi jenis makanan ini. Pemakaian sudut pandang atau bingkai keluarga sebagai latar iklan terhadap beragam merek mi instan di televisi, radio dan koran memelihara ingatan konsumen akan kebutuhan mi instan sebagai “bahan bakar” agar kendaraan dapat tetap berjalan.
Melalui mediasi iklan, ia bekerja dengan efektif untuk mendekatkan dan mengakrabkan makanan asing dan global ini dalam rumah tangga konsumen lokal, serta bagaimana “nilai lebih” makanan ini ditampilkan demi memenuhi “keamanan” pangan.
Konsumsi dalam masyarakat ekonomi global adalah imajinasi tentang pernyataan selera individual. Industri konsumen modern seolah hanya membaca apa yang secara alami dan permanen terkandung dalam selera dan citra rasa individual.
Perkembangan dalam pengolahan pangan modern membawa ide mengenai keunggulan pangan modern. Keunggulan ini memperoleh tempat dengan gagasan keunggulan kompetitif.
Dengan cara berpikir ini—atau lebih tepatnya cara ber-imajinasi –penemuan metode pengolahan modern makanan instan mendapat kekuatannya. Makanan yang diolah dengan teknologi yang lebih tinggi memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan makanan yang secara teknologi diolah dengan lebih sederhana.
Dalam hal ini, dikotomi biner antara makan tradisional dan makanan modern membuat makanan modern mampu diterima dengan lebih luas. Dikotomi biner ini membuka peluang masuknya nilai lebih dari makanan modern, misalnya seperti: kemasan yang bagus dan aman, kecukupan nilai-nilai gizi yang lebih terjamin, kebersihan, termasuk juga kemampuan untuk di simpan dan tahan lebih lama.
Hampir seluruh mi instan yang beredar di pasaran selalu bergambar suatu sajian atau semacam tata saji semangkuk mi.
Pengetahuan kemasan untuk produk makanan bisa jadi kurang begitu dipahami oleh konsumen. Mereka tidak terlalu memperhatikan informasi penting yang muncul dalam kemasan. Yang penting adalah mi tidak perlu bergizi baik karena bukan makanan pokok, tapi mampu membuat kenyang dan menghemat waktu: ready to eat, ready to cook, half cooked, dan ready to serve.
Hal ini menegaskan bahwa perilaku konsumen terutama tidak semata ditentukan oleh pikiran-pikiran (Ideal-isme) mengenai kebutuhan akan barang itu sendiri melainkan juga penetrasi iklan dan promosi visual yang begitu massif masuk dalam ingatan konsumen. Akibatnya, nasi atau bukan nasi tidak lagi terpikirkan. Kepentingan utama untuk mengkonsumsi makanan modern ini adalah sejauh praktis, efisien dan kenyang (Real-isme).
Menurut teori “tingkat kebutuhan”, perilaku konsumen bukan lagi semata-mata unsur rasionalitas ekonomi ataupun irasionaltas psikologis, tapi konsumsi telah menjadi rekayasa politik, ekonomi, dan budaya yang membuat orang-orang merasa “wajib ingin sesuatu”.
Meskipun konsumsi ada dalam setiap gerak kebudayaan manusia, namun baru beberapa dekade terakhir “konsumsi” dalam skala massa muncul sebagai dasar kehidupan daripada sebagai gejala kehidupan. Di mana terdapat proses produksi subsisten, di situ dipastikan konsumsi subsisten: “Semua yang diproduksi pasti dikonsumsi”.
Maka, tak heran kompetisi antar-status golongan yang beroperasi atas dasar pola-pola konsumsi, seperti yang kata Weber, menjadi kelihatan lebih penting daripada perjuangan antar kelas menurut Marx, yang beroperasi atas dasar pola-pola produksi. Sebuah pola dasar yang ketika bergandengan dengan sistem industrilisasi global akan menghasilkan apa yang disebut kebudayaan massa (Smith, 2001) di mana masing-masing kelompok orang – siapapun dan di manapun – boleh dan dapat saling bertemu hanya di dalam pasar dan hal-hal lain yang terkait dengannya. Di sini “konsumsi” semakin mendapat tempat sebagai sebuah “society drive.”
Dalam wajah kebudayaan semacam ini maka segera saja setiap wilayah, setiap orang, dan setiap celah kebutuhan adalah pasar. Bahkan untuk jenis-jenis kebutuhan yang dahulu hanya menjadi ruang “lokal” karena masih aktualnya konsep “otensitas” atau “privasi” atau bahkan “tabu”.
Semangat-semangat itu mengabur dalam suatu ruang besar yang disebut “pasar”, digantikan dengan citra dan makna baru (signification) yang sangat cerdik disampaikan oleh media komunikasi massa(l).
Dalam media komunikasi massa(l) modern selalu saja ada yang “lebih” baru, bukan saja makna-makna tapi juga konstruksi identitas (Nestor, 122, 2016). Setiap orang terhubung dengan televisi murni sebagai individu yang terjarak dari ikatan-ikatan sosial aslinya.
Di depan televisi setiap individu adalah anggota-anggota anonim dari kumpulan besar penonton yang abstrak sekaligus universal.
Kolektivitas yang lebih luas di mana seseorang sedang berada, atau nilai-nilai yang sedang dihidupinya, cenderung diabaikan, terkikis dan menjadi kepingan-kepingan.
Baik konsumerisme maupun televisi bukan sumber asli bagi identitas maupun nilai-nilai tapi karena tidak alternatif lain, maka budaya pop dan media massa tampil sebagai satu-satunya bingkai yang tersedia bagi konstruksi identitas kolektif maupun personal.
Orang perlu menyimak panduan gaya hidup yang lebih pop dan karenanya lebih “pas”. Begitulah media komunikasi massa(l) modern bukan saja mengutip moto sebuah produk “membuat jarak kian tak berarti” namun juga mampu membentuk identitas tertentu dan mengarahkan sikap manusia global.
Dan bagaimana ketika ternyata arahan-arahan itu adalah demi dominasi ‘kepentingan tertentu’ dalam proses globalisasi di segala bidang yang langsung maupun tidak langsung dapat bermuara pada suatu struktur ekonomi dan kebudayaan yang tidak adil?
Mi instan sebagai produk budaya pop; sebagai komoditi massa(l) berciri dominan dan peka terhadap kepentingan sepihak yang mengalir bersama cerdiknya peran media massa(l) modern dalam mengaburkan atau menyamarkan perbedaan antara imajinasi dan kenyataan menjadi penting.
Apalagi kemampuan media komunikasi massa(l) untuk menawarkan makna-makna dan citra yang “selalu saja ada yang lebih baru”. Sangat mungkin fantasi tentang “lebih baru” itu juga menentukan dan dengan begitu “mengarahkan dalam persoalan selera dan cita rasa, termasuk makanan.
Peradaban telah pula ikut merubah jejak langkah kebudayaan makan(an) manusia. Dan kini, dalam masyarakat di mana realitas adalah juga yang di-imajinasi-kan dan di-fantasi-kan (Nestor, 124-5, 2006), menyantap mi (secara) instan seolah sudah dapat merasai burger, pizza, sausage grill atau nasi uduk.
Sebuah fakta dan fiksi tentang kebudayaan. Fictio berarti juga sesuatu yang dikonstruksikan, ditemukan, dibuat, selain juga dibuat-buat. Fiksi adalah fiksi, tapi fakta juga fiksi.
By. Media Center San Agustin.
Ditulis: H.Y. Suhendra. Dosen Filsafat dan Metodologi S2 & S3 SKSG Universitas Indonesia dan Unika Santo Agustinus Hippo, Kalbar.
Kepedulian Lingkungan: Fakultas Sains dan Teknologi San Agustin Gelar Aksi Bersih-bersih di Desa Sejiram (2024)
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin| Sambas – Sejiram, Senin 05 Agustus 2024 –Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo mengadakan kegiatan bakti sosial (baksos) di Desa Sejiram pada Rabu, 31 Juli 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk menunjukkan kepedulian dan cinta terhadap lingkungan sekitar.
Kegiatan baksos ini melibatkan total 9 peserta, yang terdiri dari 3 mahasiswa dan 6 dosen dari Program Studi Agribisnis.
Mereka bersama dengan pengurus desa dan masyarakat setempat turut serta dalam berbagai aktivitas pembersihan dan perawatan lingkungan sekitar Kantor Desa Sejiram, Kabupaten Sambas.
Menurut Lukas, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) San Agustin dari Fakultas Sains dan Teknologi, kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang lebih bersih dan indah di desa tersebut.
Fakultas Sains dan Teknologi San Agustin, Peduli Lingkungan (2024)
“Kami sangat senang bisa berkontribusi langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan Desa Sejiram. Ini adalah wujud nyata dari komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan,” kata Lukas (03/08).
Selama kegiatan, para peserta terlibat dalam berbagai kegiatan seperti pembersihan area publik, pengumpulan sampah, dan penataan ruang agar lebih rapi dan menarik.
Menurut Lukas kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat yang merasa terbantu dan berterima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan oleh mahasiswa dan dosen dari Fakultas Sains dan Teknologi.
Lukas Berharap dengan adanya kegiatan ini, diharapkan hubungan antara universitas dan masyarakat semakin erat serta dapat memotivasi lebih banyak pihak untuk berpartisipasi dalam menjaga dan merawat lingkungan sekitar. (S).
By. Media Center San Agustin.
Sumber: Lukas, Ketua BEM San Agustin.
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin| Senin, 05 Agustus 2024- Aktivitas bermain anak memang sangat menyenangkan untuk selalu dikenang.
Wajah yang ceria dengan senyum yang menawan menggambarkan kebahagiaan.
Tawa, canda, duduk, dan berlari bersama seakan mengajak tak ingin mengakhiri semuanya.
Terkadang ada sebagian anak yang merasa kurang beruntung dalam hal ini.
Seharusnya mereka sudah bisa melakukan banyak aktivitas gerak, terutama menggunakan kakinya.
Namun, hal tersebut tidak dapat dilakukan karena masalah yang diderita seperti posisi tulang kaki yang tidak normal, gangguan saraf motorik kasar (cerebral palsy spastik).
Beberapa kelainan dapat terlihat jelas seperti kelainan pada posisi tulang kaki saat dibantu berdiri.
Pada posisi anatomi berdiri tegak tulang betis, tulang paha tidak sejajar lurus sedikit melengkung, dapat dipastikan pergerakan terganggu karena tulang kaki tidak mampu menopang tubuh dengan sempurna.
Penanganannya dapat dibantu oleh medis seperti Dokter Spesialis Ortopedi, dokter spesialis tulang dalam pemasangan pen untuk mengoreksi posisi yang tidak sempurna.
Sedangkan pada gangguan saraf motorik kasar (cerebral palsy spastik) merupakan akibat dari ketegangan otot yang berlebihan, tidak dapat dilihat dengan jelas dan hanya dapat dibuktikan dengan pemberian perlakuan pemijatan pada titik-titik tertentu.
Sebelumnya dari pengalaman pasien pertama sudah dijelaskan diatas dengan adanya gangguan posisi tulang tungkai.
Penanganan melalui pemijatan tidak dapat dilakukan secara maksimal, karena pemijatan hanya dapat mempengaruhi musculus atau gangguan otot bukan pada tulang, namun ketegangan kekakuan otot dapat mengubah gangguan pada pergerakan tulang. Pemijatan hanya memberikan kemampuan saraf untuk bekerja secara normal pada teknik yang dilakukan.
Penelusuran penggunaan pijat
Selanjutnya pengalaman pasien kedua yang menderita gangguan saraf motorik kasar sudah dibuktikan dari analisa medis pada pernyataan cukup menggunakan terapi dalam penanganannya, kata orang tua pasien.
Penelusuran yang dilakukan dalam penggunaan pijat ditemukan titik kekakuan pada otot hamstring atau paha belakang, selain itu terdapat kekakuan pada sendi lutut, dan mengubah posisi permukaan telapak kaki menjadi menekuk ke dalam.
Pada titik permukaan telapak kaki tersebut terdapat rasa nyeri bila ditekan pada salah satu jari.
Relaksasi dimulai melalui otot paha yang sangat kuat menegang sehingga untuk meluruskan kaki agak sulit selama 15 menit terasa rileks beralih ke sendi lutut dan otot sekitar.
Pijat pada sendi lutut sambil melakukan gerakan menekuk dan membuka atau meluruskan. Sendi-sendi tersebut sangat kaku sehingga menimbulkan bunyi pada permukaan tulang.
Dilanjutkan pemijatan permukaan telapak kaki yang agak pucat karena peredaran darah terhambat akibat kekakuan dengan gerakan menekan-nekan jari pada titik yang bermasalah.
Hasil yang didapatkan melalui pijat ini memberikan relaksasi sebelum pasien merasakan nyeri untuk posisi gerakan tertentu. Namun, pijat diperlukan untuk tahap selanjutnya.
MAJALAHDUTA.COM | Senin 05 Agustus 2024- Belum lama ini Paus Fransiskus menyampaikan suratnya kepada para calon imam, tetapi juga kepada para pekerja pastoral dan seluruh umat Kristiani, untuk menggarisbawahi “nilai dari membaca novel dan puisi sebagai bagian dari perjalanan seseorang menuju kedewasaan pribadi,” karena buku membuka ruang batin yang baru dan membantu dalam menghadapi hidup dan memahami orang lain.
Buku yang bagus membuka pikiran, merangsang hati, dan mempersiapkan kita untuk kehidupan, tulis Paus Fransiskus dalam suratnya kepada para calon pendeta , tetapi juga semua pekerja pastoral dan umat Kristen akan menghargai “membaca novel dan puisi sebagai bagian dari jalan seseorang menuju kedewasaan pribadi.”
Itu tulisan dari Tiziana Campisi dari Vatikan News yang tayang pada 04 Agustus 2024, 13:30 waktu Vatikan. Dalam tulisan itu dia menuliskan bahwa Bapa Paus dalam suratnya menuliskan tentang peran sastra untuk pembinaan bermaksud untuk mendorong “kecintaan baru terhadap membaca” dan terutama “mengusulkan perubahan radikal” dalam persiapan para calon imam, sehingga lebih banyak ruang diberikan untuk membaca karya sastra.
Paus Fransiskus menulis itu pada 17 Juli dan diterbitkan pada hari Minggu, 4 Agustus.
Menurut Paus Fransiskus karena sastra dapat mendidik “hati dan pikiran para imam” untuk melaksanakan akal budi secara bebas dan rendah hati” dan untuk “pengakuan yang bermanfaat terhadap keragaman bahasa manusia,” dengan demikian memperluas kepekaan manusia dan mengarah pada keterbukaan spiritual yang lebih besar.
Lebih dari itu, tugas umat beriman, dan khususnya para imam, adalah menyentuh hati umat masa kini agar mereka tergerak dan terbuka terhadap pewartaan Tuhan Yesus.
“Dan dalam semua ini “sumbangan yang dapat diberikan oleh sastra dan puisi memiliki nilai yang tak tertandingi,” tulis Paus.
Membaca dengan baik
Dalam suratnya, Paus Fransiskus pertama-tama menekankan manfaat dari sebuah buku yang bagus yang dapat “memberikan oasis yang menjauhkan manusia dari pilihan-pilihan lain yang kurang menyehatkan,” dan ketika “di saat-saat lelah, marah, kecewa atau gagal, ketika doa itu sendiri tidak membantu kita menemukan ketenangan batin,” dapat membantu kita melewati saat-saat sulit dan “menemukan kedamaian batin”.
“Orang-orang dulunya lebih sering membaca “sebelum kita sekarang terus-menerus terpapar media sosial, ponsel, dan perangkat lain,” kata Paus.
Dia juga menggarisbahwahi bahwa bahwa dalam produk audiovisual, meskipun lebih lengkap, “waktu yang diberikan untuk ‘memperkaya’ narasi atau mengeksplorasi maknanya biasanya cukup terbatas”, sedangkan saat membaca buku, pembaca jauh lebih aktif. Karya sastra adalah “teks yang hidup dan selalu bermanfaat.
Paus Fransiskus – Sumber Vatikan News
Terjadilah, pada kenyataannya, bahwa dalam membaca, pembaca diperkaya oleh apa yang diterima dari penulis, dan ini memungkinkan dia untuk membuat kekayaan pribadinya berkembang.
Sisihkan waktu untuk sastra
Meskipun merupakan hal yang positif bahwa “beberapa seminari telah bereaksi terhadap obsesi dengan ‘layar’ dan berita palsu yang beracun, dangkal, dan penuh kekerasan.
Bapa Paus menganjurkan untuk mendedikasikan waktu dan perhatian pada literatur,” untuk membaca dan mendiskusikan buku-buku, baru atau lama, yang memiliki banyak hal untuk dikatakan.
Dia mengakui bahwa secara umum mereka yang sedang dalam pembinaan untuk pelayanan tertahbis mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk mendedikasikan diri pada literatur, yang terkadang dianggap sebagai “sebuah ‘seni minor’ yang tidak perlu menjadi bagian dari pendidikan calon imam dan persiapan mereka untuk pelayanan pastoral.
“Pendekatan seperti itu tidak sehat dan dapat menyebabkan “pemiskinan intelektual dan spiritual yang serius bagi para imam masa depan, yang karenanya tidak memiliki akses istimewa yang diberikan oleh literatur ke inti budaya manusia dan, lebih khusus lagi, ke hati setiap individu,” kata Paus.
Karena dalam praktiknya literatur berkaitan dengan apa yang kita masing-masing inginkan dari kehidupan, tulisnya, dan literatur masuk ke dalam hubungan yang erat dengan keberadaan konkret manusia dan semua ketegangan, keinginan, dan maknanya.
Melihat Yesus
Agar dapat menanggapi dengan tepat kehausan banyak orang akan Tuhan, jangan sampai mereka mencoba memuaskannya dengan solusi yang mengasingkan atau dengan Yesus yang tidak berwujud.
Umat beriman dan imam dalam mewartakan Injil harus berusaha agar “setiap orang dapat berjumpa dengan Yesus Kristus yang menjadi manusia yang menjadi sejarah.
Paus menganjurkan kita tidak boleh melupakan “daging” Yesus Kristus, “daging yang terbuat dari nafsu, emosi dan perasaan, kata-kata yang menantang dan menghibur, tangan yang menyentuh dan menyembuhkan, pandangan yang membebaskan dan memberi semangat, daging yang terbuat dari keramahtamahan, pengampunan, kemarahan, keberanian, keberanian; dengan kata lain, cinta.
Karena alasan ini, Paus Fransiskus menekankan bahwa keakraban dengan sastra dapat membuat para calon imam dan semua pekerja pastoral semakin peka terhadap kemanusiaan penuh Tuhan Yesus, di mana keilahian-Nya sepenuhnya hadir. (Samuel).
July 28 2024 Angelus prayer Pope Francis (vatikannews) (diakses 2024)
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin, Vatikan| Jumat, 02 Agustus 2024 – Dalam pidato Angelus terbaru, Paus Fransiskus kembali mengingatkan kita tentang pentingnya mengenali dan bersyukur atas mukjizat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan merenungkan bacaan Injil yang mengisahkan mukjizat roti dan ikan, Paus Fransiskus menyajikan pesan mendalam tentang tindakan sederhana namun penuh makna: mempersembahkan, mengucap syukur, dan berbagi.
Tulisan yang diangkat oleh Deborah Castellano Lubov salah satu penulis di Vatikan News yang terupload 28 Juli 2024, 12:05 Waktu Vatikan.
Paus Fransiskus mengajak kita untuk melihat setiap elemen dari Perayaan Ekaristi sebagai cerminan dari tindakan Yesus dalam mukjizat roti dan ikan.
Tindakan-tindakan ini—mempersembahkan, mengucap syukur, dan berbagi—bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga panduan hidup yang mendalam.
Dengan mempersembahkan apa yang kita miliki, meskipun tampaknya sedikit, kita mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan siap untuk diberkati-Nya.
Penting untuk diingat bahwa apa yang kita miliki, meskipun tampaknya tidak signifikan dibandingkan dengan kebutuhan dunia, dapat menjadi bahan mukjizat ketika menyerahkannya kepada Tuhan.
Paus Fransiskus, Vatikan News (diakses 2024)
Paus Fransiskus menekankan bahwa dengan memberikan kembali kepada Tuhan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita, bersama dengan usaha dan kasih, kita memungkinkan Tuhan untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih besar dan lebih indah.
Mengucap syukur adalah tindakan yang menunjukkan penerimaan kita atas karunia Tuhan.
Ini adalah momen untuk merayakan dan mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah dari-Nya.
Melalui sikap syukur ini, setiap orang diajak untuk menguatkan hubungan dengan Tuhan dan mengingatkan diri bahwa segala hal yang baik dalam hidup adalah hasil dari kasih-Nya.
Akhirnya, berbagi adalah tindakan yang menyatukan.
Dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus selama Misa, manusia tidak hanya menguatkan iman tetapi juga berpartisipasi dalam suatu komunitas yang saling mendukung dan memperkaya.
Berbagi bukan hanya soal memberi, tetapi juga menerima dan tumbuh bersama dalam kasih.
Paus Fransiskus mengajak kita untuk merefleksikan beberapa pertanyaan penting: Apakah kita benar-benar percaya bahwa kita memiliki sesuatu yang unik untuk diberikan?
Apakah kita bersyukur atas karunia-karunia Tuhan?
Dan apakah kita hidup dengan semangat berbagi, menjadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk bertumbuh bersama?
Pesan Paus Fransiskus adalah panggilan untuk lebih dari sekadar rutinitas keagamaan—ini adalah ajakan untuk mengalami dan merayakan mukjizat Tuhan setiap hari, dalam tindakan-tindakan kecil dan besar, dan dalam hubungan kita satu sama lain.
Dengan bantuan Bunda Maria, marilah kita menghayati setiap perayaan Ekaristi dengan iman dan membuka diri untuk menikmati setiap mukjizat kasih karunia Tuhan. (S).
By. Media Center San Agustin. Sumber: Vatikan News
Lowongan Dosen Agribisnis dan Dosen Sistem Informasi San Agustin (2024)
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin| LANDAK, Kalimantan Barat, Jumat 02 Agustus 2024 – Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) membuka kesempatan emas bagi para profesional untuk bergabung sebagai dosen pada tahun akademik 2024/2025.
Lowongan ini ditujukan bagi kandidat yang ingin berkarir di bidang Agribisnis dan Sistem Informasi.
Kriteria yang dicari pastinya, sehat jasmani dan rohani.
Lulusan S2 atau S3 di bidang Agribisnis (diutamakan linear) atau Sistem Informasi/Teknik Informatika (diutamakan linear)
Mereka yang mau melayani dan bersedia ditempatkan di Ngabang, Kalimantan Barat.
Untuk Lokasi Kerja berada di Kampus III Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Jalan Raya Km. 14 Plasma 2, Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat.
Para calon yang memenuhi syarat dapat mengajukan lamaran melalui link berikut: bit.ly/PELAMARKERJAYLB atau mengirimkan CV ke email: hrd@yayasanlandakbersatu.org.
Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari universitas terkemuka ini dan berkontribusi dalam pengembangan akademis di Kalimantan Barat!
Lowongan Dosen Agribisnis dan Sistem Informasi San Agustin (2024)
By. S|Media Center San Agustin.
Sumber: HRD San Agustin.
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin|Kalimantan, Jumat 2 Agustus 2024 – Jangan lewatkan kesempatan emas ini, Sahabat San Agustin! Universitas San Agustin menghadirkan PROMO SERBA MERDEKA yang super menggiurkan!
Merdeka dari Biaya Pendaftaran – Kini kamu bisa mendaftar tanpa biaya!
Merdeka dari Tes Masuk – Tes masuk? Tidak lagi!
Merdeka dari SPP – Gratis SPP untuk tahun pertama!
San Agustin Epic Sale (2024)
Promo ini berlaku untuk semua program studi di FKIP, FST, FKES, dan AKUB!
Cara daftarnya? Sangat mudah! Cukup kunjungi situs resmi kami di:pmb.sanagustin.ac.id dan daftar secara online mulai 1 s.d. 28 Agustus 2024!
Jangan sampai ketinggalan kesempatan luar biasa ini! Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami di:
Kontak PMB: 0813 4794 1752
Ikuti kami di media sosial:
www.sanagustin.ac.id
Instagram: sanagustin_official
Facebook: sanagustin_official
YouTube: sanagustin official
Ayo buruan daftar dan jadi bagian dari keluarga besar San Agustin!
#PromoMerdeka #SanAgustin2024 #DaftarSekarang
By. S| Media Center San Agustin.
Berdasarkan Informasi: Trio Kurniawan – San Agustin.
Bertnego Balaraman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris San Agustin (2024)
MAJALAHADUTA.COM, Media Center San Agustin| Jumat, 02 Agustus 2024 – Setelah berminggu-minggu bergelut dengan rutinitas kampus yang padat, aroma tanah basah dan udara segar di kampung halaman terasa seperti oase yang menenangkan.
Setibanya di rumah, saya disambut hangat oleh orang tua, yang senyumannya sehangat matahari pagi.
Pagi hari di kampung dimulai dengan suara ayam berkokok dan embun yang masih melekat di dedaunan.
Setelah sarapan sederhana tapi lezat, saya mengambil waktu sejenak untuk membaca Alkitab di bawah pohon rindang di halaman belakang.
Salah satu ayat favorit saya, Mazmur 23:1, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku,” mengingatkan saya akan kedamaian dan pemeliharaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
Ayat ini memberikan ketenangan di tengah-tengah hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari.
Kebun sawit dan jalan setapak
Setelah itu, saya membantu orang tua pergi ke kebun sawit.
Kami berjalan bersama melewati jalan setapak yang mengarah ke kebun, mendengarkan suara burung berkicau, dan merasakan sentuhan angin yang lembut.
Panen sawit menjadi kegiatan yang menyenangkan. Setiap buah sawit yang jatuh ke dalam keranjang terasa seperti hasil kerja keras yang memuaskan.
Saya dan ayah bergantian mengangkat tandan sawit yang berat ke dalam gerobak, sementara ibu menyiapkan makanan ringan untuk kami nikmati di sela-sela pekerjaan.
Setiap kali saya merasa lelah, saya mengingat ayat yang saya baca tadi pagi, dan itu memberikan saya kekuatan baru.
Sinar matahari
Setelah itu, saya membantu menjemur padi. Sinar matahari yang terik membuat butiran padi berkilauan, hampir seperti permata.
Saya menyebarkan padi di atas tikar, meratakannya dengan rapi, dan sesekali mengusir ayam-ayam yang mencoba mencuri beberapa butir.
Dalam kesederhanaan ini, saya menemukan kebahagiaan yang tulus. Ada sesuatu yang sangat memuaskan saat melihat butiran padi mengering dengan sempurna di bawah sinar matahari.
Selama menjemur padi, saya berbincang dengan ibu tentang kenangan masa kecil dan cerita-cerita dari nenek moyang kami, yang menambah rasa syukur saya atas warisan yang kami miliki.
Angin dan hembusannya
Sore harinya, saya mengajak ayah untuk pergi memancing di sungai dekat rumah. Dengan peralatan sederhana, kami duduk di tepi sungai, melemparkan kail, dan menunggu ikan datang.
Suara gemericik air dan angin yang berhembus pelan membuat suasana menjadi sangat damai.
Kami berbicara tentang banyak hal, dari masa kecil saya hingga harapan dan mimpi di masa depan. Tiba-tiba, saya merasakan tarikan kuat di ujung kail.
Dengan sedikit usaha, saya berhasil menangkap ikan yang cukup besar. Wajah ayah berseri-seri, bangga melihat keberhasilan saya.
Kegiatan memancing ini juga mengajarkan saya tentang kesabaran dan ketekunan, dua hal yang sangat berharga dalam kehidupan.
Di malam hari, ibu memasak ikan hasil tangkapan kami. Aroma sedap menyebar ke seluruh rumah, mengundang perut kami yang lapar.
Kami makan malam bersama di meja makan yang sederhana, tapi penuh kehangatan. Setiap suapan makanan membawa kenangan manis dan rasa syukur.
Selama makan malam, kami membicarakan rencana-rencana untuk hari-hari berikutnya dan mengenang kembali momen-momen indah yang telah kami lalui bersama.
Setelah makan malam, kami duduk di beranda rumah sambil menikmati teh hangat dan kue tradisional.
Bintang-bintang berkelap-kelip di langit malam, memberikan pemandangan yang tak bisa ditemukan di kota.
Kami berbincang hingga larut malam, menikmati kebersamaan yang jarang terjadi.
Ayah bercerita tentang masa mudanya, sementara ibu mengingatkan saya tentang pentingnya selalu bersyukur dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
Tak ternilai
Liburan kali ini mungkin tidak diisi dengan perjalanan jauh atau aktivitas glamor, tapi bagi saya, membantu orang tua di kebun, menjemur padi, memancing ikan, dan sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga adalah pengalaman yang tak ternilai.
Ketenangan dan kebahagiaan yang saya rasakan di kampung akan selalu menjadi pengingat akan akar dan nilai-nilai yang saya bawa ke mana pun pergi.
Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kampus, kenangan manis ini akan selalu menjadi pelipur lara dan sumber inspirasi.
Saya bersyukur atas kesempatan untuk merasakan kasih sayang dan kehangatan keluarga, serta menguatkan iman saya di setiap langkah perjalanan hidup.
By. Bertnego Balarama, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris San Agustin.
“Vision of Blessed Joanna” - Stained Glass Window from St. Dominic’s Church in Washington, D.C.
Photo: Fr. Lawrence Lew, O.P. (Diakses: 2024)
MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin| Pontianak, Jumat 02 Agustus 2024 – Beata Jane dari Aza merupakan contoh cemerlang dari kekuatan dan pengaruh seorang ibu dalam kehidupan anak-anaknya.
Meskipun hidupnya mungkin tidak tercatat dalam sejarah dengan cara yang dramatis atau mencolok, warisan yang ditinggalkannya melaluinya dan anak-anaknya berbicara banyak tentang kedalaman iman dan kebijaksanaannya.
Sebagai ibu dari Santo Dominikus dan Beata Mannes, Jane memberikan warisan suci yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan spiritualitas mereka.
Kisah hidupnya menggambarkan bahwa kehadiran seorang ibu dalam membimbing dan membentuk jiwa anak-anaknya adalah sangat jelas.
Beata Jane, yang dikenal karena ketululsan hatinya, belas kasihan terhadap orang miskin, dan kehidupan doa yang mendalam, memberi teladan hidup yang tak biasa kepada Santo Dominikus.
Sifat-sifat ini tidak hanya memengaruhi putranya tetapi juga memberikan dampak yang jauh lebih besar melalui warisan mereka.
Mimpi profetik
Profetik jika dilihat dari kamus Bahasa Indonesia – berkenaan dengan kenabian atau ramalan.
Mimpi profetik yang dialaminya tentang anjing pemburu dengan obor menyala adalah gambaran yang kuat tentang bagaimana Beata Jane melihat panggilan putranya, Santo Dominikus, untuk membakar dunia dengan kebenaran dan cinta.
Ini menunjukkan bahwa sang beata memiliki visi yang mendalam tentang misi dan pengaruh yang bisa dicapai oleh putranya.
“Menurut tradisi, Jane bermimpi sebelum putranya dikandung, di mana ia melihat seekor anjing pemburu berlarian di dunia dan membakar segalanya dengan obor yang menyala.”
Terganggu oleh mimpi ini, ia pergi berdoa di biara Benediktin San Domingo de Silos, yang terletak di sebuah lembah yang menyenangkan sekitar dua puluh mil di utara Caleruega.
Mimpi ini memang bersifat profetik. Dominikus membakar dunia dengan kebenaran suci melalui khotbah dan pengajaran yang lahir dari kehidupan doa yang penuh dedikasi, cinta akan Sabda Tuhan, dan hasrat yang membara untuk mendapatkan jiwa-jiwa bagi Kristus.
Dengan membimbingannya dalam doa dan ajaran Katolik, Beata Jane tidak hanya mempersiapkan Dominikus untuk panggilan hidupnya, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai yang membentuk spiritualitasnya.
“Vision of Blessed Joanna” Stained Glass Window from St. Dominic’s Church in Washington, D.C. Photo: Fr. Lawrence Lew, O.P. (diakses: 2024)
Kesederhanaan hidup
Inti dari ‘keagungan’ hidup adalah kesederhaan. Dalam kesederhanaan mengandung ‘intensitas’, kesetiaan terhadap hal kecil, dan mampu melihat ‘kehormatan’ lewat hal-hal sederhana.
Kesederhanaan hidup Beata Jane, yang dipenuhi dengan tugas-tugas sehari-hari dan peran sebagai ibu dalam lingkungan yang mungkin tidak terbilang glamor, menunjukkan bahwa kekudusan sering ditemukan dalam tindakan kecil dan pengabdian sehari-hari.
Beata Jane dari Aza menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa kekuatan spiritual tidak selalu datang dari posisi yang tinggi atau momen-momen besar, tetapi sering kali tumbuh dari ketulusan cinta dan dedikasi dalam tugas-tugas sehari-hari.
Beata Jane dari Aza mengajarkan warisan hidup terlepas dari latar belakang atau peran apapun manusia.
Mereka yang memiliki kemampuan untuk memberikan dampak yang mendalam melalui kebajikan dan pengabdian tanpa mengabaikan ‘kehormatan’ sejati dari hal-hal yang kecil.
Warisannya jelas mengingatkan tentang kekuatan dari sebuah kehidupan dengan iman, intensitas, dan cinta, yang memengaruhi tidak hanya generasi berikutnya tetapi juga membentuk sejarah hidup untuk warisan cinta yang lebih luas.
Dipercaya secara luas bahwa kepekaan Dominikus yang tajam terhadap penderitaan orang lain, yang ditunjukkannya sejak kecil, diperoleh dari ibunya, yang, meskipun berasal dari keluarga bangsawan, dikenal karena belas kasihnya terhadap orang miskin dan yang membutuhkan.
Dari ibunya, Dominikus juga memperoleh kebiasaan berdoa.
Tentang Beata Jane dari Aza
Penanggalan 2 Agustus dalam buku “Proper of Dominican Saints and Blesseds” menunjukkan bahwa hari ini memperingati Beata Jane of Aza.
Ibu dari Santo Dominikus dan Beato Mannes, Beata Jane lahir dari keluarga terkemuka d’Aza dan menikah dengan Felix de Guzman.
Tiga dari anak-anak mereka mengabdikan hidup mereka untuk Gereja: Antonius, Mannes, dan Dominikus.
Sebuah sumber awal menggambarkannya sebagai “berbudi luhur, suci, bijaksana, dan penuh belas kasihan bagi orang miskin dan yang menderita; di antara semua wanita di wilayah itu, ia menonjol karena reputasinya yang baik.”
By. Sam | Media Center San Agustin.
Sumber: berdasarkan Dominican Firars Fondation.