Mempawah – Matahari mulai menunjukkan waktunya untuk mengakhiri hari, di waktu yang sama juga terlihat enam gadis mengenakan pakaian merah-merah dan selempang gaun nan lembut didampingi dua pria gagah dengan berkalungkan gigi taring di leher nya.
Satu dari lelaki itu mengenakan senjata Tangkit’n (senjata berbentuk parang yang digunakan untuk perang ataupun berladang), sementara lelaki yang satu membawa persembahan lengkap dengan beras yang siap ditabur untuk menyambut sang tamu kehormatan.
Kunjungi juga: https://www.instagram.com/komsoskap/
Tamu kehormatan yang dimaksud yaitu anggota rapat tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 yang diselenggarakan di Keuskupan Agung Pontianak persis di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan.
Dalam momen itulah Presiden SIGNIS Indonesia, RD. Anthonius Steven Lalu beserta seluruh peserta sebanyak 30 orang, diantaranya 22 imam dan 8 orang perwakilan disambut dengan tarian khas Dayak Kanayatn wilayah Kabupaten Mempawah.
Khas dari Suku Dayak Kanayatn Bukit
Orang Muda Katolik se-Paroki St. Christophorus Sungai Pinyuh mempersembahkan tarian Jonggan untuk menyambut kedatangan peserta pertemuan SIGNIS ke-48.
Sebelumnya para peserta telah disambut langsung di Bandar Udara Supadio dengan pengalungan syal kain tenun khas Dayak Kanayatn Kalimantan Barat.
Setiba di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan, sambutan turut dimeriahkan dengan tarian Jonggan.
Tarian Jonggan merupakan salah satu hiburan masyarakat yang telah menjadi tradisi asli kebudayaan masyarakat Dayak Kanayatn.
Nama Jonggan sendiri diambil dari Bahasa Dayak Kanayatn sub bahasa Ba-Ahe yang berarti ‘joget’ atau ‘menari’.
Jonggan biasanya ditarikan oleh para wanita Dayak Kanayatn yang kerap disebut sebagai ‘We Jonggan’.
Gerakan dalam tarian ini menggambarkan rasa syukur dan suka cita masyarakat Dayak Kanayatn. Salah satunya adalah syukur atas panen padi yang melimpah pemberian Jubata atau Tuhan dalam acara adat Gawe Naik Dango.
Sebagai bentuk syukur dan suka cita yang diiringi oleh alunan musik tradisional dengan lagu Jonggan berjudul “Male’en” maka dilampiaskanlah dalam gerak menari dan berjoget bersama.
Tarian penyambutan ini merupakan sebuah tradisi penting dalam menyambut tamu apabila berkunjung ke tanah Borneo terutama di tanah tempat di mana Suku Dayak Kanayatn tinggal.
Maksud dan tujuan tarian sambutan Jonggan yaitu untuk menyampaikan tanda selamat datang kepada para tamu melalui ritual adat dan gerak tari bahwa mereka diterima dengan sangat baik.
Tarian Jonggan sendiri terdiri dari beberapa ritual adat, yaitu ritual adat Batapukng Tawar, Natak Tarekng, dan Naburatn Baras Kuning.
“Batapukng Tawar” memiliki makna adat meminta keselamatan kepada Jubata agar para penari dan peraga adat dapat menjalankan ritual adat dengan lancar.
“Natak Tarekng”
Ritual adat “Natak Tarekng” atau “Pemotongan Bambu” sebagai simbolisasi membuka pagar dan bermakna bahwa para tamu resmi secara adat memasuki tempat kegiatan berlangsung.
Pemotongan bambu harus dilakukan dalam sekali tebasan tangkitn (sebutan untuk senjata khas suku Dayak Kanayatn) hingga bambu tersebut terbelah menjadi dua.
Terakhir, ritual adat “Naburatn Baras Kuning” atau “Penaburan Beras Kuning” sebagai simbolisasi keberkatan dan keselamatan.
Makna ritual tersebut untuk membersihkan jalanan dan tempat yang akan dilewati sehingga para tamu mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari segala hal yang menghalangi berjalannya kegiatan tersebut.
Masyarakat Dayak Kanayatn yang menarikan Jonggan juga berharap dengan kedatangan para tamu, masyarakat Dayak Kanayatn di sekitarnya dapat beroleh berkat dari Jubata. *Mel/S




