Saturday, September 5, 2026
More

    Untuk Pak Brader Jang dalam “Jeda” Kembali Melangkah

    MajalahDUTA.Com | Saya perhatikan dan saya baca bahwa refleksi ini sangat pantas untuk diangat, mengapa? Ada kalanya hidup meminta kita untuk berlari. Mengejar pendidikan, pekerjaan, karier, cita-cita, bahkan pengakuan.

    Kita hidup dalam dunia yang seolah-olah selalu mengatakan bahwa orang yang berhenti adalah orang yang tertinggal. Semakin cepat kita mencapai tujuan, semakin dianggap berhasil. Semakin banyak yang diselesaikan, semakin layak kita disebut sukses.

    Namun, melalui buku JEDA karya Paulinus Jang rekan, abang dan saudara yang kerap saya panggil Pak Brader Jang ini, kita diajak untuk melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda, barangkali tidak semua jeda adalah keterlambatan, dan tidak semua berhenti adalah kekalahan.

    Sebagai rekan sesama dosen di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa (kampus II) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, saya mengenal Pak Brader ini bukan hanya sebagai seorang akademisi yang menjalankan tugasnya di ruang kelas, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki perjalanan hidup dan pergulatan batin yang layak untuk dibagikan.

    Buku ini justru menjadi menarik karena setiap naskah dan kata tidak lahir dari posisi seseorang yang mengaku telah mengetahui seluruh jawaban kehidupan.

    Sebaliknya, JEDA lahir dari pengalaman seseorang yang pernah bertanya, pernah ragu, pernah berhenti, pernah kehilangan arah, tetapi kemudian memilih untuk kembali berjalan.

    Sebagai editor buku ini, saya menemukan bahwa kekuatan utama JEDA bukan terletak pada penggunaan bahasa yang indah atau rangkaian nasihat yang terdengar bijaksana. Kekuatan buku ini bagi saya berada pada kejujuran pengalaman yang dibagikan penulis.

    Pak Brader Jang berani menceritakan perjalanan pendidikannya yang tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika ia harus berhenti, mengambil jarak, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

    Dari D3 menuju S1, dari S1 menuju perjalanan berikutnya, hingga kembali berhadapan dengan pilihan-pilihan hidup yang menuntut keberanian.

    Buku di Perpusnas dengan ISBN: 978-634-278-779-3. (2026).

    Pak Brader Jang juga tidak menutup-nutupi bahwa dalam perjalanan relasi, ada masa ketika cinta membutuhkan ruang untuk bernapas, membutuhkan jarak untuk memahami, dan membutuhkan jeda untuk menemukan kembali arah.

    Bagi saya, keberanian seperti inilah yang membuat buku ini memiliki nilai.

    Sebab, kita hidup dalam zaman ketika orang lebih mudah memperlihatkan keberhasilan daripada memperlihatkan proses di balik keberhasilan itu. Media sosial memperlihatkan wisuda, tetapi jarang memperlihatkan malam-malam penuh keraguan sebelum seseorang menyelesaikan studinya.

    Kita melihat pernikahan yang bahagia, tetapi jarang mengetahui pergulatan panjang yang mungkin pernah dilalui dua orang sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama. Kita melihat seseorang telah sampai pada tujuan, tetapi tidak selalu mengetahui berapa kali ia pernah berhenti di tengah perjalanan.

    JEDA membawa kita masuk ke ruang yang sering kali tidak terlihat itu.

    Ruang ketika seseorang bertanya kepada dirinya sendiri yakni Apakah saya harus terus berjalan? Apakah saya sedang berada di jalan yang benar? Apakah berhenti berarti saya gagal? Apakah saya masih memiliki kesempatan untuk memulai kembali?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut sederhana, tetapi sesungguhnya sangat manusiawi.

    Sebagai seorang pengajar dan jurnalis, saya melihat bahwa kehidupan mahasiswa dan generasi muda hari ini juga tidak jauh dari persoalan tersebut.

    Mereka dituntut untuk segera lulus, segera bekerja, segera sukses, segera memiliki pencapaian, dan segera mengetahui masa depan. Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan kalender akademik, target pekerjaan, atau rencana yang telah kita susun.

    Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan dirinya.

    Ada yang harus mengambil satu langkah mundur agar dapat melihat jalan dengan lebih jelas.

    Ada yang harus berhenti sejenak karena terlalu lama memaksakan diri.

    Dan ada pula yang harus memulai kembali dari titik yang oleh orang lain dianggap sebagai “kegagalan”.

    Buku Pak Brader Jang ini memberikan sebuah perspektif penting yakni kita tidak harus merasa bersalah karena mengambil jeda.

    Jeda bukan selalu tentang kehilangan waktu tetapi jeda dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi, menyembuhkan, belajar, dan mempersiapkan diri. Dalam jeda, seseorang dapat melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh dan menentukan arah yang lebih tepat untuk perjalanan berikutnya.

    Karena itu, saya melihat JEDA dapat dibaca sebagai sebuah percakapan antara pengalaman pribadi penulis dengan kegelisahan banyak orang yang sedang berada di persimpangan kehidupan.

    Ada mahasiswa yang merasa tertinggal dari teman-temannya.

    Ada seseorang yang sedang mempertanyakan pilihan kariernya.

    Ada pasangan yang sedang berada dalam konflik.

    Ada orang yang baru saja mengalami kegagalan.

    Ada seseorang yang merasa hidupnya berjalan terlalu lambat dibandingkan orang lain.

    Dan mungkin, ada pembaca yang sedang berdiri di sebuah titik yang tidak ia mengerti, bukan lagi berada di masa lalu, tetapi juga belum mengetahui ke mana harus melangkah.

    Untuk pembaca seperti itulah buku ini menemukan relevansinya dan menariknya, JEDA tidak berhenti pada gagasan bahwa kita boleh berhenti. Buku ini mengajak kita memahami bahwa jeda memiliki tujuan: untuk kembali melangkah.

    Inilah yang membuat saya melihat judul buku ini sebagai simbol keberlanjutan.

    Dalam sebuah kalimat, TITIK memang mengakhiri kalimat. Tetapi dalam kehidupan, sebuah titik sering kali menjadi awal dari kalimat berikutnya. Demikian pula dengan garis finis, hal ini mungkin menandai berakhirnya sebuah perlombaan, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi garis awal untuk perjalanan baru.

    Dari Prolog hingga Epilog buku ini menegaskan gagasan tersebut dengan sangat kuat yakni garis finis hanyalah awal perjalanan baru.

    Saya kira, inilah salah satu pesan terpenting yang perlu kita bawa setelah membaca buku ini. Kita tidak pernah benar-benar “selesai”. Setelah pendidikan, ada pengabdian. Setelah mendapatkan pekerjaan, ada tanggung jawab.

    Halaman Penerbit. ISBN: 978-634-278-779-3.

    Setelah menikah, ada perjalanan membangun kehidupan bersama. Setelah mencapai satu impian, selalu ada ruang untuk bertumbuh dalam bentuk yang lain.

    Maka, jangan terlalu takut ketika kehidupan memaksa kita mengambil jeda.

    Jangan pula terlalu bangga ketika kita merasa telah mencapai garis finis.

    Sebab, keduanya hanyalah bagian dari perjalanan.

    Sebagai editor, saya juga melihat bahwa buku ini memiliki keberanian untuk mengubah pengalaman personal menjadi refleksi yang lebih universal. Pengalaman Paulinus adalah miliknya, tetapi pesan yang lahir dari pengalaman tersebut dapat menjadi milik banyak orang.

    Ketika penulis mengatakan bahwa ia pernah merasa malu karena harus berhenti, sesungguhnya ia sedang berbicara kepada banyak orang yang juga pernah merasa demikian. Ketika ia menceritakan bagaimana jeda justru membantunya menemukan arah, ia sedang memberikan harapan kepada mereka yang mungkin saat ini sedang kehilangan arah.

    Dan ketika ia mengatakan bahwa cerita tentang perjuangannya dapat menjadi “peta” bagi orang lain, saya kira di situlah makna terdalam dari buku ini.

    Kita tidak harus menjadi manusia sempurna untuk menjadi inspirasi.

    Kadang-kadang, justru retakan dalam perjalanan hidup kita yang membuat orang lain menemukan jalan.

    Sebagai seorang pendidik, saya percaya bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Buku seperti JEDA mengingatkan kita bahwa pengalaman hidup juga merupakan ruang belajar yang sangat luas. Kegagalan mengajarkan ketekunan. Kehilangan mengajarkan penerimaan. Keraguan mengajarkan keberanian. Dan jeda mengajarkan kepada kita bagaimana mendengarkan suara diri sendiri.

    Pada akhirnya, JEDA bukanlah ajakan untuk berhenti terlalu lama.

    Buku ini adalah ajakan untuk berhenti dengan kesadaran, bernapas dengan tenang, melihat kembali arah perjalanan, lalu melangkah dengan lebih matang.

    Sebab hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah perjalanan tentang bagaimana kita sampai pada tujuan tanpa kehilangan diri sendiri di sepanjang jalan.

    Kepada Pak Brader Paulinus Jang, sebagai rekan dan sebagai editor buku ini, saya menyampaikan apresiasi atas keberanian untuk menghadirkan kisah personal ini kepada publik. Tidak semua orang berani membuka kembali halaman-halaman hidup yang pernah membuatnya ragu, terluka, atau merasa gagal. Namun, keberanian untuk menceritakannya dengan jujur adalah bentuk lain dari keberanian untuk berdamai dengan masa lalu.

    Semoga JEDA tidak hanya menjadi buku yang selesai dibaca, tetapi menjadi teman bagi mereka yang sedang berada di persimpangan. Semoga ia menjadi pengingat bagi mahasiswa yang merasa tertinggal, bagi pekerja yang sedang kehilangan arah, bagi pasangan yang sedang menghadapi ujian, dan bagi siapa saja yang sedang bertanya apakah masih boleh memulai kembali.

    Jika setelah membaca buku ini ada seseorang yang kemudian berani berkata, “Saya boleh berhenti sejenak. Saya belum gagal. Saya hanya sedang mengambil napas sebelum melanjutkan perjalanan,” maka buku ini telah menemukan salah satu maknanya.

    Akhirnya, hidup tidak hanya membutuhkan keberanian untuk berlari.

    Hidup perlu membutuhkan kebijaksanaan untuk berhenti.

    Berhenti sejenak.
    Bernapas.
    Mendengarkan.
    Menyadari.
    Kemudian bangkit dan melangkah kembali.

    Selamat membaca JEDA.

    Semoga setiap halaman menjadi ruang untuk menemukan diri, setiap refleksi menjadi bekal perjalanan, dan setiap jeda yang pernah kita alami menjadi alasan untuk melangkah dengan lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih manusiawi.

    Karena mungkin, kita tidak sedang terlambat. Kita hanya sedang berada dalam jeda.*Samuel sebagai Rekan & Penyunting Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles