Tuesday, June 30, 2026
More

    Kampus Perlu Melahirkan Sarjana Pembawa Damai Berlandaskan Semangat Santo Fransiskus Assisi

    MajalahDUTA.Com | Dunia pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik.

    Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab membentuk pribadi yang mampu membawa damai, hidup sederhana, peduli terhadap lingkungan, dan menghargai sesama.

    Pesan itu mengemuka dalam Seminar Yubelium Santo Fransiskus Assisi yang digelar Universitas Widya Dharma Pontianak, Senin (29/6/2026).

    Seminar bertajuk “Menjadi Peziarah Perdamaian dengan Semangat Santo Fransiskus Assisi” tersebut menghadirkan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, sebagai narasumber utama.

    Kegiatan berlangsung di Function Hall Lantai 10 Gedung St. Fransiskus Assisi Universitas Widya Dharma Pontianak dan dimoderatori Pastor Dr. Paulus Toni Tantiono, OFMCap.

    Hadir dalam kegiatan itu antara lain jajaran yayasan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta para imam, bruder, dan suster.

    Ketua Pengurus Yayasan Widya Dharma Pontianak, Polycarpus Widjaja Tandra, SH., MM., mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari perayaan Tahun Yubelium Santo Fransiskus Assisi, santo pelindung Universitas Widya Dharma Pontianak.

    Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan Santo Fransiskus sangat relevan diterapkan dalam dunia pendidikan tinggi.

    “Melalui seminar ini, kita diajak menjadi peziarah perdamaian, bukan dengan melakukan perjalanan ke Assisi, tetapi dengan mewujudkan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari, baik di kampus, di ruang kelas, di tempat kerja, bersama mahasiswa maupun hidup di tengah masyarakat,” kata Tandra.

    Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan moral.

    Dia mengatakan semangat Santo Fransiskus Assisi dapat diwujudkan melalui tiga nilai utama, yakni kesederhanaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

    Di lingkungan kampus, lanjut dia, kesederhanaan berarti menjalankan tugas dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Pengurus yayasan melayani dengan semangat pengabdian, dosen mengajar dengan hati, sedangkan tenaga kependidikan memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa.

    Peserta Seminar “Menjadi Peziarah Perdamaian dengan Semangat Santo Fransiskus Assisi” Senin 29 Juni 2026.

    Sementara itu, semangat persaudaraan diwujudkan melalui kolaborasi seluruh unsur kampus untuk menciptakan suasana akademik yang sehat sekaligus menghasilkan lulusan yang humanis.

    “Kita ingin melahirkan sarjana yang tidak hanya menguasai teori di atas kertas, tetapi juga memiliki kedewasaan utuh, yakni kecerdasan intelektual, kepekaan emosional, empati sosial, dan moral dalam memahami manusia,” ujarnya.

    Selain itu, Tandra menilai kepedulian terhadap lingkungan juga harus menjadi bagian dari budaya akademik. Menurutnya, tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan kampus, menghemat energi, mengurangi sampah, hingga menanam pohon merupakan bentuk nyata pendidikan karakter.

    Dia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya gelar akademik.

    “Ilmu boleh tinggi, gelar profesor atau doktor boleh banyak, namun tanpa kesederhanaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan, hidup menjadi kering dan pendidikan di kampus menjadi hampa,” katanya.

    Pertobatan sebagai dasar membangun perdamaian

    Dalam pemaparannya, Uskup Samuel  mengajak sivitas akademika memaknai perjalanan hidup Santo Fransiskus Assisi sebagai proses pendidikan karakter yang berlangsung sepanjang hidup.

    Menurut dia, Santo Fransiskus mengalami transformasi melalui berbagai kegagalan, penderitaan, dan pergulatan batin hingga akhirnya menemukan kehendak Allah.

    “Mencari kehendak Allah bukanlah hal yang gampang. Menanggalkan diri, menemukan diri, dan meninggalkan diri bukanlah hal yang gampang,” ujar Uskup Samuel, (29/06).

    Dia menjelaskan proses pertobatan tersebut mengajarkan bahwa perubahan karakter tidak pernah lahir secara instan, melainkan melalui refleksi, keheningan, serta keberanian meninggalkan ego dan ambisi pribadi.

    Karena itu, menurut Uskup Samuel, pendidikan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang memiliki integritas dan kedamaian batin.

    “Kalau kita memiliki kedamaian, kita mampu menerima apa pun. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan,” katanya.

    Dia mengatakan seseorang yang telah berdamai dengan dirinya akan lebih mudah membangun relasi yang sehat dengan orang lain maupun dengan alam.

    Foto bersama Peserta Seminar “Menjadi Peziarah Perdamaian dengan Semangat Santo Fransiskus Assisi” . (Foto: Media Picure) – Senin, 29 Juni 2026.

    Krisis lingkungan menjadi tantangan dunia pendidikan

    Dalam sesi diskusi, isu lingkungan hidup menjadi salah satu perhatian peserta seminar. Menanggapi hal tersebut, Uskup Samuel menilai persoalan ekologis tidak dapat dilepaskan dari krisis moral manusia.

    Menurut dia, keserakahan menjadi akar berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini.

    “Ada orang yang tidak pernah puas dengan harta. Itulah dosa. Fransiskus mengajarkan semangat untuk puas,” tegasnya.

    Dia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

    Selain membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan, kampus juga perlu membentuk kepekaan moral agar lulusan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Uskup Samuel juga menekankan pentingnya pendidikan iman dan pembentukan hati nurani agar generasi muda memahami bahwa merusak alam merupakan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

    “Hargailah alam. Alam memiliki jiwa. Kalau terjadi pemberontakan dari alam, mari kita renungkan apa yang sudah kita perbuat,” ujarnya.

    Kampus sebagai ruang membangun persaudaraan

    Menutup seminar, Pastor Toni Tantiono, OFMCap menyimpulkan bahwa teladan Santo Fransiskus Assisi sangat relevan bagi kehidupan kampus di tengah tantangan dunia modern yang semakin kompetitif.

    Menurutnya, perguruan tinggi perlu menjadi ruang yang tidak hanya melahirkan ilmuwan, tetapi juga pribadi-pribadi yang rendah hati, mampu bekerja sama, menghargai keberagaman, serta menjadikan semua orang sebagai saudara.

    “Santo Fransiskus menjadi contoh bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari kekayaan atau kedudukan, tetapi dari kemampuan hidup sederhana, apa adanya, dan menjadi saudara bagi semua,” katanya, (29/06). *Samuel – Alumnus UWDP. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles