Monday, June 15, 2026
More

    Kegelisahan tentang AI

    MajalahDUTA.Com | “Gimana Sam? Nanti siang kita jumpa di kantor ya,” kata Pak Maran menjelang temu siang di UWDP.

    Ada perasaan yang selalu hadir ketika seseorang kembali ke tempat yang pernah membentuk dirinya. Masih hangat dalam ingatan, dahulu saya juga bagian dari mahasiswanya yang ikut dalam kelas.

    Kutipan menarik yang saya dapatkan beberapa kali bertemu beliau akhir-akhir ini. Begini katanya.

    “Sam, yang bahaya itu kalau orang tua selalu bilang – ‘dulu kami’ bla-bla-bla. Kata ‘dulu kami’ itulah masalahnya. Tidak sedikit orang yang ‘me-rasa’ senior mengatakan bahwa pengalaman mereka atau di zaman mereka lebih baik. Padahal belum tentu, oleh karena itu, penting melihat masa kini – bukan masa lalu,” ujarnya pada saya.

    Begitu pula yang saya rasakan ketika kembali menginjakkan kaki di Universitas Widya Dharma Pontianak. Bagi saya kampus ini bukan sekadar tempat saya menuntut ilmu, tetapi juga ruang di mana cara berpikir, cara memandang dunia, dan cara memahami kehidupan perlahan dibentuk.

    Siang tadi, Kamis, 11 Juni 2026, saya berkunjung ke Kantor Kemahasiswaan UWDP. Di sana saya bertemu dengan Dr. E. Maran, S.E., M.E.

    Pertemuan itu awalnya berlangsung santai. Kami berbincang tentang berbagai hal yang sedang berkembang dalam kehidupan mahasiswa saat ini. Namun, seperti banyak percakapan yang bermula dari obrolan ringan, diskusi kami perlahan mengarah pada satu topik yang kini sulit dihindari yakni Artificial Intelligence (AI).

    Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

    AI hadir di telepon genggam, komputer, ruang kerja, bahkan ruang kelas, bahkan banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit. Informasi yang dulu harus dicari melalui banyak buku kini dapat diperoleh dalam sekejap.

    Saya kemudian mengajukan pertanyaan sederhana kepada beliau: apakah perkembangan AI membantu manusia atau justru mengendalikan manusia?

    Beliau tidak langsung menjawab dengan nada khawatir.

    Sebaliknya, ia memulai dengan sebuah pengakuan yang rasional. Menurutnya, setiap kemajuan teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia.

    “Apapun kemajuan teknologi itu seharusnya membantu dan mempermudah pekerjaan manusia,” katanya.

    Saya mengangguk dan cukup sulit untuk membantah pernyataan itu.

    Teknologi memang lahir dari kebutuhan manusia untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan lebih efisien. AI pun tidak berbeda, maka kehadirannya menawarkan banyak manfaat dalam dunia pendidikan, penelitian, bisnis, dan berbagai bidang lainnya.

    Namun, kegelisahan beliau muncul bukan pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya.

    Beliau kemudian bercerita tentang fenomena yang sering ditemuinya di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas kuliah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

    Yang menjadi persoalan adalah ketika hasil yang diberikan AI langsung disalin dan ditempel begitu saja tanpa dibaca, dipahami, atau dianalisis kembali.

    “Harusnya dibaca, dipahami, lalu ditulis kembali dengan bahasa sendiri,” ujarnya.

    Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh inti dari persoalan pendidikan hari ini. Pendidikan bukan hanya soal menghasilkan tugas yang selesai tepat waktu. Pendidikan adalah proses melatih kemampuan berpikir. Ketika proses berpikir itu dilewati, maka yang tersisa hanyalah hasil tanpa pemahaman.

    Di titik itu saya mulai memahami arah kegelisahan yang ingin beliau sampaikan.

    Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan manusia. Teknologi bisa berkembang sangat cepat, sementara kemampuan manusia untuk menggunakannya secara bijaksana sering kali tertinggal.

    Menurut beliau, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu. Sama seperti buku, kalkulator, atau mesin pencari.

    Semua alat itu membantu manusia mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi, alat tetaplah alat. Ia tidak boleh menggantikan fungsi utama manusia sebagai makhluk yang berpikir.

    Masalahnya, banyak orang mulai menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI.

    Ketika seseorang menghadapi persoalan, ia bertanya kepada AI.

    Ketika mendapat tugas, ia menyerahkannya kepada AI. Ketika membutuhkan pendapat, ia kembali bertanya kepada AI. Lama-kelamaan, tanpa disadari, kemampuan berpikir mandiri mulai melemah.

    Menjawab pernyataannya, saya jawab, “betul nih Pak.”

    Beliau bahkan menggunakan istilah yang cukup mengusik pikiran saya tentang ‘pen-jajah-an’ pikiran.

    Mungkin sebagian orang akan menganggap istilah itu terlalu berlebihan. Namun semakin lama saya mendengarkan penjelasannya, semakin saya memahami maksudnya.

    Penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan. Penjajahan juga bisa hadir dalam bentuk ketergantungan. Ketika seseorang tidak lagi mampu berpikir tanpa bantuan pihak lain, ketika ia kehilangan keberanian untuk menganalisis dan mengambil keputusan sendiri, maka sesungguhnya kebebasan berpikirnya mulai berkurang.

    “AI ini mengendalikan manusia tanpa kita sadari,” kata beliau.

    Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

    Dalam kehidupan sehari-hari, gejalanya mungkin sudah terlihat. Kita sering melihat dua orang duduk bersama, tetapi masing-masing sibuk menatap layar. Mereka berada di tempat yang sama, tetapi tidak benar-benar hadir satu sama lain. Di ruang kelas, di kantin kampus, bahkan di lingkungan keluarga, percakapan perlahan digantikan oleh interaksi dengan perangkat digital.

    Teknologi yang awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia kadang justru menciptakan jarak baru.

    Saya teringat masa-masa ketika masih menjadi mahasiswa di kampus ini. Kami sering berdebat panjang tentang tugas kuliah, berdiskusi tentang isu sosial, atau sekadar bertukar pandangan mengenai masa depan. Tidak semua pendapat benar, tetapi proses berpikir dan berdialog itulah yang membentuk kemampuan intelektual kami.

    Hari ini, banyak jawaban dapat ditemukan hanya dalam beberapa detik. Namun saya bertanya-tanya, apakah kemudahan menemukan jawaban selalu membuat manusia menjadi lebih bijaksana?

    Barangkali tidak.

    Karena yang paling penting bukanlah menemukan jawaban, melainkan memahami bagaimana sebuah jawaban diperoleh.

    Ketika saya menanyakan langkah yang dapat dilakukan agar mahasiswa tidak terjebak dalam ketergantungan terhadap AI, jawaban beliau kembali sederhana: kesadaran.

    Kesadaran bahwa AI hanyalah alat.

    Kesadaran bahwa hasil yang diberikan AI harus dibaca dan dianalisis kembali.

    Kesadaran bahwa kemampuan berpikir manusia tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada mesin.

    Beliau tidak pernah mengatakan bahwa AI harus ditolak. Justru sebaliknya. AI boleh digunakan. Bahkan dianjurkan. Tetapi penggunaannya harus disertai tanggung jawab intelektual.

    Mahasiswa tetap harus membaca.

    Mahasiswa tetap harus berpikir.

    Mahasiswa tetap harus menulis dengan pemahamannya sendiri.

    Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah ilusi kecerdasan. Tugas terlihat rapi. Kalimat tersusun baik. Argumen tampak meyakinkan. Namun di balik semua itu, belum tentu ada pemahaman yang sungguh-sungguh.

    Pada akhirnya, saya meninggalkan Kantor Kemahasiswaan UWDP siang menjelang pukul 13.00 itu dengan membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

    Saya tidak pulang dengan kesimpulan bahwa AI adalah ancaman. Saya juga tidak pulang dengan keyakinan bahwa AI adalah penyelamat.

    Saya pulang dengan sebuah kesadaran bahwa masa depan manusia tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa bijaksana manusia menggunakannya.

    Kegelisahan yang disampaikan Pak Maran bukanlah kegelisahan terhadap AI semata.

    Itu adalah kegelisahan tentang manusia yang perlahan kehilangan kebiasaan berpikir, kehilangan keberanian untuk menganalisis, dan kehilangan kesadaran bahwa teknologi seharusnya menjadi pelayan, bukan tuan.

    Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, mungkin inilah pertanyaan yang perlu terus kita ajukan kepada diri sendiri tentang – “apakah kita masih mengendalikan AI, atau tanpa sadar justru sedang dikendalikan olehnya?” (*Samuel).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles