Saturday, May 16, 2026
More

    64 Tahun Fatima yang Menjaga dan Merawat Harapan

    MajalahDUTA.Com | Di daerah yang akses kesehatannya belum selalu mudah dijangkau, rumah sakit sering kali bukan sekadar tempat berobat. Ia menjadi ruang persinggahan bagi mereka yang sedang cemas, lelah, dan mencari pertolongan ketika sakit datang tanpa aba-aba.

    Selama 64 tahun, Rumah Sakit Fatima hadir menemani perjalanan banyak orang di Ketapang dalam situasi-situasi paling rapuh dalam hidup mereka.

    “Tujuan Rumah Sakit Fatima adalah menghadirkan keselamatan dan penyembuhan dengan memandang setiap pasien sebagai tamu Ilahi.”

    Kalimat itu disampaikan dr. Margaretha Indah, Direktur Rumah Sakit Fatima, dalam perayaan ulang tahun rumah sakit ke-64 yang berlangsung di Auditorium Santo Augustus Ketapang, Rabu, 13 Mei 2026.

    Pemotongan Tumpeng oleh perwakilan Badan Yayasan dan Direksi RS (Sr. Felisitas OSA)

    Menurutnya, pasien bukan sekadar angka statistik atau objek pelayanan medis, melainkan pribadi yang membawa cerita, kecemasan, keluarga, pergulatan batin, dan martabat yang perlu diterima dengan hormat dan kasih.

    Karena itu, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya profesional secara teknis. Pelayanan juga harus menghadirkan hati: cepat dan bermutu, tetapi tetap manusiawi.

    Harapan serupa disampaikan Sr. Lucia Wahyu, OSA, Ketua Yayasan Pelayanan Kasih Augustinian.

    Ia berharap Rumah Sakit Fatima terus bertumbuh menjadi pusat layanan kesehatan yang unggul, profesional, dan inovatif, sejalan dengan tema ulang tahun tahun ini: “Tumbuh Lebih Kuat, Melayani Lebih Baik.”

    “Momentum ini kiranya menjadi titik balik bagi kita semua untuk terus berinovasi, meningkatkan mutu pelayanan, dan memperkuat semangat kekeluargaan dalam karya kemanusiaan,” ungkap Sr. Lucia.

    Jajaran Direksi RS Fatima selesai pelatihan RS (Sr. Felisitas OSA)

    Selama enam dekade lebih, rumah sakit ini hadir bukan hanya sebagai tempat orang mencari kesembuhan fisik, tetapi juga ruang di mana kemanusiaan dijaga.

    Di balik perjalanan panjang itu, para Suster Santo Augustinus Ketapang bersama sivitas hospitalia terus menghidupi spiritualitas pelayanan, hadir bagi yang sakit, lemah, cemas, dan mereka yang nyaris kehilangan pegangan.

    Rumah sakit ini dirintis oleh para suster misionaris Augustinian dari Belanda yang datang ke Ketapang pada tahun 1949 untuk membantu pelayanan kesehatan masyarakat.

    Dari sebuah rumah sakit ibu dan anak sederhana, Fatima kemudian bertumbuh menjadi rumah sakit umum tipe C yang kini melayani masyarakat lintas usia, suku, agama, dan latar belakang sosial.

    Perjalanan enam dekade  tentu bukan perjalanan yang ringan. Rumah sakit ini telah melewati berbagai keterbatasan sumber daya, perubahan zaman, hingga tuntutan dunia kesehatan yang terus berkembang.

    Namun satu hal tetap dijaga, rumah sakit harus menjadi rumah penyembuhan.

    Nakes RS Fatima berpose di pintu masuk RS (Sr. Felisitas OSA)

    Bagi Fatima, penyembuhan bukan hanya soal tubuh yang sakit, tetapi juga tentang luka batin dan harapan manusia.

    Filosofi pelayanan yang diwariskan para pionir rumah sakit menghendaki agar setiap pasien merasa diterima, didengarkan, dihargai, dan dimanusiakan.

    Semangat itu terus dihidupi melalui nilai “Fatima’s Way”: Fokus, Adil, Teliti, Tanggung jawab, Ikhlas, Mandiri, serta mengedepankan semangat Asah, Asih, dan Asuh dalam pelayanan.

    Nilai-nilai itu menjadi pengingat bahwa mutu pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kecanggihan alat, tetapi juga dari ketulusan hati para pelayannya.

    Bagi masyarakat Ketapang, terutama yang tinggal di wilayah pedalaman, pesisir, dan daerah dengan akses transportasi terbatas, kehadiran rumah sakit memiliki arti yang sangat penting.

    Tidak sedikit pasien harus menempuh perjalanan panjang melalui jalur darat maupun sungai demi memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

    Ada keluarga yang datang dengan bekal seadanya, menunggu berjam-jam demi kesempatan berobat bagi orang yang mereka kasihi.

    Dalam situasi seperti itu, Rumah Sakit Fatima menjadi lebih dari sekadar tempat berobat. Rumah sakit ini menjadi tempat masyarakat kecil mencari pertolongan ketika sakit datang dan pilihan pelayanan kesehatan masih terbatas

    Karena itu, selama 64 tahun rumah sakit ini tidak hanya merawat tubuh yang sakit, tetapi juga menjaga keyakinan banyak orang bahwa mereka tidak sedang menghadapi penderitaan seorang diri.

    Namun zaman terus berubah. Perkembangan teknologi, transformasi digital, tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks, hingga munculnya berbagai fasilitas kesehatan baru menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari. Rumah sakit tidak cukup hanya bertahan, tetapi juga harus terus bertumbuh dan berbenah.

    Sr. Mauritia, OSA, Wakil Direktur Klinis Rumah Sakit Fatima, mengatakan jumlah pasien yang terus meningkat belum sepenuhnya sebanding dengan kapasitas dan fasilitas yang tersedia saat ini.

    Direktur RS memberi sambutan (Sr. Felisitas OSA)

    “Kapasitas kamar rawat inap masih terbatas, ruang praktik dokter spesialis juga masih kurang. Sementara klinik-klinik pratama swasta mulai bermunculan dan ada isu akan hadirnya rumah sakit swasta lain di Ketapang. Jika Rumah Sakit Fatima tidak segera berbenah, memperluas sarana-prasarana, meningkatkan mutu sumber daya manusia, serta mengikuti perkembangan teknologi, keberlangsungan rumah sakit bisa terancam,” ungkapnya.

    Meski demikian, ia melihat peluang untuk berkembang masih terbuka lebar karena kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Sakit Fatima tetap tinggi hingga hari ini.

    “Kepercayaan masyarakat adalah kekuatan besar bagi kami. Karena itu, kami berharap ada dukungan dan sumber daya yang memadai agar rumah sakit ini dapat terus berkembang dan menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat Ketapang yang semakin besar,” tambahnya.

    Namun pelayanan berbasis kasih tidak bisa berjalan hanya dengan semangat. Ia juga membutuhkan dukungan nyata: fasilitas yang memadai, tenaga kesehatan yang profesional, sistem yang adaptif, dan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

    Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah, Gereja, para donatur, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas menjadi penting agar pelayanan kesehatan yang lebih baik dapat terus diwujudkan bagi masyarakat Ketapang.

    Lebih lanjut, Sr. Lucia Wahyu menegaskan bahwa usia ke-64 tahun menjadi momentum syukur sekaligus panggilan untuk terus bertumbuh.

    “Rasa syukur atas perjalanan panjang ini harus berjalan seiring dengan keberanian untuk terus berkembang. Kami berharap Rumah Sakit Fatima dapat semakin memperluas pelayanan, memperkuat kualitas pelayanan kesehatan, dan tetap menjaga semangat kasih dalam melayani masyarakat,” ujarnya.

    Namun di tengah semua perkembangan itu, ada satu warisan yang kiranya tidak boleh hilang: semangat para Suster Santo Agustinus Ketapang yang menjadikan rumah sakit bukan hanya tempat menyembuhkan penyakit, tetapi juga rumah kasih bagi jiwa-jiwa yang terluka.

    Dengan moto “Kasih yang Menyembuhkan”, Rumah Sakit Fatima ingin terus bertumbuh menjadi rumah sakit yang profesional, relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap setia pada nilai kemanusiaan yang diwariskan para pendirinya.

    Pada akhirnya, orang mungkin lupa obat apa yang pernah mereka terima, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan ketika sedang rapuh dan terluka.

    Di situlah makna terdalam pelayanan menemukan wajahnya, bukan sekadar menyembuhkan tubuh, melainkan menghadirkan kasih yang memulihkan harapan. Sebab kesembuhan sejati sering kali dimulai ketika seseorang merasa diterima sebagai manusia.

    Dan mungkin, itulah warisan paling indah yang terus dijaga oleh para Suster Santo Augustinus Ketapang hingga hari ini warisan yang membuat Rumah Sakit Fatima tetap berdiri bukan hanya sebagai institusi kesehatan, tetapi sebagai rumah bagi mereka yang datang dengan luka, keterbatasan, dan keyakinan bahwa masih ada tangan yang mau menerima serta merawat mereka dengan kasih.*Sr.Felisitas N.Saptari, O.S.A (Biarawati St.Agustinus). 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles