MajalahDuta.Com | Awal bulan ini menghadirkan tiga momen penting dalam kalender gerejawi saya hadirnya bulan purnama, devosi Jumat Pertama, serta perayaan Santo Yusuf sebagai Pekerja.
Kebiasaan mencatat peristiwa astronomi dalam kalender merupakan jejak dari masa ketika Gereja memiliki bentuk astrologinya sendiri. Pada masa itu, Gereja mengakui bahwa benda-benda langit dapat memengaruhi peristiwa di bumi sebagai bagian dari hukum alam—sebagaimana posisi bumi terhadap matahari menentukan musim, atau bagaimana matahari dan bulan mengatur pasang surut laut.
Namun demikian, Gereja sejak awal menolak astrologi yang bersifat deterministik—yang menganggap kehidupan manusia sepenuhnya ditentukan oleh bintang dan meniadakan kehendak bebas serta campur tangan ilahi. Para astrolog sering kali dipandang sebagai ancaman, apalagi ketika ada yang memanfaatkan kepercayaan orang untuk mengaku memiliki kemampuan meramal melalui bintang.
Meskipun begitu, hingga kini masih ada orang yang diam-diam membaca horoskop, sesuatu yang dalam ajaran Gereja disamakan dengan praktik seperti Tarot atau Ouija.
Terlepas dari itu, baik orang bijak maupun orang awam tetap terpesona oleh bulan purnama. Ia mungkin tidak membuat orang kehilangan akal, tetapi keindahannya begitu kuat sehingga menyentuh batin manusia. Saya sendiri senang kalender saya mengingatkan akan datangnya bulan purnama—sebuah ajakan sederhana bagi manusia modern untuk sesekali menengadah ke langit.
Tradisi Jumat Pertama berakar pada wahyu tentang Hati Kudus Yesus yang diterima oleh Santa Margaret Mary Alacoque pada akhir abad ke-17.
Pada masa itu, para ilmuwan seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler telah memperkaya pemahaman manusia tentang tata surya. Meski demikian, praktik astrologi tidak serta-merta hilang, hanya saja mungkin menjadi sesuatu yang lebih jarang diakui secara terbuka.
Gereja memang berhasil menolak astrologi deterministik, tetapi pada saat yang sama menghadapi tantangan baru: pandangan dunia yang sepenuhnya materialistis dan tanpa Tuhan. Dalam konteks ini, devosi Jumat Pertama membantu umat mempertahankan keyakinan bahwa alam semesta memiliki tujuan ilahi—berasal dari Pencipta yang baik dan bergerak menuju-Nya kembali melalui bimbingan-Nya.
Di antara ketiga peristiwa tersebut, perayaan Santo Yusuf sebagai Pekerja tergolong yang paling baru dalam kalender saya. Devosi kepada Santo Yusuf sendiri berkembang secara bertahap. Beberapa tradisi menyebut bahwa umat Kristen Timur telah lebih dahulu menghormatinya sejak masa awal Gereja. Tokoh seperti Thomas Aquinas mengakui pentingnya peran Yusuf, meskipun dalam karya sastra seperti milik Dante, namanya tidak banyak disorot. Baru pada abad ke-15, pesta Santo Yusuf tanggal 19 Maret dimasukkan dalam kalender universal Gereja.
Pada abad ke-17, terjadi perubahan besar dalam cara Santo Yusuf digambarkan dalam seni. Ia yang sebelumnya dilukiskan sebagai pria tua dan lemah, kemudian digambarkan sebagai sosok yang lebih muda, kuat, dan layak menjadi pelindung Maria dan Yesus.
Devosi kepada Santo Yusuf semakin berkembang. Pada tahun 1870, Paus Pius IX menetapkannya sebagai Pelindung Gereja Universal. Kemudian pada tahun 1955, Paus Pius XII menetapkan perayaan Santo Yusuf sebagai Pekerja pada tanggal 1 Mei—sebuah langkah yang juga menjadi tanggapan terhadap perayaan Hari Buruh yang saat itu kental dengan ideologi sekuler.
Meskipun bersifat opsional, perayaan ini memiliki makna mendalam bagi banyak umat, karena mengangkat kesucian hidup seorang pekerja sederhana seperti tukang kayu.
Santo Yusuf dikenal dengan banyak gelar, yang pendiam karena tidak pernah berkata-kata dalam Injil, namun selalu bertindak sesuai kehendak Allah; juga “yang tertidur,” sebuah tema yang kerap muncul dalam seni. Namun ada satu gelar lain yang terasa tepat: Santo Yusuf sang kontemplatif.
Dalam tradisi Gereja, kehidupan kontemplatif sering dipadukan dengan kerja manual. Para Bapa Gurun, para biarawan Benediktin dengan semboyan ora et labora (berdoa dan bekerja), semuanya meneladani pola hidup ini—menggabungkan doa, kerja, dan studi dalam keseharian mereka. Kemandirian dan kehidupan yang menjauh dari hiruk-pikuk dunia menjadi bagian penting, sebagaimana Yusuf membawa keluarganya ke Nazaret demi melindungi Yesus.
Berbeda dengan pekerja modern yang berkutat pada pekerjaan intelektual dan ambisi karier, kehidupan kontemplatif justru mengakar pada keseimbangan antara kerja sederhana dan relasi batin dengan Tuhan.
Santo Charles de Foucauld menekankan dimensi kontemplatif dalam kehidupan Keluarga Kudus. Ia mengajak umat untuk menyediakan waktu bagi adorasi dan perenungan, sebagaimana Maria dan Yusuf melakukannya. Ia juga mendorong agar dalam setiap tindakan, kita meneladani mereka: melakukan kehendak Allah dengan hati yang selalu terarah kepada Yesus.
Mungkin saja, kisah Tiga Orang Majus—yang dalam beberapa tradisi dianggap sebagai ahli perbintangan—memberikan Yusuf perspektif tentang makna sejati dari tanda-tanda langit: bukan sebagai penentu nasib, melainkan sebagai petunjuk menuju Sang Pencipta.
Dalam seluruh perjalanan hidupnya—sebagai pekerja, pelindung, pribadi yang diam dan kontemplatif—Santo Yusuf barangkali sesekali menatap langit setelah bekerja keras seharian, mengagumi bulan purnama. Namun lebih dari sekadar keindahan alam, ia menatap Dia yang menciptakan bulan itu—dan yang kelak akan menebus seluruh ciptaan. *Samuel (Berdasarkan tulisan Joseph R. Wood, Jumat, 1 Mei 2026)




