Thursday, April 2, 2026
More

    Kamis Putih Dari Meja Perjamuan Menuju Jalan Pelayanan

    Duta, Pontianak | Perayaan Kamis Putih kembali menjadi momen reflektif bagi umat Katolik untuk menggali makna terdalam iman melalui Ekaristi dan semangat pelayanan. Dalam renungan yang dibagikan RD. Tjhen Hendra, S.S., M.Ak, Wakil Rektor II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, umat diajak melihat Kamis Putih bukan sekadar perayaan liturgi tahunan, melainkan sumber hidup iman yang terus relevan di tengah dinamika zaman.

    Dalam tayangan refleksi di kanal Youtube San Agustin TV (02/04/2026), Romo Tjhen membuka pesannya dengan salam damai dan menegaskan bahwa Perjamuan Malam Terakhir merupakan fondasi lahirnya Sakramen Ekaristi sekaligus teladan kasih yang diwujudkan melalui pelayanan.

    “Peristiwa perjamuan malam terakhir antara Yesus dan para murid adalah dasar dari ditetapkannya sakramen Ekaristi dan teladan pelayanan cinta kasih,” ungkapnya.

    Romo Tjhen menjelaskan bahwa pada perjamuan tersebut Yesus menghadirkan diri-Nya dalam simbol roti dan anggur, sekaligus sebagai imam dan kurban. Peristiwa itu menjadi warisan iman yang terus dirayakan dan dihidupi Gereja sepanjang sejarah.

    Menurutnya, terdapat dua pokok refleksi utama dalam Kamis Putih, yakni pembasuhan kaki dan penetapan Sakramen Ekaristi.

    Kerendahan Hati yang Mengubah Cara Memimpin

    Romo Tjhen menerangkan bahwa dalam budaya Yunani kuno, membasuh kaki merupakan pekerjaan seorang budak yang dianggap rendah. Namun Yesus justru melakukan tindakan tersebut kepada para murid sebagai tanda penyerahan diri dan pembaruan relasi kasih.

    “Yesus rela menjadi hamba untuk melayani, bukan untuk mencari nama dan sensasi, bukan untuk dikagumi, bukan juga untuk pamer atau sekadar pencitraan,” tegasnya.

    Ia menilai tindakan itu menjadi kritik sekaligus “tamparan kasih” bagi dunia modern yang sering menempatkan ambisi, jabatan, dan pengakuan sebagai ukuran keberhasilan. Ketika banyak orang berusaha naik dan dilayani, Yesus justru memilih turun dan melayani.

    Secara tidak langsung, Romo Tjhen mengingatkan bahwa kepemimpinan Kristiani tidak dibangun atas kuasa, melainkan kerendahan hati. Umat diajak berani meninggalkan ego, kesombongan, dan ambisi pribadi demi menjadi pelayan bagi sesama, terutama mereka yang lemah dan menderita.

    RD. Tjhen Hendra, S.S., M.Ak
    Wakil Rektor II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak

    Ekaristi Bukan Kenangan, Melainkan Panggilan

    Selain pembasuhan kaki, ia menekankan makna Ekaristi sebagai penyerahan diri Yesus secara total bagi umat manusia. Tubuh dan darah Kristus diberikan sebagai santapan rohani yang menghadirkan kehidupan hingga kekal.

    “Ekaristi tidak hanya memberikan kita kenangan untuk dikenang, tetapi Ekaristi adalah mandat,” katanya.

    Mengutip sabda Yesus, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku,” Romo Tjhen menjelaskan bahwa setiap orang beriman dipanggil menjadi “Ekaristi yang hidup”, yakni pribadi yang rela berbagi diri dan menjadi berkat bagi orang lain.

    Ia menegaskan bahwa kehadiran dalam misa bukan sekadar memenuhi kewajiban ritual, melainkan partisipasi nyata dalam karya keselamatan Kristus. Perayaan Ekaristi, lanjutnya, seharusnya mendorong umat membangun kehidupan bersama yang dilandasi kasih, perhatian, dan pengampunan sebagai satu tubuh mistik Kristus.

    Harapan di Tengah Krisis Zaman

    Dalam refleksinya, Romo Tjhen juga menyinggung berbagai persoalan dunia modern seperti krisis kepercayaan, ketidakadilan sosial, dan polarisasi masyarakat. Ia melihat Kamis Putih sebagai undangan untuk kembali pada inti iman: Ekaristi dan pelayanan.

    Ia menekankan bahwa pelayanan tanpa Ekaristi akan kehilangan sumber kasih sejati, sementara Ekaristi tanpa pelayanan berisiko menjadi ritual kosong.

    TONTON SELENGKAPNYA: YOUTUBE SAN AGUSTIN TV

    Lebih jauh, ia menyebut Kamis Putih sebagai awal Jalan Salib yang sarat harapan, bukan penderitaan tanpa makna.

    “Ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari cinta Tuhan yang tidak pernah mati,” ujarnya.

    Menurutnya, sebelum salib ditegakkan, kasih Tuhan telah terlebih dahulu dinyatakan melalui roti Ekaristi dan tindakan pembasuhan kaki—sebuah tanda bahwa cinta selalu mendahului penderitaan.

    Pesan tersebut, katanya, menjadi kekuatan bagi umat agar tidak kehilangan arah ketika menghadapi masa-masa sulit dalam hidup, sebagaimana Yesus menghadapi pergumulan di Taman Getsemani.

    Menutup refleksinya, Romo Tjhen mengajak umat berdoa agar rahmat Ekaristi memampukan setiap orang untuk hidup dalam kerendahan hati dan pengorbanan.

    “Semoga rahmat Ekaristi memampukan kita untuk berani menjadi hamba yang rela dipecah dan dihancurkan bagi semua orang,” tutupnya.

    Dengan demikian, Kamis Putih tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian Pekan Suci, tetapi juga pengingat bahwa iman sejati selalu terwujud dalam kasih yang melayani dan kerendahan hati tanpa pamrih. *Sam (Sumber: Youtube San Agustin TV)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles