Saturday, January 10, 2026
More

    Bahasa Mandarin dalam Kurikulum Pendidikan Perbankan dan Keuangan: Kebutuhan atau Sekadar Tren?

    Duta, Pontianak | Di era globalisasi ekonomi yang semakin terintegrasi, hubungan dagang dan finansial antarnegara tidak lagi sekadar pilihan strategi, melainkan sebuah keniscayaan.

    Memasuki periode 2025–2026, pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dunia ke kawasan Asia semakin nyata, dengan Tiongkok tetap memainkan peran kunci dalam arsitektur ekonomi global. Kondisi ini mendorong Bahasa Mandarin mengalami transformasi fungsi, dari sekadar alat komunikasi menjadi kompetensi strategi, khususnya di sektor perbankan dan keuangan.

    Secara global, laporan Ethnologue (2025) mencatat bahwa Bahasa Mandarin tetap menjadi bahasa dengan jumlah penutur asli terbesar di dunia, yakni lebih dari 1,1 miliar orang. Dari sisi ekonomi, World Economic Outlook IMF (2025) memproyeksikan Tiongkok mempertahankan posisinya sebagai ekonomi terbesar kedua dunia hingga tahun 2026, dengan kontribusi sekitar 18 persen terhadap PDB global.

    Data ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi dan bahasa berjalan beriringan, menjadikan Bahasa Mandarin semakin relevan dalam komunikasi bisnis dan keuangan internasional.

    Dalam konteks Indonesia, penguatan hubungan ekonomi dengan Tiongkok terus berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai perdagangan Indonesia–Tiongkok sepanjang tahun 2025 melampaui USD 150 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2024.

    Tiongkok kembali menjadi mitra dagang terbesar Indonesia, khususnya dalam ekspor nonmigas seperti nikel, baja, dan produk manufaktur berbasis hilirisasi. Proyeksi awal tahun 2026 dari Kementerian Perdagangan menunjukkan tren perdagangan bilateral yang masih ekspansif seiring meningkatnya permintaan industri dan investasi kawasan.

    Buku Pengantar Manajemen – AKUB Pontianak

    Dari sisi investasi, Kementerian Investasi/BKPM melaporkan bahwa realisasi investasi asing langsung (FDI) dari Tiongkok ke Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar USD 9 miliar. Investasi tersebut ditujukan pada sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, industri pengolahan, dan infrastruktur. Untuk tahun 2026, BKPM memproyeksikan Tiongkok tetap menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia, sejalan dengan agenda industrialisasi dan transisi energi nasional.

    Penguatan hubungan ekonomi ini berdampak langsung pada sektor perbankan dan keuangan. Bank Indonesia mencatat bahwa hingga akhir tahun 2025, nilai transaksi Transaksi Mata Uang Lokal (LCT) antara Indonesia dan Tiongkok telah melampaui ekuivalen USD 7 miliar, dan diproyeksikan meningkat pada tahun 2026 seiring meluasnya kerja sama sistem pembayaran lintas negara.

    Intensitas transaksi ini menuntut tenaga perbankan yang tidak hanya menguasai aspek teknis keuangan, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif dengan mitra bisnis berbahasa Mandarin.

    Sejumlah bank asing dan bank nasional yang memiliki eksposur kuat terhadap klien Tiongkok mulai menjadikan kemampuan Bahasa Mandarin sebagai kualifikasi penting.

    Bank of China dan ICBC cabang Indonesia, misalnya, secara konsisten menyebutkan kemampuan Bahasa Mandarin sebagai nilai tambah strategi dalam proses rekrutmen, terutama untuk posisi layanan nasabah internasional dan pembiayaan perdagangan. Fakta ini menegaskan bahwa Bahasa Mandarin telah berkembang menjadi kebutuhan profesional yang nyata, bukan sekedar pelengkap administratif.

    Dalam konteks pendidikan tinggi, integrasi Bahasa Mandarin ke dalam kurikulum perbankan dan keuangan merupakan langkah adaptif terhadap dinamika global.

    Pendidikan tidak lagi cukup membekali siswa dengan teori keuangan semata, tetapi juga harus menyiapkan kompetensi lintas budaya dan bahasa. Pendekatan pembelajaran berbasis Business Mandarin atau Mandarin for Banking and Finance dinilai lebih relevan karena berorientasi langsung pada kebutuhan dunia kerja.

    Meski demikian, Bahasa Mandarin tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Kompleksitas bahasa ini menuntut desain kurikulum yang matang agar tidak membebani beban akademik. Penempatannya sebagai mata kuliah pilihan strategi atau program sertifikasi dapat menjadi solusi agar mahasiswa memiliki kesamaan sesuai minat dan arah karir.

    Pada akhirnya, dengan data perdagangan, investasi, dan transaksi keuangan Indonesia–Tiongkok yang terus meningkat hingga tahun 2026, Bahasa Mandarin dalam kurikulum pendidikan perbankan dan keuangan tidak dapat lagi dipandang sekadar tren global.

    Ia merupakan kebutuhan nyata yang sejalan dengan arah perkembangan ekonomi nasional dan global. Dengan dukungan kurikulum adaptif, kolaborasi industri, serta metode pembelajaran aplikatif, Bahasa Mandarin berpotensi menjadi aset strategi bagi sarjana perbankan dan keuangan Indonesia.

    Referensi:

    • Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia.
    • Kementerian Investasi/BKPM. (2025–2026). Laporan Realisasi dan Proyeksi Investasi Asing.
    • Bank Indonesia. (2025). Laporan Transaksi Mata Uang Lokal Indonesia–Tiongkok.
    • Dana Moneter Internasional. (2025). Prospek Ekonomi Dunia.
    • Ethnologue. (2025). Bahasa-bahasa Dunia.

    *Lusia Sedati S.E., M.Ak. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles