Wednesday, September 30, 2026
More

    Homili Uskup Samuel dalam Perayaan Ekaristi Syukur 64 tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap: Menemukan Tuhan dalam Kehidupan

    MajalahDUTA.Com | Iman tidak cukup hanya diketahui melalui buku, ajaran, atau berbagai pengetahuan keagamaan. Iman perlu ditemukan dan dialami dalam relasi yang nyata dengan Tuhan. Karena itu, umat diajak untuk tidak memiliki iman yang dangkal, melainkan iman yang tumbuh melalui doa dan kehidupan sehari-hari.

    Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, dalam homili Perayaan Ekaristi syukur 64 tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, di Sekretariat Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Jalan Purnama, Pontianak, Senin, 28 September 2026.

    Perayaan misa syukur ulang tahun Bruder Steph, OFMCap, dipimpin langsung oleh selebran utama Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, didampingi Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, RD. Alexius Alex, RP. Pionius Hendi OFMCap, RP. Innocentius OFMCap,  Senin, 28 September 2026.

    Perayaan syukur itu dihadiri juga oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus dan salah satu tokoh masyarakat Heri Saman yang juga menjadi rekan dekat Bruder Steph.

    Dalam homilinya, Uskup Samuel sedikit menyinggung kehidupan Santo Padre Pio dari Pietrelcina sebagai salah satu teladan bagaimana iman tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjadi kehidupan.

    Menurutnya, seseorang dapat mengetahui banyak hal mengenai Tuhan, membaca banyak buku tentang iman, bahkan memahami berbagai ajaran Gereja. Namun, pengetahuan tersebut belum dengan sendirinya menunjukkan kedalaman iman, dari sanalah doa menjadi penting.

    Mgr. Samuel mengutip ungkapan Padre Pio yang menggambarkan hubungan antara pengetahuan tentang Tuhan dan pengalaman menemukan Tuhan dalam doa.

    “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan,” kata Uskup Samuel dalam homili, (28/09).

    Menurut Uskup Samuel, buku dan Kitab Suci memiliki peran penting dalam perjalanan iman. Melalui buku, manusia dapat mencari, belajar, memahami, dan mengenal Tuhan.

    Namun, iman tidak dapat berhenti pada pencarian intelektual.

    Pengetahuan mengenai Tuhan perlu dilanjutkan dengan perjumpaan bersama Tuhan, dan salah satu ruang utama perjumpaan tersebut adalah perbuatan.

    Dalam perbuatan nyata untuk dan demi kemanusiaan maka disana manusia tidak hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga belajar membuka hati, mendengarkan, menyerahkan diri, dan menerima kehendak-Nya melalui perbuatan.

    Karena itu, kehidupan doa dan tindakan menjadi salah satu ukuran penting dalam melihat kedalaman iman seseorang.

    Iman yang hanya berada pada tingkat pengetahuan berisiko menjadi iman yang dangkal. Sebaliknya, iman yang dibawa masuk ke dalam doa dapat bertumbuh menjadi hubungan yang lebih personal dengan Tuhan.

    Peluncuran Buku Karya Kemanusiaan oleh Bruder Steph, OFMCap dibagikan pada Wakil Gubernur, Krisantus, Uskup Administrator Apostolik, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Pastor Pionius Hendi, OFMCap (perwakilan dari propinsial Kapusin), dan Heri Saman. (Senin, 28 September 2026).

    Iman yang Menjadi Kehidupan

    Uskup Samuel kemudian mengarahkan perhatian umat kepada Santo Padre Pio, seorang imam Kapusin yang dikenal memiliki kehidupan doa yang mendalam. Padre Pio, yang lahir dengan nama Francesco Forgione pada 25 Mei 1887 di Pietrelcina, Italia Selatan, masuk novisiat Kapusin pada usia 16 tahun. Dia kemudian ditahbiskan menjadi imam pada 10 Agustus 1910.

    Pada September 1916, Padre Pio diutus ke Biara San Giovanni Rotondo. Di tempat tersebut, dia menjalani sebagian besar hidup pelayanan hingga wafat pada 23 September 1968.

    Bagi Padre Pio dalam berbagai sumber dituliskan bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang diyakini. Iman menjadi cara menjalani seluruh kehidupan. Dia dikenal menghabiskan banyak waktu dalam doa. Siang hari dan sebagian besar malamnya digunakan untuk berdoa dan membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan.

    Kehidupan tersebut memperlihatkan bahwa kedalaman iman tidak dapat dipisahkan dari kedalaman relasi dengan Tuhan.

    Pesan Uskup Samuel tentang iman yang tidak dangkal juga membawa umat pada pertanyaan mengenai kehidupan doa.

    Perbuatan nyata dapat dilakukan setiap hari dan perbuatan itu dilengkapi dengan doa yang tidak seharusnya hanya menjadi rutinitas karena kewajiban, justru doa seharusnya menjadi ruang perjumpaan (pertemuan, bantuan sosial dan menjadi saksi iman yang nyata).

    Ketika doa hanya menjadi kebiasaan tanpa keterlibatan hati dan tanpa perbuatan maka seseorang dapat saja aktif menjalankan praktik keagamaan tetapi tidak mengalami perubahan dalam kehidupannya.

    Sebaliknya, doa yang sungguh-sungguh dapat membentuk cara seseorang melihat dirinya, sesama, pekerjaan, penderitaan, dan berbagai peristiwa yang dialaminya.

    Relevan bagi Perjalanan Bruder Stephanus

    Pesan tersebut juga mendapat konteks khusus dalam perayaan 64 tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap. Perayaan ulang tahun seorang religius bukan hanya kesempatan untuk mengenang perjalanan usia. Lebih dari itu, perayaan menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panggilan, pelayanan, dan kehidupan iman.

    Dalam konteks tersebut, teladan Padre Pio menjadi relevan. Usia yang bertambah mengajak seseorang bukan hanya menghitung tahun yang telah dilalui, tetapi juga melihat sejauh mana kehidupan semakin berakar dalam iman.

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar iman tidak berhenti pada identitas atau pengetahuan keagamaan.

    Perayaan 64 tahun Bruder Stephanus yang berlangsung bersamaan dengan syukuran 21 tahun FRKP dan ulang tahun ke-8 FRKP West Borneo Vespa Lovers juga memperlihatkan bahwa iman memiliki dimensi sosial.

    Iman yang berakar dalam doa tidak berhenti dalam hubungan pribadi dengan Tuhan. Iman tersebut diharapkan berbuah dalam pelayanan, persaudaraan, kepedulian terhadap sesama, dan perhatian terhadap lingkungan.

    Suasana Perayaan Syukur Ulang Tahun Bruder Stehp, OFMCap, misa dipimpin langsung oleh selebran utama Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Senin, 28 September 2026.

    Dalam konteks FRKP, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan kemanusiaan dan sosial. Dengan demikian, doa dan pelayanan tidak seharusnya dipertentangkan.

    Doa memberi kedalaman pada pelayanan, sementara pelayanan menjadi salah satu buah dari iman yang hidup.

    Menemukan Tuhan dalam Kehidupan

    Homili Uskup Samuel akhirnya membawa umat kembali pada satu pertanyaan mendasar: seberapa dalam iman yang selama ini dijalani?

    Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan menghitung berapa banyak buku rohani yang telah dibaca, berapa banyak doa yang telah diucapkan, atau berapa lama seseorang telah menjadi bagian dari Gereja.

    Kedalaman iman terlihat dalam relasi dengan Tuhan dan bagaimana relasi tersebut membentuk kehidupan.

    Padre Pio telah menunjukkan bahwa iman yang mendalam dapat melahirkan ketekunan dalam doa, kesetiaan dalam pelayanan, dan keteguhan ketika berhadapan dengan penderitaan.

    Dalam perayaan 64 tahun Bruder Stephanus, teladan tersebut menjadi undangan untuk terus memperdalam iman.

    Perayaan Ekaristi Syukur 64 tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap (2026)

    Sebab, seperti ungkapan Padre Pio yang kembali ditegaskan dalam homili Uskup Samuel:

    “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.”

    Dari buku, manusia mencari, dalam doa manusia menemukan dan dengan tindakan doa tersebut menjadi sebuah keajaiban.

    Dari perjumpaan dengan Tuhan, iman diharapkan tidak lagi berhenti di permukaan, tetapi tumbuh menjadi kehidupan yang nyata dalam pelayanan, persaudaraan, dan kasih kepada sesama.*Samuel – DUTA.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles