Friday, March 6, 2026
More

    Mgr. Agus Selebran Utama Misa Pembukaan Temu Pembina IV – TKKMNPK Palangkaraya

    MajalahDUTA.com, Palangkaraya – Temu Pembina IV di Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang diselenggarakan pada 25 Juni – 2 Juli 2023. Diikuti 20 Keuskupan dari sabang sampai merauke dengan kurang lebih seluruh peserta berjumlah 600 orang. Peserta adalah seluruh pembina Pramuka dari Gugus Depan yang berpangkalan di sekolah katolik se-Indonesia.

    Adapun keuskupan yang turut bertandang ke Palangkaraya adalah TKK MPK Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agung Surabaya, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Bandung, Keuskupan Bogor, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Ketapang, Keuskupan Sintang, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Palangka Raya, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Malang, Keuskupan Ende, dan Keuskupan Denpasar.

    Kegiatan di buka dengan upacara pembukaan dan dimeriahkan tarian kolosal. Sebelum upacara pembukaan seluruh kontingen memasuki lapangan dengan mempersembahkan sebuah penampilan.

    Setelah selesai upacara pembukaan dilanjutkan dengan Misa Pembukaan, dengan selebran utama adalah Mgr. Agustinus Agus uskup Keuskupan agung Pontianak. Sebagai Konselebran Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka uskup Palangkaraya dan Mgr. Petrus Boneng Timang uskup Banjarmasin.

    Mgr. Agus adalah uskup yang memiliki pengalaman yang luar biasa dalam pramuka. Adalah uskup satu satunya yang mendapat penghargaan gerakan pramuka.

    Mgr. Agus dalam homilinya menyampaikan tentang kerendahan hati, mengajak seluruh kakak-kakak pembina untuk senantiasa menerapkan prinsip kerendahan hati.

    “Kuncinya adalah kerendahan hati. Mengosongkan diri dan menghampakan diri, lahir bagai orang miskin. Tuhan Yesus Kristus adalah guru kita yang rendah hati. Karena kalau kita rendah hati dimana-mana hidup kita aman, tidak ada ancaman fisik” ungkap Mgr. Agus.

    Mgr. Agus menegaskan kembali bahwa orang yang rendah hati tidak ada beban dalam hidupnya.

    “Rendah hati itu perlu pengorbanan, tanpa pengorbanan tidak mungkin kita bisa melaksanakan semangat rendah hati” tegas Mgr. Agus mengakhiri homilinya. (Eliska Winda – Majalah DUTA)

     

    Foto Bersama Temu Pembina IV – TKKMNPK Palangkaraya

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles