Saturday, June 15, 2024
More

    Bersama Bunda Maria dalam Iman dan Kepasrahan di Masa Pandemic Covid-19

    Penulis:Jeny Barli, Peserta Lomba Menulis Liputan Bulan Rosario di masa Pandemi Covid-19

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Bulan Mei dan Bulan Oktober adalah bulan yang istimewa bagi seluruh umat Katolik. Kedua bulan ini sama-sama dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria. Hanya perbedaannya,bulan Mei untuk bulan Maria dan bulan Oktober untuk bulan Rosario.Doa Rosario bersama di lingkungan atau  di Paroki dan ziarah  ke Gua Maria, adalah tradisi dalam 2 bulan istimewa ini. Bagi saya hal ini menjadi suatu pengalaman yang berpengaruh terhadap perkembangan iman personal,terutama dalam devosi Rosario.Mendekatkan diri kepada Tuhan lewat doa pribadi dan kelompok kepada Bunda Maria,yang membawa ketenangan diri dan sukacita batin.

    Tahun  ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,dunia sedang tidak  baik-baik saja. Pandemic covid-19 yang  melanda Indonesia melalui  dua  kasus pasien positif pada awal  maret lalu semakin bertambah hingga  saat ini. Kasus meningkat,banyak nyawa tak tertolong.

    Hari  demi   hari  berlalu   dan   pada  akhirnya   Bulan  Rosario  tiba.   Ketika  peristiwa- peristiwa doa  Rosario direnungkan di satu tempat, di tempat lain ada  air mata duka karena kehilangan kenalan dan kerabat yang dicintai.  Saat  untaian butir manik-manik Rosario  tergerak  jari  menuntun  doa   Salam   Maria   didaraskan,ada  mereka  yang sedang berjuang menyelamatkan raga  yang menderita karena terpapar Virus Corona. Kita tahu  bahwa Bunda  Maria  adalah  ‘model’  dalam  Gereja  terutama kekudusan dan  ketaatan. Kita hayati  kembali  peran  Bunda  Maria  dalam  sejarah  keselamatan manusia.  Meneladani  Bunda   penebus yang  berpasrah  akan   karya  penyelamatan dunia  oleh  Allah melalui  dirinya. Tentu  bukan  hal mudah. Banyak  resiko yang  harus ditanggungnya. Berkorban jiwa dan raga  sehabis-habisnya.Tetapi karena rendah hati dan    ketulusannya,   ia   bersedia   melaksanakan   kehendak   Allah.

    Bunda    Maria membesarkan,merawat dan  mendidik  Yesus, bahkan ketika  sengsara hingga  wafat di  kayu  salib,  ia  tetap setia  mendampingi.  Sekali  lagi,ini  bukan   hal  yang  mudah. Bagaimana terlukanya perasaan seorang ibu,melihat putranya dibunuh  dengan keji. Semua orang  mengakui,kasih seorang Ibu tiada  batasnya. Ibu  yang selalu ada, saat anaknya  merasa  suka  dan   duka,terluka,dikhianati.Kesetiaan  yang   abadi,ketaatan hingga  akhir.

    Terlintas dibenak saya akan  15 Janji Bunda Maria pada 3 Oktober  1917,bagi orang yang   setia   berdoa  Rosario   salah   satunya   berbunyi    seperti   ini,”   Kamu   akan mendapatkan apa  yang kamu  minta  dariku dengan berdoa Rosario.” Janji ini terbukti,tidak  hanya   sekedar janji.Sudah  banyak   kesaksian  umat   tentang betapa hebatnya kuasa doa  ini dalam pengalaman hidup  mereka. Tentu  harus komitmen untuk  setia dalam doa.

    Jika ada  permohonan khusus tetapi berdoa hanya sesekali,terpaksa,ragu-ragu dan terburu-buru kemudian merasa bosan,itu bukan kesungguhan. Berdoa  Rosario mesti dihayati.  Meskipun,berdoa yang  sama secara berulang-ulang,inilah  yang  melatih  mental  keimanan  kita.Dengan  penuh   harapan akan  pertolongan Bunda  Maria,segala problematika apapun yang  kita  hadapi,pasti dapat dilalui.

    Saya  ingin  membagikan  sebuah kisah  nyata   mujizat   doa  Rosario  dari  seorang Nona  seumuran saya,berusia 18  tahun. Kami sudah saling mengenal dan  menjadi teman 6 tahun  yang lalu

    ( tahun  2015).  Seminggu sebelum Hari Raya Natal  di bulan  Desember tahun  2018, Ayahnya  menderita  pembengkakan  kaki,sulit  sembuh  dengan  cepat  karena ada riwayat  penyakit   Diabetes.  Waktu  itu,kaki  kanannya tertusuk  duri  dan  menancap cukup  dalam.Menurutnya,sang  ayah  sudah terkena diabetes  ketika  menginjak  usia 44 tahun. Diusahakan agar  bagian kaki tidak boleh  sampai tertusuk atau  luka serius.

    Tetapi   hal   yang   tidak   diinginkan   ini  terjadi.Saat  duri  sudah  dicabut  akibatnya terjadilah  pembengkakan.  Ibu,  si  Nona   dan   saudara laki-lakinya  terus berusaha dalam  proses pengobatan. Setiap   hari,ketika kakinya  merasa sakit,Ayahnya akan merintih  memilukan. Nona kerapkali  menangis,melihat keadaan ayahnya yang belum juga pulih. Bahkan,sang Ayah mengeluh sampai berkata hidupnya tak akan  lama  lagi. Bila  Tuhan   berkehendak  memanggilnya,ia  sudah siap  keluh  sang Ayah,sehingga Nona  berlinang air mata.

    Nona  semakin tak  tenang. Dia sempat berpikir begini,”Bagaimana jika yang  dikatakan Ayah itu benar, apa  yang  terjadi  bila  hidup Ibu,saya  dan   saudara  saya  tanpa  Ayah,  saya  sungguh  tidak   siap,Tuhan  jangan biarkan  ini terjadi….Obat-obat yang  diberikan  kepada Ayah seperti tak  ada  khasiat. Hanya    menambah   kesakitan   saja,”   Nona    sempat   putus  asa.

    Dalam    diam kebingungan  tak  bisa  berbuat apa-apa,  Nona  ini memejamkan  mata sekejap.  Ia merasa seperti ada  sesuatu yang  mengajaknya untuk  mengambil kalung  Rosario. Dengan  kekuatan yang  melemah,karena habis terkuras kekhawatiran,ia berjalan ke arah  kamarnya,meraih sebuah wadah berbentuk lingkaran,kemudian mengeluarkan Rosario berwarna hitam.  Setelah itu.ia kembali  ke kamar  Ayahnya. Sang  Ayah masih merintih  kesakitan,seketika itu juga Nona ini berkata dengan suara sedikit bergetar,” Ayah, saya tidak punya obat  yang bisa menghilangkan sakit Ayah dengan cepat. Tapi saya punya  Rosario ini.

    Saya  yakin saat kita  pasrah kepada Tuhan,berdoa kepada Bunda    Maria,Ayah   pasti   sembuh.”   Ayahnya    mengangguk   pelan    mendengar penjelasan singkat si Nona.  Tanpa  menunggu lebih  lama  Nona  mengajak Ibu dan Saudara laki-lakinya  berdoa Rosario  bersama. Saat   mereka selesai  berdoa,  Sang Ayah sudah tidur. Nona  memandang wajah  Ayah nya yang  berkeringat dan  tampak sangat letih. Waktu itu sekitar jam 10 malam.

    Sebelum  Nona  kembali   ke  kamarnya,ia  berbisik  lirih kepada Ibunya,”Bu,  Ayah akan  baik-baik saja. Ibu jangan khawatir.” Saya  sempat tak percaya,dia bisa seyakin itu.  Tetapi  dia  berkata,saat  itu dia  benar-benar  sudah lelah  berpikir  keras dan  tak tahu  lagi,kemana tempat mengadu akan  kegelisahannya.

    Dia menjatuhkan pilihan kepada  kuasa  doa   Rosario.  Setiap   hari   dalam  masa  penyembuhan,khususnya dimalam hari saat Ayahnya sudah tidur, Ibu dan  saudaranya bersiap untuk  istirahat, Nona  juga  segera  masuk ke  kamarnya. Tetapi   Si  Nona  melakukan  doa  Rosario terlebih  dahulu  sebelum tidur.

    Ketika saya bertanya,apakah dia merasa bosan atau  tidak  untuk  melakukan doa  ini setiap   malam,begitu   tulusnya   ia   menjawab,tidak.   Waktu   berlalu,hari   berganti. Perlahan  tapi   pasti,  doa   sang  Nona   terjawab.  Kaki  Ayahnya  yang membengkak,berangsur-angsur membaik seperti semula.

    Akhirnya,Ayah si Nona dinyatakan sembuh pada akhir bulan  Februari  2019.  Sebelum menutup perjumpaan saya  dengan Nona,saya  bertanya bagaimana  refleksi  pribadinya  dalam  peristiwa iman  ini serta buah-buah rohani  yang ia dapatkan . Sembari tersenyum memandang saya,ia menyatakan bahwa ia yakin secara total  kepada kuasa doa  Rosario. Mujizat kesembuhan  yang   terjadi   pada  Ayahnya   karena  doa   Bunda   Maria.

    Juga  harus percaya dan berserah seutuhnya atas segala keluh kesah,perasaan takut  dan kekhawatiran. Buah-buah rohani  yang  ia dapatkan yaitu ketenangan batin  dan  suka cita.  Rasa  cemas semakin  berkurang,karena  sudah dibawa  dalam  doa   bersama Bunda  Maria.  Sesuai sekali dengan janji Bunda  Maria diatas,bahwa bagi  yang  setia melakukan  doa   Rosario   maka    permohonannya  akan   dikabulkan.   Pengalaman istimewa buat  si Nona. Akhir cerita  yang bahagia bagi saya.

    “Ad  Jesum  per   Mariam”,menuju  Yesus  melalui   Bunda   Maria.   Berdoa   melalui perantaraan Bunda  Maria  dan  selanjutnya Bunda  Maria  meneruskan doa-doa yang kita  kepada  Yesus.  Untuk  itu,disaat  ini  kita  datang  kepada  Bunda   Maria.

    Kita ungkapkan permohonan kita dalam doa  Rosario supaya Pandemic ini segera berlalu,terutama  agar  kita  senantiasa  diberikan   kesehatan dan  daya  tahan tubuh yang  baik.  Saya  yakin,kita  semua pasti  merindukan  saat saat dulu,ketika  situasi normal.   Tiada  rasa khawatir   dan   takut.   Dengan   iman   dan   kepasrahan  bersama Bunda Maria,kita serahkan seluruh kerinduan kita. Bulan Rosario tetap penuh rahmat,meskipun  di  masa pandemic  seperti  ini.

    Berkat  Tuhan  tak  pernah surut. Tetap  bersyukur dan  berdoa atas  penyertaan serta kasih-Nya yang  selalu tercurah dalam hidup  kita. Tak lupa  juga,tetap patuhi  protokol  kesehatan jika sedang berada diluar rumah.Menggunakan masker,menjaga jarak antar  individu,memperhatikan kebersihan tangan dengan mencuci tangan lebih sering dan membawa hand sinitizer.Dengan menjadi pribadi yang taat  aturan,kita sekaligus meneladani ketaatan Bunda Maria.Mari berdoa Rosario untuk keselamatan kita dan dunia.

    Salam,Tuhan Memberkati.

     

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles