Saturday, January 10, 2026
More

    Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2022 “Kita Hanyalah Debu dan Akan Kembali Menjadi Debu (Kejadian 3: 19)”

    By Winda|MD|KOMSOSKAP

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Berikut ini isi Surat Gembala Keuskupan Agung Pontianak 2022 dalam masa puasa yang diawali dengan Hari Rabu Abu.

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih, kembali kita memasuki masa puasa.

    Seperti tahun-lahun sebelumnya dan semua sudah mengetahuinya, masa puasa selalu diwarnai suasana mati-raga, ulah tapa dan semangat doa sebagai ungkapan bahwa dihadapan Allah kita hanyalah debu dan akan kembali menjadi debu (Kej 3: 19) penuh dosa dan perlu melakukan pertobatan.

    Didalam masa puasa kita diajak untuk merenungkan apakah praktek hidup keagamaan kita sudah sesuai dengan apa yang kita imani.

    Masa puasa selalu ditandai dengan kegiatan “pantang dan puasa”.

    Keyakinan bahwa kita ini, hanya debu dan pendosa yang akibatnya adalah hubungan dengan Tuhan Sang Pencipta menjadi putus dan kita menjadi jauh dari keselamatan, ini yang seharusnya menjadi dasar bagi kita dalam mengisi masa puasa ini.

    Pengalaman 2 tahun hidup bersama Covid-19 makin menegaskan apa artinya bahwa kita ini “hanyalah” debu. Dihadapan Tuhan kita semua sama, “hanyalah debu”. Sesudah Covid-19 mulai bisa ditanggulangi, pecah perang antara Rusia dan Ukraina.

    Dewasa ini banyak sekali bahan yang mudah diakses melalui media elektronik yang bisa membantu kita sampai kepada kesadaran bahwa kita, umat manusia hanyalah “debu. Hanya dengan kerendahan hati kita mampu sampai kesadaran ini! Bukankah Tuhan sudah merendahkan diri serendah-rendahnya (Filipi 2:7) untuk menyelamatkan kita umat manusia.

    PSE Regio Kalimantan telah menetapkan Tema Aksi Puasa Pembangunan 2022 adalah “Yesus Menyembuhkan dan Memulih Kehidupan”.

    Sebagai pengikut-pengikut Yesus kita semua dipanggil untuk menyembuhkan setiap orang dari penyakitnya dan dengan pulihnya kesehatannya maka dia bisa melakukan seperti sediakala. Tentu saja peran kita tergantung dari talenta yang kita miliki. sekecil apapun peren kita yang kita berikan secara tulus, Tuhan pasti menghargainya.

    Kita mungkin termasuk sebagian besar masyarakat yang harus bersyukur karena tidak mengalami dampak langsung dari mewabahnya Covid-19.

    Dipihak lain, ungkapan keprihatinan dan belarasa sebagai pengikut Kristus sangat layak dan pantas dinampakan secara nyata terhadap orang-orang yang terdampak langsung Covid-19.

    Seperti tahun yang sudah-dudah, kegiatan dalam rangka masa puasa, tidak banyak mengalami perubahan baik yang bersifat ritual maupun yang bersifat seremonial. Ada kegiatan pengumpulan derma APP, pantang dan puasa, mengikuti ritual Jalan Salib dan sebagainya. Masa puasa adalah masa bagi umat kristiani merupakan ungkapan pertobatan. Dan tanda penyangkalan diri dan tanda keinginan untuk ambil bagian dalam pengorbanan Kristus di Kayu Salib. Sebagai silih dosa-dosa kita dan demi keselamatan dunia.

    Masa puasa adalah masa untuk mawas diri dan akhirnya berani mengatakan bahwa “aku ini memang debu dan akan kembali menjadi debu”.

    Tentu semua orang dipanggil untuk menjadi kudus, namun tetap menghadapi banyak tantangan dalam hidup. Tuhan tidak menuntut yang muluk-muluk atau yang luar biasa.

    Kita lihat contoh-contoh dalam Kitab Suci, persembahan dari jandi miskin dihragai karena diberikan dari kekurangannya. (Mk 12, 41-44).

    Contoh lain “aku berkata kepadamu, apa yang tidak kamu lakukan kepada salah seorang saudaraku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untukku (Mt 25: 40). Tuhan hadir dalam wujud yang sering tidak kita kenal.

    Oleh karena itu ada baiknya untuk dipikirkan, kalau selama ini karya amal dan sedekah kita salur lewat panitia paroki, dalam masa puasa kali ini, tanpa mengabaikan kewajiban, kita dapat salurkan kapan saja dan dimana saja contohnya pada saat sedang minum-minum kopi kemudian kita melihat orang yang membutuhkan tanpa mempertimbangkan latar belakang kita bisa membantu mereka, atau bisa saja ditempat kita bekerja membantu rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan dan banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk berbuat amal kasih terhadap sesama.

    Mari kita memasuki masa puasa 2022 ini dengan semboyan “tiada  hari tanpa amal kasih”.

    Badai Covid-19 belumlah berlalu!

     

    Pontianak, pada Hari Rabu Abu, 2 Maret 2022

    Tertanda

    Mgr. Agustinus Agus

    Uskup Agung Pontianak

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles