MajalahDUTA.Com, Pontianak | Ruang kerja tidak hanya berbicara tentang meja, kursi, perangkat, dan berbagai fasilitas yang mendukung pekerjaan. Lebih dari itu, ruang kerja dapat menjadi cermin dari cara manusia berpikir, membangun relasi, menggunakan teknologi, serta memahami dirinya sendiri.
Refleksi tersebut disampaikan Bruder Gerardus Weruin, MTB, penanggung jawab rumah di Sekretariat JPIC Bruder MTB, Selat Panjang, Siantan Hulu, pada Minggu (20/9/2026).
Bagi Bruder Gerard, upaya memaksimalkan ruang kerja tidak dapat dilepaskan dari cara manusia memperlakukan ruang, benda, dan alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Cara manusia menggunakan alat, menurutnya, pada akhirnya turut membentuk mentalitas dan pola berpikir.
“Cara berpikir ini bertolak dari apa yang dia pergunakan atau pendekatan yang digunakan,” demikian refleksi Bruder Gerard.
Menurut dia, manusia tidak pernah sepenuhnya netral terhadap lingkungan dan benda-benda yang mengitarinya. Apa yang digunakan secara terus-menerus dapat memengaruhi kebiasaan, cara memandang dunia, bahkan cara seseorang memperlakukan sesama.
Karena itu, semakin banyak alat yang digunakan manusia, semakin penting pula kesadaran untuk bertanya: apakah manusia mengendalikan alat, atau justru alat yang perlahan mengendalikan manusia?
Lingkungan Membentuk Manusia
Bruder Gerardus menghubungkan penggunaan alat dengan lingkungan sosial tempat manusia hidup. Dia memberikan gambaran sederhana tentang pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia.
“Kalau orang itu bergaul dengan pencuri, dia bisa mencuri atau berbohong. Sebaliknya, jika kita berada di lingkungan yang baik, kita bisa menjadi baik,” ungkapnya.
Refleksi tersebut memperlihatkan bahwa manusia tidak dibentuk hanya oleh keputusan individual. Manusia juga dibentuk oleh relasi, kebiasaan, lingkungan, dan berbagai sarana yang hadir dalam kehidupannya.
Dalam perspektif lain, manusia merupakan makhluk relasional, identitas manusia berkembang melalui hubungan dengan orang lain dan dunia di sekitarnya. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon, makhluk yang secara kodrati hidup dalam komunitas.
Namun, relasi dengan lingkungan tidak berarti manusia kehilangan kebebasannya. Justru di situlah tanggung jawab manusia muncul, mampu menyadari berbagai pengaruh yang membentuk dirinya dan kemudian menentukan sikap secara sadar.
Persoalannya menjadi semakin kompleks di tengah kehidupan digital, manusia hari ini tidak hanya hidup dalam lingkungan fisik, tetapi juga dalam lingkungan digital yang membentuk perhatian, selera, bahasa, hubungan sosial, bahkan cara melihat dirinya sendiri.
Wajah Ganda Manusia
Bruder Gerardus kemudian mengajukan sebuah pertanyaan reflektif tentang identitas manusia di tengah pengaruh lingkungan dan berbagai alat yang digunakan.
“Wajah kita sekarang itu wajah ganda, tergantung lingkungan dan tergantung alat. Belum mampu untuk merepresentasikan yang asli,” katanya.
Pertanyaan tersebut membawa refleksi pada persoalan autentisitas.
Manusia dapat menampilkan dirinya secara berbeda tergantung ruang tempat dia berada. Di hadapan keluarga, dia dapat memperlihatkan wajah tertentu. Di tempat kerja, wajah lain. Di media sosial, wajah yang berbeda lagi.

Dia menunjukkan pertanyaan filosofis tentang: Apakah kita sedang menjadi diri sendiri atau sedang menciptakan citra tentang diri sendiri?
Pertanyaan ini berhubungan dengan gagasan autentisitas dalam eksistensial. Martin Heidegger, misalnya, membedakan kehidupan yang autentik dari kehidupan yang larut begitu saja dalam apa yang disebut das Man—“orang-orang”, atau cara hidup yang mengikuti apa yang umum dilakukan orang lain.
Persoalan yang sama tentang ruang kerja pada akhirnya dapat menjadi persoalan yang jauh lebih dalam: ruang seperti apa yang sedang kita bangun di dalam diri kita sendiri?
Alam Bukan Sekadar Objek
Refleksi Bruder Gerardus juga menyinggung berbagai peristiwa alam yang terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk gempa bumi dan berbagai persoalan lingkungan.
Menurut dia, berbagai peristiwa tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kejadian di luar diri manusia. Peristiwa alam dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kehidupan manusia secara lebih mendalam.
“Kita melihat peristiwa gempa, segala persoalan alam dan sebagainya harusnya lebih melihat pada dalam diri manusia, agar mereka mampu menemukan hal yang lebih dalam, bukan yang dangkal,” ujarnya.
Pandangan tersebut tidak berarti bahwa setiap bencana alam harus dianggap sebagai akibat langsung dari perilaku manusia. Gempa bumi, misalnya, memiliki penjelasan ilmiah mengenai proses geologisnya.
Namun, pengalaman manusia terhadap bencana dapat membuka pertanyaan yang lebih luas, bagaimana manusia memperlakukan alam? Bagaimana manusia membangun peradaban? Apakah pembangunan hanya berorientasi pada keuntungan dan kenyamanan manusia, atau juga mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan?
Dalam pandangan Fransiskan terhadap lingkungan, pertanyaan tersebut membawa manusia dari pandangan antroposentris, yang menempatkan manusia sebagai pusat, menuju kesadaran ekologis yang melihat manusia sebagai bagian dari jaringan kehidupan.
Alam bukan hanya “sesuatu” yang berada di luar manusia. Manusia sendiri merupakan bagian dari alam. Karena itu, kerusakan alam pada akhirnya juga menjadi persoalan manusia.
Merawat Rumah Bersama
Kedekatan dengan spiritualitas Fransiskan yang melihat ciptaan bukan sekadar sebagai benda yang dapat digunakan, tetapi sebagai saudara dan saudari dalam satu rumah kehidupan.
Dalam tradisi Fransiskan, kisah Santo Fransiskus dari Assisi memperlihatkan hubungan yang khas dengan ciptaan. Matahari disebut saudara, bulan dan bintang sebagai saudari, demikian pula air, api, dan bumi. Relasi tersebut memperlihatkan sebuah cara pandang yang tidak menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas ciptaan.
Pandangan Fransiskan mengajak manusia untuk melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas ciptaan.
Dalam konteks tersebut, ruang kerja pun dapat dibaca secara berbeda. Meja, komputer, telepon, kertas, listrik, air, dan berbagai benda yang digunakan setiap hari bukan sekadar fasilitas. Semua berasal dari jaringan kehidupan dan sumber daya alam yang panjang.
Maka, memaksimalkan ruang kerja bukan berarti memenuhi ruangan dengan semakin banyak benda. Memaksimalkan ruang justru dapat berarti menggunakan apa yang diperlukan secara bijaksana, mengurangi yang berlebihan, dan memberi ruang bagi manusia untuk bekerja secara lebih manusiawi.
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Laudato Si’ tentang rumah bersama. Manusia dipanggil bukan hanya untuk menggunakan bumi, tetapi untuk merawatnya.
Dari Ruang Kerja ke Ruang Batin
Pada akhirnya, refleksi Bruder Gerardus membawa persoalan ruang kerja kepada ruang yang paling dekat dengan manusia, dirinya sendiri.
Ruang kerja dapat ditata. Alat dapat dipilih. Lingkungan dapat dibangun. Namun, semua itu belum cukup jika manusia tidak menata ruang batinnya.
Pertanyaan tentang alat kemudian berubah menjadi pertanyaan tentang kebiasaan. Pertanyaan tentang lingkungan berubah menjadi pertanyaan tentang relasi. Pertanyaan tentang citra berubah menjadi pertanyaan tentang keaslian diri. Sementara pertanyaan tentang alam berubah menjadi pertanyaan tentang tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.
Di sinilah refleksi tadi berfungsi bukan sekadar sebagai kumpulan teori, tetapi latihan untuk berhenti sejenak, mengambil jarak dari kehidupan sehari-hari, dan bertanya lebih dalam tentang bagaimana manusia menjalani hidupnya.
Memaksimalkan ruang kerja, dengan demikian, bukan hanya tentang bagaimana membuat sebuah ruangan menjadi lebih efektif. Bruder Gerard juga memberikan kesempatan untuk bertanya:
Apa yang sebenarnya sedang kita bangun?
Ruang kerja yang semakin penuh dengan alat, atau ruang hidup yang semakin penuh dengan kesadaran?
Kemudian, apakah wajah yang kita tampilkan kepada dunia benar-benar wajah kita, atau hanya citra yang dibentuk oleh lingkungan dan alat yang kita gunakan?
Dalam diskusi singkat itu, Bruder Gerard mengingatkan bahwa sebelum manusia berusaha mengubah dunia di luar dirinya, ada satu ruang yang selalu perlu diperiksa terlebih dahulu, ruang batin manusia sendiri.*Samuel.




