Wednesday, July 22, 2026
More

    Pijat Olahraga Tetap Relevan, Demikian Kata Jayadi

    MajalahDUTA.Com | “Gimana Pak Jay? Sudah sekian kali saya melebur dengan tangan Pak Jay nih. Ini beneran ‘tangan dewa’ betul. Saya izin tulis tentang nuan ya?” ujar penulis saat ke sekian kalinya dia (Jayadi) mentraktir penulis selama berada di Unika San Agustin Kampus Utama Ngabang.

    Langsung gas saja…

    Di tengah pesatnya perkembangan fisioterapi modern dan teknologi rehabilitasi, ilmu pijat olahraga dinilai tetap memiliki posisi yang penting dalam dunia pendidikan olahraga.

    Hal tersebut disampaikan oleh Jayadi, S.Pd., M.Or., Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, dalam wawancara yang dilakukan pada 5 Juli 2026.

    Pria berusia 39 tahun itu menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran sentuhan manusia yang menjadi inti dari terapi pijat olahraga.

    Menurutnya, pijat olahraga tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang dipadukan dengan kajian ilmiah mengenai anatomi, fisiologi, dan psikologi manusia.

    “Pijat olahraga masih tetap memiliki gayanya sendiri yang sarat dengan nilai-nilai tradisional. Namun di balik itu terdapat kajian teori dan teknik yang berkaitan erat dengan anatomi tubuh, fisiologi, serta psikologi manusia yang belum tentu dapat digantikan hanya dengan penggunaan alat-alat berteknologi tinggi,” ujarnya, (5/07).

    Menurut Jayadi, berbagai perangkat terapi modern umumnya hanya mengandalkan getaran maupun panas sebagai media rehabilitasi. Sementara itu, pijat menghadirkan unsur yang jauh lebih kompleks, yaitu interaksi emosional melalui sentuhan manusia.

    Karya Jayadi, S.Pd., M.Or. (buku ber-ISBN dan HAKI).

    Dia mencontohkan bagaimana sentuhan seorang ibu kepada anaknya mampu memberikan rasa nyaman dan ketenangan yang tidak mungkin dihasilkan oleh mesin.

    “Robot tidak mengenal arti sebuah sentuhan. Sentuhan antarkulit menghadirkan ketenangan secara psikologis. Sama seperti ketika seorang ibu mengusap punggung anaknya hingga tertidur lelap, ada efek emosional yang tidak dapat digantikan teknologi,” jelasnya.

    Selain memberikan kenyamanan psikologis, Jayadi menjelaskan bahwa manfaat pijat olahraga juga telah banyak dibuktikan melalui berbagai kajian ilmiah.

    Pijat dapat membantu memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan fungsi kelenjar getah bening, mengaktifkan sistem saraf, hingga membantu memperbaiki ketidakseimbangan postur tubuh melalui manipulasi jaringan otot dan sendi.

    Tidak Semua Nyeri Dapat Diatasi dengan Pijat

    Meski demikian, Jayadi mengingatkan bahwa pijat bukanlah solusi bagi semua jenis cedera maupun rasa nyeri. Seorang terapis profesional harus mampu membedakan kondisi yang aman untuk dipijat dengan kondisi yang memerlukan penanganan medis.

    Menurutnya, pemeriksaan awal terhadap kondisi pasien menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan. Terapis harus melakukan observasi dan sentuhan ringan sebelum memutuskan tindakan lebih lanjut

    “Jika ditemukan indikasi keretakan atau fraktur pada tulang, jangan mengambil risiko melakukan pemijatan yang dalam. Kondisi tersebut harus ditangani oleh tenaga medis terlebih dahulu,” tegasnya.

    Jayadi menjelaskan bahwa pemijatan baru dapat dilakukan setelah kondisi tulang dinyatakan stabil. Pada tahap tersebut, terapi pijat berfungsi mengurangi kekakuan otot dan sendi yang muncul akibat proses penyembuhan maupun rasa nyeri berkepanjangan.

    Melalui Pengalaman

    Dalam proses pembelajaran di Program Studi PJKR, Jayadi mengakui masih terdapat mahasiswa yang lebih berorientasi pada nilai akademik dibandingkan penguasaan keterampilan secara mendalam.

    Menurutnya, kemampuan menjadi terapis pijat tidak cukup hanya menghafalkan teknik. Seorang praktisi harus memiliki sensitivitas sentuhan (touch sensitivity) yang hanya dapat dibangun melalui pengalaman panjang.

    “Kebanyakan mahasiswa masih mengejar nilai. Padahal memahami teknik pemijatan membutuhkan proses yang panjang. Untuk membangun sensitivitas sentuhan, seseorang harus berulang kali menangani pasien dengan berbagai keluhan,” ungkapnya.

    Jayadi bahkan memperkirakan seorang calon terapis perlu menangani sedikitnya seratus pasien agar mulai mampu mengenali karakteristik jaringan otot dan sendi hanya melalui sentuhan.

    “Ketika seseorang mampu mengetahui letak permasalahan otot atau sendi hanya dengan indra peraba, bahkan dengan mata tertutup, di situlah ia mulai mencapai tingkat seorang master,” katanya.

    Fondasi Seorang Terapis

    Selain keterampilan teknis, Jayadi menilai etika profesi merupakan aspek yang wajib dimiliki setiap calon terapis pijat olahraga.

    Dia mengingatkan bahwa masyarakat masih sering memiliki persepsi keliru terhadap profesi terapis pijat. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa pijat olahraga merupakan layanan kesehatan yang profesional, bukan sekadar hiburan ataupun layanan yang mengarah pada hal-hal yang bersifat erotis.

    “Terapis harus mampu meyakinkan pasien bahwa pijat bertujuan untuk relaksasi otot, penanganan cedera, meningkatkan performa, dan menjaga kesehatan. Kepuasan terbesar bukan terletak pada besarnya pendapatan, melainkan ketika pasien kembali sehat dan tersenyum karena masalahnya dapat diatasi,” tuturnya.

    Menurutnya, penghormatan terhadap privasi pasien, profesionalisme dalam bekerja, serta integritas moral merupakan nilai-nilai yang selalu ditekankan kepada mahasiswa selama mengikuti mata kuliah pijat olahraga.

    Peluang Karier 

    Melihat perkembangan gaya hidup masyarakat Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, Jayadi optimistis lulusan PJKR yang memiliki kompetensi pijat olahraga akan memiliki prospek kerja yang semakin luas.

    Jayadi menilai pola hidup masyarakat modern yang semakin minim aktivitas fisik justru meningkatkan kebutuhan terhadap layanan terapi olahraga.

    “Masyarakat saat ini lebih banyak duduk di depan komputer atau menggunakan telepon genggam. Tubuh manusia sebenarnya diciptakan untuk terus bergerak. Ketika aktivitas fisik berkurang, otot dan sendi menjadi kaku seperti engsel pintu yang berkarat,” ujarnya.

    Foto: Jayadi,S.Pd.,M.Or

    Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi lulusan PJKR, terutama di berbagai daerah yang masih kekurangan tenaga terapis olahraga profesional. Selama ini, atlet yang mengalami cedera bahkan masih banyak bergantung pada dukun pijat karena belum tersedianya layanan terapi olahraga yang memadai.

    Jayadi juga mengungkapkan bahwa masih ada anggapan sebagian masyarakat yang memandang lulusan sarjana olahraga menjadi terapis pijat sebagai profesi yang kurang bergengsi. Namun, pengalaman para alumninya justru menunjukkan hal sebaliknya.

    “Ada alumni yang setiap malam menangani pasien, bahkan rela menggunakan ojek menuju rumah pasien. Cita-citanya sederhana, ingin membeli rumah dari hasil profesi sebagai terapis pijat olahraga,” ujarnya.

    Sertifikasi Profesi

    Agar semakin kompetitif di dunia kerja, Jayadi mendorong para lulusan PJKR untuk melengkapi kemampuan mereka dengan sertifikat kompetensi atau lisensi profesi.

    Menurutnya, sertifikasi akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus membuka peluang bagi lulusan untuk mendirikan klinik terapi olahraga secara profesional.

    “Hanya perlu ditambah sertifikat atau lisensi agar lebih diakui masyarakat. Dengan kompetensi dan legalitas yang dimiliki, lulusan dapat membuka klinik terapi pijat olahraga sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi di dunia kerja,” pungkasnya.

    Melalui perpaduan antara penguasaan ilmu olahraga, keterampilan terapi, etika profesi, dan sertifikasi kompetensi, Jayadi meyakini lulusan PJKR Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo akan semakin siap menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan dan prestasi olahraga di Indonesia.(*Samuel | AKUB GAK )

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles