MajalahDUTA.Com | Menjadi satu-satunya keluarga Katolik di sebuah desa yang mayoritas penduduknya Muslim mungkin terdengar tidak mudah bagi sebagian orang.
Namun, pengalaman itulah yang justru membentuk hidup dan panggilan imamat RD. Ardianus Diri, Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Sintang.
Dalam sesi seminar bertajuk “Diseminasi Konten kepada Dunia” pada rangkaian Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Gedung Pasifikus Bos, Kompleks Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu 30 Mei 2026, Pastor Diri membagikan kisah masa kecilnya yang bertumbuh di tengah masyarakat Muslim di Desa Kebebu, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Bukan kisah tentang keterasingan. Bukan pula cerita tentang diskriminasi.
Yang ia kenang justru adalah pengalaman diterima, dihargai, dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat desa.
Satu-satunya keluarga Katolik
Pastor Diri lahir dan besar di Desa Kebebu. Saat itu, keluarganya merupakan satu-satunya keluarga Katolik yang tinggal di desa tersebut.
Sebagai umat Katolik, mereka tidak memiliki gereja di kampung. Untuk mengikuti Perayaan Ekaristi, keluarga harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju Nanga Pinoh, baik melalui jalur sungai maupun jalur darat.
Meski hidup sebagai kelompok minoritas, ia mengaku tidak pernah merasakan tekanan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat sekitar.
“Kami tidak pernah merasa diintimidasi. Mereka menerima kami sebagai keluarga dan membuat kami merasa nyaman tinggal di sana,” tutur Pastor Diri.
Baginya, kenangan masa kecil di kampung halaman justru dipenuhi pengalaman kebersamaan dengan warga Muslim yang hidup berdampingan secara harmonis.
Ketika warga pergi berburu ke hutan, hasil buruan sering dibagikan kepada keluarganya. Tidak ada sekat yang membatasi relasi sosial. Tidak ada kecurigaan yang memisahkan.
Yang ada adalah semangat berbagi dan saling menjaga sebagai sesama warga kampung.
Dari kampung Muslim lahir panggilan imamat
Lingkungan tempat Pastor Diri bertumbuh hampir seluruhnya beragama Islam. Karena itu, ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari akan menjadi seorang imam Katolik.
Namun justru dari kampung sederhana itulah benih panggilan tumbuh perlahan dalam hidupnya.
“Lingkungan saya sejak kecil adalah lingkungan Muslim. Saya tidak pernah membayangkan menjadi imam. Namun, dari kampung itu Tuhan memanggil saya untuk melayani Gereja,” katanya.

Perjalanan panggilan tersebut akhirnya mengantarkan dirinya menjadi imam Keuskupan Sintang.
Ketika tahbisan imamat berlangsung, sukacita ternyata tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan umat Katolik. Warga Desa Kebebu yang mengenalnya sejak kecil juga ikut berbangga.
Mereka merasa bahwa salah seorang anak kampung mereka telah menempuh jalan hidup yang istimewa.
Persaudaraan yang tetap terjaga
Hubungan baik yang terjalin sejak masa kecil itu tidak berhenti setelah Pastor Diri menjadi imam.
Hingga kini, warga Muslim di kampung halamannya masih datang berkunjung saat Natal untuk menyampaikan ucapan selamat dan menikmati kebersamaan bersama keluarga.
Sebaliknya, Pastor Diri dan keluarganya juga berusaha hadir ketika Idul Fitri tiba.
Tradisi saling mengunjungi itu menjadi cara sederhana untuk merawat silaturahmi dan persaudaraan yang telah tumbuh selama puluhan tahun.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk, pengalaman tersebut menjadi kesaksian bahwa toleransi tidak selalu lahir dari program besar atau slogan yang sering diucapkan.
Toleransi tumbuh dari perjumpaan sehari-hari, dari kebiasaan saling menyapa, saling membantu, dan saling menghormati.
Minoritas yang menjadi prioritas
Salah satu kalimat yang paling membekas dari kesaksian Pastor Diri adalah pengakuannya bahwa keluarganya tidak hanya diterima sebagai kelompok minoritas, tetapi bahkan memperoleh perhatian yang besar dari masyarakat sekitar.
“Kami merasakan bahwa walaupun minoritas, kami menjadi prioritas dalam perhatian dan kepedulian masyarakat. Di situlah persaudaraan sejati tumbuh dan berkembang,” ungkapnya.
Kesaksian Pastor Diri menjadi pengingat bahwa keberagaman tidak selalu melahirkan jarak.
Sebaliknya, ketika perbedaan diterima sebagai anugerah, keberagaman justru dapat melahirkan persaudaraan yang semakin kuat.
Di tengah Indonesia yang dibangun di atas berbagai suku, budaya, dan agama, kisah dari Desa Kebebu ini menunjukkan bahwa persaudaraan sejati bukanlah impian yang jauh. Ia dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, ketika orang memilih untuk saling menerima, menghormati, dan mengasihi satu sama lain sebagai sesama anak bangsa. (*Ros)




