Friday, May 29, 2026
More

    Kemampuan Menulis dan Memahami Nilai Berita, Workshop Jurnalistik PKSN ke-13

    MajalahDUTA.Com | Dalam rangka kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) ke-13, peserta mengikuti kegiatan Workshop Jurnalistik yang dilaksanakan di lantai 2 Ruangan Iman, Gedung Pasifikus Bos, Pontianak.

    Kegiatan ini menghadirkan Kornelis Purba sebagai pemateri utama yang memberikan materi mengenai dasar-dasar jurnalistik, nilai berita, serta teknik menulis berita yang baik dan benar.

    Workshop jurnalistik ini berlangsung dengan suasana interaktif dan penuh antusias dari para peserta. Tidak hanya mendengarkan materi, peserta juga diajak berdiskusi dan belajar secara langsung mengenai bagaimana menentukan angle berita, memahami fakta di lapangan, serta menyusun berita berdasarkan prinsip jurnalistik yang benar.

    Kegiatan workshop dimulai dengan penjelasan mengenai pengertian berita.

    Dalam pemaparannya, Kornelis Purba menjelaskan bahwa berita adalah informasi mengenai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dan disampaikan kepada masyarakat berdasarkan fakta yang ada di lapangan.

    Menurutnya, wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi yang akurat dan objektif.

    Beliau menegaskan bahwa seorang wartawan tidak boleh menulis berdasarkan opini pribadi atau membuat cerita yang tidak sesuai fakta. Dalam dunia jurnalistik, fakta merupakan dasar utama dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.

    Oleh sebab itu, seorang jurnalis harus mampu mencari data yang benar dan melakukan pengamatan secara langsung terhadap suatu kejadian.

    “Berita harus berdasarkan fakta, bukan karangan ataupun opini pribadi. Wartawan bertugas menyampaikan kenyataan yang terjadi di lapangan,” jelas Kornelis Purba di hadapan peserta workshop.

    Selain membahas pengertian berita, pemateri juga menjelaskan bahwa sebuah berita harus memiliki nilai berita atau news value. Nilai berita menjadi ukuran penting untuk menentukan apakah suatu peristiwa layak diberitakan atau tidak.

    Menurutnya, suatu berita harus memiliki bobot dan manfaat bagi masyarakat sehingga informasi yang disampaikan benar-benar penting untuk diketahui publik.

    Dalam penjelasannya, Kornelis Purba memperkenalkan konsep nilai berita yang dikenal dengan istilah CHOPPT. Konsep tersebut terdiri dari Consequences, Human Interest, Prominence, Proximity, dan Timeliness.

    Kelima unsur tersebut menjadi dasar dalam melihat nilai penting suatu berita.

    Consequences berarti dampak atau akibat dari suatu peristiwa terhadap masyarakat. Sebuah berita dianggap penting apabila memiliki pengaruh besar bagi kehidupan banyak orang.

    Contohnya adalah berita mengenai bencana alam, kenaikan harga bahan pokok, ataupun kebijakan pemerintah yang berdampak langsung kepada masyarakat luas.

    Selanjutnya adalah Human Interest, yaitu berita yang menyentuh sisi kemanusiaan dan emosi pembaca.

    Berita seperti ini biasanya mampu menarik perhatian karena menghadirkan kisah yang menyentuh hati, menginspirasi, ataupun menggugah rasa empati masyarakat. Pemateri menjelaskan bahwa berita human interest sering kali dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh pembaca.

    Kemudian terdapat unsur Prominence, yaitu keterlibatan tokoh penting atau terkenal dalam suatu peristiwa. Kehadiran tokoh publik dalam sebuah kejadian biasanya membuat berita menjadi lebih menarik perhatian masyarakat.

    Tokoh tersebut bisa berasal dari kalangan pemerintah, tokoh agama, artis, ataupun figur publik lainnya yang dikenal masyarakat luas.

    Unsur berikutnya adalah Proximity atau kedekatan.

    Menurut pemateri, masyarakat cenderung lebih tertarik pada berita yang dekat dengan kehidupan mereka, baik dari segi lokasi maupun hubungan emosional.

    Sebagai contoh, masyarakat Pontianak akan lebih tertarik membaca berita yang terjadi di Kalimantan Barat dibandingkan berita dari daerah yang sangat jauh dan tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka.

    Sedangkan unsur terakhir adalah Timeliness, yaitu ketepatan waktu atau aktualitas berita. Sebuah berita harus segera disampaikan kepada masyarakat agar informasi tersebut tetap relevan dan tidak kehilangan nilai pentingnya.

    Dalam dunia jurnalistik, kecepatan penyampaian informasi menjadi salah satu hal yang sangat penting, namun tetap harus mengutamakan kebenaran data dan fakta.

    Selain membahas nilai berita, workshop ini juga menjelaskan mengenai jenis-jenis berita dalam dunia jurnalistik. Pemateri membedakan berita menjadi dua jenis utama, yaitu hard news dan soft news.

    Hard news merupakan berita penting yang harus segera disampaikan kepada masyarakat. Jenis berita ini biasanya berisi informasi mengenai peristiwa yang baru saja terjadi dan memiliki dampak besar. Dalam penulisannya, hard news harus disampaikan secara lugas, jelas, singkat, dan langsung pada inti persoalan tanpa bertele-tele.

    Pemateri menjelaskan bahwa hard news tidak boleh dibuat-buat ataupun ditambah dengan opini pribadi wartawan. Penulisan hard news harus fokus pada fakta dan data yang benar-benar terjadi di lapangan. Wartawan harus mampu menyampaikan informasi secara cepat namun tetap akurat.

    Sementara itu, soft news atau feature merupakan jenis berita yang ditulis dengan gaya yang lebih ringan dan mendalam. Soft news biasanya mengangkat sisi menarik dari suatu peristiwa dan disampaikan dengan bahasa yang lebih halus serta naratif. Berita feature tidak selalu harus disampaikan secara cepat karena lebih menekankan pada sisi cerita dan pengalaman manusia.

    Dalam workshop tersebut, peserta juga diajarkan bagaimana menentukan angle atau sudut pandang berita.

    Menurut pemateri, satu peristiwa dapat menghasilkan banyak berita tergantung dari sudut pandang yang dipilih oleh wartawan. Oleh sebab itu, seorang jurnalis harus mampu melihat sisi menarik dan penting dari suatu kejadian agar berita yang dibuat memiliki nilai bagi pembaca.

    Untuk membantu peserta memahami materi, pemateri memberikan contoh kasus mengenai sebuah sekolah dasar di desa yang memiliki sekitar 300 siswa. Pada suatu hari terjadi hujan deras yang menyebabkan atap sekolah bocor sehingga kegiatan belajar terganggu. Dari contoh tersebut, peserta diminta menentukan nilai berita dan angle yang dapat digunakan dalam penulisan berita.

    Melalui contoh tersebut, peserta belajar bahwa sebuah kejadian sederhana dapat menjadi berita penting apabila memiliki dampak bagi masyarakat. Kebocoran sekolah misalnya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, seperti dampaknya terhadap proses belajar siswa, kondisi fasilitas pendidikan di desa, ataupun perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan.

    Kegiatan workshop berlangsung dengan penuh semangat karena peserta tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga berdiskusi secara langsung bersama pemateri. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, bertanya, dan mencoba membuat berita sederhana berdasarkan contoh kasus yang diberikan.

    Dalam sesi diskusi, Kornelis Purba juga menjelaskan bahwa seorang wartawan harus memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang disampaikan harus benar, tidak menyesatkan, serta mampu memberikan manfaat bagi pembaca.

    Beliau menambahkan bahwa perkembangan media digital saat ini membuat arus informasi menjadi sangat cepat. Namun demikian, kecepatan informasi tidak boleh mengorbankan kebenaran fakta. Wartawan tetap harus melakukan verifikasi data sebelum menyampaikan berita kepada masyarakat.

    Menurutnya, tantangan jurnalistik saat ini adalah banyaknya informasi yang belum tentu benar beredar di media sosial. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami pentingnya berita yang dibuat berdasarkan fakta dan proses jurnalistik yang benar.

    Dalam workshop tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya objektivitas dalam menulis berita. Objektivitas berarti wartawan harus bersikap netral dan tidak memihak dalam menyampaikan informasi. Berita harus ditulis berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, bukan berdasarkan emosi ataupun kepentingan pribadi.

    Pemateri menekankan bahwa seorang jurnalis memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat karena informasi yang disampaikan dapat memengaruhi cara pandang publik terhadap suatu peristiwa. Oleh sebab itu, wartawan harus bekerja secara profesional dan bertanggung jawab.

    Kegiatan workshop jurnalistik ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan PKSN ke-13.

    Menurut salah satu peserta, Enjelika  mengatakan bahwa kegiatan itu adalah kesempatan untuk memperoleh pengetahuan mengenai dunia jurnalistik dan belajar bagaimana menyampaikan informasi yang baik dan benar kepada masyarakat.

    Peserta terlihat aktif mengikuti setiap sesi kegiatan, beberapa diantara peserta yang tertarik untuk belajar lebih dalam mengenai teknik penulisan berita dan dunia media komunikasi. Suasana workshop berlangsung hangat dan penuh interaksi antara pemateri dan peserta.

    “Dengan adanya workshop jurnalistik ini, diharapkan peserta mampu memahami dasar-dasar jurnalistik serta memiliki kemampuan menulis berita yang baik, akurat, dan objektif. Selain itu, peserta juga diharapkan mampu menjadi generasi muda yang bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi di era digital saat ini,” ujar Enjelika.

    Kegiatan workshop ditutup dengan sesi refleksi dan pesan motivasi dari pemateri kepada seluruh peserta.

    Kornelis Purba mengajak peserta untuk terus belajar dan berlatih menulis agar kemampuan jurnalistik semakin berkembang.

    Dia berharap agar peserta mampu menggunakan keterampilan komunikasi dan jurnalistik untuk menyampaikan informasi yang membangun serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (*)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles