Friday, May 29, 2026
More

    Media Harus Memanusiakan

    MajalahDUTA.Com | Suasana Aula Magna lantai 3 Gedung Pasifikus BOS Pontianak tampak berbeda pada Kamis siang.

    Di reopa rangkaian kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII, para peserta workshop KOMSOS KWI reopag mengikuti sesi ketiga berupa bedah buku bertajuk “60 Tahun Hari Komunikasi Sosial Sedunia”.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30–15.30 WIB tersebut menghadirkan Rm. Purwono SCJ sebagai pembicara dengan moderator Pak Agung Nugroho, Kamis 28 Mei 2026.

    Meski dilaksanakan pada jam-jam yang cukup kritis setelah makan siang, antusias peserta tetap terlihat memenuhi ruangan. Dalam pembukaan materinya, Rm. Purwono bahkan sempat berseloroh mengenai tantangan membawakan materi tebal dan serius di waktu yang rawan membuat peserta mengantuk.

    “Saya tahu persis resiko memberikan sharing di jam-jam kritis seperti ini. Kita harus membahas buku yang sangat tebal,” ujarnya yang langsung disambut tawa ringan peserta.

    Namun perlahan suasana menjadi serius reopa pembahasan mulai masuk pada perkembangan komunikasi Gereja Katolik dari masa ke masa. Bedah buku tersebut tidak hanya membahas reopag Hari Komunikasi Sosial Sedunia, tetapi juga menyoroti perubahan besar media dari era televisi hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang saat ini menjadi perhatian dunia.

    Rm. Purwono menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari refleksi panjang Gereja Katolik melalui pesan-pesan para Paus dalam Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang kini memasuki usia ke-60 tahun.

    Menurutnya, perkembangan media dan teknologi komunikasi menjadi perhatian penting Gereja karena memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia.

    Dia mengatakan bahwa tujuan utama buku ini ialah membantu umat memahami bagaimana Gereja melihat perkembangan media, sekaligus mengajak masyarakat membaca perubahan zaman secara kritis dan bijaksana.

    “Tujuan bedah buku ini bukan hanya memperkenalkan isi buku, tetapi membantu kita memahami perkembangan refleksi Gereja tentang komunikasi sosial, membaca perubahan media dari era televisi sampai AI, menemukan relevansi pastoral dan sosial, serta merefleksikan spiritualitas komunikasi Gereja,” jelasnya.

    Dalam pemaparannya, Rm. Purwono menjelaskan bahwa perhatian Gereja terhadap media sebenarnya sudah dimulai sejak Konsili Vatikan II melalui dokumen Inter Mirifica. Pada masa itu, media seperti televisi dan film dianggap membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia.

    Gereja, menurutnya, tidak pernah menolak media modern. Namun Gereja juga tidak menerima perkembangan media secara buta tanpa pertimbangan etika dan tanggung jawab moral.

    “Media adalah anugerah, tetapi harus dipertanggungjawabkan secara etis dan pastoral,” katanya.

    Dia kemudian menjelaskan bahwa Hari Komunikasi Sosial Sedunia pertama kali dimulai oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967 sebagai tindak lanjut dari Konsili Vatikan II.

    Tujuannya ialah membangun refleksi Gereja mengenai media, reopagus umat, etika komunikasi, dan evangelisasi.

    Dalam sesi tersebut, peserta diajak melihat bagaimana setiap Paus memiliki cara pandang berbeda terhadap media sesuai konteks zamannya masing-masing.

    Pada masa Paus Paulus VI tahun 1967–1978, media dipandang sebagai alat moral dan reopagusn manusia.

    Konteks saat itu ialah masa pasca Konsili Vatikan II, perang dingin, dan ledakan media massa. Fokus utama Paus Paulus VI ialah etika media, reopagus media, serta tanggung jawab moral dalam komunikasi.

    Rm. Purwono menegaskan bahwa salah satu gagasan penting Paus Paulus VI ialah semakin besar kekuatan media, maka semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dimiliki manusia.

    Selain itu, media juga dipandang sebagai sarana reopagusn manusia secara integral, terutama dalam kehidupan keluarga dan kaum muda.

    Memasuki masa Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1979–2005, Gereja mulai melihat media bukan hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai budaya. Pada masa ini dunia mulai memasuki era globalisasi, budaya visual, satelit, dan internet awal.

    Menurut Rm. Purwono, Paus Yohanes Paulus II melihat media sebagai areopagus modern atau ruang baru pewartaan Injil. Gereja tidak cukup hanya memakai media, tetapi harus hadir di dalam budaya media itu sendiri.

    “Gereja tidak cukup memakai media, tetapi harus hadir di dalam budaya media,” jelasnya saat mengutip gagasan penting Paus Yohanes Paulus II. Fokus utama pada masa tersebut ialah evangelisasi baru, budaya media, solidaritas, perdamaian, dan partisipasi umat dalam pewartaan Injil.

    Kemudian berlanjut pada masa Paus Benediktus XVI tahun 2006–2013. Pada periode ini perkembangan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube mulai berkembang pesat dan mengubah cara manusia berkomunikasi.

    Paus Benediktus XVI memandang dunia digital sebagai ruang hidup baru manusia. Fokus utama komunikasi pada masa itu ialah kebenaran, keaslian hidup, dialog, dan keheningan.

    Rm. Purwono menjelaskan bahwa Paus Benediktus XVI cukup kritis terhadap budaya digital yang sering menampilkan pencitraan diri, narsisme, dan komunikasi dangkal di media sosial.

    “Keheningan adalah syarat komunikasi yang manusiawi,” ujar Rm. Purwono mengutip pesan Paus Benediktus XVI. Menurutnya, di tengah dunia digital yang bising, manusia justru membutuhkan ruang hening agar komunikasi tidak kehilangan makna kemanusiaannya.

    Sementara itu, pada masa Paus Fransiskus tahun 2014–2025, perhatian Gereja mulai tertuju pada persoalan hoaks, polarisasi sosial, budaya post-truth, dan algoritma media sosial.

    Dalam pemaparannya, Rm. Purwono mengatakan bahwa Paus Fransiskus menekankan pentingnya komunikasi yang lahir dari hati. Media sosial dinilai sering menciptakan agresivitas, kebencian, dan konektivitas tanpa komunitas nyata.

    “Komunikasi sejati adalah komunikasi dengan hati,” jelasnya.

    Paus Fransiskus mengajak manusia untuk kembali mendengarkan, melihat, dan bertindak dengan belas kasih di tengah dunia digital yang semakin keras dan penuh pertentangan. Pembahasan paling menarik perhatian peserta ialah saat memasuki topik terbaru mengenai komunikasi di era AI yang menjadi fokus Paus Leo XIV tahun 2026.

    Wajah dan Suara Manusia

    Dalam konteks berkembangnya AI generatif, deepfake, simulasi realitas, dan bias algoritma, Gereja mulai menaruh perhatian serius terhadap ancaman hilangnya sisi kemanusiaan dalam komunikasi digital.

    Menurut Rm. Purwono, Paus Leo XIV menekankan pentingnya menjaga wajah dan suara manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih.

    “Teknologi harus melayani manusia, bukan menggantikan manusia,” tegasnya.

    Dia juga menjelaskan bahwa Gereja menolak berbagai bentuk eksploitasi tubuh, manipulasi emosi, penyalahgunaan data pribadi, hingga reduksi manusia menjadi sekadar algoritma.

    Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa wajah dan suara manusia merupakan tanda kehadiran pribadi yang tidak boleh digantikan sepenuhnya oleh teknologi. Selain membahas perkembangan pandangan Gereja terhadap media, sesi bedah buku tersebut juga mengangkat beberapa tema besar komunikasi sosial Gereja.

    Tema pertama ialah komunikasi dan kebenaran. Gereja menegaskan bahwa media harus melayani kebenaran dan melawan berbagai bentuk propaganda, hoaks, manipulasi, hingga deepfake yang semakin marak terjadi saat ini.

    Tema kedua ialah komunikasi dan martabat manusia. Gereja menekankan bahwa media harus memanusiakan manusia, bukan justru merendahkan atau mengeksploitasi manusia demi keuntungan tertentu.

    Tema ketiga ialah komunikasi sebagai persekutuan. Dalam sesi ini Rm. Purwono menjelaskan bahwa komunikasi bukan sekadar transfer informasi, tetapi sarana membangun dialog, solidaritas, persaudaraan, dan communio atau persekutuan. Ia mengkritik realitas media sosial saat ini yang sering menghadirkan koneksi tanpa relasi dan jejaring tanpa komunitas nyata.

    “Jangan sampai manusia semakin terhubung secara digital tetapi justru semakin jauh secara manusiawi,” katanya.

    Selain itu media juga dipandang sebagai ruang pewartaan Injil yang terus berkembang dari masa ke masa. Jika dahulu pewartaan dilakukan melalui mimbar Sabda, kini media sosial dan ruang digital menjadi tempat baru evangelisasi Gereja.

    Dalam sesi tersebut peserta juga diajak melihat perkembangan etika komunikasi dari era radio, televisi, dan periklanan menuju tantangan baru seperti algoritma, AI, privasi digital, deepfake, hak cipta, hingga tanggung jawab platform media sosial.

    Menurut Rm. Purwono, tantangan komunikasi saat ini bukan lagi sekadar soal teknologi, tetapi juga bagaimana manusia mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.

    Ia mengatakan bahwa Gereja saat ini menghadapi tantangan besar seperti disinformasi, polarisasi, krisis mendengar, hingga adiksi digital. Karena itu tugas pastoral komunikasi sosial bukan hanya sebatas dokumentasi kegiatan Gereja atau publikasi media sosial semata, tetapi juga pelayanan kebenaran, pendidikan iman, literasi digital, dan kesaksian kasih di tengah masyarakat.

    “Komunikasi Gereja harus menjadi ruang yang menyembuhkan, bukan menambah kebisingan dan kebencian,” ungkapnya.

    Tidak hanya Gereja, masyarakat juga memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun komunikasi yang sehat di era digital. Masyarakat dituntut untuk mampu memeriksa sumber informasi, mengenali manipulasi media, menjaga data pribadi, dan membangun kebebasan berpikir secara kritis. Menjelang akhir sesi, peserta tampak aktif mengikuti diskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai AI, media sosial, dan tantangan komunikasi Gereja di masa depan.

    Melalui kegiatan bedah buku ini, peserta diajak semakin sadar bahwa perkembangan teknologi komunikasi harus tetap berpihak pada manusia, kebenaran, dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Kegiatan berlangsung dengan antusias hingga akhir acara dan menjadi salah satu sesi yang memberikan refleksi mendalam bagi peserta PKSN XIII mengenai masa depan komunikasi Gereja di tengah dunia digital yang terus berkembang.(*)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles