Thursday, May 28, 2026
More

    Gereja Ingatkan Bahaya Hilangnya Keaslian Manusia di Tengah Ledakan Teknologi Digital

    MajalahDUTA.Com | Pontianak, Rabu 27 Mei 2026 – Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan budaya digital yang semakin mendominasi kehidupan manusia, Gereja Katolik mengingatkan pentingnya menjaga keaslian identitas dan relasi antarmanusia agar tidak terkikis oleh kemajuan teknologi.

    Pesan dalam Misa Pembukaan PKSN tahun ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang, manusia tetap harus menjaga identitas, kejujuran, dan nilai kemanusiaannya agar tidak kehilangan makna sebagai pribadi yang utuh.

    Pesan tersebut disampaikan Agustinus Tri Budi Utomo usai Misa Pembukaan PKSN di Katedral Santo Yoseph Pontianak, Rabu (27/5).

    Dalam refleksinya, dia menilai perkembangan teknologi saat ini membawa tantangan baru bagi kehidupan manusia, terutama dalam membangun hubungan yang tulus dengan sesama.

    Menurutnya, masyarakat modern kini semakin terbiasa hidup dalam ritme serba cepat melalui media digital. Kebiasaan scrolling media sosial secara terus-menerus membuat banyak orang hanya melihat sesuatu secara singkat tanpa sungguh-sungguh memahami maknanya.

    “Perjumpaan menjadi dangkal karena manusia semakin jarang hadir secara utuh dalam relasi,” ujarnya.

    Dia menilai kondisi tersebut perlahan dapat membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membangun komunikasi yang mendalam. Relasi sosial yang seharusnya lahir dari ketulusan dan perhatian justru berpotensi berubah menjadi hubungan yang serba instan.

    Dalam konteks itu, tema komunikasi sosial Gereja tahun ini, “Rises Voices and Raises Voices”, dipandang sebagai ajakan untuk menjaga wajah dan suara manusia agar tetap otentik di tengah derasnya arus teknologi digital.

    Uskup Agustinus Tri juga menyoroti meningkatnya potensi manipulasi di era digital, baik melalui penyuntingan gambar, rekayasa suara, maupun berbagai bentuk perubahan identitas secara virtual. Karena itu, dia menegaskan bahwa keaslian menjadi nilai yang semakin penting untuk dipertahankan.

    “Kejujuran dalam menampilkan diri merupakan nilai yang luhur dan suci,” katanya.

    Menurut dia, keaslian tidak hanya berkaitan dengan penampilan luar, tetapi juga menyangkut karakter, identitas, dan cara manusia membangun komunikasi dengan orang lain.

    Dia menegaskan bahwa pembentukan manusia yang jujur dan otentik harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai ketulusan, kepedulian, dan kejujuran sejak dini.

    “Kalau dalam keluarga mulai tumbuh kepalsuan dan sikap acuh tak acuh, maka hal yang sama akan terbawa ke masyarakat,” ujarnya.

    Selain keluarga, Gereja juga dinilai memiliki tugas penting untuk terus mendampingi umat melalui komunikasi sosial atau komsos. Gereja dipanggil untuk mengingatkan manusia agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.

    Dia juga menaruh perhatian besar kepada generasi muda yang hidup paling dekat dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, kaum muda harus mampu menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijaksana sekaligus membantu membimbing generasi berikutnya.

    Di sisi lain, dia menilai negara perlu menghadirkan regulasi yang mampu memastikan perkembangan teknologi tetap membawa manfaat dan tidak merusak kehidupan sosial masyarakat.

    Pada akhir refleksinya, Uskup Agustinus Tri mengajak manusia untuk kembali belajar membangun perjumpaan yang tulus dengan sesama. Dia mengaitkan hal tersebut dengan makna Ekaristi dalam iman Katolik yang mengajarkan umat untuk menatap wajah Tuhan secara mendalam dan penuh penghayatan.

    Menurutnya, keberanian menatap sesama dengan jujur dan tulus merupakan bagian penting dalam membangun relasi manusia yang sehat.

    “Manusia perlu kembali belajar hadir secara utuh dalam setiap perjumpaan,” tuturnya.*Sam | Anjeli – Peserta PKSN 2026. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles