MajalahDUTA.Com | April 2026, menjadi bulan yang sangat berkesan bagi lima mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.
Untuk pertama kalinya, mereka mengikuti konferensi internasional UNCLLE (Undergraduate Conference on Linguistics, Literature, and Culture) yang diselenggarakan oleh Universitas Dian Nuswantoro secara daring dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.
Perjalanan ini tentu tidak mudah. Ada rasa ragu yang harus kami taklukkan, deadline yang terasa mepet, teori-teori baru yang harus dipahami dari nol, konsep penulisan akademik yang belum sepenuhnya dipahami, hingga momen-momen yang awalnya terasa sangat berat. Namun, di balik semua itu, tersimpan pengalaman, proses belajar, dan cerita yang luar biasa.
“Saat pertama kali mendapat kesempatan ikut UNCLLE, rasanya campur aduk. Saya memilih topik tentang bagaimana Queen Charlotte dalam serial Bridgerton menavigasi kekuasaan sebagai seorang perempuan.
Awalnya saya sangat bingung dan terus bertanya ke diri sendiri: apakah judul saya cukup kuat? Apakah saya mampu?

Tapi Mr. Anton selalu hadir dengan semangat yang luar biasa. Beliau terus membimbing dan menyemangati kami. Dosen-dosen lain juga ikut memberi support, masukan, bahkan makanan saat proses penulisan berlangsung.
Kami hanya punya waktu yang cukup singkat untuk menyusun manuskrip. Saat hari presentasi tiba, saya benar-benar takut dan gugup.
Tapi saya berkata kepada diri sendiri, ‘You can do that, Linsi!’ dan akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai berpresentasi.

Memang saya belum berhasil menjadi pemenang, tapi saya bangga karena tanpa sadar saya sedang mengalami hal yang sama seperti perempuan yang saya teliti: berani bertahan di tengah keterbatasan.
Untuk teman-teman San Agustin, ayo jangan takut untuk ikut conference berikutnya. Lebih baik kecewa karena gagal daripada kecewa karena tidak pernah mencoba. Kadang yang membuat kita takut itu pikiran kita sendiri, bukan realitanya,” ungkap Linsi.
Tak hanya itu, Cindy yang berhasil meraih kategori Best Paper juga membagikan pengalamannya.
“Proses menulis paper ini cukup ekstrem bagi saya. Saat penyusunan berlangsung, jadwal benar-benar padat: belajar, membuat PPT, persiapan presentasi kelas, dan berbagai tugas lain berjalan bersamaan.
Burnout mulai terasa nyata. Tantangan terbesar saya adalah memahami teori fenomenologi yang biasanya digunakan dalam kajian psikologi, tetapi juga digunakan untuk menginterpretasikan makna simbolik dalam sajian ritual masyarakat Dayak.
Awalnya saya merasa teori semiotik mungkin lebih cocok. Namun, melalui arahan Mr. Anton, saya akhirnya memahami bahwa fenomenologi justru memberi sudut pandang yang lebih mendalam karena setiap sajian bukan hanya tentang simbol, tetapi juga tentang pengalaman hidup dan cara masyarakat memaknainya secara langsung.

Itu menjadi momen yang benar-benar mengubah cara saya memandang penelitian budaya.
Saat pengumuman pemenang dan nama Claudia disebut, kami ikut bahagia. Dan ketika ternyata nama saya juga masuk sebagai pemenang, rasanya benar-benar luar biasa.
Di era ketika banyak orang memilih topik yang sedang tren, saya justru memilih membahas sajian ritual yang terlihat sederhana, padahal di baliknya tersimpan makna dan nilai kehidupan yang sangat kaya. Jadi jangan takut mengangkat budaya lokal sebagai topik penelitian. Hal-hal sederhana sering kali menyimpan makna yang paling dalam,” tuturnya.
Mutiara, salah satu peserta lainnya, juga menambahkan bahwa pengalaman mengikuti konferensi internasional ini menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam hidupnya.
“Awalnya saya merasa takut dan terus mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Tapi saya sangat beruntung karena dikelilingi dosen pembimbing dan teman-teman yang suportif.

Mereka tidak pernah lelah meyakinkan saya bahwa saya bisa. Kami benar-benar dibimbing dari nol, dari yang awalnya bingung harus mulai dari mana sampai akhirnya paham bagaimana menulis paper dengan baik dan benar.
Saya mendapat ilmu baru, pengalaman baru, dan rasa bangga yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Untuk teman-teman yang lain, jangan pernah takut mencoba hal baru. Proses belajar itu akan terasa indah ketika kita berada di lingkungan yang tepat; dan San Agustin adalah lingkungan yang tepat itu,” ujarnya.
Claudia, yang juga berhasil meraih kategori Best Presenter, mengungkapkan bahwa awalnya ia sangat gugup ketika ditawari mengikuti conference tersebut. “Ini pengalaman pertama saya, dan jujur, tampil di depan peserta dari berbagai universitas terasa sangat menakutkan.
Tapi setelah dijalani, ternyata seru sekali. Saya mendapat pengalaman yang tidak akan saya dapatkan di kelas biasa.
Mendengarkan presentasi peserta lain juga membuka wawasan saya bahwa ternyata banyak topik menarik (yang selama ini tidak pernah terpikirkan) yang sedang diteliti oleh mahasiswa-mahasiswa di luar sana.
Pengalaman ini benar-benar berkesan dan tidak terlupakan. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan dengan topik-topik yang semakin menarik. Dan untuk teman-teman lain, jangan ragu untuk ikut!” katanya.
Sementara itu, Melin juga mengaku mendapatkan banyak pelajaran baru selama mengikuti UNCLLE.
“Awalnya saya merasa gugup dan kurang percaya diri, tetapi melalui kegiatan ini saya belajar menjadi lebih berani, disiplin, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
Selain itu, kegiatannya juga menyenangkan karena kami bisa saling berbagi pengalaman dan saling support satu sama lain.
Dosen pembimbing dan dosen-dosen lainnya juga sangat sabar dalam membekali, dan membimbing kami selama proses berlangsung.
Semoga UNCLLE di tahun-tahun berikutnya bisa semakin baik dan terus memberikan dampak positif bagi para peserta. Untuk teman-teman San Agustin, beranikanlah diri untuk mencoba!” tuturnya.
Setiap cerita dan pencapaian ini tentu tidak terlepas dari peran dosen-dosen yang mendampingi dengan penuh dedikasi serta dukungan sistematis dari Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam proses persiapan menuju UNCLLE 2026, kami tidak berjalan sendirian karena ada yang selalu ada, yaitu Mr. Anton bersama Ms. Efrika dan Mam.
Monik aktif membantu, mendampingi, merevisi, hingga memfinalisasi paper dan bahan presentasi mahasiswa dengan penuh perhatian dan kesabaran.
Bahkan saat hari presentasi berlangsung, kami juga difasilitasi untuk mengikuti conference bersama di rumah Mam. Monik agar suasananya lebih nyaman, hangat, dan saling mendukung.
Ms. Upa selaku Kaprodi PBI turut hadir mendampingi bersama Ms. Efrika selama proses presentasi berlangsung. Hal-hal sederhana seperti menyediakan makanan dan minuman, bahkan menyiapkan masakan untuk menjaga energi mahasiswa selama conference, menjadi bentuk perhatian yang sangat membekas bagi para peserta.
Dukungan seperti inilah yang membuat mahasiswa merasa bahwa belajar di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo bukan hanya tentang akademik, tetapi juga tentang bertumbuh bersama dalam lingkungan yang suportif, hangat, dan penuh semangat untuk berkembang.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada bagaimana mahasiswa didukung untuk bertumbuh secara personal dan profesional.

Budaya saling mendampingi, komunikasi yang dekat antara mahasiswa, dosen, dan staf, serta sistem pembinaan yang suportif menjadi kekuatan yang dirasakan lintas program studi, mulai dari Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, dan PJKR di FKIP, hingga Agribisnis, Sistem Informasi, Teknik Logistik, Keperawatan, Kebidanan, serta Keuangan dan Perbankan.
Bagi mahasiswa, dukungan seperti inilah yang membuat proses belajar terasa lebih manusiawi, hangat, dan memberi ruang untuk berkembang dengan percaya diri, baik di dalam maupun di luar kelas.
“Jangan pernah takut untuk mencoba, karena yang paling menyesal bukanlah mereka yang kalah, tetapi mereka yang tidak pernah memulai”
Conference bukan hanya untuk mereka yang sudah siap. Conference adalah tempat kita bertumbuh menjadi siap!




