Tuesday, May 19, 2026
More

    Sharing Research Journey Mahasiswa Gen Z di San Agustin

    MajalahDUTA.Com | Kalimat sederhana itu menjadi pembuka suasana dalam perkuliahan Research and Methodology in Education and Applied Linguistics semester 4 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo pada tanggal 18 dan 19 Mei 2026.

    Mata kuliah yang biasanya identik dengan jurnal tebal, revisi tanpa akhir, dan overthinking tentang skripsi, hari itu justru terasa lebih hidup, santai, dan surprisingly fun.

    Melalui sesi guest lecturing yang juga dari sesama mahasiswa ini, mereka tidak hanya belajar teori tentang research methodology, tetapi juga mendengar langsung realita perjalanan riset dari salah satu kakak tingkat mereka sendiri, Arie, mahasiswa semester 8 yang saat ini sedang menjalani jalur publikasi artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi konvensional.

    Menariknya, kegiatan ini digagas oleh dosen pengampu mata kuliah, Anton, yang menyadari bahwa learning style mahasiswa Gen Z tentu berbeda dari generasi dosen milenial.

    Menurutnya, mahasiswa sering kali lebih mudah relate dengan pengalaman nyata yang dibagikan oleh sesama mahasiswa yang baru saja melewati proses tersebut. “Sometimes students need to hear the story from someone who has just survived the process,” ungkapnya.

    Melalui sesi sharing seperti ini, ia berharap mahasiswa tidak lagi memandang penelitian sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai proses belajar yang dapat dijalani bersama, bertahap, dan saling mendukung.

    Harapan besarnya sederhana namun bermakna: semakin banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan tugas akhir mereka dengan lebih lancar, lebih percaya diri, dan lulus tepat waktu pada semester 8.

    Dan ternyata, pilihan untuk menghadirkan Arie memang terasa tepat. Arie tidak hanya berbicara sebagai mahasiswa yang sedang menjalani proses penelitian, tetapi juga sebagai seseorang yang memahami cara berpikir generasi mereka sendiri.

    Hal itu terlihat dari topik riset yang sedang ia kerjakan tentang motivasi Gen Z menjadi guru bahasa Inggris di daerah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan di Kalimantan Barat.

    Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa mahasiswa Gen Z tidak semata-mata digerakkan oleh motivasi eksternal seperti gaji atau pekerjaan tetap, tetapi juga oleh nilai, makna, keinginan untuk berkembang, dan keinginan untuk memberi dampak pada lingkungan sekitar.

    Karena itulah, selama sesi sharing berlangsung, Arie terlihat sangat antusias membagikan pengalaman, tips, dan realitas perjalanan riset yang menurutnya perlu didengar oleh sesama mahasiswa Gen Z dengan pendekatan yang lebih dekat dan realistis.

    Dan justru di situlah sisi paling menariknya. Mahasiswa merasa sedang mendengar cerita dari “versi masa depan” dari diri mereka sendiri.

    Arie bukan sekadar mahasiswa biasa. Ia merupakan mahasiswa yang memilih jalur publikasi artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi konvensional.

    Pada semester genap 2025–2026 ini, ia menjadi mahasiswa pertama yang maju ke Seminar Proposal (Sempro). Bahkan belum genap satu bulan setelah perkuliahan semester berakhir, ia sudah berhasil mendaftarkan diri untuk ujian Sempro dan mengirimkan full paper ke salah satu jurnal pendidikan terakreditasi SINTA 3.

    Bagi mahasiswa semester 4 yang baru mulai mengenal dunia penelitian akademik, pencapaian itu terasa inspiratif sekaligus membuka perspektif baru. Ternyata riset tidak harus menunggu semester akhir atau merasa “pintar” dulu. Research can start from curiosity.

    Arie membuka presentasinya dengan judul yang sangat Gen Z banget: “How I Turn a Complex Research Journey into Something That I’m Passionate About. Sejak awal sesi, atmosfer kelas langsung cair.

    Tidak ada kesan menggurui atau terlalu akademik. Yang ada justru cerita-cerita yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: bingung menentukan topik, takut memulai menulis, revisi berkali-kali, sampai kebiasaan procrastinating yang ternyata dialami hampir semua orang di kelas.

    Salah satu bagian yang paling membuat mahasiswa tertawa sekaligus mengangguk setuju adalah ketika Arie membahas bagaimana Gen Z “survive” dalam proses penulisan riset. Menurutnya, banyak mahasiswa mengalami burnout bukan karena tidak mampu, melainkan karena memasang target yang terlalu besar dalam waktu singkat.

    Karena itu, ia memilih membuat small achievable targets seperti menyelesaikan satu halaman, membaca dua jurnal, atau memperbaiki satu bagian revisi dalam sehari.

    And yes, he also talked about self-reward. Setelah target kecil tercapai, ia memberi dirinya waktu untuk rebahan, menonton film, bermain game, atau nongkrong sebentar agar tidak kehilangan motivasi di tengah proses panjang penelitian.

    Namun, satu kalimatnya langsung menjadi quote favorit kelas hari itu: “Procrastinating boleh… tapi waktunya harus terukur. Jangan sampai niat istirahat berubah menjadi kehilangan semangat.” Simple, relatable, and painfully true.

    Diskusi kemudian berkembang semakin menarik ketika mahasiswa mulai bertanya tentang hal-hal yang selama ini sering membuat mereka merasa anxious dalam dunia penelitian.

    Mulai dari cara mencari referensi yang bagus, menentukan topik yang tepat, menggunakan Mendeley, hingga strategi memilih jurnal tujuan publikasi.

    Salah satu pertanyaan paling menarik datang dari seorang mahasiswa bernama Muti yang bertanya apakah topik penelitian sebaiknya dipilih berdasarkan bidang keahlian atau berdasarkan research interest.

    Pertanyaan itu langsung membuat suasana kelas menjadi lebih serius. Arie menjawab dengan membagikan pengalaman pribadinya. Menurutnya, meneliti sesuatu yang benar-benar membuat seseorang bersemangat justru membuka ruang pertumbuhan yang lebih besar.

    Ketika seseorang genuinely interested dengan topiknya, proses membaca jurnal, berdiskusi dengan dosen pembimbing, hingga melakukan revisi berkali-kali terasa lebih meaningful. “Research is tiring, but it becomes different when you love what you are learning,” jelasnya.

    Ia juga mengakui bahwa rasa penasaran terhadap suatu topik membuatnya lebih ingin membaca, lebih aktif berkonsultasi dengan dosen pembimbing, dan lebih tahan menghadapi revisi.

    Yang juga menarik perhatian mahasiswa adalah ketika Arie secara terbuka membahas bagaimana ia memanfaatkan AI dalam perjalanan risetnya.

    Namun, ia menegaskan bahwa AI bukan alat untuk menggantikan proses berpikir, melainkan partner untuk membantu mempersiapkan diri sebelum berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

    Ia menggunakan AI untuk membantu memahami feedback revisi, merapikan ide, mengecek struktur tulisan, hingga menyiapkan pertanyaan sebelum bimbingan. And, surprisingly, many students looked relieved to hear that.

    Di tengah perkembangan teknologi saat ini, pendekatan seperti ini terasa jauh lebih realistis dibandingkan sekadar melarang penggunaan AI tanpa membangun literasi AI yang sehat.

    Di balik perjalanan akademiknya, Arie ternyata juga merupakan salah satu mahasiswa San Agustin yang pernah mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Kampus Merdeka yang digagas oleh Nadiem Makarim.

    Selama satu semester, ia belajar di Universitas Sanata Dharma dan merasakan atmosfer belajar yang berbeda, lebih menantang. Sebagai mahasiswa dari daerah, ia mengaku sempat merasa minder saat menghadapi kultur akademik di kampus yang besar.

    Namun, pengalaman itulah yang justru membentuk dirinya menjadi lebih disiplin, mandiri, dan terbiasa dengan budaya belajar kolaboratif. He learned that good academic culture is not about competing harshly, but about growing together.

    Menariknya, semua pengalaman belajar yang ia dapatkan di luar Kalimantan Barat tidak berhenti menjadi pengalaman pribadi semata. Ia membawanya kembali pulang ke San Agustin dan membagikannya kepada teman-teman serta adik tingkatnya, salah satunya melalui sesi sharing ini.

    Dan mungkin di situlah letak yang paling penting dari kegiatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang research methodology, tetapi juga melihat bahwa kesempatan untuk berkembang sebenarnya terbuka di kampus sendiri.

    San Agustin terus berupaya menghadirkan ruang belajar yang suportif, kolaboratif, dan memberi mahasiswa kesempatan untuk bertumbuh melalui riset, publikasi ilmiah, pertukaran mahasiswa, dan berbagai pengalaman akademik lainnya tanpa merasa tertinggal hanya karena mereka menempuh studi di kampus daerah.

    Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Ms. Upa, juga menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.

    Menurutnya, pengalaman yang dibagikan Arie menjadi pembelajaran yang sangat berharga karena disampaikan dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.

    “The tips and tricks are very helpful for students, especially for those who are just starting their research journey,” ungkapnya. Beliau juga berharap kegiatan sharing seperti ini dapat terus dilakukan, tidak hanya pada mata kuliah penelitian, tetapi juga pada mata kuliah lain agar mahasiswa semakin termotivasi untuk belajar dari pengalaman nyata sesama mahasiswa.

    Pada akhirnya, sesi guest lecturing ini memperlihatkan satu hal sederhana: kuliah riset ternyata tidak selalu membosankan.

    Kadang, research journey hanya perlu dimulai dari satu rasa penasaran, satu keberanian untuk mencoba, dan satu lingkungan belajar yang membuat mahasiswa merasa didukung untuk berkembang. *Anton. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles