DUTA, Pontianak – Di era konten digital, masyarakat tidak lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan klaim. Setiap hari, masyarakat disuguhi berbagai iklan dengan judul dramatis, janji hasil instan, dan testimoni yang tampak meyakinkan, namun sering kali tidak sebanding dengan realitas yang dialami konsumen.
Alih-alih memperkuat kepercayaan, banjir konten iklan justru memunculkan tidak kepercayaan dengan apa yang diiklankan. Dari Banyak influencer yang membuat konten iklan ada beberapa justru membuat masyarakat tidak tertarik karena tidak realistis namun ada juga yang percaya, berharap apa yang diiklankan sesuai dengan realita.
Tetapi banyak juga yang sesuai dengan apa yang diiklankan. Perkembangan media digital pada awalnya menjanjikan ruang informasi yang lebih demokratis dan relevan bagi publik. Iklan tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dipersonalisasi sesuai minat dan kebutuhan audiens.
Namun, dalam praktiknya, kemajuan ini justru melahirkan persoalan baru berupa banjir konten iklan yang sulit dibendung. Hampir setiap platform digital mulai dari media sosial, marketplace, hingga portal berita dipenuhi pesan promosi dengan intensitas tinggi dan repetitif.
Akibatnya, iklan tidak lagi berfungsi sebagai sarana informasi, melainkan berubah menjadi kebisingandigital yang melelahkan. Dalam situasi ini, perhatian publik menjadi komoditas utama. Algoritma platform cenderung memprioritaskan konten yang sensasional, provokatif, dan menjanjikan hasil instan, karena dianggap lebih efektif menarik klik dan interaksi.
Judul iklan dibuat semakin berlebihan, sering kali tanpa keseimbangan antara daya tarik dan akurasi isi. Ketika strategi semacam ini dilakukan secara masif dan terus-menerus, publik tidak hanya mengalami kejenuhan, tetapi juga mulai mempertanyakan kredibilitas pesan komersial yang mereka terima.
Seperti kasus yang baru-baru ini klaim bahwa produk skincare pemutih yang mereka jual dan promosikan disosial media bisa memutihkan dengan hanya beberapa kali pemakaian. Mengiklankan produknya tetapi memakai produk pemutih atau tone up kulit, hal tersebut membuat banyak masyarakat skeptis, memang pikiran yang seperti ini yang masyarakat harus punya.
melihat kenyataan bahwa tidak ada produk skincare yang bisa memutihkan dengan instan. Masyarakat Indonesia banyak yang tergila-gila dengan warna kulit putih. banyak iklan pemutih kulit yang berseliweran disosial media melakukan overclaim agar masyarakat langsung membeli tanpa harus berpikir skeptis.
Krisis kepercayaan publik di era konten digital pada dasarnya bukan lahir dari satu atau dua iklan yang menyesatkan, melainkan dari akumulasi pesan komersial yang berlebihan, repetitif, dan kerap tidak sejalan dengan realitas.
Ketika hampir setiap ruang digital dipenuhi janji promosi, publik tidak hanya menjadi lebih selektif, tetapi juga semakin skeptis terhadap klaim apa pun yang disampaikan. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan tidak lagi menjadi fondasi komunikasi pemasaran, melainkan sumber daya yang langka dan mudah terkikis.
Situasi tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh aktor dalam ekosistem digital mulai dari pelaku usaha, kreator konten, hingga platform media. Keberhasilan iklan tidak semestinya diukur semata dari jumlah tayangan atau tingkat keterlibatan, tetapi dari sejauh mana pesan yang disampaikan mampu mempertahankan integritas dan kejujuran.
Tanpa perubahan pendekatan dari sekadar mengejar perhatian menuju membangun kredibilitas, banjir konten iklan justru akan terus memperdalam jurang ketidakpercayaan antara masyarakat dan pesan komersial yang mereka terima.
Pada akhirnya, publik tidak menuntut iklan yang sempurna, melainkan komunikasi yang jujur dan proporsional. Di tengah kebisingan digital yang semakin padat, hanya konten yang menghargai kepercayaan masyarakat yang memiliki peluang untuk bertahan.
Tanpa itu, iklan digital berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai jembatan informasi, dan justru menjadi simbol krisis kepercayaan yang terus berulang di masyarakat.

SUMBER REFERENSI:
BPOM temukan 26 kosmetik berbahaya yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang. TVOne
News. 16 Januari 2026.
https://www.tvonenews.com/berita/nasional/407392-bpom-kosmetik-temukan-26-produk-
berbahaya-warga-diminta-cek-izin-edar-sebelum-pakai
* Martina Angelina_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
*Editor – Samuel, S.E., M.M.




