Duta, Landak | Ketika kita memperingati Hari Guru, sering muncul satu pertanyaan yang terdengar sederhana namun penuh makna, “Jika tidak ada guru, siapakah kita hari ini?” pertanyaan tersebut bukan hanya refleksi sentimental, tetapi sebuah kebenaran yang menegaskan bahwa hampir semua pencapaian manusia berakar dari peran seorang guru. Tanpa guru, tidak ada ilmuwan, tidak ada perawat, tidak ada pemimpin, bahkan tidak ada mahasiswa seperti saya yang sedang menulis opini ini.
Guru bukan sekadar profesi; Guru adalah fondasi dari semua profesi. Sikap, cara berpikir, kecerdasan emosional, hingga kemampuan intelektual banyak ditanam melalui tangan seorang guru. Dalam jurnal yang ditulis oleh indrawati dikatakan bahwa “guru memegang peranan yang amat penting dalam Upaya pengembangan sumber daya manusia melalui Pendidikan” (Teknologi et al., 2022).
Peran guru bahkan menjadi semakin krusial Ketika dunia Pendidikan menghadapi tantangan abad ke-21. (Elitasari, 2022), menegaskan bahwa kualitas guru di Indonesia masih rendah sebab masih banyak guru yang menganggap pekerjaanya mudah dan hanya sekedar mencari penghasilan.
Pernyataan tersebut bukan untuk menyalahkan guru, tetapi untuk mengingatkan bahwa kualitas Pendidikan nasional tidak bisa dilepaskan dari kompetensi dan kondisi kerja guru. Sebab, seperti yang ditegaskan (Susiani 2021), Peningkatan kualitas Pendidikan di Indonesia untuk mengejar keteringgalan dari negara lain sangat bergantungan pada peningkatan kualitas guru.
Guru tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga aktor yang memengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Penelitian (Maullidina et al., n.d.), menemukan bahwa profesionalisme guru sangat berpengaruh terhadap kualitas Pendidikan terutama melalui disiplin kerja dan kemampuan mengelola kelas.
Tanpa profesionalisme dan dedikasi guru, kualitas pembelajaran akan terhenti di tegah jalan. Bahkan penelitian (Aini et al., 2018), menegaskan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kualitas pengajaran guru terhadap prestasi belajar siswa. Mengingat kenyataan tersebut, kita dapat membayangkan betapa rapuhnya Pendidikan jika peran guru tidak dihargai. Kita bisa memiliki Gedung sekolah yang megah, kurikulum yang inovatif, dan teknologi pembelajaran yang canggih, tetapi tanpa guru, semuanya sia-sia.
Kajian (Ketaren et al., 2025), menulis bahwa optimalisasi peran guru sebagai fasilitator dapat dilakukan melalui pelatihan profesional, dukungan teknologi, dan kolaborasi dengan orang tua. Walau demikian, guru bukan hanya fasilitator. Mereka Adalah agen perubahan yang mampu mempengaruhi cara berpikir generasi masa depan. (Nisaa et al., 2022),dalam jurnalnya menegaskan: sebagai sumber ilmu, guru perlu memahami teknologi yang berkembang agar dapat membimbing siswanya di era digital.
Guru Adalah pelita di Tengah derasnya arus digitalisasi. Tanpa kemampuan adaptif seorang guru, pembelajaran modern tidak akan mampu membentuk karakter peserta didik. Sejalan dengan itu,(Rohmah & N, 2023), menulis bahwa di era revolusi industry 4.0, peran guru sebagai agen pembaharu dituntun untuk menguasai keterampilan abad 21. Selain kemampuan teknis, guru juga memegang peran moral. Mereka mengajarkan empati, kedisiplinan, dan kejujuran nilai-nilai yang tidak selalu ada dalam buku teks. (Oktoberia, 2025), menegaskan bahwa guru sebagai elemen utama Pendidikan formal memerlukan kompetensi pedagogic, Solusi, pribadi, dan professional demi proses pembelajaran optimal.
Melalui peran yang begitu besar, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membentuk karakter bangsa. Bahkan pada era digital yang serba cepat, guru tetap menjadi kunci keberhasilan pembelajaran, penelitian (Dunggio et al., 2023) menunjukan bahwa guru memanfaatkan media digital seperti video, kuis daring, dan aplikasi edukatif untuk memperkuat pemahaman peseta didik.
Dari berbagai penelitian tersebut, jelas bahwa kontribusi guru tidak dapat digantikan teknologi. Kecerdasan buatan mungkin bisa menjelaskan materi, tetapi tida bisa menanamkan nilai moral. Aplikasi digital mampu memberi Latihan soal, tetapi tidak bisa memberi teladan. Guru memberi sesuatu yang tidak dapat diberikan mesin: setuhan manusia.
Karena itu, pertanyaan “Jika tidak ada guru, siapakah kita hari ini?” bukanlah semata retorika, tetapi refleksi yang dalam. Tanpa guru, mungkin kita tidak akan mengenal huruf, tidak memahami logika, tidak bisa berpikir kritis, dan tidak mampu menjawab tantangan kehidupan.
Hari Guru seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan. Hari Guru adalah momentum untuk menuntut keadilan bagi mereka yang menjalani profesi paling mulia namun sering dianggap “biasa saja”. Kita merayakan dokter karena menyembuhkan tubuh; kita merayakan ilmuwan karena menemukan pengetahuan baru; tetapi kita lupa bahwa dokter dan ilmuan pun lahir dari seorang guru.
Guru Adalah akar, sedangkan kita Adalah buah. Guru Adalah Cahaya, sedangkan kita berjalan mengikuti terangnya. Guru Adalah pondasi, sedangkan kita berdiri kokoh di atas bangunan yang mereka dirikan.
Sebagai mahasiswa, kita pun tak lepas dari kontribusi guru. Ketika kitab bisa membaca, memahami teori, menulis skripsi, hingga berdiskusi secara kritis di kelas perkuliahan, semua itu Adalah hasil dari rangkaian Panjang bimbimgan guru sejak masa kanak-kanak. (Harvard Education, 2023) menulis bahwa guru bukan hanya mengajar, tetapi membentuk karakter berpikir kita.
Kita semua Adalah produk dari Pendidikan. Dan Pendidikan Adalah hasil kerja guru. Maka, jika tidak ada guru, siapakah kita hari ini? Kita mungkin tidak dapat membaca tulisan ini. Kita mungkin tidak memahami logika, etika, atau nilai-nilai kehidupan. Kita mungkin tidak dapat bermimpi sejauh ini.
Akhirnya, Hari Guru Adalah pengingat sederhana bahwa tanpa guru, kita mungkin tidak memiliki kemampuan menulis opini ini, tidak memiliki keterampilan untuk duduk di ruang kuliah, dan tidak memiliki keberanian untuk bermimpi. Guru Adalah cermin masa depan. Maka merayakan guru berarti merayakan perjalanan Panjang kita menuju manusia yang lebih baik.
*Penulis: Fernando Diansi Mahasiswa FKIP San Agustin, Kampus 1 Landak.


