Duta, Pontianak | Masalah lingkungan menjadi hal yang lebih sering terjadi dalam industri bisnis selama beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim, kemudian persoalan sampah plastik, dan yang lain.
Kemauan masyarakat untuk mendengarkan keberlangsungan lingkungan serta beparitas kaum semuanya memerlukan perusahaan memikirkan pemasaran yang lebih bertanggung jawab.
Di dalam bantu persaingan pasar yang semakin keras, pemasaran yang peduli lingkungan tidak lagi hanya tambahan, tetapi kebutuhan untuk perusahaan agar tetap relevan.
Selain itu, perubahan ini menunjukkan bahwa ekonomi tetap kondisi yang berkembang, termas misalnya Peningkatan GDP di Indonesia artinya peningkatan kegiatan dan perbelanjaan masyarakat.
Kolter dan Keller menulis dalam marketing management bahwa ke lingkungan merupakan faktor penting yang memengaruhi strategi pemasaran.
Perusahaan harus menyesuaikan diri dengan berubahnya nilai-nilai sosial, peraturan yang ada, dan lebih pedulinya masyarakat terhadap lingkungan. Hal ini terlihat dari pada makin banyak konsumen yang sekarang enggan memilih produk yang lebih murah.
memenuhi kebutuhan tetapi juga mencerminkan nilai pribadi mereka, termasuk kepedulian terhadap lingkungan.
Perilaku konsumen adalah ditentukan oleh nilai sosial dan budaya, Schiffman dan Wlseenbit, Consumer Behavior menurut.
Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi nasional-class yang makin meningkat, dan di Pontianak.Hasilnya, lebih memilih menggunakan produk yang mereka pikir lebih baik untuk lingkungan, bertanggung jawab dalam artian “bagus” bagi semua orang dan ramah terhadap alam sekitar Masyarakat ini ilustrasi nyata ketika mereka ekosistem secara ekonomi.
Kondisi ini menjelaskan bahwa pemasaran yang pandai lingkungan merupakan aspek yang kdalamankejelasannya pada ketika tatanan ekonomi sedangberlangsung.
Masyarakat yang ekonominya tenang sekaligus tetap tumbuh cenderung memiliki rasa kep(ribadi) tahu yang tajam di atas semua tentang ‘alosfas’, sebagaimana disindir oleh ketidakpikaian (publik) tinggi mengenai ‘perbatasan’.
Meskipun menurut analthe rodong locci, Salvage atau kebalikannya adalah bagaimana menghentalkan manajemen perusahaan yang efektif.
Malhotra dalam Marketing Research: an Applied Orientation menegaskan pentingnya riset pemasaran dalam memahami kebutuhan dan keinginan konsumen. Dengan DGP yang terus meningkat, pola konsumsi masyarakat juga berubah.
Perusahaan harus melakukan riset untuk mengetahui apakah konsumen bersedia membayar lebih untuk produk hijau, apakah mereka mengutamakan kemasan ramah lingkungan, atau apakah mereka tertarik pada merek yang memiliki program berkelanjutan.
Tanpa riset, perusahaan yang menebak-nebak, dan hal ini sangat berisiko dalam kondisi ekonomi yang semakin kompetitif.
Pertumbuhan ekonomi juga menciptakan persaingan yang lebih ketat di sektor pandangan ternassuk di Pontianak. Pelaku usaha harus melakukan diferensiasi agar tidak kalah saing. Salah satu contohnyata yang bisa di lihat adalah mixue yang mulai menggunakan sedotan kertas dan peper bag sebagai bentuk dokumen terhadap pengurangan limbah plastik.
Walaupun terlihat sederhana, lakah ini adalah bagian dari strategi pemasaran berwawasan lingkungan yang sejalan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.
Di kota dengan aktivitas ekonomi yang cukup tinggi seperti Pontianak yang PDBR nya tumbuh setiap tahun, strategi ini membantu bisnis membangun citra positif di mata konsumen yang semakin kritis dan peduli lingkungan.
Selain itu, meningkatnya GDP ikut mendorong munculnya berbagai inovasi produk dan layanan berbasis keberlanjutan. Banyak perusahaan kini mengembangkan produk dari bahan daur ulang, menawarkan refill station, membuat program penukaran botol plastik, hingga memberikan diskon bagi konsumen yang membawa tas belanja sendiri.
Inovasi seperti ini tidak hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga menjadi daya tarik pemasaran yang efektif. Semakin meningkat ekonomi masyarakat, semakin besar pula peluang penyerapan produk-produk ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat berjalan berdampingan dengan pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan baik.
Di sisi lain, pemasaran berwawasan lingkungan juga membantu perusahaan memperkuat loyalitas pelanggan. Konsumen modern tidak hanya melihat kualitas produk, tetapi juga kepedulian perusahaan terhadap isu sosial dan lingkungan.
Dalam konteks pertumbuhan GDP, perusahaan yang berhasil memposisikan diri sebagai pelaku usaha yang bertanggung jawab akan memiliki keunggulan kompetitif. Kepercayaan konsumen terhadap merek yang peduli lingkungan cenderung lebih kuat, sehingga perusahaan dapat menciptakan hubungan jangka panjang yang menguntungkan.
Selain itu, strategi pemasaran berwawasan lingkungan juga dapat membuka peluang pasar baru. Misalnya munculnya kelompok konsumen yang secara khusus mencari produk-produk eco-frienly menciptakan segmen yang potensial unruk di garap.
Dengan adanya pertumbuhan GDP, segmen ini cenderung bertambah besar karena masyarakat memiliki kapasitas finansial untuk memilih produk berdasarkan nilai, bukan hanya harga. Hal ini memperkuat hubungan antara kesejahteraan ekonomi dan keberlanjutan dalam pemasaran.
Pada akhirnya, keterkaitan antara pemasaran berwawasan lingkungan dan GDP menunjukkan bahwa keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi tidak harus berlawanan. Justru keduanya saling mendukung.
Ketika ekonomi tumbuh, konsumen lebih peduli terhadap kualitas dan dampak produk yang mereka beli. Perusahaan yang mampu membaca perubahan ini melalui riset pemasaran akan lebih mudah beradaptasi dan bertahan dalam persaingan.
Dengan mengintegrasikan nilai lingkungan ke dalam strategi pemasaran, perusahaan bukan hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Secara keseluruhan, pemasaran berwawasan lingkungan bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis di tengah ekonomi yang terus tumbuh dan masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya keberlanjutan.
Upaya Ramah Lingkungan di Janji Jiwa Pontianak
Salah satu contoh nyata penerapan lingkungan berwawasan lingkungan di Pontianak dapat di lihat pada beberapa gerai minuman kekinian, salah satunya Janji Jiwa Pontianak.
Dalam beberapa tahun terakhir, brand ini mulai menerapkan penggunaan sedotan kertas, kemasan cup yang bisa di daur ulang, dan mengurangi penggunaan plastic tambahan.
Langkah ini bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi juga merupakan strategi pemasaran yang memanfaatkan meningkatnya kesadaran masyarakat Pontianak terhadap isu lingkungan.
Memalui pendekatan ini, Janji Jiwa berusaha membangun brand image sebagai merek yang peduli lingkungan.
Strategi ini terlihat dalam promosi mereka yang sering menonjolkan ajalan untuk “lebih peduli sampah plastik” dan “mendukung gaya hidup hijau” dari sudut pandanga riset pemasaran, keputusan ini di ambil karena adanya peningkatan minat masyarakat, terutama mahasiswa dan anak muda, terhadap produk yang di anggap lebih bertanggung jawab cesaya lingkungan.
Hasilnya, banyak konsumen di Pontianak merasa lebih nyaman membeli produk dari brand yang di anggap peduli lingkungan.
Hal ini memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan menjadi contoh bagaimana faktor lingkungan dapat di manfaatkan sebagai strategi pemasaran untuk menarik pelanggan sekaligus memberi kontribusi positif terhadap lingkungan kota.
Sumber buku:
Kotler, Philip & Keller, Kevin Lane. (2016) Marketing Management. (Edisi ke-15) Pearson.
Schiffman, Leon & Wisenblit, Joseph. (2015) Consumer Behavior. (Edisi Ke-11) Pearson.
Malhotra, Naresh K. (2019) Marketing Research: An Applied Orientation. (Edisi Ke-7) Pearson.
Penulis: Gracesia Theresia – Mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus ll Pontianak, Akademi Keuangan Dan Perbankan Grha Arta Kahatulistiwa.


