Monday, March 9, 2026
More

    Dinamika Pontianak dalam Dua Fenomena

    Duta, Pontianak | Sebagai mahasiswa yang tinggal dan mengamati perkembangan di Pontianak, Tahun 2025 menjadi salah satu momen yang cukup menarik bagi saya untuk membaca dinamika ekonomi di Kota Pontianak.

    Dua Kasus viral belakangan ini (Razia knalpot blong oleh polresta Pontianak pada senin malam, 10 november 2025,dan munculnya kuliner Malaysia seperti Kopi Peng Sarawak Kopitiam serta festival Kuliner Asia yang di gelar di UNTAN pada 12-13 November 2025) menurut saya menarik sekali untuk dikaji lewat lensa budaya-ekonomi bukan Cuma urusan uang atau setoran, tapi juga soal identitas, simbol, dan modal budaya. menjadi pintu masuk yang baik untuk melihat bagaimana teori budaya-ekonomi bekerja dalam kehidupan nyata.

    Meski tampak sederhana, kedua kasus ini mencerminkan bagaimana kebijakan publik, perilaku individu, serta integrasi pasar regional saling terkait dan memengaruhi kesejahteraan ekonomi Masyarakat.

     Kasus Razia Knalpot Blong

    Baru-baru ini muncul Razia knalpot blong di Pontianak yang jadi perbincangan publik. Knalpot blong biasanya identik dengan modifikasi sepeda motor yang “progresif”, tapi juga bising dan menganggu Sebagian masyarakat.

    Razia semacam ini sebenarnya punya dimensi sosial-ekonomi di satu sisi, petugas menegakkan aturan agar ketertiban (public order) terjaga.

    Tapi di sisi lain, modifikator sepeda motor – terutama anak muda – bisa jadi merasa suara motor mereka adalah ekspresi identitas, kebebasan, atau komunitas.

    Jika dipandang dengan teori kapital dari Pierre Bourdieu, modifikasi knalpot bisa dianggap sebagai salah satu bentuk cultural: para modifator mungkin menginvestasikan waktu, uang, dan kreativitas untuk membangun “gaya hidup” motor mereka. Menurut Bourdieu, ada empat bentuk kapital, ekonomi, sosial, simbolik, dan budaya.

    Knalpot blong bukan hanya soal uang (ekonomi), tapi juga simbol status di komunitas motor (simbolik) dan ekspresi selera (budaya). Di sini, modifikator bisa dipandang sebagai actor dalam field (lapangan) motor mereka bersaing dalam gaya, visibilitas, dan “legitimasi” modifikasi. Ketika Razia dilakukan, seakan-akan negara atau aparat publik menegaskan aturan simbolik “gaya kalian boleh, tapi ada batas, terutama kalau mengganggu orang lain”.

    Ini konflik antara habitus (kecenderungan sosial dan budaya yang melekat pada modifikator) dengan dominasinya aturan formal negara. Dalam pandangan Bourdieu, dominasi ini adalah perjuangan simbolik: aturan knalpot bukan sekedar teknis, tapi juga repressentasi kekuasaan dan “legitimasi suara”.

    Jadi, kasus Razia knalpot blong ini bukan semata-mata masalah sosial (ketertiban), atau ekonomi (denda, biaya modifikasi), melainkan sangat kental dengan budaya: identitas komunitas motor, selera modifikasi, dan perjuangan simbolik kapital budaya mereka.

    Kasus Mini Karnaval Kuliner Malaysia  

    Lalu ada festival kuliner Malaysia di kampus UNTAN pada tanggal 12-13 november 2025 lalu, kerja sama UNTAN dan konsulat Malaysia. Diketahui acara ini menampilkan lebih dari 50 menu khas Malaysia seperti Nasi lemak, Laksa Sarawak, Roti canai, The Tarik, dan lain-lainnya, Dalam Pontianak post yang saya liat.

    Selain kuliner, festival ini juga dapat mengangkat budaya melayu seperti pantun melayu. Jika dilihat dari sisi ekonomi, festival ini jelas punya dampak finansial: Dimana dapat memberi perluang bagi UMKM kuliner Malaysia, mendorong transaksi lokal, dan bisa jadi menarik wisatawan lokal dan lintas negara.

    Pemerintah dan konsulat pun support, karena ini bukan sekedar hiburan, tapi promosi pariwisata  dan ekonomi kreatif, dalam berita kabar news yang saya telusuri.

    Tapi lebih dari itu, secara budaya festival ini mewakili pertukaran simbolik dan identitas: Malaysia dan Kalbar khususnya kota Pontianak “berbicara” lewat makanan, pantun, dan simbol budaya lain. Ini bentuk kapital budaya lintas-batas: masyarakat Pontianak mendapat akses pada modal budaya Malaysia, dan sebaliknya Malaysia memperkuat soft-power lewat makanan dan budaya di Pontianak.

    Konsep ini sejalan dengan teori ekonomi budaya (cultural economics) di mana budaya bukan sekadar konsumsi estetis, tapi juga modal ekonomi dan sosial. Para ekonom budaya seperti David Throsby mengatakan bahwa “nilai budaya”  bisa diukur dalam kaitanya dengan konsumsi, produksi, pertukaran, dan kebijakan.

    Di sisi Bourdieu, festival ini meletakkan modal budaya sebagai alat sokongan hubungan transnasional: pihak konsulat, universitas, dan public memanfaatkan simbolisme kuliner dan budaya melayu untuk membangun “legitimasi” hubungan persahabatan antar negara serumpun. Ini juga bisa dibaca sebagai strategi simbolik untuk mendefinisikan ulang relasi sosial dan budaya di Kalimantan barat: identitas Pontianak tidak hanya lokal, tapi juga bagian dari “serumpun melayu” yang lebih besar.

    Dalam analisis kasus ini saya lebih tertuju pada materi Ekonomi-budaya. Mengapa?……Karena interaksi kapital budaya Razia knalpot blong menyoroti modal budaya (taste modifikasi) + simbolik (gaya, kebebasan) – perjuangan simbolik di ruang publik.

    Karnaval kuliner menampilkan modal budaya Malaysia + simbol identitas serumpun – memperkuat ikatan dan pertukaran budaya.

    Nilai ekonomi plus simbolik festival kuliner jelas memberikan nilai ekonomi (transparan kuliner, UMKM, Pariwisata) tapi juga nilai simbolik budaya (identitas melayu, kerja sama antar negara). Modifikasi motor (knalpot) sebenarnya tidak hanya terkait biaya, tapi “nilai gaya hidup” yang sulit diukur secara finansial, tapi punya makna simbolik bagi para modifikator.

    Legitimamsi sosial dan kekuasaan Razia knalpot menegaskan norma publik dan kekuasaan simbolik negara. Festival budaya melegitimamsi kerja, sama bilateral melalui  budaya, memfasilitasi simbol kekuasaan Lembaga (konsulat, universitas) dalam ranak budaya-ekonomi.

    Sehingga, dari perspektif Bourdieu (kapital, habitus, field), dan pendekatan ekonomi budaya (Throsby dkk), kedua fenomena ini tidak bisa dipisahkan hanya sebagai “aturan publik” atau “bisnis makanan”. Melainkan wujud nyata bagaimana budaya dan ekonomi saling terkait dan memperkuat satu sama lain dalam masyarakat Pontianak.

    Kritik dan Catatan

    Dari saya tentu saja ada catatan penting mengenai kasus ini:

    Inklusivitas: Apakah festival kuliner di UNTAN bisa diakses semua lapisan masyarakat? Jika hanya segmen tertentu (mahasiswa, kelas, menengah) yang hadir, nilai budaya ekonominya bisa eksklusif.

    Keberlanjutan: Apakah festival ini hanya event sesaat atau bisa berkelanjutan sebagai  platform ekonomi kreatif dan budaya di Pontianak?

    Regulasi vs Ekspresi: Razia knalpot bisa jadi memadamkan ekspresi budaya komunitas modifikator. Bagaiamana menyeimbangkan antara ketertiban publik dan hak berekspresi secara simbolik.

    Kesimpulan

    Kasus Razia knalpot blong dan mini karnaval Malaysia di Pontianak adalah fennomena yang lebih bersifat budaya ekonomi daripada semata sosial atau ekonomi. Mereka mencerminkan interaksi modal budaya (gaya, identitas, status), dan nilai ekonomi praktis (trannsaksi kuliner, UMKM) dalam konteks lokal-lintas budaya.

    Jika dipahami dengan teori Bourdieu (kapital budaya, habitus, field) dan ekonomi budaya (Throsby dan lain-lain), kita bisa melihat bagaimana budaya tidak hanya “hiasan”masyarakat, tetapi juga sumber ekonomi dan simbol kekuasaan. Tantangannya adalah menjaga agar ekspresi budaya tetap adil, inklusif, dan tidak direduksi Cuma sebagai alat ekonomi atau control sosial.

    Daftar Rujukan Buku:

    1. Bourdieu, pierre. Distinction: A social Critique of the judgement of taste. Harvard University press, 1984.
    2. Throsby, David. The Economics of Cultural policy. Cambridge University press, 2010.
    3. Towse, Ruth (ed). A Handbook of Cultural Economics. Edward Elgar, 2003.

    Penulis: Anjeli- Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan, San Agustin, Kampus II. – Manajemen Pemasaran. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles