Duta, Pontianak | Kenaikan harga beras yang terjadi di Pontianak dalam beberapa waktu terakhir menjadi isu yang meluas dan viral di berbagai platform media sosial. Banyak warga mengeluhkan harga beras yang terus meningkat, bahkan beberapa pedagang menyebutkan kenaikan mencapai lebih dari sepuluh persen dalam kurun waktu singkat.
Beras sebagai kebutuhan pokok membuat gejolak harga ini langsung dirasakan seluruh lapisan masyarakat, khususnya keluarga dengan pendapatan rendah hingga menengah. Kondisi ini tidak hanya menjadi isu konsumsi rumah tangga, tetapi juga menggambarkan dinamika ekonomi yang lebih kompleks. Jika dicermati melalui kacamata teori ekonomi, kasus ini sejalan dengan pandangan para ahli mengenai mekanisme pasar, elastisitas permintaan, dan inflasi biaya.
Kenaikan harga beras di Pontianak disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari luar daerah, terutama dari Jawa dan Sulawesi yang selama ini menjadi pemasok utama. Cuaca buruk, keterlambatan distribusi, dan meningkatnya biaya transportasi menyebabkan stok beras di beberapa pasar tradisional menipis.
Saat pasokan berkurang sementara permintaan masyarakat tetap, bahkan meningkat menjelang akhir tahun, maka kenaikan harga tidak dapat dihindarkan. Viral-nya isu ini di media sosial mempercepat perhatian publik maupun pemerintah, namun analisis ekonomi menunjukkan bahwa fenomena ini merupakan respons pasar yang sangat rasional.
Menurut pandangan ahli ekonomi seperti Paul Samuelson dan William Nordhaus dalam buku Economics, harga pasar terbentuk dari interaksi antara permintaan dan penawaran. Ketika terjadi pergeseran penawaran ke kiri akibat menurunnya pasokan, pasar baru akan menemukan keseimbangan harga yang baru, yang biasanya berada pada titik yang lebih tinggi.
Para ahli menyebut kondisi ini sebagai excess demand, yaitu ketika jumlah barang yang diminta lebih besar daripada yang ditawarkan.
Dalam kasus Pontianak, kondisi ini jelas terlihat: berkurangnya masuknya beras menyebabkan kelangkaan relatif, sehingga harga naik sebagai mekanisme pasar menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Para ahli melihat bahwa sejauh pasokan tidak kembali normal, harga barang pokok seperti beras akan tetap berada pada tingkat yang tinggi.
Selain itu, ahli ekonomi N. Gregory Mankiw memberikan pandangan penting melalui teori elastisitas permintaan yang dijelaskan dalam bukunya Principles of Economics. Menurutnya, barang kebutuhan pokok seperti beras memiliki permintaan yang inelastis. Artinya, meskipun harga naik, masyarakat tetap akan membeli karena beras merupakan kebutuhan dasar yang tidak memiliki banyak pengganti.
Para ahli memandang bahwa inelastisitas permintaan inilah yang membuat kenaikan harga beras terasa sangat berat bagi masyarakat, sebab permintaan tidak dapat ditekan secara signifikan untuk menurunkan harga. Dengan kata lain, konsumen tidak memiliki banyak pilihan selain membayar harga yang lebih tinggi. Fenomena ini menjadi penyebab mengapa kenaikan harga beras cepat viral; masyarakat langsung merasakan dampaknya tanpa bisa mengurangi konsumsi.
Dari sudut pandang lain, ahli ekonomi Indonesia seperti Sadono Sukirno menjelaskan dalam Pengantar Teori Mikroekonomi bahwa kenaikan harga barang dapat berasal dari meningkatnya biaya produksi dan distribusi, sebuah fenomena yang disebut cost-push inflation.
Dalam konteks Pontianak, distribusi beras sangat bergantung pada transportasi laut dan darat dari daerah luar pulau. Ketika harga BBM meningkat, cuaca memburuk, atau terjadi gangguan logistik, biaya pengiriman beras menjadi lebih tinggi.
Para ahli melihat bahwa pedagang dan distributor pada akhirnya akan menyesuaikan harga jual untuk mempertahankan keuntungan. Sukirno menekankan bahwa inflasi jenis ini sulit dikendalikan hanya dengan operasi pasar, karena sumber masalahnya berada pada rantai distribusi, bukan sekadar ketersediaan barang.
Pandangan para ahli juga menyoroti perilaku masyarakat yang ikut memperburuk situasi. Ketika mendengar bahwa harga beras naik atau stok menipis, sebagian masyarakat membeli beras dalam jumlah lebih banyak sebagai langkah berjaga-jaga. Dalam teori perilaku konsumen, ekspektasi terhadap kenaikan harga dapat mendorong peningkatan permintaan saat ini.
Para ahli menyebut ini sebagai adaptive expectations. Walaupun skala pembelian berlebih di Pontianak tidak terlalu besar, namun tetap berkontribusi pada percepatan penurunan stok di pasar. Dalam kondisi pasokan yang sudah terbatas, perilaku ini mempercepat ketidakseimbangan dan mendorong harga semakin tinggi.
Pemerintah kemudian melakukan intervensi dengan menjalankan operasi pasar dan menyalurkan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan. Para ahli kebijakan publik menilai langkah ini memang efektif dalam jangka pendek, namun tidak menyelesaikan masalah struktural.
Samuelson dan Nordhaus menjelaskan bahwa intervensi pemerintah diperlukan ketika harga barang pokok mengalami tekanan besar dan pasar tidak lagi mampu menyeimbangkan kondisi tanpa menimbulkan kerugian sosial.
Namun demikian, para ahli berpendapat bahwa solusi jangka panjang harus mencakup perbaikan distribusi, peningkatan efisiensi logistik, dan pengembangan cadangan pangan daerah. Tanpa perbaikan struktural, kasus kenaikan harga beras akan selalu berulang, terutama ketika terjadi gangguan pasokan nasional.
Melihat fenomena ini secara menyeluruh, para ahli sepakat bahwa kenaikan harga beras di Pontianak merupakan perpaduan dari berkurangnya pasokan, sifat inelastis dari permintaan beras, dan meningkatnya biaya distribusi.
Ketiga aspek teori ekonomi tersebut memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana mekanisme pasar bekerja dalam kehidupan nyata. Kasus viral ini bukan sekadar masalah harga di pasar, tetapi mencerminkan rapuhnya sistem distribusi pangan dan pentingnya kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas harga barang pokok.
Menurut Paul Samuelson melalui teori permintaan dan penawaran, menjelaskan bahwa ketika pasokan menurun akibat hambatan distribusi atau cuaca, harga akan naik hingga tercapai titik keseimbangan baru.
Menurut mereka, pasar bergerak berdasarkan mekanisme otomatis yang menyesuaikan harga ketika terjadi kelangkaan barang. Dalam konteks Pontianak, pengurangan pasokan dari wilayah penghasil utama seperti Jawa membuat kurva penawaran bergeser ke kiri.
Para ahli menilai bahwa selagi pasokan tidak kembali stabil, kenaikan harga adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan.
Sedangkan menurut, N. Gregory Mankiw, menekankan konsep elastisitas permintaan. Ia berpendapat bahwa barang kebutuhan pokok seperti beras memiliki permintaan yang inelastis, artinya perubahan harga tidak terlalu memengaruhi jumlah permintaan. Menurut Mankiw, masyarakat tetap akan membeli beras meskipun harganya naik karena tidak ada barang pengganti yang setara.
Dalam kasus Pontianak, ahli akan melihat bahwa karakteristik inelastis ini memperparah kenaikan harga, sebab pedagang tetap dapat menaikkan harga tanpa mengurangi permintaan secara berarti. Dari sudut pandang ahli, inilah alasan mengapa isu kenaikan harga beras cepat viral—karena mayoritas masyarakat terkena dampaknya secara langsung.
Sadono Sukirno menyampaikan dalam teori inflasinya bahwa kenaikan biaya distribusi dapat menyebabkan cost-push inflation, yaitu inflasi yang berasal dari sisi biaya. Menurut Sukirno, ketika biaya transportasi meningkat dan barang harus dipasok dari daerah jauh, beban tersebut akan diteruskan ke harga jual barang.
Para ahli ekonomi yang merujuk teori Sukirno akan mengatakan bahwa kenaikan harga beras di Pontianak bukan hanya soal supply-demand, tetapi juga efek sistemik dari rantai distribusi yang panjang dan kondisi logistik yang tidak efisien. Dengan demikian, menurut perspektif ahli, perbaikan distribusi menjadi kunci agar harga beras dapat stabil kembali.
Kenaikan harga beras di Pontianak terjadi karena pasokan menurun sementara permintaan tetap tinggi, sehingga mendorong harga naik sesuai teori permintaan dan penawaran. Para ahli seperti Mankiw, Samuelson, dan Sukirno sepakat bahwa gejolak harga pangan muncul ketika terjadi kelangkaan, hambatan distribusi, dan ketidakseimbangan pasar.
Kasus ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar dan penguatan cadangan pangan, serta perlunya peningkatan produksi lokal agar masalah serupa tidak terus berulang.
Daftar Buku:
- Samuelson, Paul A., & Nordhaus, William D. – Economics. (Teori permintaan–penawaran dan harga keseimbangan)
- Mankiw, N. Gregory – Principles of Economics. (Elastisitas permintaan, barang kebutuhan pokok)
- Sadono Sukirno – Pengantar Teori Mikroekonomi. (Cost-push inflation, struktur pasar, distribusi)
- C. Peter Timmer – buku/kajian tentang Food Security & Rice Markets. (Kebijakan pangan dan stabilisasi harga)
Jurnal:
- Putra, A. W., dkk. (2021). Rice Price Volatility and Climate Factors.
- Rozi, F., dkk. (2023). Indonesian Market Demand Patterns for Food Commodities.
- Pangesti, A. W. (2023). Causal Relationship Between Rice Prices and Inflation in Indonesia.
- Rosyadi, R. (2024). Uncertainty in the Rice Supply Chain.
- Respatiadi (2018). Policy Options to Lower Rice Prices in Indonesia.
*Penulis: Nesa Sepriana – Mahasiswa Keuangan dan Perbankan – San Agustin, Manajemen Pemasaran.


