Duta, Pontianak | Sabtu 17 Mei 2025 — Angin dari perbukitan Kalimantan seakan membawa kabar baik bagi para pewaris budaya leluhur. Di bawah atap megah Rumah Radangk, jantung budaya Dayak di Kota Pontianak, Panitia Publikasi dan Dokumentasi Pekan Gawai Dayak ke-39 melakukan wawancara eksklusif bersama Koordinator Lomba Olahraga Tradisional Sumpit dan Gasing, Danianus Petrus.
Sebagaimana gasing yang berputar tak goyah, dan sumpit yang melesat dengan tenang dan tepat, lomba ini menjadi panggung untuk merayakan bukan hanya keterampilan fisik, tapi juga kebesaran jiwa dan kearifan lokal.
Dalam atmosfer nuansa etnik, Dani mengungkapkan bahwa lomba akan digelar pada 22 Mei 2025, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan besar yang bukan hanya berpesta, melainkan juga merawat jiwa kebudayaan.

“Permainan sumpit ini memang dimainkan saat-saat panen padi—di mana masyarakat Suku Dayak menyalurkan keahlian, strategi, dan filosofi hidup ke dalam sebuah alat sederhana, namun sarat makna,” ungkapnya dengan penuh antusias.
Baginya, sumpit bukan sekadar alat berburu, melainkan juga lambang ketajaman pikiran, keheningan batin, dan ketepatan tindakan.
Sementara gasing—yang berputar dengan keanggunan di atas tanah—mengajarkan tentang keseimbangan hidup, tentang bagaimana manusia bisa teguh di tengah pusaran zaman.
“Salah satu yang sudah dibakukan secara nasional adalah sumpit dan gasing ini, dan kita bangga bisa terus menjaganya,” tambah Dani (17/05).
Dani berpesan kepada seluruh peserta agar bertanding dengan sportif, mengenakan pakaian adat sebagai simbol identitas dan penghormatan kepada leluhur.

“Silakan bertanding dengan sportif. Olahraga sumpit ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi juga mencerminkan integritas kita sebagai orang Dayak,” katanya (17/05).
Menurutnya lomba ini, bukan sekadar ajang tahunan, melainkan juga bentuk pembinaan generasi, pengasahan bakat, dan upaya agar olahraga tradisional ini terus naik kelas, bahkan hingga ke panggung nasional.
By. *S | Panitia Publikasi, Dokumentasi dan Humas, PGD 2025.




