Saturday, March 14, 2026
More

    Kata-kata Mengungkapkan Sekaligus Menyembunyikan!

    Duta, Pontianak | Buku Aristoteles yang berjudul Peri hermeneias mendefinisikan interpretasi sebagai “kegiatan mengabarkan”.  Definisi semacam itu merupakan arah pertama arti dari hermeneuein sebagai “mengatakan”  atau “mengabarkan”.

    Jika buku Aristoteles itu bisa lebih mendalam lagi seperti yang dipahami oleh para pembaca bahasa Inggrisnya berkat terjemahan baru buku dan disertai komentar luar St. Thomas Aquinas maka arah ‘kedua’ juga bisa berlaku (teks yang memberi pemahaman atau orang yang membaca teks yang mendapatkan pemahaman).

    Situasi teks diatas, saya kaitan dengan makna ‘kebermainan’ antara ‘teks’ (tulisan, politik, budaya, masyarakat, manajemen, organisasi) terhadap konteks seorang pemikir atau pengamat dalam upaya mem’preteli’ maksud dari sebuah fenomena (sesuatu yang tampak, hadir- bukan berarti terjadi dengan alami, bisa jadi karena pengaruh elemen lain).

    Elemen dari mekanisme perilaku organisasi memiliki ke-ter-ikat-an yang tanpa disadari maupun tersadari menciptakan ‘representasi’ khusus,  mungkin saja sengaja atau-pun ‘bias’ dari tindakan itu.

    Misalnya, seorang pejabat mengatakan bahwa sudah banyak hal yang dia lakukan untuk memajukan kelompok atau masyarakat yang dipimpinnya, apa lagi hal itu diperkuat dengan data-data statistik sebagai salah satu dasarnya untuk memberikan ‘argumentasi’ (alasan yang meyakinkan) kepada masyarakat. Mau atau tidak mau, mereka yang menjadi lawan argumentasi memiliki kesulitan untuk memberikan sanggahan atas argumentasinya. Tetapi, benarkah data tersebut merupakan repesentasi dari fenomena yang terjadi dalam masyarakat?

    Dalam buku Richard E. Palmer (buku asli 1965: terjemahan Indonesia 2022) berjudul Hermeneutika, hal 54 dituliskan pikiran Aristoteles yang mendefinisikan hermeneia sebagai operasi yang dilakukan oleh pikiran ketika membuat pernyataan yang terkait dengan benar atau kelirunya suatu perkara.

    “Interpretasi” dalam pengertian ini adalah operasi utama pikiran dalam merumuskan sebuah penilaian yang benar tentang suatu perkara. Misal, sebuah permintaan, perintah, pertanyaan, atau kalimat hinaan bukanlah sebuah pernyataan.

    Saya sempitkan lagi maksudnya, misalnya permintaan doa dan sebagainya merupakan bentuk sekunder kalimat yang diterapkan pada suatu situasi yang mula-mula ditangkap oleh pikiran dalam bentuk sebuah pertanyaan maka bagi Aristoteles biasanya pikiran ‘menangkap’ arti dari pertanyaan.

    Pertanyaan atau interpretasi paling awal, lebih dahulu ada daripada pernyataan apa pun yang mengungkapkan harapan atau pernyataan itu. Karenanya, ‘interpretasi’ bukan pernyataan yang dimaksudkan untuk digunakan – seperti suatu doa atau perintah – melainkan merupakan sebuah pertanyaan tentang suatu yang benar atau keliru.

    Kebenaran dan kekeliruan

    lebih jauh dari itu, saya mencoba untuk memberi sebuah pandangan lain, mulai sebuah data statistik ber-banding data faktual (masyakarat). Kedua ‘teks’ itu saling mempengaruhi dan memiliki bias.

    Kadang apa yang tampak bukanlah sebuah representasi sebenarnya, justru memiliki makna lain atau fakta lain yang masih tersembunyi. Aristoteles dalam buku Richard E Palmer (hal. 55) mengatakan bahwa pernyataan sebagai ‘perkataan yang di dalamnya terkandung kebenaran dan kekeliruan’.

    Akibat dari definisi semacam itu tentang interpretasi adalah retorika dan puitika  berada di luar pembicaraan tentang interpretasi, karena rekotika dan puitika ditujukan untuk menggerakkan pendengar (masyarakat, atau sang subjek yang melakukan proses penyerapan informasi). Biasanya, keterbiasaan tokoh (pemangku jabatan, kekuasaan) menggunakan diksi dan narasi ‘halus’ bisa juga  narasi yang menggiring ‘rasa’ pendengar dengan tujuan utama yakni mempengaruhi – agar – percaya pada setiap bahasa (general) mereka.

    Modal ‘data’ (seolah satu-satunya fakta), dalam konteks hermeneutika tidak lah cukup untuk mewakili kebenaran tersebut. Teks itu bisa saja terpisah jauh dari kata dalam urusan waktu, tempat, bahasa dan rintangan-rintangan yang menghalangi kita untuk memahaminya.

    Keterpisahan itu memberikan ruang lain untuk si subjek (bisa sebagai pembaca, pendengar) untuk melihat lebih jauh dan lebih esensial. Hal itu didasarkan karena perkataan lisan memang tampaknya mengandung kekuatan yang hampir magis (mereka yang ber-orasi, kampanye, atau kotbah), tetapi ketika yang ‘lisan’ itu menjadi visual maka perkataan lisan pun banyak sekali kehilangan kekuatannya.

    Ruang hening itulah yang memampukan sang pembaca atau pendengar untuk mengambil jarak sedemikian rupa untuk memaksimalkan kemampuan ‘mem-preteli’ kata-kata yang sudah mulai kering ketika diganti proses visual membaca.

    Membaca konteks, membaca ruang, waktu dan situasi dengan sendirinya interpretasi yang disajikan dengan ‘data’ mengalami pengeringan secara bertahap. Maka beda antara informasi dengan intrepretasi berdasarkan informasi (data). Informasi mengharuskan digunakannya kemampuan rasional dan tidak mengharuskan digunakannya seluruh personalitas.

    Artinya, kita tidak membutuhkan pengalaman personal atau harus mempertaruhkan keselamatan diri untuk memahami informasi, dan informasi tidak banyak mengalami kerugian ketika dibaca dalam batin (konteks ini saya maksud adalah membaca dalam jarak – renungan, ruang hening atau proses pencaharian kebenaran). Maka dalam kondisi ini, orang bisa saja mengungkapkan situasi tanpa menjelaskan situasi itu. Oleh karenanya, pesan tersembunyi adalah intrepretasi dari situasi.

    ‘Pesan’ (teks: konteks, situasi, data, fenomena, masyarakat, organisasi, dll), menjelaskan situasi, kadang dengan menggunakan kata-kata yang mengungkapkan, tetapi sekaligus menyembunyikan situasi tersebut. Pesan itu seolah mengatakan sesuatu tentang situasi, realitas, dengan menggunakan kata-kata. Sejalan dengan itu, pesan juga merupakan penjelasan dalam pengertian bahwa orang mengatakan sesuatu yang lain alias ada apa dibalik bakwan (metafor: ada apa dibalik kata-kata).

    Pertanyaannya untuk renungan intelektual kita bersama, apakah perkataan dan orasi mereka yang berkepentingan benar? Apakah data argumen yang mereka gunakan mewakili realitas masyarakat atau organisasi? Bagaimana melihat bias-bias dari setiap kata dapat diungkap secara terbuka?

    Dalam hal ini, kebenaran dan kekeliruan bisa ter-suguh-kan secara bersamaan, dalam satu waktu yang sama. Oleh karena itu, penting bagi kita masyarakat Kalimantan Barat secara umum dan masyarakat Pontianak secara khusus melihat fenomena (realitas, fakta lapangan) di sekitar kita atau bahkan yang paling dekat dengan kita secara masuk akal.

    Sebab, salah satu melihat ‘realitas’ yang mendekati se-sungguh-nya, dengan membandingkan apa yang didengar dengan situasi yang terjadi. Bisa saja, perkataan menghipnotis pikiran, tetapi jika diberi ruang dan jarak untuk melihat ‘teks’, sebuah argumentasi kata-kata itu bisa menjadi kering, dan perlahan proses menemukan realitas bisa saja semakin dekat. Semoga!!!

    Penulis: Samuel, S.E., M.M.| Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles