Thursday, February 12, 2026
More

    Terbiasa…, Lupa!

    By. Tim Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak/ Majalah DUTA

    MajalahDUTA.Com, SUARA DUTA- Karena sudah terbiasa dan menjadi kebiasaan, sering kali kita melupakan makna, maksud dan tujuan dari sikap kita ketika mengikuti kegiatan gereja.

    Mengapa kita mengambil air suci ketika memasuki gereja?

    Bila kita memasuki gereja, di pintu gereja kita mencelupkan jari tangan kita ke tempat air-suci, lalu dengan sopan kita membuat tanda salib. Mengapa? Air yang diletakkan di pintu masuk gereja, sekedar lambang, yang mengingatkan kita akan air yang lain. Sebab, tanpa air yang lain itu kita tak dapat masuk ke dalam gereja yang lebih besar, yakni Gereja yang tidak terdiri dari batu, melainkan tersusun dari manusiamanusia yang hidup.

    Untuk menjadi anggota Gereja Katolik, diperlukan air. Tanpa air pembaptisan kita tak mungkin menjadi anggota keluarga Allah, yaitu Gereja. Nah, setiap kali memasuki rumah Tuhan, yaitu gereja, kita mengambil air suci supaya ingat: Saya telah dibaptis! Saya menjadi anggota Keluarga Tuhan. Saya bukanlah orang asing dalam rumah ini, karena ini rumah Tuhanku. Sebab, sejak pembaptisan saya telah diterima dalam keluarga-Nya.

    Baca juga: Suara damai dan harapan Paus, dalam puing-puing Mosul hingga puing-puing di Ukraina

    Namun, saya harus bersikap hormat dan sopan di dalam rumah Tuhan, karena di dalam gereja, dalam tabernakel, tubuh Tuhan disimpan. Tubuh Tuhan yang tersimpan di tabernakel adalah santapanku sejak hari komuni pertama. Dialah yang memberikan kehidupan kekal bagiku.

    Mengapa pada waktu menyambut : Tubuh Kristus kita meletakkan tangan kanan di bawah tangan kiri?

    Jika kita ingin menyambut komuni suci, setelah tiba di depan pembagi komuni, kita mengulurkan tangan, dengan telapak tangan kiri berada di atas telapak tangan kanan. Pembasi . komuni menunjukkan hosti kepada kita : seraya berkata “Tubuh Kristus”. Dengan jelas kita menjawab “Amin”. Pembagi komuni sesaat kemudian menyerahkan hosti ke atas telapak kanan — kiri kita. Lalu kita melangkah ke samping,. berdiam diri sesaat, kemudian mengambil hosti dengan telapak kanan dan memasukkannya ke dalam mulut.

    Seterusnya dengan tangan terkatub kita kembali ke tempat semula. Tahukah anda mengapa kita meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan? Cara menyambut Tubuh Tuhan ini sudah merupakan kebiasaan umat: Kristen sejak kurang lebih 1.600 tahun yang lalu. Umat dianjurkan menyambut komuni dengan cara seperti ini.

    Baca juga: Satu Bahasa Satu Suara Bahas Sinode di Paroki St. Agustinus dan Matias Darit

    Mengapa?” Dengan kedua tangan, kita . seakan-akan membentuk sebuah singgasana untuk menyambut Raja Surgawi: tangan kanan adalah penopang, sedangkan tangan kiri . menjadi tempat duduk singgasana itu. Kelak tangan kanan akan mengambil Tubuh Sang Raja. Cara ini sama sekali tidak melanggar kesopanan. ‘

    Itulah arti menumpangkan tansan kiri di atas tangan kanan. Ketika menyerahkan hosti, pembagi komuni seolah-olah berkata kepada kita masingmasing: “Lihatlah, Rajamu mengunjungi engkau!”, Dan kitapun dengan rendah hati menjawab : “Ya, dengau tangan yang hina dan kotor ini saya menudirikan Singgasana ini bagiMu Tuhan, sebuah altar pribadi yang keci?”, Bukankah altar selalu kita sebut tahta Kristus?.

    Mengapa kita tidak langsung duduk sekembalinya dari menyambut komuni?

    Apakah yang sebaiknya kita – Takukan setelah kembali dari menyambut ‘komuni? Pertama-tama kita hendaknya berlutut, bagi yang sakit, lemah atau tak tahan berlutut boleh saja mengambil sikap lain. Hendaknya kita berlutut, tidak menoleh ke kiri ke kanan, melainkan berdoa dengan hati yang tenang dan sopan. Inilah saat yang paling bagus untuk bercakap-cakap secara pribadi dengan Tuhan Yesus sendiri! Saat inilah kita dapat mencurahkan seluruh isi hati – kepada Tuhan sedemikian baik.

    Apa yang keluar jika kita mencurahkan isi hati kita?

    Mungkin pertama-tama kita berdoa untuk keluarga kita agar semua anggota tetap sehat, supaya dilindungi dan terhindar dari berbagai godaan dan kejahatan. Barangkali saat itu kita teringat akan teman-teman kita. Dan akhirnya kita juga berdoa untuk diri kita sendiri, supaya kita selalu menjadi orang yang bersikap . seperti yang dikehendaki Yesus Kristus. Kita mohon agar sikap egois dijauhkan dari watak kita. Karenanya, kita tentu juga memikirkan kepentingan kita bersama, yaitu bangsa kita, seluruh gereja dan apa saja yang mengancam perdamaian dunia.

    Semua itu tak perlu dinyatakan dengan kata-kata indah dan tersusun “rapi. Dia selalu mengerti kita, juga apabila kita tak dapat secara tepat mengungkapkan isi hati kita. Ia tahu persis apa yang ingin kita katakan.

    Baca juga: Nyanyian Kebijaksanaan yang Melampaui Keterbatasan Dunia

    “Malah berdiam diri, dan memusatkan pikiran pada Yesus yang hadir dalam. hati kita sudahlah memadai. Itulah sebabnya, mengapa kita hendaknya berdiam diri barang sejenak sesudah komuni (banyak orang menutup muka dengan kedua tangannya untuk memudahkan pemusatan pikiran waktu berdoa). Akan sangat membantu dan bermanfaat, apabila perhatian kita pada saat yang berharga itu, tidak bercabangcabang, tidak terarah pada pakaian orang, teman yang ingin mengobrol, anak kecil atau hal-hal lain yang bisa mengganggu bahkan membuyarkan ketenangan hati.

    Ingatkah akan perihal doa seperti yang dikatakan Yesus? “Apabila engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mt 6,6).

    Kedua telapak tangan yang menutupi muka dapat diibaratkan daun pintu yang tertutup. Apa yang terjadi di luar, tak ingin kita lihat. Kini kita sendiri berada di depan cahaya besar yang menerangi dan menghangatkan hati kita. Dalam keheningan itulah kita menyambut hangat kunjungan Tamu Agung kita yang akan mebuat kita bahagia, gembira dan sejahtera selamanya!

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles