Tuesday, April 21, 2026
More

    Yuk Menulis

    DUTA, Pontianak | “Bong Nyiu Then Ma Ceu” (Hakka Sambas, dan sekitarnya), bagi mereka yang besar dilingkungan Tionghua tentu tak asing dengan pepatah diatas.

    Jika ditelaah lebih dalam, pengertian harafiah teks tersebut berarti ‘Raja Kerbau berlari dengan Kuda’, tetapi sungguh kurang elok jika kita lihat terjemahaan itu ketika di-bahasa Indonesia-kan. Ada beberapa bias yang mungkin berpotensi mengaburkan maksud dari makna pepatah diatas.

    Sejatinya, maksud diatas  merupakan perumpamaan tentang – setiap insan memiliki keunggulan masing-masing, maka tak mungkin seekor kerbau sekalipun adalah raja-nya kerbau dapat menandingi kecepatan seekor kuda biasa.

    Sebaliknya, tak mungkin juga sekalipun seekor kuda dapat menyamai kekuatan dari seekor kerbau. Dari sinilah rampaian tenunan tulisan ini mulai mendapatkan garis maksudnya.

    Mulai dari sini, saya akan memulai ulasan tentang teks yang tak lepas dari konteks dan latar belakang untuk memahami sebuah maksudnya.

    Dengan mereduksi realitas sebagai teks, karena biar bagaimanapun hidup kita di dunia termediasi oleh bahasa, dan menolak klaim bahasa sebagai representasi realitas, Derrida (salah satu Filsuf Postmodernisme) jika mengikuti beberapa teksnya seolah memasukkan kita dalam ketidakstabilan makna, maksud saya begini – karena bahasa itu sendiri selalu menghianati realitas, artinya sewenang-wenang dan sangat cair.

    Misalnya, dalam bahasa Tionghua Hakka (Sambas, Singkawang), ‘mo’ dapat bermakna ganda, yaitu tidak ada atau rambut. Atau dalam bahasa Indonesia misalnya, ‘aman’ bisa bermakna macam-macam, kadang iya, kadang tidak, kadang biarkan, dan lain sebagainya.

    Dalam kasus ini, orang mungkin bisa menyanggah, misalnya bukankah teks ( mo dengan aman) bisa dipahami maknanya karena adanya konteks? Justru itu letak masalahnya, konteks juga bagian dari teks itu, maka teks terakhir juga akan selalu merujuk pada teks lainnya, itu – itu  dan mutar-mutar terus.

    Tidak ada teks yang bermaksud untuk tidak memiliki makna namun perlu ditinjau bahwa teks disusun secara baik-baik oleh si pengarangnya tetapi maksud pengarang pasti tak terlepas dari ikatan (jebakan) bahasa, alhasil teks yang dihasilkan itupun  menghasilkan makna-makna lain, bahkan jika lebih ekstrime bisa saja bertentangan apa yang dimaksud oleh si pengarang.

    Sejatinya teks (dari bahasa Latin texere = menenun) jika ditilik lebih mendalam tak lebih dari sekedar menenun bahasa agar dapat disajikan berdasarkan kebutuhan atau untuk sesuatu.

    Buku Pengantar Manajemen – AKUB Pontianak

    Roh terdalam Menulis

    Roh terdalam dalam kegiatan menulis bukan sekedar terletak pada menenun bahasa, tetapi justru pada kegiatan dialog. Sejak awal kelahirannya, Dialog dan dialektika memiliki akar kata yang sama, dia (melalui) + lekton (makna perkataan) atau dia + logos (kata-kata, ucapan).

    Naskah sejarah ini dapat anda temukan saat menelusuri teks yang anda dapat temui di internet mulai dari filsuf yang memperlihatkan kaum phusikoi, para filsuf alam, ada Thales, Anaximenes, dan Anaximandros sebagai tokoh-tokoh yang pemikirannya saling bertentangan dan saling mengkoreksi ditambah dengan metode Sokrates dan Plato dalam metode kerja ilmu yang menjadi eksplisit yakni dialektika, (Pengantar dalam buku: Cara Kerja Ilmu Filsafat dan Filsafat Ilmu Dari Dialektika ke Dekonstruksi, Editor A. Setyo Wibowo, 2022).

    Sejalan dengan itu, tahun lalu (2025) beberapa kali saya diundang untuk memberikan pelatihan dan seminar dalam kegiatan tulis – menulis.

    Sering kali dalam pertemuan tersebut saya ditanya apa syarat-syarat untuk dapat menulis dan menghasilkan karya tulisan? Agaknya sulit darimana dapat memulai jawaban dari pertanyaan mendasar itu. Namun analogi ini setidaknya memberikan gambaran dari jawaban yang hendak mereka maksudkan.

    “Jika kita mau berenang, lebih penting manakah mengetahui teori berenang dulu atau langsung cebur aja dan teknik berenang kemudian?” tanya saya. Memang jika dilihat konteks dari berenang dan menulis jauh sekali berbeda, tetapi konteks boleh saja berbeda – namun konsepnya tetap sama, yakni coba dulu menulis baru koreksi belakangan.

    Akibatnya, jika seseorang berkutat pada konsep dulu baru melakukan, mereka akan terbentur pada waktu, alhasil tulisan yang dimaksudkan pun tidak selesai-selesai.

    Roh menulis terletak pada dialog, disini maksud saya adalah kemampuan kita untuk membaca teks (bukan sekedar buku) tetapi teks ada ada disekitar kita, itulah salah satu sumber teks yang dapat kita Tenun (T- Kapital) menjadi naskah.

    Kemampuan kita ber-dialog sekaligus ber-dialektika sekurang-kurangnya dengan diri sendiri dulu, kemudian tuangkan dalam teks (tenunan), setelahnya baru kita lihat kembali – cocok atau tidak dengan maksud yang hendak kita sajikan.

    Sederhananya, menulis merupakan kegiatan dialog dalam mendalami konteks baik teks buku, sosial dan keseharian hidup. Jika ditanya, apa syarat menulis yang paling utama? Jawaban saya, ceburkan diri dulu dalam kolam (tuangkan aja dulu), lalu belajar disana – teknik menulisnya menyusul. Lebih singkat, latihanlah. Semoga!!!

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles