Wednesday, April 22, 2026
More

    Walau Corona Datang, Berkat Takkan Hilang

    Penulis: Teofilus Sintan,- Peserta Lomba Menulis Liputan Bulan Rosario di masa Pandemi Covid-19

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Umat Katolik memperingati bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Doa Rosario didoakan atau didaraskan sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria yang disebut Ratu Rosari. Doa rosario merupakan doa yang sederhana yang digemari siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa sehingga tak jarang biasanya setiap keluarga akan sangat antusias mengadakan doa rosario di rumahnya dan mengajak umat lainnya untuk berdoa bersama-sama.

    Umat akan secara bergantian selama sebulan penuh, mengajak untuk berdoa rosario di rumahnya. Melalui doa rosario, umat Katolik bisa memahami, mengenal, berdoa, dan mewartakan Kristus bersama Maria.

    Kegiatan doa rosario tidak hanya selesai sampai diucapkannya doa penutup ataupun lagu penutup, namun orang-orang akan berbagi pengalaman mereka kepada orang-orang yang juga turut hadir saat itu; entah pekerjaan, pendidikan, ataupun kegembiraan lainnya yang bisa dibagikan.

    Biasanya tuan rumah akan menghidangkan makanan dan minuman sebagai rasa terima kasih kepada umat yang hadir dan wujud syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kemurahan rezeki. Tidak menutup kemungkinan  Bagi yang pertama kali mencoba doa rosario, rasanya mungkin akan membosankan dan penat.

    Namun, doa rosario akan mengajarkan umat Katolik bahwa dengan berdoa rosario bersama, mereka akan mendapatkan esensi dari doa rosario. Namun, selain itu mereka juga bisa mempererat tali persaudaraan. Rasa lelah setelah seharian melakukan aktifitas akan berkurang karena keindahan kebersamaan yang dijalin selama doa rosario bersama. Doa rosario merupakan doa yang tidak diragukan lagi mujizat dan kekuatannya bagaimanapun situasi kita.

    Tahun ini kita dihadapkan pada situasi pandemi COVID-19 yang secara tidak langsung mengubah beberapa kebiasaan kita seperti kegiatan doa rosario. Semakin meningkatnya kasus positif, membuat masyarakat menjadi khawatir dan takut untuk melakukan kegiatan.

    Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak berhati-hati. Sudah sebaiknya kita untuk selalu menjaga diri dengan menjaga kesehatan, mematuhi peraturan, dan mematuhi protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Sehingga, doa rosario di tahun ini agaknya hadir dengan suasananya berbeda dan pengalamannya yang berbeda pula.

    Tak terkecuali, Pastolik. Pastolik adalah organisasi Katolik di Fakultas Kedokteran Untan. Rosario merupakan salah satu program rutinitas di bulan Mei dan Oktober. Situasi sekarang yang membuat mereka berhalangan berkumpul untuk berdoa rosario padahal mereka sangat antusias dan bersemangat jika mengikuti doa rosario. Kuliah online mengharuskan untuk tidak bertatap muka dahulu sampai situasi kembali pulih.

    Corona tidak membuat Pastolik kehilangan semangat, tetapi sebaliknya Pastolik masih bisa mengadakan rosario walaupun dengan konsep yang berbeda. Flaviana Dian, selaku penanggung jawab Rosario mengungkapkan bahwa tahun ini Rosario Pastolik diadakan dengan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena ada dua konsep yaitu secara offline dan online sekaligus.

    Selain itu, Ia juga menambahkan bahwa setelah doa rosario dilanjutkan dengan sesi katekese, sharing, dan renungan. Dian juga menyebutkan beberapa kendala selama persiapan ini. “Oktober ini, diadakan rosario X katekese dan renungan. Karena harus menyesuaikan dengan situasi sekarang yang masih pandemi dan Pastolik harus tetap mengadakan doa rosario, jadi muncullah ide untuk mengadakan kegiatannya secara offline dan online sekaligus.

    Kegiatan katekese dan renungan yang dipimpin oleh frater berkaitan dengan Bulan Rosario agar kegiatan tidak terlalu singkat karena sangat jarang bertemu kawan-kawan. Kemudian, film pendek rohani diputar pada sesi renungan. Kendalanya karena perbedaan jadwal kuliah, saya kesulitan menghubungi petugas dan peserta yang ada di Pontianak khususnya karena kewajiban mengerjakan tugas dan tidak semuanya mendapat izin dari orang tua. Menurut saya kegiatannya lancar dan semua peserta antusias walaupun ada beberapa kawan-kawan yang online kadang keluar-masuk zoom karena mungkin ada kendala sinyal.

    Maria Audrey Lethia Vania, sebagai tuan rumah (offline) sekaligus anggota bidang Kerohanian dan Pelayanan Pastolik juga menyebutkan bahwa saat mengadakan doa rosario di rumahnya, mahasiswa yang ikut juga dibatasi dan harus mematuhi protokol kesehatan.

    Ia juga menambahkan kesan selama pelaksanaan doa rosario. “Karena sekarang kasus positif COVID-19 semakin bertambah, jadi pesertanya juga dibatasi sekitar 7 orang saja. Kami harus tetap menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Menurut Maria, tahun ini suasananya berbeda karena biasanya kalau ada doa rosario di rumah pasti ramai. Sekarang walaupun masih bisa bercanda tawa, namun ada yang kurang gitu. Kesan selama doa rosario, yang dilanjutkan dengan katekese dan renungan sih menyenangkan dan menambah pengetahuan tentang iman Katolik dan pengetahuan tentang Rosario.

    Maria juga berharap untuk kawan-kawan pada saat mengikuti rosario Pastolik secara offline maupun online agar semuanya tetap khusyuk sehingga tidak kehilangan esensinya karena tidak dapat dipungkiri bahwa pasti ada yang kendala sinyal sehingga mungkin audionya kurang kedengaran dan kendala lainnya.”

    Frater Christianus Watu selaku frater pemimpin doa rosario Pastolik, juga menyampaikan kesan dan pendapatnya selama pelaksanaan doa rosario secara offline dan online. “Kesan saya ketika pertama kali mengikuti doa rosario bersama dengan teman-teman Pastolik secara offline dan online, saya merasa senang meskipun jumlahnya tidak banyak karena situasi pandemi ini.

    Saya juga senang melihat antusias dan semangat teman-teman mempersiapkan keperluan doa rosario. Sebenarnya lebih berkesan pelaksanaan secara offline karena langsung berhadapan dengan teman-teman. Namun, karena situasi saat ini, mau tidak mau harus kreatif mencari cara untuk tetap menyatukan hati dan menyatukan persekutuan sebagai keluarga.”

    Pelaksanaan doa rosario yang berubah menjadi dua konsep ini, kiranya menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar esensinya tidak hilang dan kita tetap memperoleh berkat. Keadaan saat ini mengharuskan kita untuk tetap percaya bahwa kesulitan yang ada akan bisa kita hadapi. Sudah sepantasnya kita mengungkapkan doa kita kepada Bunda Maria sebagai Bunda Pelindung agar menjaga kita dari bahaya COVID-19 yang berada di sekitar kita dan menghantui kita. Dimanapun, kapanpun, siapapun, dan bagaimanapun keadaan dan situasinya entah itu COVID-19 atau situasi berbahaya lainnya, percayalah bahwa doa orang benar bila didoakan dengan yakin maka besarlah kekuasaan.

    Situasi pandemi COVID-19 yang menyebabkan doa rosario dilaksanakan secara offline dan online yang membuat kita berdoa namun dipisahkan oleh jarak dan hanya melihat layar laptop ataupun handphone, mengajarkan bahwa situasi seperti apapun yang terpenting adalah kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, tetap percaya dan lahir dari Iman. Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Bunda Kita, Bunda Maria, agar Ia selalu melindungi kita.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles