Thursday, March 5, 2026
More

    Telaah Kurikulum 1964-1968

    Duta, Landak| Telaah Kurikulum 1964-1968.

    1. Kurikulum 1964

    Kurikulum 1964-1968 merupakan kurikulum yang memiliki fokus dan struktur yang berbeda. Kurikulum 1964 ini kerap kali dikenal dengan sebutan dengan kurikulum rencana pendidikan.

    Kurikulum berfungsi sebagai fondasi filosofi dan pandangan hidup sebuah bangsa. Bentuk kehidupan bangsa di masa kini dan mendatang ditentukan serta dijelaskan melalui kurikulum pembelajaran tertentu (Kandia, I. W. (2023). Kurikulum 1964 lebih berfokus pada pengembangan aspek moral, kecerdasan, emosional, keterampilan dan jasmani (Wahyuni 2015: 235)

    Kurikulum 1964 telah menyatukan upaya yang lebih mendalam dalam mengembangkan potensi siswa serta pendidikan yang bersifat praktis, bukan sekadar teori (Khulqi, A., Abdussahid, A., & Ruslan, R. (2023). Kurikulum 1964 ini memiliki ciri yang khas yaitu menginginkan rakyatnya memiliki pengetahuan akademik agar menjadi bekal pada jenjang sekolah dasar.

    Dengan adanya kurikulum ini siswa dapat membenahi diri mereka agar dapat berkembang bukan hanya pada aspek moral atau etika tetapi juga kecerdasan intelektual serta dapat trampil dalam melakukan pembelajaran.

    Kurikulum pendidikan harus terus dikembangkan dengan cara yang fleksibel agar selaras dengan kebutuhan dan perkembangan zaman saat kurikulum tersebut diterapkan. Kurikulum nasional di Indonesia didasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Perbedaannya terletak pada tujuan pendidikan serta metode yang digunakan untuk mewujudkannya (Wahyuni 2015:232).

    Dampak dari adanya kurikulum 1964 ini siswa dapat menguasai lebih banyak tentang keaktifan, kreatif serta produktif untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih lanjut. Kurikulum ini juga memampukan siswa untuk bersemangat dalam melakukan proses belajar-mengajar.

    Dengan adanya kurikulum ini suasana kelas akan lebih terasa dikarenakan siswa di tuntut lebih leluasa dalam melakukan proses belajar. Pendidikan di masa itu sangatlah berfokus pada potensial anak sekolah dasar, dengan pembinaan dan keharusan yang dimiliki oleh oleh setiap anak pada zaman itu.

    Pada tahun 1964 waktu itu merupakan tantangan yang besar bagi Pendidikan Indonesia pada saat itu, dikarenakan pada tahun tersebut Indonesia sedang mengalami kasus-kasus politik serta mengalami krisis ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

    Pendidikan jasmani adalah elemen penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan siswa. Melalui pendidikan ini, siswa bisa mendapatkan wawasan tentang materi pelajaran (aspek kognitif), meningkatkan kemampuan gerak tubuh (komponen psikomotorik), serta membangun empati, perilaku, dan rasa tanggung jawab (aspek afektif) (Syafruddin, M. A., & Asri 2022). Pendidikan jasmani berperan sebagai alat rekreasi bagi siswa yang merasa lelah akibat instruksi akademik di kelas sebelumnya atau yang akan datang (Wijayanto 2023).

    Adanya Pendidikan jasmani dapat mempengaruhi kondisi fisik seorang pelajar, maka dari itu dengan Pendidikan jasmani siswa tidak hanya mengajarkan mengenai teori saja,  tetapi siswa juga dapat mempraktekkan teori tersebut secara langsung. Pendidikan jasmani menjadi salah satu fakor pendorong untuk siswa dalam melakukan suatu Pelajaran. Seperti contoh minggu lalu saya baru saja praktek mengenai RPP tenatang olahraga di salah satu SMP yang ada di Ngabang, dengan saya melakukan praktek tersebut siswa/I sangat antusias untuk melanjtukan praktek lapangan yang akan kami lakukan sebagai pemenuhan tugas dari Dosen.

    RPP tersebut berisi tentang Teknik dasar passing dalam sepak bola serta Teknik dasar dribbling dalam olahraga sepakbola. Dengan adanya Praktek tersebut, siswa maupun siswa sangat bergairah untuk melakukan praktek tersebut. Dikarenakan dengan berolahraga mereka bisa bebas berekspresi dan bermain serta melakukan permainan yang mereka suka.

    Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) memegang peran penting dalam konteks ini, karena mata pelajaran PJOK tidak hanya melibatkan aspek kebugaran fisik, tetapi juga pembentukan nilai-nilai karakter, kerja sama, dan kemandirian (Siedentop, n.d.). dalam konteks ini guru olahraga menajdi aspek utama siswa untuk mengembangakan sikap kerjasama serta menumbuhkan kemandirian seorang siswa tersebut.

    Guru PJOK sangat berperan penting dalam pengemabangan karakter seorang siswa maupun siswii nya. Sebagai contoh dengan adanya pendidikan jasmani guru dapat memberikan tugas atau latihan kepada siswa/i nya untuk melakukan permaianan olahraga yang bisa memngembangkan sikap kerjasama dalam siswa, contoh permainan sepakbola yang dimodifikasi yaitu mini games, yakni setiap siswa di bagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan  permainan.

    Salah satu diantara nya adalah menjadi serang kapten dan yang lainnya adalah anggota, dengan adanya kapten disini untuk membantu memberi arahan atau pemahaman tentang strategi permainan dan kerjasama kelompok untuk mendapatkan point untuk menang.

    Dengan terbatasnya fasilitas serta kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh setiap sekolah dasar, Guru dituntut untuk bisa secara keseluruhan memodifikasi serta memikirkan cara agar siswa/siswi supaya bisa aktif, kreatif dan produktif dengan fasilitas-fasiltas yang belum memadai, terutama pada mata pelajaran olahraga.

    Dalam Mata Pelajaran olahraga, siswa dan siswi tidak hanya dituntut aktif dalam teori, tetapi juga diwajibkan untuk bisa menguasai praktek secara langsung, minimal 1 jenis olahraga. Dengan ada nya kurikulum 1964 yang menuntut siswa nya untuk aktif maka salah satu yang paling berperan adalah guru olahraga.

    Dikarenakan guru olahraga tersebut harus mampu membuat siswa/i nya bertindak aktif, guru olahraga juga harus bisa kreatif dalam mengolah atau menerapkan pembelajaran olahraga agar siswa atau siswi bisa ikut aktif dan berpartisipasi dalam pembelajaran olahraga.

    Peran guru dalam kurikulum 1964 ialah sangat penting, karena mengahruskan dan bisa menjadikan seorang siswi dan siswa yang kreatif, aktif serta produktif untuk. Dengan tuntutan tersebut guru harus dapat belajar serta menambah wawasan yang luas agar bisa memberikan materi maupun teori serta praktek dengan keterbatasan infrastruktur dan fasilitas yang belum semua terpenuhi.

    Apakah kurikulum ini sangat berpengaruh pada kreatifitas seorang siswa pada jaman itu? Mengapa siswa dan siswi diharuskan untuk lebih aktif, kreatif serta produktif dalam kurikulum ini? Apakah yang menjadi alasan utama seorang siswa harus bisa kreatif dalam melakukan proses belajar mengajar? Tidakkah tingkat sekolah dasar harusnya lebih berfokus pada proses adaptasi serta berorientasi terhadap lingkungan sekolah untuk melanjutkan ke tahap pendidikan selanjutnya, bukan berfokus pada aktifnya seorang siswa?

    1. Kurikulum 1948

    Kurikulum 1968 adalah hasil yang dicitrakan sebagai “Orde Lama”. Perubahan terhadap kurikulum 1964 yang berfokus pada pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, UUD 1945 menjadi pedoman utama berubah nya penerapan dalam kurikulum tersebut.

    Dalam kurikulum 1968 ini, lebih berfokus pada upaya untuk meningkatkan cinta tanah air, kuat dan sehat jasmani serta meningkatkan budi pekerti, moral dan keyakinan terhadap keagamaan. Kurikulum 1968 bertujuan untuk pendidikan yang menekankan upaya membentuk manusia Pancasila yang sejati, kuat, dan sehat secara jasmani, serta meningkatkan kecerdasan, keterampilan fisik, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama (IZMI 2017) Tujuan dari kurikulum ini untuk menciptakan pesaingan antar sekolah, daerah dan pendidik.

    Selain itu, Kurikulum 1968 juga dimaksudkan untuk meningkatkan moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama para peserta didik ( Rusdianah, L., & Nurdiansyah, N. (2020). Dalam Kurikulum 1968, pendidikan nasional ditujukan untuk membentuk manusia dengan ideologi pancasila yang sehat secara jasmani maupun rohani serta memiliki kecerdasan dan keterampilan  (Ananda, A. P., & Hudaidah 2021) Kurikulum ini memiliki tujuan yang sangat produktif untuk mencapai siswa yang mempunyai cinta terhadap tanah air.

    Kurikulum 1968 bertujuan untuk pendidikan yang menekankan upaya membentuk manusia Pancasila yang sejati, kuat, dan sehat secara jasmani, serta meningkatkan kecerdasan, keterampilan fisik, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama (Ananda, A. P., & Hudaidah 2021). Sebagai contoh menghormati bendera sang merah putih sebagi symbol penghormatan sejati terhadap tanah air atau bangsa. Upaya meningkatakan cinta tanah air merupakan sikap yang sangat penting untuk di tanamkan dalam diri seorang siswa (Arta 2012).

    Perbandingan antara Kurikulum 1964 & 1968 ini adalah dari tujuannya. Kurikulum 1964 lebih berfokus pada perkembangan intelektual seorang siswa agar mampu memecahkan sebuah masalah atau persoalan yang terjadi, sedangkan kurikulum 1968 menenkankan kepada agar siswanya lebih menjunjung tinggi jiwa-jiwa nasionalisme.

    Dengan adanya kurikulum ini maka siswa/i diharapkan mampu untuk meningkatkan intelektual maupun sikap nasionalisme mereka terhadap bangsa maupun negara. Keduanya saling memiliki keterkaitan yakni dengan adanya intelektual tentang cinta tanah air, maka otomatis dengan sendirinya sikap dan jiwa nasionalisme seorang siswa tersebut akan tertanam karena sudah mengerti dan memiliki pengetahuan tentang berbangsa dan bernegara.

    *Penulis: Tio Amanda, Mahasiswa FKIP San Agustin, Kampus 1 Landak.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles