Duta, Pontianak – Dalam upaya memperkuat kontribusi pendidikan tinggi terhadap pembangunan daerah, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, melalui Wakil Rektor Umum Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si, menerima kunjungan CEO PT Premium Rempah Bumi (PRIBUMI), Andi Yunus Ladika, di Ruang Rektorat Kampus 2, Senin pagi (14/7).
Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama antara dunia pendidikan dan industri dalam sektor agribisnis, khususnya tanaman Nilam (Pogostemon cablin), yang potensial dikembangkan di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Sinergi Kampus dan Industri Pemberdayaan Daerah
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat, Brigjen Sumirat menekankan harapan besar agar jurusan Agribisnis yang dimiliki kampus dapat memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat Landak, terutama dalam konteks penanggulangan stunting dan pemberdayaan ekonomi lokal.
“Kami berharap kehadiran jurusan Agribisnis di kampus ini bisa memberi sumbangsih bagi Landak. Kami ingin menjadikan kampus bukan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga pusat pengembangan pertanian dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Brigjen Sumirat.

PT Pribumi Hadir dengan Solusi Tata Niaga Nilam yang Inklusif dan Berkelanjutan
Menanggapi harapan tersebut, CEO PT PRIBUMI, Andi Yunus Ladika, menjelaskan bahwa perusahaannya telah membangun sistem agribisnis Nilam yang terintegrasi dari hulu ke hilir—mulai dari pembibitan, produksi, hingga penjualan ke pasar ekspor.
“Masalah utama petani kita adalah harga jual yang tidak menentu. Kami hadir di Kalbar dengan sistem tata niaga tertutup dan stabil, yang menjamin pembelian hasil panen dan menetapkan harga dasar tetap, demi memberikan kepastian ekonomi kepada petani,” kata Andi, (14/7).
Ia menjelaskan bahwa Nilam adalah komoditas strategis karena dibutuhkan dalam industri kosmetik dan parfum global. Indonesia saat ini memasok lebih dari 50% kebutuhan Nilam dunia. Oleh karena itu, Kalbar sangat potensial menjadi sentra baru jika ditunjang kemitraan yang tepat.
Potensi Ekonomi Nilam dengan Untung Besar dari Lahan Kecil
Andi menguraikan potensi ekonomi Nilam. Dengan 5.000 bibit Nilam di lahan setengah hektar, petani bisa panen rata-rata 5 kg per pohon. Jika harga dasar Rp 1.000/kg, maka satu siklus panen bisa menghasilkan sekitar Rp 25 juta.
“Bayangkan, dari setengah hektar saja—bahkan pekarangan rumah—petani bisa meraih puluhan juta tiap panen. Apalagi Nilam bisa dipanen tiap tiga bulan setelah masa tanam awal,” jelasnya.
Nilam juga dinilai lebih ramah lingkungan karena cocok ditanam di sela-sela pekarangan atau kebun kecil, serta tidak membutuhkan lahan luas.
Kampus sebagai tempat penelitian dan pengembangan mulai dari pendidikan, penanaman, pengolahan hingga ‘memunculkan’ Agripreneur di kalangan mahasiswa, serta menjauhkan mereka hal-hal negatif seperti narkoba, judi online dan lainnya.
Merespons peluang tersebut, Brigjen Sumirat mengusulkan agar kerja sama tidak hanya sebatas wacana, melainkan diwujudkan dalam bentuk konkret seperti:
- Demonstrasi plot Nilam di lahan kampus,
- Pelatihan mahasiswa menjadi agripreneur (pengusaha agribisnis),
- Penelitian dosen dan mahasiswa tentang Nilam,
- Kegiatan pengabdian masyarakat berbasis agribisnis, dan
- Pengembangan model bisnis antara petani-mitra PT PRIBUMI dan petani lokal.
Andi menyambut baik inisiatif ini dan mengusulkan agar dibuat program “AgriTrainer” atau “AgriPreneur Training” yang menyasar mahasiswa dan alumni sebagai calon pengusaha Nilam. Ia bahkan menyarankan agar model pelatihan ini menghasilkan pendapatan langsung bagi peserta.
“Kami siap beli hasilnya. Bahkan bisa langsung dibuat MOU, sehingga mahasiswa atau petani lokal bisa menanam dengan tenang karena sudah ada pembeli dan harga tetap,” ungkap Andi.

Kuliah Umum dan MOU Strategis
Sebagai langkah awal, kedua belah pihak sepakat merancang kegiatan kuliah umum dan pelatihan teknis budidaya Nilam bersama tim PRIBUMI. Pelatihan ini akan membuka jalur kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pelaku industri untuk membangun sistem agribisnis yang berkelanjutan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya pintar teori, tetapi juga jadi pelaku nyata di dunia usaha. Di sinilah kampus hadir, bukan sekadar mencetak sarjana, tapi mencetak pelaku perubahan,” tegas Brigjen Sumirat.
Dalam penutup pertemuan, kedua pihak sepakat untuk dapat mendorong Pemerintah Kabupaten Landak agar lebih responsif terhadap upaya pemberdayaan masyarakat berbasis agribisnis. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah untuk membangun kemandirian ekonomi desa secara konkret dan terukur.
“Kami sudah lihat hasilnya di banyak tempat. Jika model ini berhasil di Landak, maka akan lahir komunitas petani Nilam yang mandiri dan sejahtera, tanpa harus meninggalkan kampung halaman,” tutup Andi. *Sam.




