Duta, Pontianak | Minggu 18 Mei 2025 — Dalam semerbak pagi yang hangat dan harum dupa yang menguar pelan, Pekan Gawai Dayak ke-XXXIX resmi dibuka lewat dua upacara adat sakral: Bepadah dan Bepinta’o. Bertempat di Rumah Betang Sutoyo, ritual suci ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB, menyatukan langkah spiritual dan budaya dalam denyut kehidupan masyarakat Dayak.
Bepadah, sebagai pembuka, bukan sekadar prosesi—ia adalah bahasa halus para leluhur. Dalam hening dan kidung adat, permohonan dihaturkan kepada ‘Roh’ yang tinggal Rumah Betang.
Sebagaimana yang dituliskan dalam “Bebilang”—menyampaikan niat baik dan harap agar Gawai yang digelar di Rumah Radangk dapat berlangsung dalam damai, kelancaran, dan berkah dari alam semesta.
Menyusul kemudian, Bepinta’o digelar sebagai sembah hening kepada leluhur dan para roh pelindung. Dalam ritual itu, panitia dan seluruh elemen yang terlibat dalam perayaan memohon penjagaan: dari cuaca yang bersahabat hingga keselamatan bagi setiap langkah manusia yang merayakan kebudayaan mereka sendiri.
Ketua Panitia PGD XXXIX, Martinus Sudarno, SH bersama para tetua adat dan tokoh masyarakat dari berbagai penjuru Kabupaten Sekadau Sub-suku Dayak Ketungau Tesa’ek Sekadau, hadir menyaksikan dan meresapi tiap detik ritual pagi hari itu. Dalam balutan doa dan syair, mereka duduk tenang sebagai saksi adat bukan warisan yang usang, melainkan suluh yang menyala dalam kegelapan zaman.
Menurut laporan, panitia publikasi PGD 2025, suasana pagi itu tampak syahdu dan tenang. Getar doa-doa adat seakan menyatu dengan desir angin dan bisik dedaunan, mengingatkan manusia bahwa di tanah Dayak, manusia hidup berdampingan dengan roh-roh alam, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penjaga titipan.
Dengan selesainya Bepadah dan Bepinta’o, maka terbukalah gerbang resmi Pekan Gawai Dayak ke-39. Sebuah perayaan tahunan yang tak sekadar festival budaya, melainkan ruang suci untuk merawat jati diri, merajut persatuan, dan meneguhkan makna menjadi Dayak di tengah pusaran dunia modern.
Dalam gema gong dan tarian yang akan menyusul hari-hari ke depan, Gawai ini adalah suara zaman yang seolah mau berkata: ‘kami masih ada, dan kami merayakan hidup dengan adat yang hidup.”
By. Panitia Humas, Publikasi dan Dokumentasi Pekan Gawai Dayak XXXIX 2025




