Thursday, January 15, 2026
More

    Aan Baget Luncurkan Mini Album Terbaru di Pontianak

    Duta, Pontianak |  Nama Aan Baget kini semakin dikenal di kalangan pecinta musik Dayak Kalimantan. Sebagai musisi asal Dayak Kanayant, Aan Baget memiliki ciri khas yang tak dapat dipisahkan dari bahasa daerahnya.

    Setiap lagu yang ia ciptakan dipenuhi dengan lirik-lirik berbahasa Dayak Kanayant mengandung cerita kehidupan, serta memberikan cermin budaya yang jarang dijumpai dalam karya-karya musik mainstream.

    Dalam dunia musik Indonesia, Aan Baget menjadi salah satu pionir yang memperkenalkan kearifan lokal melalui karya-karyanya yang membumi, menyentuh dan kadang penuh dengan sindiran tajam.

    Salah satu hal yang membuat karya-karya Aan Baget begitu istimewa adalah keberaniannya untuk menggunakan bahasa Dayak Kanayant dalam hampir seluruh lirik lagunya.

    Hal ini memberikan nuansa yang sangat lokal dan autentik, yang memberi warna berbeda di tengah dominasi bahasa Indonesia dalam industri musik tanah air.

    Melalui bahasa daerah ini, dalam diskusinya dengan media Pontianak Globe, Majalah Duta dan JPIC,  Aan Baget berupaya untuk menyampaikan pesan-pesan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Dayak, baik itu tentang tradisi, lingkungan, hingga kehidupan sehari-hari.

    Namun, keunikan syair dan ‘satir’ dalam lagu-lagunya tak jarang memantik kontroversi. Beberapa lagu yang diciptakannya bahkan mendapat kritik keras dari orang-orang yang mungkin tidak sepenuhnya memahami konteks dan makna di balik liriknya.

    Aan Baget kerap menggunakan sindiran atau ‘satir’ yang mengkritik masalah sosial atau budaya, yang bisa saja dianggap terlalu tajam atau kontroversial bagi mereka yang tidak mengenal atau memahami lebih dalam tentang masyarakat Dayak dan kehidupannya.

    Namun, bagi Aan, kritik sosial dalam lagu-lagu adalah bagian penting dari karya seni.

    Dalam pengakuannya, dia justru percaya bahwa musik adalah sarana untuk berbicara tentang apa yang terjadi di masyarakat, memberikan refleksi atas apa yang dialami oleh banyak orang, dan memperkenalkan kebudayaan Dayak kepada dunia luar.

    Aan Baget, Artis Dayak Kalimantan (2025)

    Melalui satir dan syair yang penuh makna, ia berharap dapat membuka mata banyak orang terhadap isu-isu sosial dan budaya yang mungkin selama ini terabaikan.

    Bersama Kakondan Studio di Landak di sana ditemani istri (Syentia, artis Dayak) dan abang iparnya (Wawan), Aan Baget terus berkarya tanpa henti. Kakondan Studio bukan hanya tempat bagi Aan Baget untuk menyalurkan ide dan karyanya, tetapi juga merupakan ruang kreatif yang mendukung para musisi lokal Kalimantan untuk berkembang.

    Di studio ini, Aan Baget menciptakan lagu-lagu yang tak hanya menggugah telinga pendengar dan penikmat musiknya, tetapi mengajak orang lebih mendalami nilai-nilai kearifan hidup, kesadaran sosial dan penciptaan kebanggan lokal Kalimantan.

    Pada 15 Maret 2025, Aan Baget akan merilis sebuah mini album terbarunya yang sudah dinanti-nanti oleh banyak penggemarnya. Bertempat di Weng Coffee Pontianak, mini album ini akan diluncurkan secara resmi pada pukul 20.00 WIB.

    Mini album ini berisi beberapa lagu yang menggambarkan perjalanan musikalnya selama beberapa tahun terakhir, dengan tema-tema yang tetap mempertahankan identitas Dayak, namun dengan sentuhan yang lebih modern dan menyentuh berbagai kalangan.

    Dapur Kakondan Studio, Landak (2025)

    Mini Album

    Beberapa lagu dalam mini album ini di antaranya adalah “Nape Gajian”, “Bangok”, “Sorry Adi’a”, “Padi Poe’”, dan “Sunsakng Cagat”. Lagu-lagu ini kembali menghadirkan ciri khas Aan Baget yang sangat khas, yakni paduan antara bahasa Dayak Kanayant dan lirik-lirik yang penuh makna.

    Lagu “Nape Gajian”, misalnya, berbicara tentang kehidupan sehari-hari, namun dengan gaya yang sangat santai dan dekat dengan keseharian pendengarnya.

    “Bangok” mengangkat tema ‘satir’, sementara “Sorry Adi’a” menyentuh tema permintaan maaf dalam konteks hubungan pasangan. “Padi Poe’” dan “Sunsakng Cagat” tak kalah menarik, dengan kekuatan pesan-pesan tentang harapan dan nilai budaya.

    Dengan mini album ini, Aan Baget berusaha menunjukkan bahwa musik Dayak tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Kalimantan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diterima lebih luas, bahkan di luar Indonesia.

    Dalam setiap karya yang ia hasilkan, Aan Baget ingin menunjukkan bahwa bahasa dan budaya Dayak memiliki nilai artistik yang patut diapresiasi. Melalui karya-karyanya, ia juga berharap dapat melestarikan bahasa dan budaya Dayak, serta memperkenalkan kekayaan tradisi tersebut kepada generasi muda yang mungkin sudah mulai teralihkan oleh budaya global.

    Pojok Kiri (Aan Baget), tengah (Wawan), kanan (Sam) (2025)

    Perilisan mini album Aan Baget pada 15 Maret 2025 mendatang di Weng Coffee Pontianak (Jalan Reformasi) ini tentu menjadi momen penting bagi dunia musik Kalimantan dan Indonesia.

    Bagi mereka yang ingin lebih mengenal Aan Baget dan karya-karyanya, acara peluncuran ini akan menjadi kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Selain itu, para penggemar juga akan mendapatkan pengalaman langsung mendengarkan karya-karya baru Aan Baget, yang tentunya akan memberikan perspektif baru tentang musik Dayak.

    Aan Baget memang bukan hanya seorang musisi, tetapi juga seorang pelestari budaya yang lewat karyanya berusaha menjaga warisan nenek moyang agar tetap relevan di tengah arus zaman yang semakin modern.

    “Dengan terus berkarya, Bg Aan Baget, dan buktikan bahwa musik dan budaya Dayak memiliki tempatnya sendiri di panggung musik Indonesia, dan karya seni ini dapat menjadi alat untuk memperjuangkan identitas serta menyuarakan harapan-harapan yang lebih baik bagi masyarakat,” tulis ku, Samuel rekan kerja Dosen di San Agustin Kalimantan, yang sering diskusi dengan artis ini. (Sam, San Agustin).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles