MAJALAHDUTA.COM-Bruder Gerardus MTB dalam catatannya mengajak kita merenung tentang kebiasaan menunda-nunda dan dampak negatifnya terhadap perkembangan hidup rohani dan jasmani.
Dia menyoroti fenomena reaksi emosional yang mendorong kita untuk menunda-nunda, seperti kebosanan, jenuh, frustrasi, kesulitan, dan persepsi negatif terhadap suatu tugas.
Menurut Bruder Gerardus, sifat menunda-nunda bisa dipahami melalui beberapa faktor, seperti rasa malas, ketakutan akan kesalahan, dan menunggu waktu yang tepat. Dia mengaitkan pesan penting Markus 1:14-20, di mana nelayan segera meninggalkan segala aktivitas mereka untuk mengikuti panggilan Yesus tanpa menunda-nunda.
Keutamaan yang bisa diambil dari kisah para nelayan adalah kecepatan dalam bertindak tanpa alasan yang menghalangi. Bruder Gerardus menyoroti bahwa sebagian dari kita seringkali menemukan alasan untuk menunda-nunda, seperti rasa malas, takut salah, atau menunggu waktu yang tepat.

Bruder menekankan bahwa kita harus belajar dari nelayan yang segera bertindak tanpa alasan. Rasa malas dan ketakutan akan kesalahan harus diatasi untuk mencapai perkembangan yang lebih baik.
Bruder Gerardus menyimpulkan bahwa pewartaan Markus menyiratkan bahwa kita harus segera bertobat dan percaya pada Injil, karena Kerajaan Allah tidak hanya dekat, melainkan sudah ada bersama kita saat ini.
Bruder Gerardus mengajak kita untuk memilih antara mengikuti cara hidup Yesus yang penuh kasih atau terus menunda-nunda dalam susah dan derita. Pertanyaan terakhirnya menyentuh hati, apakah kita masih mau menunda-nunda dalam kesulitan, atau segera bertobat dan percaya pada Injil untuk menghadapi hidup dengan penuh syukur.
Oleh: Samuel – KOMSOS KAP
Sumber: Bruder Gerardus MTB




