Friday, October 2, 2026
More

    800 Tahun Wafat, Di Ambang Maut Santo Fransiskus Tetap Bernyanyi

    MajalahDUTA.Com | Setiap 3 Oktober, keluarga Fransiskan di berbagai belahan dunia memperingati Transitus Santo Fransiskus Assisi, yakni peralihan sang santo dari kehidupan duniawi menuju kehidupan kekal.

    Peringatan ini menjadi semakin istimewa pada tahun 2026, ketika keluarga Fransiskan memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus Assisi (1181–1226) dalam rangka Tahun Yubileum Santo Fransiskus yang ditetapkan oleh Paus Leo XIV.

    Namun, Transitus bukan hanya peringatan bagi para biarawan, biarawati, dan kaum awam Fransiskan. Peristiwa ini juga mengajak setiap orang untuk merefleksikan makna kematian dan bagaimana manusia menjalani kehidupannya.

    “Menurut saya, jawabannya sudah jelas. Kita semua pasti akan mati,” ujar Pastor Joseph Mary Elder, direktur Bidang Panggilan dan Komunikasi Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap) Provinsi Santo Konradus di Denver, Amerika Serikat, kepada OSV News.

    Menurutnya, Transitus merupakan perayaan atas peralihan Santo Fransiskus dari kehidupan duniawi menuju kemuliaan surgawi.

    “Intinya bukan sekadar peristiwa wafatnya Santo Fransiskus, melainkan cara Santo Fransiskus Assisi menghadapi kematiannya,” jelas Pastor Joseph.

    Bagi Fransiskus, kematian bukan sesuatu yang harus dihadapi dengan ketakutan. Dia menyambutnya dengan sikap yang sama seperti ketika menjalani hidupnya: dengan keberanian dan penyerahan diri kepada Tuhan.

    Sikap tersebut tampak ketika Fransiskus menghadapi hari-hari terakhir hidupnya. Dalam kondisi tubuh yang sakit dan penglihatan yang hampir hilang, dia tetap memuji Tuhan melalui Kidung Ciptaan atau Kidung Matahari.

    “Kidung Ciptaan” ditulis Fransiskus sekitar 1225–1226. Dalam kidung tersebut, dia memuji Tuhan melalui keindahan ciptaan, mulai dari matahari, bulan, bintang, hingga unsur-unsur alam lainnya.

    “Di tengah kegelapan yang menyakitkan saat maut mendekat, Fransiskus justru melantunkan pujian bagi kemuliaan Tuhan yang terpancar di sekelilingnya melalui keindahan ciptaan,” kata Pastor Joseph.

    Baginya, sikap Fransiskus tersebut menjadi sebuah paradoks: ketika kematian semakin dekat, dia justru mampu melihat kehidupan sebagai alasan untuk terus memuji Tuhan.

    Para biarawan Fransiskan setempat menghormati relikui Santo Fransiskus, yang digali dari makam di Basilika Santo Fransiskus di Assisi, Italia, pada 21 Februari pagi. (Foto: OSV News/milik Sala Stampa Sacro Convento Assisi)

    Mengenang Fransiskus melalui Transitus

    Peringatan Transitus biasanya dirayakan melalui ibadat yang memadukan kisah kehidupan Santo Fransiskus, tulisan-tulisannya, bacaan Kitab Suci, nyanyian rohani, dan doa.

    Tradisi tersebut menjadi salah satu cara keluarga Fransiskan mengenang perjalanan hidup pendirinya sekaligus mengajak umat untuk memahami kembali semangat hidup yang diwariskannya.

    Peringatan 800 tahun wafatnya Fransiskus juga menjadi kesempatan untuk mendalami kembali pandangannya mengenai kehidupan, kematian, dan kehidupan kekal.

    Franciscan University of Steubenville, Ohio, misalnya, menggelar konferensi bertajuk “Sister Death – Gate of Life” pada 5–7 November. Konferensi tersebut mempertemukan teolog, filsuf, tenaga medis, ahli etika, rohaniwan, dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu.

    James Matenaer, profesor sejarah di universitas tersebut, mengatakan konferensi itu menjadi bagian dari refleksi atas 800 tahun perjalanan Fransiskus dari kematian menuju kehidupan kekal.

    “Konferensi ini diadakan sebagai sarana untuk memperingati 800 tahun peralihan Santo Fransiskus dari kematian menuju kehidupan kekal, dan hal itulah yang menjadi inti dari gagasan kami mengenai Transitus,” ujarnya kepada OSV News.

    Menurut Matenaer, peringatan tersebut juga menjadi bagian dari Tahun Yubileum Santo Fransiskus serta kesempatan untuk mengakui pentingnya gerakan dan karisma Fransiskan dalam kehidupan Gereja Katolik.

    Sumber: Catatan Seorang OFS.

    Mengenang Santo Fransiskus

    Dalam 800 tahun perjalanan sejarahnya, sosok Santo Fransiskus telah melahirkan berbagai kisah, gambaran, dan legenda. Pengaruhnya pun melampaui komunitas Fransiskan.

    Namun, Pastor Greg Friedman, seorang penulis, jurnalis, dan biarawan Fransiskan dari Provinsi Santa Maria Guadalupe, mengingatkan agar umat tidak berhenti pada gambaran populer mengenai Fransiskus.

    “Kita masing-masing memiliki pandangan tersendiri mengenai sosok Fransiskus, dan pandangan-pandangan itu bisa sangat beragam,” ujarnya kepada OSV News.

    Menurut Greg, sebagian gambaran tersebut mungkin akurat, tetapi sebagian lainnya belum tentu menggambarkan keseluruhan sosok Fransiskus.

    Karena itu, mengenang Fransiskus seharusnya membawa umat kembali kepada pusat hidupnya.

    “Terkadang penekanan yang begitu besar pada sosok Fransiskus membuat kita lupa akan hal yang paling hakiki dalam hidupnya, yaitu mengikuti Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil,” katanya.

    Pesan tersebut menjadi penting dalam peringatan 800 tahun wafat Fransiskus. Transitus bukan sekadar mengenang seorang tokoh sejarah, melainkan mengajak umat melihat kembali bagaimana Fransiskus menjalani panggilannya sebagai seorang murid Kristus.

    “Aku telah melakukan bagianku”

    Bagi Pastor Greg, salah satu ungkapan Fransiskus yang relevan untuk direnungkan dalam peringatan tahun ini adalah:

    “Aku telah melakukan bagianku; semoga Kristus mengajarkan kepadamu apa yang menjadi bagianmu.”

    Ungkapan tersebut, menurut Greg, dapat menjadi pertanyaan reflektif bagi umat pada zaman sekarang.

    “Bagaimana Anda berfokus pada apa yang menjadi tugas Anda? Apa yang harus Anda lakukan dalam semangat Yesus?” ujarnya.

    Dengan demikian, Transitus tidak berhenti pada kisah bagaimana Fransiskus menghadapi kematian. Perayaan ini juga berbicara tentang bagaimana manusia menjalani kehidupannya sebelum sampai pada kematian.

    Keluarga Fransiskan sendiri merupakan salah satu keluarga religius terbesar dalam Gereja Katolik. Sekitar 650.000 anggota keluarga Fransiskan tersebar di 110 negara, terdiri dari berbagai cabang ordo dan bentuk kehidupan Fransiskan, termasuk para Fransiskan Sekuler.

    Bagi mereka, kisah Fransiskus terus dihidupi dalam berbagai bentuk pelayanan, doa, karya sosial, pendidikan, serta kesaksian hidup.

    Namun, pesan Transitus pada akhirnya dapat diterima oleh siapa saja.

    Pastor Greg mengibaratkan tradisi tersebut seperti cara sebuah keluarga mengenang orang-orang yang telah mendahului mereka.

    “Jika seseorang bertanya kepada saya, ‘Mengapa kalian melakukan ini? Mengapa kalian merayakan wafatnya Santo Fransiskus setiap tahun?’ Saya akan menjawab, ‘Nah, bagaimana Anda mengenang anggota keluarga Anda? Bagaimana Anda mengenang leluhur Anda?’” ujarnya.

    “Anda menceritakan kisah mereka.”

    Demikian pula dengan Transitus. Gereja mengenang Fransiskus bukan hanya untuk mengulang kisah masa lalu, tetapi untuk menemukan kembali pesan yang dapat menghidupkan iman pada masa kini.

    Di hadapan kematian, Fransiskus memilih pujian. Di tengah penderitaan, dia tetap melihat ciptaan sebagai anugerah. Dan ketika hidupnya mendekati akhir, dia menyerahkan bagiannya kepada Tuhan.

    Transitus pun menjadi undangan untuk bertanya, setelah menjalani bagian kita dalam kehidupan ini, apa yang hendak kita serahkan kepada Tuhan?*Samuel, OFS. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles