Friday, October 16, 2026
More

    Tersembunyi bagi Orang Bijak dan Pandai

    MajalahDUTA.Com | Belajar menjadi kecil di hadapan Allah.

    “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.”

    (Lukas 10:21)

    Saudara-saudari yang dikasihi Yesus Kristus,

    Sabda Yesus ini mengajak kita merenungkan sebuah paradoks kehidupan iman: apa yang tersembunyi bagi orang bijak dan pandai justru dinyatakan kepada orang kecil.

    Apakah Yesus menolak kebijaksanaan dan pengetahuan? Tentu tidak. Yesus sedang mengingatkan kita bahwa pengetahuan yang tidak disertai kerendahan hati dapat membuat seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri, bahkan merasa tidak lagi membutuhkan Allah.

    Misteri Kerajaan Allah bukan sekadar sesuatu yang dapat dipahami melalui kecerdasan, logika, atau banyaknya pengetahuan. Misteri itu juga menyangkut kesediaan hati untuk menerima kehadiran Allah, mengenali karya keselamatan-Nya, dan percaya kepada Yesus yang datang untuk menyelamatkan manusia.

    Orang yang merasa sudah mengetahui segalanya bisa saja menutup pintu hatinya bagi kebenaran yang baru. Sebaliknya, orang yang menyadari keterbatasannya akan lebih mudah membuka diri, mendengarkan, belajar, dan membiarkan Tuhan bekerja dalam hidupnya.

    Itulah makna menjadi orang kecil di hadapan Allah. Bukan semata-mata karena seseorang miskin, tidak berpendidikan, lemah, atau tidak memiliki kedudukan. Menjadi kecil berarti memiliki hati yang sederhana dan rendah hati; hati yang tidak malu mengakui kekurangan, tidak merasa paling benar, serta tetap bersedia dibimbing dan diubah oleh Tuhan.

    Kita melihat bagaimana Yesus dekat dengan anak-anak, orang miskin, orang-orang sederhana, dan para pendosa yang mau bertobat. Mereka datang kepada-Nya dengan segala keterbatasan dan kebutuhan mereka. Mereka tidak selalu memiliki banyak pengetahuan, tetapi mereka memiliki ruang dalam hati untuk menerima kasih dan pengampunan Allah.

    Saudara-saudari terkasih,

    Di zaman sekarang, kita hidup dalam dunia yang dipenuhi informasi. Dengan beberapa sentuhan pada layar telepon genggam, kita dapat menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan. Kita dapat membaca banyak buku, mengikuti perkembangan dunia, mempelajari agama, bahkan berdiskusi tentang Tuhan dalam berbagai ruang digital.

    Namun, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan, apakah semakin banyak yang kita ketahui membuat kita semakin rendah hati, atau justru semakin merasa paling benar?

    Kita bisa mengetahui banyak hal tentang Tuhan, tetapi belum tentu sungguh-sungguh memberi ruang bagi-Nya dalam hidup kita. Kita bisa berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengampuni. Kita bisa menjelaskan kerendahan hati, tetapi tidak mau menerima kritik. Kita bisa mengajarkan kebenaran, tetapi enggan mengakui kesalahan sendiri.

    Di sinilah kita perlu membedakan antara mengetahui tentang Allah dan sungguh-sungguh mengenal Allah. Mengenal Allah bukan hanya perkara mengumpulkan pengetahuan tentang-Nya, melainkan juga membangun relasi dengan-Nya. Relasi itu tumbuh ketika kita mau mendengarkan sabda-Nya, memeriksa hati, bertobat, mengasihi sesama, dan menyerahkan hidup ke dalam penyelenggaraan-Nya.

    Kebijaksanaan sejati tidak membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, kebijaksanaan membawa kita semakin sadar akan keterbatasan diri dan semakin menghargai martabat sesama.

    Pengetahuan yang benar semestinya menuntun kita kepada kasih, bukan kesombongan; kepada pertobatan, bukan penghakiman; serta kepada kepercayaan kepada Allah, bukan ketergantungan berlebihan pada kekuatan diri sendiri.

    Karena itu, marilah kita memohon rahmat agar hati kita tetap menjadi hati yang sederhana. Hati yang tidak berhenti belajar, tidak cepat menghakimi, tidak merasa paling tahu, dan tidak menutup diri terhadap sapaan Tuhan melalui orang-orang yang kita jumpai setiap hari.

    Sebab, terkadang Tuhan menyampaikan kebijaksanaan melalui orang yang tidak kita perhitungkan. Dia hadir melalui nasihat sederhana, pengalaman orang kecil, teguran seorang sahabat, atau peristiwa sehari-hari yang mengundang kita untuk berubah.

    Semoga semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin besar pula kerendahan hati kita. Semoga semakin dalam pemahaman kita, semakin nyata pula kasih kita kepada sesama.

    Dan semoga, di tengah dunia yang membuat kita mudah merasa tahu segalanya, kita tetap memiliki keberanian untuk berkata, “Tuhan, aku masih membutuhkan-Mu. Ajarlah aku mengenal kehendak-Mu dan berjalan seturut jalan-Mu.”

    Semoga, ya semoga, Tuhan memberkati. Pace e Bene, Salve. – *Br. Gerardus, MTB. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles