MajalahDUTA.Com | Ada satu pertanyaan yang perlu diajukan ketika dunia pemasaran semakin canggih: apakah perusahaan semakin memahami manusia, atau justru semakin mahir mengarahkan perilaku manusia tanpa disadari?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika keputusan membeli dapat dipengaruhi oleh algoritma, iklan yang muncul berulang kali, rekomendasi kecerdasan buatan, dan konten yang dirancang untuk merebut perhatian. Di tengah kemudahan tersebut, manusia berhadapan dengan tantangan yang tidak sederhana: membedakan kebutuhan dari keinginan yang dibentuk oleh lingkungan digital.
Perjalanan pemikiran pemasaran dari Marketing 1.0 hingga Marketing 7.0 memberikan kerangka untuk memahami persoalan tersebut. Perkembangan ini bukan sekadar pergantian istilah atau munculnya teknologi baru, melainkan perubahan cara perusahaan memandang produk, pelanggan, manusia, pengalaman, dan pengambilan keputusan.
Dalam rangkaian buku Marketing X.0, Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan memperlihatkan bagaimana pemasaran terus beradaptasi dengan perubahan masyarakat dan teknologi.
Dimulai dari Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit (2010), perjalanan tersebut berkembang melalui Marketing 4.0 (2017), Marketing 5.0 (2021), Marketing 6.0 (2023), hingga Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketers in the Age of AI (2026).
Pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar bagaimana menjual lebih banyak produk. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana menciptakan nilai tanpa kehilangan pemahaman terhadap manusia yang menjadi pusat kegiatan pemasaran.
Marketing 1.0 Produk Menjadi Pusat Perhatian
Marketing 1.0 menggambarkan pendekatan pemasaran yang berorientasi pada produk. Kualitas, fungsi, fitur, kapasitas produksi, dan efisiensi menjadi perhatian utama perusahaan.
Logika yang digunakan cukup sederhana: jika perusahaan mampu menghasilkan produk yang baik, pasar akan bersedia membelinya.
Pendekatan ini memiliki tempat dalam sejarah perkembangan industri. Ketika produksi massal berkembang, kemampuan menyediakan barang dalam jumlah besar menjadi salah satu sumber keunggulan kompetitif. Perusahaan berlomba-lomba menghasilkan produk yang lebih baik, lebih efisien, dan lebih mudah dijangkau.
Namun, produk yang baik belum tentu merupakan produk yang dibutuhkan setiap orang.
Sebuah perusahaan dapat menghabiskan banyak sumber daya untuk menambahkan fitur, memperbaiki desain, dan meningkatkan spesifikasi. Akan tetapi, jika semua pengembangan tersebut tidak menjawab persoalan konsumen, keunggulan teknisnya belum tentu menghasilkan keunggulan pasar.
Di sinilah keterbatasan orientasi produk terlihat. Perusahaan dapat jatuh cinta pada hasil ciptaannya sendiri dan lupa bertanya kepada siapa produk itu sebenarnya ditujukan.
Pelajaran Marketing 1.0 tetap relevan: produk harus memiliki kualitas dan manfaat. Namun, kualitas baru mempunyai arti ketika berhubungan dengan kebutuhan nyata manusia.
Marketing 2.0, Produk Menuju Pelanggan
Ketika persaingan semakin ketat dan konsumen memiliki lebih banyak pilihan, perusahaan perlu mengubah pertanyaannya. Bukan lagi hanya bagaimana menghasilkan produk terbaik, melainkan produk seperti apa yang paling sesuai dengan kebutuhan kelompok pelanggan tertentu.
Marketing 2.0 menempatkan pelanggan sebagai pusat perhatian. Perusahaan mempelajari kebutuhan, preferensi, daya beli, kebiasaan, dan perilaku konsumen. Dari sinilah segmentasi, penentuan pasar sasaran, dan penentuan posisi merek atau Segmentation, Targeting, and Positioning (STP) memperoleh peran penting.
Satu produk tidak harus memenuhi seluruh kebutuhan semua orang. Produk dapat dirancang untuk segmen tertentu dengan manfaat yang benar-benar relevan bagi kelompok tersebut.
Perubahan ini menunjukkan kemajuan penting dalam pemikiran pemasaran. Perusahaan mulai memahami bahwa pasar bukanlah kumpulan manusia yang seragam. Setiap kelompok mempunyai kebutuhan, pengalaman, dan harapan yang berbeda.
Namun, orientasi pelanggan juga memiliki keterbatasan apabila diterapkan tanpa pertimbangan yang lebih luas. Memenuhi semua keinginan pelanggan tidak otomatis menghasilkan kebaikan bagi masyarakat. Produk yang laris belum tentu sehat bagi konsumen, dan aktivitas bisnis yang menguntungkan belum tentu ramah terhadap lingkungan.
Kepuasan pelanggan penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan bisnis.
Marketing 3.0, Manusia Bukan Sekadar Konsumen
Melalui Marketing 3.0, Kotler, Kartajaya, dan Setiawan memperluas perspektif pemasaran dari produk dan pelanggan menuju manusia secara utuh. Konsumen tidak lagi dipahami hanya sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan daya beli, tetapi juga sebagai manusia yang mempunyai pikiran, perasaan, nilai, aspirasi, dan kepedulian terhadap dunia di sekitarnya.
Perubahan ini penting karena manusia tidak selalu membeli sesuatu semata-mata berdasarkan fungsi. Mereka juga mempertimbangkan makna, identitas, kepercayaan, dan nilai yang melekat pada sebuah merek.
Seseorang mungkin memilih produk lokal bukan hanya karena harganya terjangkau, tetapi juga karena ingin mendukung pengusaha di daerahnya.
Konsumen dapat memilih produk yang lebih ramah lingkungan karena mempertimbangkan dampak konsumsi terhadap generasi mendatang. Ada pula pelanggan yang menaruh kepercayaan kepada perusahaan karena melihat konsistensi antara perkataan dan tindakannya.
Dalam konteks ini, pemasaran memiliki dimensi etis. Perusahaan tidak cukup menyampaikan pesan bahwa dirinya peduli. Kepedulian tersebut perlu tercermin dalam keputusan bisnis, perlakuan terhadap pekerja, hubungan dengan masyarakat, serta pengelolaan lingkungan.
Konsep people, planet, profit memberikan pengingat bahwa keuntungan ekonomi harus dipertimbangkan bersama kepentingan manusia dan kelestarian lingkungan.
Di sinilah pemasaran bertemu dengan filsafat moral. Bisnis bukan hanya persoalan memperoleh hasil, tetapi juga pertanyaan mengenai bagaimana hasil tersebut diperoleh dan siapa yang menanggung konsekuensinya.
Merek yang mengangkat isu sosial hanya demi popularitas dapat kehilangan kepercayaan ketika tindakannya tidak sesuai dengan pesan yang disampaikan. Sebaliknya, perusahaan yang menjalankan nilai secara konsisten memiliki dasar yang lebih kuat untuk membangun hubungan jangka panjang.
Marketing 3.0 mengajarkan bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi angka penjualan. Mereka adalah pribadi yang memiliki martabat, bukan sekadar sasaran promosi.
Marketing 4.0 tentang Perjalanan Konsumen Berpindah ke Dunia Digital
Perkembangan internet mengubah cara manusia mencari informasi, membandingkan produk, melakukan transaksi, dan membagikan pengalaman. Konsumen tidak lagi sepenuhnya bergantung pada informasi yang disampaikan perusahaan.
Mereka dapat membaca ulasan, melihat pengalaman pengguna lain, membandingkan harga, bertanya melalui media sosial, dan memeriksa reputasi sebuah merek sebelum membeli.
Dalam Marketing 4.0, perubahan ini dibahas melalui peralihan dari pemasaran tradisional menuju pemasaran digital. Salah satu kerangka pentingnya adalah perjalanan pelanggan 5A: Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate.
Konsumen pertama-tama mengenal merek, kemudian tertarik, mencari informasi, melakukan pembelian, dan pada akhirnya dapat merekomendasikannya kepada orang lain.
Model ini memperlihatkan bahwa pembelian bukanlah akhir dari pemasaran. Pengalaman setelah pembelian dapat menentukan apakah konsumen akan kembali, memberikan ulasan, atau justru memperingatkan orang lain agar tidak menggunakan produk tersebut.
Pemasaran digital juga mengubah hubungan antara perusahaan dan konsumen. Konsumen dapat menjadi penerima informasi sekaligus penyebar informasi. Satu pengalaman yang dibagikan secara daring dapat memengaruhi keputusan banyak orang.
Karena itu, perusahaan perlu membangun pengalaman yang konsisten di berbagai saluran. Informasi di media sosial, layanan pelanggan, toko fisik, situs web, dan marketplace seharusnya saling mendukung.
Akan tetapi, kemudahan digital juga membawa konsekuensi. Ketika semua perusahaan berlomba-lomba mendapatkan perhatian, konsumen menghadapi arus informasi yang semakin padat. Perhatian menjadi sumber daya yang diperebutkan.
Tantangan pemasaran bukan lagi hanya bagaimana menjangkau konsumen, tetapi bagaimana menjadi relevan tanpa mengganggu kehidupan mereka.
Marketing 5.0 tentang Teknologi Harus Membantu Manusia
Dalam Marketing 5.0: Technology for Humanity, perhatian diarahkan pada pemanfaatan teknologi maju untuk meningkatkan kemampuan pemasaran. Kecerdasan buatan, analitik data, otomatisasi, dan teknologi lainnya dapat membantu perusahaan memahami pola perilaku, memperkirakan kebutuhan, menyusun penawaran, dan meningkatkan kualitas layanan.
Perusahaan dapat menganalisis data transaksi untuk memahami produk yang diminati konsumen. Sistem prediktif dapat membantu memperkirakan kemungkinan pembelian ulang. Chatbot dapat menjawab pertanyaan sederhana, sementara petugas manusia menangani persoalan yang membutuhkan empati dan pertimbangan lebih mendalam.
Teknologi juga memungkinkan pelayanan yang lebih personal. Pelanggan tidak harus menerima penawaran yang sama apabila kebutuhan dan preferensinya berbeda.
Namun, kemampuan memproses data tidak sama dengan kemampuan memahami manusia secara utuh. Data dapat menunjukkan apa yang dilakukan seseorang, tetapi belum tentu menjelaskan seluruh alasan, nilai, atau pengalaman yang melatarbelakanginya.
Seseorang yang berulang kali membeli produk tertentu, misalnya, belum tentu menyukainya. Pembelian itu bisa terjadi karena kebutuhan mendesak, keterbatasan pilihan, atau promosi yang menarik. Tanpa pemahaman terhadap konteks, data berisiko ditafsirkan secara keliru.
Di samping itu, semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin besar pula tanggung jawab perusahaan untuk menjaga privasi, keamanan, dan penggunaan informasi secara patut.
Teknologi seharusnya meningkatkan kualitas pelayanan, bukan mengurangi kebebasan konsumen. AI dapat membantu perusahaan mengambil keputusan, tetapi manusia tetap perlu bertanggung jawab atas keputusan yang dijalankan.
Dengan demikian, keberhasilan Marketing 5.0 tidak cukup diukur dari kecanggihan perangkat yang digunakan. Ukurannya juga terletak pada seberapa besar teknologi tersebut benar-benar membantu manusia.
Marketing 6.0, tentang Transaksi Menuju Pengalaman
Setelah saluran digital semakin terintegrasi dan teknologi mampu memberikan pelayanan yang lebih personal, pemasaran menghadapi tantangan baru: bagaimana membuat interaksi dengan merek menjadi pengalaman yang lebih mendalam?
Marketing 6.0: The Future Is Immersive membahas pemasaran imersif, yakni pendekatan yang menggabungkan pengalaman fisik dan digital. Konsumen tidak hanya melihat iklan atau membaca informasi produk, tetapi juga dapat berinteraksi, berpartisipasi, dan merasakan pengalaman yang dirancang perusahaan.
Teknologi realitas tertambah, realitas virtual, layar interaktif, dan berbagai sistem digital dapat memperkaya pengalaman pelanggan. Konsumen dapat mencoba produk secara virtual, memperoleh informasi tambahan di toko fisik, atau berinteraksi dengan lingkungan digital sebelum mengambil keputusan pembelian.
Namun, pengalaman imersif tidak selalu harus mahal atau menggunakan teknologi yang rumit. Pengalaman yang melibatkan banyak indra, interaksi, partisipasi, kemudahan, dan cerita yang kuat juga dapat hadir dalam kegiatan sederhana.
Sebuah pertunjukan musik, misalnya, menghadirkan suara, visual, suasana, interaksi dengan penonton, dan cerita yang membentuk pengalaman bersama. Pengunjung bukan sekadar melihat pertunjukan, tetapi turut menjadi bagian dari peristiwa tersebut.
Prinsip ini juga relevan bagi pemasaran budaya. Festival budaya, pameran kerajinan, pertunjukan musik tradisional, dan kegiatan pariwisata dapat dirancang sebagai pengalaman yang menghubungkan produk dengan cerita, identitas, serta ingatan kolektif masyarakat.
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, misalnya, promosi budaya Dayak tidak harus berhenti pada gambar pakaian adat atau video pertunjukan yang menarik perhatian di media sosial.
Pengalaman yang lebih bermakna dapat dibangun melalui kesempatan memahami cerita di balik motif, mengenal makna musik tradisional, mendengar penjelasan pelaku budaya, dan berinteraksi secara langsung dengan komunitas pemilik tradisi.
Akan tetapi, pemasaran budaya juga menuntut tanggung jawab. Tradisi tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai komoditas yang dapat diubah sesuka hati demi kepentingan promosi. Pengalaman yang menarik perlu tetap menghormati konteks, pengetahuan, dan hak masyarakat yang menjaga tradisi tersebut.
Marketing 6.0, dengan demikian, bukan hanya persoalan menciptakan pengalaman yang mengesankan. Pengalaman tersebut perlu mempunyai makna dan memberikan nilai yang pantas bagi manusia yang terlibat di dalamnya.
Marketing 7.0 saat Pemasar Harus Kembali Berpikir
Di tengah perkembangan teknologi tersebut, muncul persoalan yang menjadi perhatian dalam Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketers in the Age of AI, karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan yang diterbitkan pada 2026.
Buku ini mengarahkan perhatian pada pentingnya memahami cara manusia berpikir, terhubung, dan mengambil keputusan di era kecerdasan buatan.
Salah satu tantangan yang disorot adalah kecenderungan pemasaran untuk terlalu mengutamakan optimasi kinerja dan kehilangan autentisitas.
Persoalan ini mudah ditemukan dalam praktik pemasaran digital. Perusahaan mengejar jumlah tayangan, klik, konversi, dan tingkat pengembalian belanja iklan atau Return on Ad Spend (ROAS).
Semua indikator tersebut berguna untuk mengevaluasi kegiatan pemasaran. Namun, masalah muncul ketika angka-angka itu menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Konten yang menghasilkan banyak interaksi belum tentu membangun kepercayaan. Iklan yang menghasilkan transaksi dalam waktu singkat belum tentu menciptakan pelanggan setia. Promosi yang viral belum tentu memperkuat identitas merek.
Ketika seluruh keputusan didasarkan pada apa yang paling disukai algoritma, merek dapat kehilangan karakter.
Perusahaan meniru format konten yang sedang populer, mengikuti tren yang sama, dan menggunakan gaya komunikasi yang serupa. Akibatnya, banyak merek justru terlihat semakin mirip ketika semuanya berusaha tampil menonjol.
Di sinilah muncul paradoks pemasaran digital: semakin keras merek mengejar perhatian, semakin besar kemungkinan identitasnya tenggelam di tengah keseragaman.
Persoalan lain adalah orientasi jangka pendek. Ketika keberhasilan diukur terutama berdasarkan hasil yang cepat terlihat, investasi untuk membangun reputasi, kepercayaan, dan hubungan pelanggan dapat tersisih. Diskon terus-menerus mungkin menghasilkan transaksi, tetapi juga dapat membiasakan konsumen berpindah merek hanya karena perbedaan harga.
Karena itu, Marketing 7.0 mengingatkan bahwa teknologi harus diimbangi pemikiran kritis. AI dapat membantu menghasilkan rencana pemasaran, mengolah data, dan memberikan rekomendasi.
Namun, hasil tersebut tetap harus diperiksa: apakah sesuai dengan kebutuhan pelanggan, identitas merek, konteks sosial, dan tujuan bisnis jangka panjang?
Pemasar tidak seharusnya menerima rekomendasi mesin hanya karena rekomendasi itu terlihat meyakinkan. Angka dan prediksi memerlukan penafsiran, sedangkan keputusan bisnis membawa konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Pelanggan pun menghadapi tantangan serupa. Rekomendasi produk di marketplace dan konten di media sosial dapat memengaruhi apa yang mereka lihat, sukai, dan beli. Karena itu, konsumen perlu bertanya apakah suatu produk memang dibutuhkan atau sekadar menarik karena terus-menerus muncul di hadapan mereka.
Kesadaran seperti ini penting untuk menjaga kebebasan mengambil keputusan. Tidak semua yang populer harus dibeli. Tidak semua yang viral layak dipercaya. Tidak semua rekomendasi yang dipersonalisasi benar-benar sesuai dengan kepentingan seseorang.
Marketing 7.0 mengajak pemasar dan konsumen kembali menggunakan pertimbangan manusia di tengah kemampuan teknologi yang semakin maju.
Evolusi Pemasaran dan Persoalan Autentisitas
Jika ketujuh tahap tersebut dibaca sebagai satu perjalanan, terlihat bahwa pemasaran terus memperluas wilayah perhatiannya.
Marketing 1.0 menekankan produk. Marketing 2.0 menempatkan pelanggan sebagai pusat. Marketing 3.0 memperluas perhatian kepada manusia dan nilai. Marketing 4.0 mengelola perjalanan pelanggan di dunia digital. Marketing 5.0 memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan. Marketing 6.0 memperkaya pengalaman. Marketing 7.0 menegaskan kembali pentingnya pemikiran manusia di era AI.
Ketujuh tahap ini tidak harus dipahami sebagai tangga yang membuat tahap sebelumnya ditinggalkan. Sebuah perusahaan tetap membutuhkan produk berkualitas, pemahaman pelanggan, nilai yang jelas, saluran digital yang baik, teknologi yang tepat, dan pengalaman yang bermakna.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan salah satu unsur tersebut sebagai tujuan tunggal.
Produk berkualitas tanpa pemahaman pelanggan dapat gagal menjawab kebutuhan pasar. Kepuasan pelanggan tanpa tanggung jawab sosial dapat menimbulkan dampak yang merugikan. Teknologi tanpa pertimbangan etis dapat melanggar privasi.
Pengalaman imersif tanpa makna dapat berubah menjadi tontonan yang mahal. Optimasi kinerja tanpa identitas dapat membuat merek kehilangan keunikan.
Di sinilah autentisitas memperoleh peran penting.
Autentisitas bukan sekadar gaya komunikasi yang terlihat alami atau penggunaan cerita yang menyentuh emosi. Autentisitas berarti adanya kesesuaian antara nilai yang diklaim, tindakan yang dilakukan, dan pengalaman yang diterima pelanggan.
Perusahaan yang menyatakan kepedulian terhadap lingkungan perlu menunjukkan tindakan yang mendukung klaim tersebut. Merek yang mengaku mengutamakan pelanggan perlu memberikan pelayanan yang konsisten. Organisasi yang menggunakan AI perlu menjelaskan batas penggunaan teknologi ketika hal itu relevan bagi kepercayaan dan hak konsumen.
Dengan kata lain, autentisitas tidak dapat dibangun hanya melalui teknik komunikasi. Ia harus tumbuh dari karakter dan keputusan organisasi.
Teknologi dapat mempercepat penyebaran pesan, tetapi tidak otomatis menjadikan pesan tersebut benar. Algoritma dapat membantu menemukan audiens, tetapi tidak otomatis membangun kepercayaan.
AI dapat menyusun kalimat yang meyakinkan, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab organisasi atas kebenaran dan dampak pesannya.
Pelajaran Paham Marketing di Indonesia
Perkembangan Marketing 1.0 hingga 7.0 mempunyai relevansi bagi perusahaan besar, usaha mikro, kecil, dan menengah, lembaga pendidikan, organisasi sosial, serta pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.
Bagi UMKM, pelajaran pertama ialah tidak perlu menggunakan seluruh teknologi yang tersedia hanya karena teknologi tersebut sedang populer. Pengusaha kopi lokal, misalnya, dapat memulai dengan menjaga kualitas produk, mengenali pelanggan, membangun cerita yang autentik tentang asal biji kopi, dan memberikan pelayanan yang konsisten.
Media sosial dan marketplace dapat membantu memperluas pasar. Analitik sederhana dapat digunakan untuk memahami produk yang paling diminati. AI dapat membantu menyusun gagasan konten atau merapikan deskripsi produk. Namun, semua itu harus berangkat dari karakter usaha dan kebutuhan pelanggan, bukan sekadar mengikuti tren.
Bagi lembaga pendidikan, pemasaran tidak cukup dilakukan melalui iklan penerimaan mahasiswa baru. Calon mahasiswa dan keluarga juga perlu memahami mutu pembelajaran, pengalaman akademik, relevansi kompetensi, biaya pendidikan, dan prospek pengembangan diri.
Teknologi digital membantu menyampaikan informasi, tetapi kepercayaan dibangun melalui kesesuaian antara janji dan pengalaman nyata.
Bagi pelaku ekonomi kreatif dan budaya, pemasaran dapat membuka peluang ekonomi tanpa harus menghilangkan makna tradisi. Teknologi imersif dan media digital dapat memperluas jangkauan cerita budaya, tetapi masyarakat pemilik tradisi harus tetap dihormati sebagai subjek, bukan sekadar objek promosi.
Dalam semua konteks tersebut, ukuran keberhasilan sebaiknya tidak hanya berupa jumlah tayangan, pengikut, transaksi, atau pendapatan. Perusahaan juga perlu menilai kualitas hubungan pelanggan, tingkat kepercayaan, pembelian ulang, reputasi, dampak sosial, dan kemampuan bertahan dalam jangka panjang.
Bukan berarti indikator jangka pendek harus ditinggalkan. Indikator tersebut perlu ditempatkan bersama ukuran yang lebih luas agar perusahaan tidak mengorbankan masa depan demi hasil sesaat.
Teknologi Boleh Berkembang, Manusia Jangan Berhenti Berpikir
Perjalanan Marketing 1.0 hingga Marketing 7.0 memperlihatkan perubahan besar dalam cara bisnis memahami pasar.
Dari produk menuju pelanggan, dari pelanggan menuju manusia, dari saluran digital menuju pengalaman imersif, dan akhirnya menuju kebutuhan untuk memahami kembali pikiran manusia di era kecerdasan buatan.
Perubahan ini mengandung sebuah pelajaran penting: kemajuan pemasaran tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan juga oleh kualitas pertimbangan manusia yang menggunakannya.
Perusahaan boleh menggunakan AI untuk membaca pola, memprediksi perilaku, dan meningkatkan efisiensi. Namun, manusia tetap perlu menentukan tujuan, memeriksa asumsi, mempertimbangkan konsekuensi, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Pelanggan juga perlu menjaga kesadarannya. Keputusan membeli seharusnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh promosi, tren, atau rekomendasi algoritma. Manusia tetap memiliki kemampuan untuk menimbang kebutuhan, mempertanyakan informasi, dan menentukan apa yang benar-benar bernilai bagi kehidupannya.
Pada akhirnya, pemasaran yang baik bukan hanya pemasaran yang berhasil menjual. Pemasaran yang baik juga mampu menjelaskan nilai yang ditawarkan, menghormati kebebasan konsumen, membangun kepercayaan, dan menciptakan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Marketing 7.0 bukan alasan untuk menolak teknologi. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula kebutuhan akan kebijaksanaan manusia.
Sebab, tujuan akhir pemasaran bukanlah membuat manusia semakin mudah dipengaruhi, melainkan menciptakan hubungan yang membuat manusia memahami nilai, mengambil keputusan secara sadar, dan memperoleh manfaat yang nyata.
Teknologi dapat membantu kita berpikir lebih cepat. Namun, keputusan tentang apa yang layak dipikirkan, diperjuangkan, dan dilakukan tetap membutuhkan manusia yang mau berpikir.*(Samuel)





