MajalahDUTA.Com | Tidak semua pelayanan lahir dari pekerjaan besar. Terkadang, duduk bersama, menemani mereka yang kesepian, dan bersedia hadir bagi sesama justru menjadi wujud pelayanan yang paling berarti.
Pemahaman itu tumbuh dalam perjalanan panjang Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, atau yang akrab disapa Father Bien. Selama 50 tahun menjalani hidup membiara dalam Ordo Dominikan, imam ini menemukan bahwa kehadiran seseorang dapat menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Pengalaman tersebut berawal dari perjumpaannya dengan seorang perempuan di kawasan pegunungan Sangap, Mindanao, Filipina. Ketika Father Bien bertanya apa yang dapat dia lakukan untuk membantu perempuan itu, sebuah jawaban sederhana justru membekas sepanjang hidupnya.
“Bapak, kehadiranmu saja sudah cukup.”
Kalimat itu menjadi salah satu pelajaran penting dalam perjalanan panggilannya: pelayanan bukan semata-mata tentang seberapa banyak pekerjaan yang diselesaikan, melainkan juga tentang kesediaan untuk berjalan bersama orang lain.
Refleksi tersebut dibagikan Father Bien dalam homili dan sambutannya pada perayaan syukur 50 tahun kaul membiara di Paroki St. Perawan Maria Reinha Rosario Supadio, Pontianak, Jumat, 9 Oktober 2026.
Perayaan itu ditandai dengan pembaruan kaul kekal, sebagai peneguhan kembali atas janji hidup religius yang pertama kali diikrarkannya lima dekade silam.

Kerahiman Allah sebagai Jawaban atas Panggilan
Lima puluh tahun lalu, ketika hendak memasuki kehidupan Dominikan, Father Bien dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: “What do you seek?” atau “Apa yang kamu cari?”
Dia menjawab, “Kerahiman Allah dan kerahiman Anda sekalian.”
Bagi Father Bien, jawaban tersebut bukan sekadar ungkapan dalam proses penerimaan seorang calon Dominikan. Kalimat itu menjadi landasan yang menyertai perjalanan panggilannya, mulai dari masa pembinaan, kaul sementara, hingga pengikraran kaul kekal.
Dalam perjalanan itu, dia menyadari bahwa kesetiaan tidak pernah berdiri di atas kekuatan pribadi semata. Kerahiman Allah dan dukungan komunitas menjadi bagian penting yang memampukannya bertahan serta menjalankan berbagai perutusan.
“Tanpa semua itu, saya bukanlah apa-apa,” ungkapnya.
Kesadaran tersebut semakin diuji ketika dia menerima perutusan misi ke Mindanao, Filipina, pada 10 Mei 1985, sekitar dua tahun setelah ditahbiskan menjadi imam.
Saat itu, Filipina menghadapi situasi politik yang penuh ketegangan. Dalam konteks pemerintahan darurat militer, sejumlah pemimpin Gereja menghadapi tuduhan sebagai komunis, sementara komunitas basis Kristiani dicurigai memiliki hubungan dengan New People’s Army (NPA), kelompok pemberontak komunis bersenjata.
Di tengah situasi yang tidak mudah itu, Father Bien menjalankan pelayanan pastoral di Paroki Bunda Penolong Abadi, Maguindanao del Norte. Dengan semangat muda dan idealisme yang kuat, dia berusaha menghidupi spiritualitas Santo Dominikus, pendiri Ordo Dominikan, melalui pewartaan kebenaran dan pelayanan demi keselamatan jiwa-jiwa.
Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa panggilan religius tidak selalu berlangsung dalam situasi yang aman dan nyaman. Ada ketidakpastian, keterbatasan, serta tantangan yang menuntut keberanian.
Namun, justru dalam keadaan seperti itulah dia belajar bahwa kesetiaan bukan berarti mengandalkan kemampuan diri sendiri. Kesetiaan bertumbuh ketika seseorang tetap melangkah dengan bersandar pada rahmat Allah dan dukungan komunitas.

Ketika Kehadiran Menjadi Bentuk Pelayanan
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatan Father Bien terjadi ketika dia hendak merayakan Misa pesta pelindung di sebuah kapel di pegunungan Sangap.
Menjelang perayaan, seorang perempuan yang merupakan istri ketua kapel setempat jatuh pingsan. Father Bien kemudian bertanya apa yang dapat dilakukannya untuk membantu perempuan tersebut.
Jawaban yang diterimanya di luar dugaan. Dengan malu-malu, perempuan itu mengatakan bahwa kehadirannya saja sudah cukup.
Bagi Father Bien, peristiwa itu membuka pemahaman baru mengenai arti pelayanan pastoral. Seorang pelayan Gereja tidak selalu dituntut untuk memberikan jawaban atas setiap persoalan atau menyelesaikan semua kesulitan. Ada kalanya, kehadiran yang tulus sudah menjadi penghiburan bagi orang yang sedang menghadapi penderitaan.
Kehadiran dapat menumbuhkan harapan, memberikan kekuatan, dan membuat seseorang merasa tidak sendirian. Melalui pengalaman itu, Father Bien semakin memahami bahwa hidup religius bukan hanya tentang melakukan berbagai kegiatan pelayanan, tetapi juga tentang menghadirkan kasih Allah melalui relasi dengan sesama.
Dia menghubungkan pemahaman tersebut dengan ajaran Gereja mengenai hidup bakti, terutama dalam anjuran apostolik Vita Consecrata yang diterbitkan Paus Yohanes Paulus II. Hidup bakti dipahami sebagai karunia bagi Gereja dan umat Allah.
Makna kehadiran itu, menurut Father Bien, tidak terbatas pada kehidupan imam dan biarawan. Dalam keluarga, kehadiran ayah dan ibu sangat berarti bagi anak-anak yang sedang bertumbuh. Sebaliknya, anak-anak juga memiliki peran penting dalam menemani orang tua yang memasuki usia lanjut.
Kehadiran bukanlah perkara sepele. Setiap orang dapat menjadi karunia bagi sesamanya, bukan hanya melalui apa yang dikerjakan, tetapi juga melalui kesediaannya untuk menemani dan berbagi kehidupan.

Doa, Studi, Komunitas, dan Pewartaan
Dalam refleksinya mengenai 50 tahun kehidupan membiara, Father Bien juga menyoroti empat pilar yang menjadi dasar kehidupan Dominikan, yakni doa, studi, hidup berkomunitas, dan pewartaan.
Keempatnya bukan unsur yang berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam membentuk kehidupan seorang Dominikan.
Studi filsafat dan teologi membantu memperdalam pemahaman iman serta memperkuat dasar intelektual dalam pewartaan. Doa memelihara relasi dengan Allah, sementara kehidupan komunitas menjadi ruang untuk belajar saling menerima, menopang, dan bertumbuh bersama.
Seluruh unsur tersebut bermuara pada tugas pewartaan, yaitu menyampaikan kebenaran dan membantu manusia semakin dekat dengan Allah.
Bagi Father Bien, komunitas bukan sekadar tempat tinggal bersama. Di dalam komunitas, seorang religius belajar menjalani komitmen, menerima kelemahan diri, serta menemukan dukungan ketika menghadapi tantangan.
Kesetiaan terhadap panggilan, karena itu, tidak berarti hidup tanpa rasa takut atau kesulitan. Kesetiaan justru terlihat ketika seseorang tetap berpegang pada komitmennya di tengah perubahan usia, keterbatasan, dan dinamika kehidupan.
Lima dekade perjalanan Father Bien menjadi kesaksian bahwa panggilan religius terus bertumbuh melalui proses belajar, doa, kehidupan bersama, dan kesediaan untuk melayani.

Bagi Komunitas Dominikan, Kehadirannya Adalah Pelayanan
Makna kehadiran Father Bien di Pontianak juga mendapat perhatian dari Prior Biara Santo Dominikus Pontianak, Romo Johanes Robini Marianto, OP, disapa Romo Robini.
Dalam sambutannya, Romo Robini mengakui bahwa perayaan 50 tahun hidup membiara Father Bien berlangsung sederhana dibandingkan dengan sejumlah perayaan serupa di tempat lain. Namun, kesederhanaan itu justru mengingatkan bahwa kesaksian hidup religius terutama tampak dalam keseharian, bukan hanya dalam perayaan besar.
Dia mengenang keterlibatan Father Bien dalam perintisan misi Dominikan di Indonesia. Sebelum komunitas Dominikan berkembang menjadi biara di Pontianak, Father Bien telah beberapa kali mengunjungi kota tersebut ketika menjalankan tugas sebagai promotor misi Dominikan di Filipina.
Dalam perjalanan pelayanan di Pontianak, Father Bien pernah bertanya mengenai apa yang masih dapat dilakukannya bagi komunitas, mengingat usianya tidak lagi muda.
Bagi Romo Robini, pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan menambahkan berbagai pekerjaan atau tanggung jawab baru. Kehadiran seorang saudara senior saja sudah memberikan arti bagi kehidupan komunitas.
Kehadiran Father Bien membantu menjaga keteraturan doa bersama, termasuk pelaksanaan Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi setiap hari. Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dalam memelihara kehidupan rohani para anggota komunitas.
“Your presence means, and this is your ministry,” kata Romo Robini.
Pesan itu menegaskan bahwa kehadiran Father Bien bukan sekadar keberadaan fisik di tengah komunitas. Kehadirannya sendiri merupakan bagian dari pelayanan yang dijalankan.
Menurut Romo Robini, komunitas tidak selalu membutuhkan seseorang untuk mengerjakan hal-hal besar. Dalam kehidupan membiara, kesediaan untuk hadir, berdoa bersama, dan menjaga persaudaraan merupakan bentuk pelayanan yang tidak tergantikan.
Dia juga menekankan pentingnya peran para saudara senior dalam mendampingi pertumbuhan komunitas dan panggilan generasi berikutnya.
Bagi para religius muda, perjalanan Father Bien selama 50 tahun menjadi bukti bahwa kesetiaan bukanlah sesuatu yang mustahil. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa rahmat Tuhan tetap bekerja di tengah kelemahan dan keterbatasan manusia.
Pada kesempatan itu, Romo Robini juga menyambut Father Bien untuk menjalankan pelayanan sebagai vikaris di Paroki St. Perawan Maria Reinha Rosario Supadio. Dia mengajak Father Bien bekerja bersama komunitas dan umat demi perkembangan paroki serta tujuan utama pelayanan Gereja: membawa semakin banyak orang semakin dekat dengan Tuhan.

Memperbarui Janji, Meneguhkan Kesetiaan
Dalam sambutannya, Father Bien menyampaikan terima kasih kepada Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk melayani di Paroki St. Perawan Maria Reinha Rosario Supadio.
Dia juga mengungkapkan penghargaan kepada Provinsi Dominikan Filipina yang mengutusnya untuk mendampingi para saudara yang lebih muda dalam kehidupan komunitas dan karya misi di Indonesia.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Komunitas Biara Santo Dominikus Pontianak, termasuk Romo Robini, Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia di Pontianak, Father Herminio Dagoy, OP, yang akrab disapa Father Jojo, serta para imam Dominikan lainnya.
Dia juga menyampaikan rasa syukur kepada para imam, suster dari berbagai kongregasi, Dominikan Awam, dan umat yang hadir dalam perayaan tersebut. Bagi Father Bien, kebersamaan mereka menjadi tanda kerahiman dan kemurahan hati Allah yang dialami melalui sesama.
Sebagai ungkapan penyerahan diri, dia mengutip jawaban Bunda Maria kepada Malaikat Gabriel: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.”
Ungkapan itu menjadi pengantar menuju pembaruan kaul kekalnya setelah perayaan Misa. Di hadapan Romo Robini, Father Bien kembali meneguhkan janji yang pertama kali diikrarkannya 50 tahun sebelumnya.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan syukur itu. Janji yang diucapkan setengah abad lalu kembali diteguhkan, bukan sebagai pengulangan seremonial semata, melainkan sebagai tanda kesediaan untuk terus menjalani panggilan dalam keadaan dan usia yang terus berubah.
Rangkaian perayaan kemudian dilanjutkan dengan prosesi menuju aula seremonial, tarian, makan bersama, serta penampilan lagu dari E’ries, Romo Robini, Sr. Roshelle, dan Romo Elson. Para imam, suster, Dominikan Awam, dan umat merayakan perjalanan panggilan tersebut dalam suasana persaudaraan dan sukacita.

Kesetiaan yang Terlihat dalam Kehadiran
Lima puluh tahun kehidupan membiara Father Bien memperlihatkan bahwa panggilan bukan sekadar tentang berapa lama seseorang bertahan dalam sebuah pilihan. Panggilan juga menyangkut kesediaan untuk terus dibentuk, belajar dari pengalaman, dan menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pegunungan Sangap di Mindanao hingga komunitas Dominikan di Pontianak, satu pelajaran terus menyertai perjalanan Father Bien tentang ‘makna kehadiran’ dan justru itulah pelayanan yang sangat berarti.
Jawaban yang pernah diterimanya dari seorang perempuan di kapel pegunungan itu kini menemukan gema dalam kehidupannya sendiri di Pontianak. Ketika usia tidak lagi memungkinkan seseorang melakukan sebanyak dahulu, kehadiran tetap dapat menjadi sumber kekuatan bagi komunitas.
Lima puluh tahun setelah menjawab pertanyaan tentang apa yang dicarinya, Father Bien tetap berpegang pada kerahiman Allah dan kerahiman komunitas. Doa, studi, hidup bersama, dan pewartaan menjadi jalan untuk memelihara kesetiaan tersebut.
Pada akhirnya, pelayanan tidak selalu dimulai dari pertanyaan tentang apa yang dapat dikerjakan. Terkadang, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah seseorang bersedia hadir bagi sesamanya.
Sebab, sebagaimana dipelajari Father Bien di pegunungan Sangap, ada saat ketika kehadiran seseorang saja sudah cukup untuk membuat orang lain merasa tidak sendirian.*Samuel.





