MajalahDUTA.Com | Di sebuah ruangan di Biara Santo Dominikus Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026, percakapan tentang lima puluh tahun hidup membiara membawa kami pada pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan manusia.
Beberapa potong kue dan secangkir kopi telah disiapkan sebelum percakapan dimulai. Saya belum sempat mengajukan pertanyaan tentang lima puluh tahun hidup membiaranya, tetapi dia telah lebih dahulu menunjukkan perhatian melalui sesuatu yang begitu biasa, menyiapkan hidangan kecil bagi tamunya.
Bukan hanya tentang bagaimana seseorang bertahan dalam panggilan religius selama setengah abad, melainkan juga tentang apa artinya setia ketika tubuh menua, kehidupan berubah, dan berbagai hal yang dahulu dianggap penting perlahan kehilangan tempatnya.
Ruangan yang digunakan untuk wawancara itu merupakan perpustakaan sekaligus ruang rapat komunitas. Di antara buku-buku dan ruang yang menjadi bagian dari kehidupan bersama para Dominikan, Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, mengenang kembali perjalanan panjang panggilannya. Perayaan 50 tahun profesi religiusnya tinggal beberapa hari lagi. Namun, percakapan dengannya tidak berhenti pada hitungan tahun, kenangan masa lalu, atau pencapaian sebagai seorang imam.
Dia justru membawa pembicaraan kembali ke sebuah pertanyaan yang pernah diterimanya ketika hendak memasuki Ordo Dominikan: “What do you seek?” Apa yang kamu cari?
Pertanyaan itu, bagi Father Bien, bukan sekadar bagian dari proses awal memasuki kehidupan membiara. Lima puluh tahun kemudian, pertanyaan tersebut masih menyimpan daya untuk memeriksa kembali arah hidupnya.
Jawaban yang diberikan saat itu sederhana, kerahiman Allah dan kerahiman komunitas yang menerimanya. Dalam jawaban itu, dia menemukan dasar untuk memahami panggilannya sebagai rahmat sekaligus tanggung jawab. Allah memanggil, komunitas menerima, dan dirinya dipanggil untuk menanggapi dengan kesetiaan.
Dari titik itulah percakapan tentang lima puluh tahun kehidupan membiara dimulai: panggilan bukan hanya tentang keputusan yang pernah dibuat, tetapi tentang kesediaan untuk terus menjawabnya.

Panggilan yang Tidak Selesai dalam Satu Keputusan
Ada anggapan bahwa keputusan besar dalam hidup cukup dibuat sekali. Seseorang memilih jalan, mengucapkan janji, lalu tinggal menjalaninya sampai akhir. Namun, pengalaman Father Bien menunjukkan bahwa keputusan yang mendasar justru memperoleh maknanya melalui tindakan-tindakan kecil yang terus diulang.
“Karena panggilan berasal dari Allah, tugas saya adalah menanggapi panggilan itu dengan setia dalam kehidupan sehari-hari,” demikian inti refleksinya.
Panggilan, menurutnya, merupakan undangan Allah yang berakar pada kerahiman-Nya. Akan tetapi, rahmat tersebut tidak menghapus tanggung jawab manusia. Penerimaan dari komunitas juga membawa konsekuensi, seseorang diharapkan menjalani kehidupan sesuai dengan panggilan yang telah diterimanya.
Di sinilah kesetiaan menemukan tempatnya. Menjadi seorang Dominikan tidak berhenti ketika seseorang mengikrarkan kaul. Janji itu harus menemukan bentuknya dalam cara seseorang berdoa, belajar, hidup bersama saudara-saudaranya, dan mewartakan keselamatan.
Baginya, kesetiaan, bukan sekadar mempertahankan keputusan masa lalu. Ia merupakan kesediaan untuk terus menemukan kembali makna keputusan tersebut dalam keadaan hidup yang selalu bergerak.
Lima puluh tahun mungkin terdengar seperti rentang waktu yang panjang. Namun, bagi seseorang yang menjalaninya, tahun-tahun itu tidak hadir sebagai satu perjalanan yang seragam. Ada masa ketika tubuh kuat, semangat meluap, dan banyak hal dapat dikerjakan. Ada pula masa ketika kemampuan fisik berubah dan seseorang harus belajar menerima batas-batas dirinya.
Karena itu, pertanyaan tentang kesetiaan tidak cukup dijawab dengan mengatakan bahwa seseorang telah bertahan selama lima puluh tahun. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana dia menghidupi janji tersebut dari hari ke hari.
Bagi Father Bien, jawabannya terletak pada kesediaan untuk tetap menjalani tuntutan kehidupan Dominikan. Panggilan yang sama harus terus dihidupi, tetapi cara menghayatinya dapat semakin matang seiring bertambahnya pengalaman.

Ketika Usia Mengubah Cara Menjalani Janji
Pada usia 73 tahun, Father Bien tidak menutup mata terhadap perubahan yang terjadi selama setengah abad kehidupan religiusnya. Tubuh tidak lagi memiliki kemampuan yang sama seperti ketika dia masih muda. Perubahan fisik memengaruhi cara dia menjalankan kaul dan menanggapi tugas-tugas pelayanan.
Namun, dia tidak memandang bertambahnya usia semata-mata sebagai kehilangan.
Pengalaman panjang memberinya kesempatan untuk belajar dari berbagai peristiwa, termasuk kesalahan dan tantangan yang pernah dihadapi. Dia merasa semakin nyaman menjalani kehidupan religius, meskipun tidak berarti bahwa kehidupan itu menjadi mudah.
Dia masih manusia, masih menghadapi kesulitan, dan masih harus berjuang untuk menjalani komitmennya. Perbedaannya, pengalaman telah membantunya mengenali keterbatasan diri serta mendisiplinkan dirinya dengan lebih baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kedewasaan sering kali dipahami sebagai kemampuan untuk menguasai keadaan. Akan tetapi, pengalaman Father Bien memperlihatkan sisi lain: kedewasaan juga berarti belajar memahami apa yang dapat dilakukan, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus diterima dengan rendah hati.
Usia mengubah tubuh, tetapi tidak harus menghilangkan makna panggilan. Ketika tenaga tidak lagi sama, kesetiaan perlu menemukan cara pengungkapan yang sesuai dengan keadaan seseorang.
Barangkali inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan panjangnya: kesetiaan bukanlah tuntutan untuk selalu mampu melakukan segala sesuatu seperti dahulu. Kesetiaan adalah kesediaan untuk tetap menjalani komitmen dengan kesadaran yang semakin mendalam, bahkan ketika kemampuan diri tidak lagi sama.
Lima puluh tahun kehidupan membiara bukan berarti lima puluh tahun tanpa pergulatan. Justru karena pergulatan itu, kesetiaan menjadi pengalaman yang terus dipelajari.

Melepaskan Diri Bukan Berarti Kehilangan Segalanya
Kehidupan religius sering dipahami melalui tiga kaul utama, kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Ketiganya kerap dikaitkan dengan tindakan meninggalkan sesuatu. Seorang religius melepaskan kepemilikan pribadi, membatasi bentuk-bentuk relasi tertentu, dan menyerahkan kehendaknya dalam kerangka ketaatan kepada Allah serta kehidupan ordo.
Namun, bagi Father Bien, mengikrarkan kaul tidak cukup dipahami sebagai tindakan meninggalkan.
“Profesi kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan bukan hanya tentang melepaskan sesuatu. Kaul-kaul itu juga berarti menerima dan menghidupinya,” demikian penjelasannya.
Kemiskinan, misalnya, tidak berarti seseorang harus meninggalkan segala sesuatu tanpa pertimbangan. Kaul itu mengajarkan seorang religius untuk menjalani hubungannya dengan harta benda sesuai dengan panggilan yang diterimanya.
Ada perbedaan antara memiliki sesuatu dan membiarkan sesuatu menguasai kehidupan. Persoalannya bukan hanya terletak pada berapa banyak benda yang dimiliki, tetapi juga pada seberapa jauh keinginan terhadap benda-benda tersebut menentukan pilihan hidup seseorang.
Father Bien mengingat ajaran Yesus mengenai hidup di dunia tanpa menjadi milik dunia. Dia tetap hidup di tengah masyarakat, menggunakan hal-hal yang diperlukan, dan berhadapan dengan berbagai tawaran kehidupan. Namun, nilai-nilai serta daya tarik dunia tidak boleh menjadi penentu utama arah panggilannya.
Melepaskan diri, dalam pengertian ini, bukanlah tindakan membenci dunia. Sebaliknya, tindakan tersebut merupakan usaha untuk menata hubungan dengan dunia agar seseorang tidak kehilangan arah hidupnya.
Manusia dapat memiliki sesuatu, tetapi tidak seharusnya kehilangan dirinya karena sesuatu itu. Manusia dapat menikmati kenyamanan, tetapi tidak harus menjadikan kenyamanan sebagai ukuran bagi setiap keputusan. Manusia dapat hidup di tengah berbagai kemungkinan, tetapi tetap perlu mengetahui apa yang sungguh-sungguh ingin diperjuangkannya.
Dalam kehidupan religius, kaul menjadi jalan untuk melatih kebebasan dari keterikatan yang dapat menghalangi panggilan. Kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan bukan sekadar daftar larangan, melainkan komitmen yang harus diterjemahkan ke dalam cara berpikir, memilih, dan bertindak.
Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya apa yang telah dilepaskan seseorang, melainkan apa yang menjadi lebih mungkin ketika dia tidak lagi dikuasai oleh hal-hal yang harus dilepaskannya.

Ketaatan yang Membebaskan
Dari ketiga kaul tersebut, ketaatan menghadirkan pertanyaan filosofis yang tidak sederhana, apakah manusia masih bebas ketika memilih untuk taat?
Dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan terkadang dipahami sebagai kebalikan dari kebebasan. Orang yang bebas dianggap mampu menentukan segala sesuatu menurut kehendaknya sendiri, sedangkan orang yang taat dianggap harus mengesampingkan kehendak pribadi.
Father Bien memandang hubungan keduanya secara berbeda. Dalam pengalamannya sebagai seorang Dominikan, ketaatan tidak bertentangan dengan kebebasan manusia. Sebaliknya, ketaatan dapat membantu manusia mengalami kebebasan secara lebih mendalam.
Dia menjelaskan bahwa dalam Ordo Dominikan, kaul ketaatan memiliki hubungan erat dengan penghayatan kaul kemiskinan dan kemurnian. Ketiganya membentuk komitmen yang saling berkaitan dalam menjalani kehidupan religius.
Melalui kaul kemiskinan, misalnya, seorang religius belajar membebaskan diri dari kecemasan yang berlebihan mengenai kepemilikan dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Kehidupan komunitas menyediakan kebutuhan yang diperlukan sehingga seseorang tidak harus terus-menerus mengarahkan hidupnya pada usaha memperoleh lebih banyak bagi dirinya sendiri.
Bagi Father Bien, cara hidup tersebut dapat membuat kehidupan menjadi lebih sederhana. Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dia berisiko menciptakan kebutuhan baru yang justru memperumit kehidupannya.
Prinsip serupa berlaku dalam penghayatan kaul kemurnian. Ketaatan menjadi bagian dari komitmen untuk menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan religius yang telah diikrarkan secara sukarela.
Hal penting dalam penjelasannya adalah bahwa kaul itu dipilih secara bebas. Ketaatan tidak berdiri sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing bagi kehendak seseorang, melainkan menjadi bagian dari keputusan yang dibuatnya dalam menanggapi panggilan Allah.
Di sini, kebebasan tidak semata-mata berarti memiliki sebanyak mungkin pilihan atau melakukan apa pun yang diinginkan. Kebebasan juga menyangkut kemampuan untuk mengarahkan kehendak pada sesuatu yang dinilai lebih bermakna.
Seseorang dapat memiliki banyak pilihan, tetapi tetap dikuasai oleh kecemasan, ambisi, atau keinginan yang tidak pernah selesai. Sebaliknya, seseorang dapat membatasi pilihannya secara sadar demi tujuan yang diyakininya lebih penting.
Bagi Father Bien, ketaatan membantu mengarahkan kebebasan menuju tujuan hidup yang lebih sempurna, yakni Allah. Ketaatan tidak dimaksudkan untuk menghapus kebebasan, tetapi untuk memampukannya bertumbuh sesuai dengan panggilan.
Tentu saja, refleksi ini tidak berarti bahwa setiap bentuk kepatuhan otomatis membebaskan. Dalam konteks kehidupan religius yang dijelaskan Father Bien, ketaatan dipahami dalam hubungan dengan panggilan, kaul yang diikrarkan secara sukarela, dan tujuan rohani yang hendak dicapai. Maknanya terletak pada penghayatan komitmen tersebut, bukan pada kepatuhan tanpa kesadaran.
Oleh karenanya kebebasan tidak harus berakhir ketika seseorang memilih untuk taat. Kebebasan justru dapat menemukan arah ketika seseorang mengetahui untuk apa dia menggunakannya.

Empat Pilar untuk Menjaga Kesetiaan
Bagi Father Bien, refleksi mengenai panggilan dan kesetiaan tidak dapat dilepaskan dari empat pilar kehidupan Dominikan tentang doa, studi, hidup berkomunitas, dan pewartaan.
Keempat pilar itu menjadi jalan konkret untuk menghidupi panggilan dalam keseharian.
Doa memelihara hubungan dengan Allah. Studi membantu seorang Dominikan terus belajar dan memperdalam pemahamannya. Kehidupan komunitas mengajarkan seseorang untuk hidup bersama, menerima perbedaan, dan memberikan dukungan. Sementara itu, pewartaan mengarahkan seluruh kehidupan tersebut kepada pelayanan bagi Gereja dan sesama.
Keempatnya tidak berjalan secara terpisah. Studi tanpa kehidupan rohani berisiko kehilangan kedalaman. Doa yang tidak berbuah dalam relasi dengan sesama dapat kehilangan daya kesaksiannya. Kehidupan komunitas membutuhkan kesediaan untuk terus belajar, sedangkan pewartaan membutuhkan keduanya sebagai landasan.
Dalam perjalanan panjangnya, Father Bien melihat bahwa kesetiaan dipelihara melalui pengulangan tindakan-tindakan yang mendasar. Doa dilakukan kembali, studi dilanjutkan, persaudaraan dirawat, dan pewartaan dihidupi sesuai dengan keadaan serta kemampuan yang ada.
Panggilan tidak selalu memerlukan peristiwa luar biasa agar tetap hidup. Ia dapat tumbuh melalui rutinitas yang dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Barangkali, justru di situlah letak kesulitannya. Manusia mudah tertarik pada sesuatu yang baru, tetapi dapat mengalami kejenuhan ketika harus mengulangi hal yang sama. Kesetiaan menuntut seseorang untuk tidak hanya bergantung pada semangat awal, melainkan terus menemukan makna dalam tindakan yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Bagi seorang Dominikan, doa, studi, komunitas, dan pewartaan bukan hanya kewajiban yang harus dipenuhi. Keempatnya merupakan jalan untuk terus memahami panggilan yang sama dengan kedalaman yang berbeda seiring berjalannya waktu.

Menemukan Kembali Apa yang Dicari
Menjelang perayaan 50 tahun profesi religiusnya, Father Bien kembali pada pertanyaan yang pernah dia dengar sebelum memasuki Ordo Dominikan: Apa yang kamu cari?
Pertanyaan tersebut tidak kehilangan relevansinya setelah setengah abad. Sebaliknya, perjalanan hidup memberinya kesempatan untuk melihat kembali jawaban yang dahulu diucapkan.
Kerahiman Allah dan kerahiman komunitas menjadi dasar yang terus menyertainya. Panggilan berasal dari Allah, tetapi dihidupi dalam relasi dengan orang-orang yang menerima, mendampingi, dan berjalan bersamanya.
Dalam percakapan di perpustakaan Biara Santo Dominikus Pontianak itu, pengalaman Father Bien memperlihatkan bahwa lima puluh tahun kehidupan membiara tidak dapat diringkas hanya sebagai keberhasilan mempertahankan sebuah janji. Di dalamnya terdapat perubahan, keterbatasan, pembelajaran, dan usaha berulang untuk memahami makna panggilan.
Usia dapat mengubah kemampuan fisik. Pengalaman dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Kesulitan dapat memperlihatkan batas-batas diri. Namun, semua itu tidak harus menjadi alasan untuk kehilangan arah. Justru melalui pengalaman tersebut, seseorang dapat belajar menghayati komitmennya dengan lebih matang.
Dari refleksinya tentang kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, kita menemukan sebuah pertanyaan yang melampaui kehidupan membiara: apakah manusia sungguh-sungguh bebas ketika dapat melakukan segala sesuatu yang diinginkannya, atau ketika dia mampu memilih apa yang layak diperjuangkan dan melepaskan apa yang menghalangi tujuan hidupnya?
Bagi Father Bien, ketaatan dan kebebasan tidak harus saling meniadakan. Ketika diarahkan pada panggilan yang diyakini berasal dari Allah, kebebasan dapat menjadi jalan untuk bertumbuh menuju kehidupan yang lebih sempurna.
Lima puluh tahun lalu, Father Bien menjawab pertanyaan tentang apa yang dicarinya dengan menyebut kerahiman Allah dan komunitas. Kini, setelah melewati perjalanan panjang sebagai seorang Dominikan, jawaban itu terus memperoleh makna melalui kehidupan yang dijalaninya setiap hari.
Mungkin, pada akhirnya, kesetiaan memang bukan tentang berhenti bertanya setelah seseorang membuat keputusan. Kesetiaan adalah keberanian untuk terus mengajukan pertanyaan yang sama, memeriksa kembali arah hidup, dan memperbarui jawaban melalui tindakan nyata.
Sebab, panggilan bukan hanya sesuatu yang pernah diterima. Panggilan adalah sesuatu yang terus dijalani.*Samuel (Biara Santo Dominikus Pontianak – Pontianak, 6 Oktober 2026).





