MajalahDUTA.Com | Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, mengingatkan para imam agar selalu siap diutus, melayani dengan sukarela, dan mengandalkan penyelenggaraan ilahi dalam menjalankan tugas perutusan.
Ketiga hal tersebut menjadi pesan utama dalam homilinya pada Misa Tahbisan Imam Kongregasi Misionaris Para Rasul Kudus (Misioneros de los Santos Apóstoles/MSA) di Paroki Santo Fransiskus Asisi Pakumbang, Dekanat Landak, Kamis (15/10/2026).
Dalam perayaan tersebut, dua imam baru, P. Videlis Mersik Dosi, MSA, dan P. Fernandes Legius Bha, MSA, menerima tahbisan imamat. Perayaan itu juga dihadiri Mgr. Isaac Circuncisión Martínez Chuquizana, MSA, yang bertugas sebagai Uskup Cajamarca, Peru.
Mengacu pada tiga bacaan Kitab Suci yang dipilih untuk perayaan tahbisan, Mgr. Samuel menguraikan tiga sikap mendasar yang perlu dihidupi dalam panggilan imamat. Menurut dia, ketiganya tidak hanya berlaku bagi para imam, tetapi juga bagi seluruh umat Kristiani, termasuk biarawan dan biarawati.

Siap diutus seperti Nabi Yesaya
Sikap pertama yang ditekankan Uskup Samuel ialah kesiapan untuk diutus. Ia mengangkat jawaban Nabi Yesaya ketika Tuhan mencari seseorang untuk diutus menjalankan tugas-Nya: “Ini aku, utuslah aku!”
Menurut Uskup Samuel, seorang imam yang telah mengucapkan janji ketaatan harus bersedia mengutamakan kehendak Allah di atas kesenangan dan keinginan pribadi. Kehendak tersebut diwujudkan melalui tugas perutusan yang dipercayakan oleh Gereja dan pimpinan Gereja.
Karena itu, ketika menerima tugas dari pimpinan, seorang imam hendaknya tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai alasan utama untuk menolak. Tugas perutusan, jelasnya, ditentukan dengan pertimbangan dan kebijaksanaan demi perkembangan Gereja serta pelayanan umat.
Ia juga menjelaskan bahwa imam religius memiliki tanggung jawab ketaatan kepada pimpinan tarekatnya. Ketika melayani di paroki atau dalam lingkup keuskupan, imam religius juga perlu menaati ketentuan uskup dalam hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan keuskupan, di samping tanggung jawabnya kepada pimpinan tarekat.
“Sekali lagi, seorang imam harus selalu siap untuk diutus,” tegasnya, seraya mengajak para imam menghidupi semangat Nabi Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!”
Melayani bukan demi kenyamanan pribadi
Sikap kedua adalah menggembalakan umat dengan sukarela dan demi pengabdian, bukan karena terpaksa atau untuk mencari keuntungan pribadi.
Uskup Samuel menggambarkan tugas penggembalaan seperti perjalanan seorang gembala yang membawa kawanan dombanya menuju padang rumput. Perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada sungai yang harus diseberangi, jurang yang harus dituruni, kerikil yang harus diinjak, panas matahari yang harus ditahan, bahkan ancaman ular berbisa dan serigala.
Berbagai gambaran tersebut, menurut dia, mencerminkan tantangan yang dapat dihadapi seorang imam dalam pelayanan. Namun, kesulitan tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan tugas, sebab pelayanan bukan pertama-tama tentang kenyamanan diri, melainkan pengabdian kepada Tuhan dan umat.
Ia mengingatkan agar seorang imam tidak menggunakan alasan yang tampak religius untuk menutupi kepentingan pribadi. Hal terpenting adalah mengutamakan kehendak Tuhan dan tetap setia menjalankan tugas, sekalipun harus menghadapi keadaan yang berat.
Untuk menjelaskan hal itu, Uskup Samuel membagikan pengalaman ketika dirinya pernah bertugas sebagai pastor paroki di Tebet, Jakarta Selatan. Penugasan tersebut menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhirnya sebagai pastor paroki.
Pada suatu malam sekitar pukul 02.00, seseorang datang mengetuk pintu rumahnya dan meminta pertolongan karena ayah mereka sedang sekarat di rumah sakit. Keluarga itu berharap sang imam segera memberikan Sakramen Perminyakan Suci.
Saat itu, Uskup Samuel mengaku masih ingin beristirahat. Ia bahkan sempat meminta agar pelayanan tersebut dilakukan keesokan paginya.
Namun, setelah keluarga itu pergi, ia mengalami pergulatan batin dan menyadari bahwa menunda pelayanan dapat berarti mengutamakan kenyamanan diri daripada kebutuhan umat yang sedang menghadapi saat kritis.
Akhirnya, ia mempersiapkan diri, mencari taksi, dan berangkat memberikan pelayanan yang dibutuhkan.
Pengalaman itu menjadi refleksi konkret tentang tuntutan panggilan imamat. Seorang imam harus bersedia hadir ketika umat membutuhkan, termasuk pada waktu yang tidak nyaman dan di luar kebiasaan.
“Siap demi pengabdian, bukan demi kenyamanan pribadi,” demikian inti pesan yang ditekankannya melalui pengalaman tersebut.

Percaya kepada penyelenggaraan ilahi
Sikap ketiga yang disampaikan Uskup Samuel adalah kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi. Ia mengajak para imam untuk berani menjalankan tugas perutusan tanpa dikuasai kecemasan berlebihan terhadap kebutuhan dan kenyamanan hidup.
Merujuk pada pesan Yesus kepada para murid agar tidak membawa bekal secara berlebihan, ia mengajak umat merenungkan sejauh mana mereka sungguh percaya bahwa Tuhan akan memelihara kehidupan.
Menurut Uskup Samuel, seorang pelayan Gereja perlu membawa barang secukupnya dan tidak membiarkan kekhawatiran menghalangi langkah pelayanan. Ia juga harus bersedia menerima keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginannya, termasuk makanan sederhana atau tempat istirahat yang kurang nyaman.
“Yakin dan percayalah bahwa Tuhan Mahapenyelenggara,” pesannya.
Kepercayaan tersebut bukan berarti mengabaikan kebutuhan praktis, melainkan memiliki keberanian untuk melangkah dan melayani dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai perjalanan hidup. Ke mana pun diutus, seorang pelayan Gereja hendaknya mengupayakan perdamaian dan kesejahteraan.
Uskup Samuel menegaskan bahwa keyakinan akan penyelenggaraan ilahi menjadi pegangan bagi seluruh umat beriman. Ia mengingatkan bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya, meskipun dalam pelayanan selalu terdapat keterbatasan dan hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan.
Karena itu, setiap orang dipanggil untuk memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya, sementara kekurangan yang ada diserahkan kepada Tuhan.

Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak – Tahbisan Imam di Pakumbang.
Mengenali diri dan mempertanggungjawabkan talenta
Selain tiga sikap tersebut, Uskup Samuel mengajak kedua imam baru dan seluruh umat untuk mengenali kemampuan serta keterbatasan diri. Ia menggunakan gambaran tentang talenta untuk menjelaskan bahwa setiap orang menerima karunia yang berbeda dan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkannya.
Ada orang yang menerima lima talenta, ada yang menerima dua, dan ada pula yang menerima talenta dalam jumlah berbeda. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk merasa rendah diri ataupun menyombongkan diri.
Menurut dia, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak talenta yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang menggunakannya secara bertanggung jawab.
Orang yang menerima dua talenta tidak perlu berpura-pura memiliki lima talenta. Sebaliknya, orang yang menerima lima talenta tidak seharusnya menyembunyikan kemampuannya dan hanya menggunakan sebagian kecil dari apa yang dipercayakan kepadanya.
Uskup Samuel menilai bahwa pengenalan diri membantu seseorang bertumbuh dalam kerendahan hati. Kesadaran akan kelebihan dan kekurangan membuat seseorang lebih bijaksana, bersedia mendengarkan orang lain, dan tidak merasa mengetahui segala sesuatu.
Ia juga mengingatkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak bergerak. Tuhan tidak menuntut seseorang memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya, tetapi menghendaki agar karunia yang telah diterima dipertanggungjawabkan dengan baik.
Untuk memperjelas pesannya, ia mengangkat kisah janda miskin yang memberikan persembahan di Bait Allah. Meskipun jumlah yang diberikan kecil, persembahan itu mencerminkan ketulusan karena sang janda memberikan apa yang dimilikinya.
Dari kisah tersebut, umat diajak memahami bahwa nilai persembahan tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi juga oleh ketulusan hati dan kesediaan memberikan diri kepada Tuhan.
Kekudusan tidak ditentukan oleh usia
Dalam bagian lain homilinya, Uskup Samuel menekankan bahwa kekudusan tidak ditentukan oleh usia seseorang. Rambut yang memutih dan pengalaman hidup yang panjang tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang dewasa atau kudus.
Sebaliknya, orang muda pun dapat menunjukkan kedewasaan dan memberikan teladan kekudusan melalui cara hidupnya.
Ia menyebut Santo Carlo Acutis, yang meninggal pada usia 15 tahun, sebagai contoh bahwa perjuangan menuju kekudusan tidak perlu menunggu seseorang mencapai usia lanjut.
Bahkan, Uskup Samuel secara pribadi mengakui bahwa dirinya pun masih harus terus belajar tentang kekudusan. Pengakuan itu menjadi pengingat bahwa pertumbuhan rohani merupakan perjalanan yang perlu dijalani sepanjang hidup.
Karena itu, ia mengajak kedua imam baru untuk tidak menunda perjuangan menuju kekudusan. Tahbisan imamat merupakan kesempatan untuk bertumbuh dalam kesetiaan kepada Tuhan, tetapi status sebagai imam saja tidak otomatis menjadikan seseorang kudus.
Yang menentukan adalah bagaimana seseorang menghidupi panggilannya, bertumbuh dalam kebijaksanaan, serta memberikan yang terbaik bagi Allah dan sesama.

Panggilan untuk seluruh umat beriman
Menutup homilinya, Uskup Samuel mengajak seluruh umat berdoa agar Tuhan memampukan setiap orang menjalankan panggilan masing-masing dengan setia.
Ia kembali menegaskan pentingnya kesiapan untuk diutus, kesediaan melayani tanpa mengutamakan kenyamanan pribadi, kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi, serta tanggung jawab dalam menggunakan talenta.
Pesan tersebut menjadi bekal rohani bagi P. Videlis Mersik Dosi, MSA, dan P. Fernandes Legius Bha, MSA, yang memulai pelayanan imamat mereka. Pada saat yang sama, pesan itu mengingatkan seluruh umat bahwa panggilan untuk melayani, bertumbuh dalam kebijaksanaan, dan memperjuangkan kekudusan merupakan bagian dari kehidupan setiap orang Kristiani.
“Melalui perayaan tahbisan di Pakumbang, Gereja kembali menegaskan bahwa pelayanan bukanlah jalan untuk mencari kenyamanan atau kehormatan pribadi, melainkan kesediaan untuk memberikan diri demi Tuhan dan sesama,” pungkasnya. *Samuel – KOMSOSKAP.





